Ancaman Perubahan Iklim di Kawasan Asia Pasifik
Dalam
Bahasa Indonesia
Satu dekade setelah tsunami Samudera Hindia
melanda, kawasan Asia-Pasifik tetap merupakan kawasan yang sangat rawan akan
bencana dan kesenjangan kritis tetap ada dalam perihal peringatan dini,
terutama dalam mencapai masyarakat yang paling rentan dan terpencil, Komisi
Ekonomi dan Sosial PBB untuk Asia dan Pasifik (ESCAP) melaporkan pada hari Senin (15/12).
“Sepuluh tahun setelah tragedy tsunami
Samudera Hindia, telah banyak yang dilakukan untuk mengisi kesenjangan dalam
pengurangan risiko, kesiapsiagaan bencana dan sistem peringatan dini,” Shamika
N. Sirimanne, Direktur ESCAP Divisi Pengurangan Risiko Bencana Teknologi
Informasi dan Komunikasi mengatakan dalam sebuah rilis berita yang dikeluarkan pada hari Senin (15/12)
Sirimanne mengatakan bahwa pelajaran utama
dari tragedu tsunami tanggal 26 Desember 2004 adalah betapa pentingnya sistem
peringatan dini, dan menyoroti pembentukan Sistem Peringatan Tsunami Samudera Hindia
pada tahun 2011 sebagai tonggak sejarah yang penting untuk membangun ketahanan
yang lebih besar terhadap bencana di Asia-Pasifik.
Tapi Asia-Pasifik tetap sangat rawan bencana,
meskipun kemajuan yang telah dicapai dalam membangun ketahanan, beliau mengatakan
dalam sebuah diskusi panel di Foreign Correspondents Club of Thailand pekan lalu
saat menandai peringatan 10 tahun dari salah satu bencana alam paling
mematikan.
Kesenjangan kritis tetap ada pada sistem
peringatan dini dan investasi tambahan yang diperlukan, khususnya di tingkat
lokal, menurut ESCAP.
“Mencapai masyarakat yang paling rentan dan
masyarakat terpencil pada ‘langkah-langkah terakhir’ dengan peringatan yang
tepat waktu sangat penting,” Sirimanne menambahkan. “Sebuah sistem yang efisien
belum direalisasikan.”
ESCAP mengatakan pula bahwa mereka memainkan
peran penting dalam menggembleng berbagai upaya di regional, mempromosikan
teknologi baru dan mendukung berbagai proyek peringatan dini melalui Dana
Perwalian untuk Tsunami, Bencana dan Kesiapsiagaan Iklim.
Dana Perwalian telah memberikan kontribusi
terhadap pembentukan mekanisme regional seperti Sistem Peringatan Tsunami
Samudera Hindia dan Sistem Peringatan Regional Multi Bahaya yang Terintegrasi
untuk Afrika dan Asia, serta penguatan sistem peringatan di tingkat nasional
dan lokal , menurut ESCAP
In
English
15 December 2014 – A decade after the Indian
Ocean tsunami struck, the Asia-Pacific region remains highly disaster prone and
critical gaps remain in early warning, especially in reaching the most
vulnerable people and remote communities, the United Nations Economic and
Social Commission for Asia and the Pacific (ESCAP)
said today.
“Ten years after the Indian Ocean tsunami,
much has been done to fill gaps in risk reduction, disaster preparedness and
early warning systems,” Shamika N. Sirimanne, ESCAP’s Director of Information
and Communications Technology and Disaster Risk Reduction Division said in a press
release issued today.
Ms. Sirimanne noted that a key lesson from the
26 December 2004 tsunami was the importance of early warning, and highlighted
the establishment of the Indian Ocean Tsunami Warning System in 2011 as an
important milestone towards building greater resilience to disasters in
Asia-Pacific.
But Asia-Pacific remains highly disaster
prone, despite progress being made in building resilience, she said at a panel
discussion at the Foreign Correspondents Club of Thailand last week marking the
10th anniversary of one of the deadliest natural disasters on record.
Critical gaps remain in early warning and
additional investments are required particularly at the local level, according
to ESCAP.
“Reaching the most vulnerable people and
remote communities at the ‘last mile’ with timely warnings is critical,” added
Ms. Sirimanne. “An efficient end-to-end system is yet to be realized.”
ESCAP noted it plays a significant role in
galvanizing regional efforts, promoting new technologies and supporting early
warning projects through its Trust Fund for
Tsunami, Disaster and Climate Preparedness.
The Trust Fund has made contributions to the
establishment of regional mechanisms such as the Indian Ocean Tsunami Warning
System and the Regional Integrated Multi-Hazard Early Warning System for Africa
and Asia, as well as to the strengthening of warning systems at the national
and local levels, according to ESCAP.
Ahshura di Afghanistan dan Pakistan
Suasana Asyura di Kabul, Afghanistan.
Suasana Asyura di Kabul, Afghanistan.
Suasana Asyura di Kabul, Afghanistan.
Iran Masih Jadi Target
PERSEKONGKOLAN Amerika-Saudi
Arabia tampaknya SIA-SIA UNTUK MENGHANCURKAN IRAN. Sejumlah analis independen
menyatakan anjloknya harga minyak dunia sebesar 35% merupakan konspirasi AS-Saudi untuk menghancurkan perekonomian Iran setelah
secara bertubi-tubi selama lebih dari 30 tahun AS juga mensponsori penjatuhan
sanksi-sanksi berat atas sektor-sektor penting Iran, dari larangan membeli
minyak Iran sampai dengan transaksi perbankan dan bahkan di sektor yang menjadi
hajat hidup rakyat Iran, yaitu kesehatan. Namun, mereka kecewa karena
Iran tetap eksis dan bahkan mengalami kemajuan luar biasa dan diluar perkiraan
mereka.
Kali ini pun mereka gigit
jari, karena Iran malah menaikkan anggaran militernya lebih dari 15% dan ini
yang sangat penting dan menjadi pukulan telak terhadap persekongkolan AS-Saudi....yaitu,
Iran mengurangi ketergantungannya pada minyak dari 37% dalam anggaran tahun
lalu menjadi 31,5% dalam anggaran tahun yang sedang berjalan ini. Rahasia
kekuatan Iran seperti inilah yang Ayatullah Khomeini rahimahullah pernah
nyatakan dengan sangat menarik: "Jika
mereka menjatuhkan blokade ekonomi atas kami, ketahuilah bahwa kami adalah
putera-putera Ramadan, dan jika mereka menjatuhkan blokade militer atas kami,
ketahuilah bahwa kami adalah putera-putera Asyura".
Ketika Vladimir Putin Bertindak Tegas
Oleh Cahyono Adi
Mungkin saat ini Rusia
telah menyadari kesalahannya dan mengikuti apa yang disarankan Paul Craig
Roberts, mantan pejabat tinggi kabinet Presiden AS Ronald Reagan dan editor
koran terkemuka Wall Street Journal. Dalam sebuah artikel yang
ditulisnya di situs Counterpunch bulan Maret lalu menyusul merebaknya
konflik di Krimea, Ukraina, Roberts menyarankan Rusia untuk melakukan langkah
tegas dengan menduduki Krimea dan wilayah-wilayah Ukraina Timur yang mayoritas
penduduknya adalah etnis Rusia.
Alasan Roberts adalah karena pada dasarnya Rusia tengah berperang melawan Amerika dan sekutu-sekutunya, meski Rusia menginginkan hidup damai. Amerika, kata Roberts akan tetap memerangi Rusia dengan berbagai cara dan bentuk, meski secara formal mereka tidak berperang. Amerika akan terus memerangi Rusia, kata Roberts, selama Rusia masih tetap berdiri sebagai negara berdaulat yang menghalangi ambisi Amerika menguasai dunia sepenuhnya.
Menurut Robert, dengan menduduki Krimea dan Ukraina timur dan menempatkan pasukannya di kedua wilayah itu, maka Rusia memberi Amerika ruang yang lebih sempit untuk meneruskan provokasinya terhadap Rusia. Pada akhirnya Amerika hanya bisa mengajukan usul perundingan damai yang diakhiri dengan perjanjian damai secara permanen antara Rusia dan negara-negara barat. Sebaliknya, jika Rusia tidak melakukan langkah itu, maka Rusia akan terus diprovokasi dan dipojokkan hingga akhirnya menyerahkan tidak saja harga dirinya sebagai bangsa besar dan kuat, juga kedaulatan wilayahnya.
Kita bisa menyaksikan dengan jelas pernyataan Roberts tersebut pada 2 wilayah konflik antara Rusia dengan barat, yaitu Krimea dan Ukraina Timur.
Dalam kasus Krimea, Rusia dengan tegas menduduki wilayah itu dengan dalih memenuhi aspirasi warga Krimea melalui referendum yang meminta bergabung dengan Rusia. Namun untuk wilayah Ukraina timur, Rusia tidak melakukan langkah yang sama, meski warga 2 provinsi Ukraina timur, Donetsk dan Luhansk telah menggelar referendum dan meminta bergabung dengan Rusia.
Rusia terlihat sangat menghindari konflik yang terus berlanjut dengan barat dengan tidak mengakui referendum warga Ukraina timur. Namun di sinilah masalahnya bermula. Setiap niat baik Rusia untuk menghindari konflik akan dianggap sebagai kelemahan Rusia, dan karenanya barat justru akan semakin intensif melakukan provokasi dan tekanan-tekanan politik terhadap Rusia.
Berbeda dengan Krimea dimana Rusia menempatkan pasukannya secara permanen, dan Ukraina dan negara-negara barat tidak lagi menyinggung-nyinggung statusnya sebagai wilayah Ukraina, di Ukraina timur Rusia benar-benar dilecehkan. Tanpa menghargai sedikitpun aspirasi warga Ukraina timur, Ukraina langsung menggelar operasi militer dan menyebut warga yang menginginkan pemisahan diri dari Ukraina sebagai para teroris.
Pada sisi lain Rusia dipaksa menyaksikan warga Rusia yang berada di Ukraina timur itu dibantai oleh pasukan Ukraina. Dan itu masih belum cukup, negara-negara barat justru bertubi-tubi menjatuhi Rusia sanksi yang sangat tidak pantas dilakukan terhadap sebuah negara berdaulat sebesar Rusia. Pada saat yang bersamaan Amerika dan NATO meningkatkan kekuatan militernya di sekitar Ukraina.
Pendek kata, Rusia dilecehkan seleceh-lecehnya. Persis seperti pendapat Paul Craig Roberts, semakin “baik” Rusia, semakin lemah ia dipandang oleh Amerika dan sekutu-sekutunya, dan semakin kurang ajarlah Amerika dan sekutu-sekutunya terhadap Rusia.
Bayangkan saja, negara sekecil Ukraina saja (di hadapan Rusia) berani membantai warga keturunan Rusia di depan mata Rusia — saat ini lebih dari 1.000 warga keturunan Rusia di Ukraina timur yang tewas oleh operasi militer Ukraina, kemudian melakukan serangan mortir ke wilayah Rusia hingga menewaskan warga Rusia di wilayahnya sendiri.
Kini Rusia telah mulai unjuk kekuatan. Pada saat mereka menempatkan puluhan ribu pasukannya di perbatasan Ukraina dan mengirimkan unit-unit militernya ke wilayah Ukraina serta pesawat-pesawat pembom strategisnya yang menebos wilayah pertahanan udara Amerika, Rusia mengumumkan langkah tegas dengan mengembargo barang-barang makanan impor dari negara-negara barat
Tentu saja AS dan sekutu-sekutunya bereaksi keras atas langkah-langkah Rusia tersebut. Para pejabat AS dan Inggris misalnya, mengingatkan Rusia untuk tidak mengirimkan pasukannya ke Ukraina dengan menggunakan bendera “bantuan kemanusiaan”.
“Setiap intervensi akan dianggap sebagai tindakan yang tidak bisa diterima dan dianggap sebagai invasi terhadap Ukraina,” kata Dubes AS di PBB Samantha Power, Jumat (8/8), menanggapi kabar tentang masuknya unit-unit militer Rusia ke Ukraina untuk membantu para separatis Ukraina timur.
Sementara Menlu Inggris Philip Hammond menanggapi hal yang sama, mengatakan: “Saya mendesak Rusia untuk menghindarkan diri dari tindakan provokatif.”
“Saya sangat khawatir dengan adanya laporan-laporan meningkatnya aliran senjata berat ke wilayah Ukraina dari Rusia dan dengan adanya laporan-laporan tentang pasukan Rusia yang menggelar latihan “intervensi kemanusiaan” di negara ketiga,” tambah Hammond.
Namun tentu saja pernyataan itu tidak ada artinya saat Rusia mengerahkan pasukannya ke wilayah Ukraina. Kecaman-kecaman keras itu akan berubah menjadi “bujuk rayu” dan “iming-iming” kepada Rusia untuk mengembalikan Ukraina timur kepada negara induknya.
Mungkin selanjutnya Robert akan mengusulkan agar Rusia menuntut pemilu ulang di Ukriana dengan mengajukan Victor Yanukovich sebagai kandidat jagoannya, atau bahkan invasi total Rusia atas seluruh wilayah Ukraina untuk mengembalikan wilayah Rusia seperti sebelum tumbangnya Uni Sovyet.
Alasan Roberts adalah karena pada dasarnya Rusia tengah berperang melawan Amerika dan sekutu-sekutunya, meski Rusia menginginkan hidup damai. Amerika, kata Roberts akan tetap memerangi Rusia dengan berbagai cara dan bentuk, meski secara formal mereka tidak berperang. Amerika akan terus memerangi Rusia, kata Roberts, selama Rusia masih tetap berdiri sebagai negara berdaulat yang menghalangi ambisi Amerika menguasai dunia sepenuhnya.
Menurut Robert, dengan menduduki Krimea dan Ukraina timur dan menempatkan pasukannya di kedua wilayah itu, maka Rusia memberi Amerika ruang yang lebih sempit untuk meneruskan provokasinya terhadap Rusia. Pada akhirnya Amerika hanya bisa mengajukan usul perundingan damai yang diakhiri dengan perjanjian damai secara permanen antara Rusia dan negara-negara barat. Sebaliknya, jika Rusia tidak melakukan langkah itu, maka Rusia akan terus diprovokasi dan dipojokkan hingga akhirnya menyerahkan tidak saja harga dirinya sebagai bangsa besar dan kuat, juga kedaulatan wilayahnya.
Kita bisa menyaksikan dengan jelas pernyataan Roberts tersebut pada 2 wilayah konflik antara Rusia dengan barat, yaitu Krimea dan Ukraina Timur.
Dalam kasus Krimea, Rusia dengan tegas menduduki wilayah itu dengan dalih memenuhi aspirasi warga Krimea melalui referendum yang meminta bergabung dengan Rusia. Namun untuk wilayah Ukraina timur, Rusia tidak melakukan langkah yang sama, meski warga 2 provinsi Ukraina timur, Donetsk dan Luhansk telah menggelar referendum dan meminta bergabung dengan Rusia.
Rusia terlihat sangat menghindari konflik yang terus berlanjut dengan barat dengan tidak mengakui referendum warga Ukraina timur. Namun di sinilah masalahnya bermula. Setiap niat baik Rusia untuk menghindari konflik akan dianggap sebagai kelemahan Rusia, dan karenanya barat justru akan semakin intensif melakukan provokasi dan tekanan-tekanan politik terhadap Rusia.
Berbeda dengan Krimea dimana Rusia menempatkan pasukannya secara permanen, dan Ukraina dan negara-negara barat tidak lagi menyinggung-nyinggung statusnya sebagai wilayah Ukraina, di Ukraina timur Rusia benar-benar dilecehkan. Tanpa menghargai sedikitpun aspirasi warga Ukraina timur, Ukraina langsung menggelar operasi militer dan menyebut warga yang menginginkan pemisahan diri dari Ukraina sebagai para teroris.
Pada sisi lain Rusia dipaksa menyaksikan warga Rusia yang berada di Ukraina timur itu dibantai oleh pasukan Ukraina. Dan itu masih belum cukup, negara-negara barat justru bertubi-tubi menjatuhi Rusia sanksi yang sangat tidak pantas dilakukan terhadap sebuah negara berdaulat sebesar Rusia. Pada saat yang bersamaan Amerika dan NATO meningkatkan kekuatan militernya di sekitar Ukraina.
Pendek kata, Rusia dilecehkan seleceh-lecehnya. Persis seperti pendapat Paul Craig Roberts, semakin “baik” Rusia, semakin lemah ia dipandang oleh Amerika dan sekutu-sekutunya, dan semakin kurang ajarlah Amerika dan sekutu-sekutunya terhadap Rusia.
Bayangkan saja, negara sekecil Ukraina saja (di hadapan Rusia) berani membantai warga keturunan Rusia di depan mata Rusia — saat ini lebih dari 1.000 warga keturunan Rusia di Ukraina timur yang tewas oleh operasi militer Ukraina, kemudian melakukan serangan mortir ke wilayah Rusia hingga menewaskan warga Rusia di wilayahnya sendiri.
Kini Rusia telah mulai unjuk kekuatan. Pada saat mereka menempatkan puluhan ribu pasukannya di perbatasan Ukraina dan mengirimkan unit-unit militernya ke wilayah Ukraina serta pesawat-pesawat pembom strategisnya yang menebos wilayah pertahanan udara Amerika, Rusia mengumumkan langkah tegas dengan mengembargo barang-barang makanan impor dari negara-negara barat
Tentu saja AS dan sekutu-sekutunya bereaksi keras atas langkah-langkah Rusia tersebut. Para pejabat AS dan Inggris misalnya, mengingatkan Rusia untuk tidak mengirimkan pasukannya ke Ukraina dengan menggunakan bendera “bantuan kemanusiaan”.
“Setiap intervensi akan dianggap sebagai tindakan yang tidak bisa diterima dan dianggap sebagai invasi terhadap Ukraina,” kata Dubes AS di PBB Samantha Power, Jumat (8/8), menanggapi kabar tentang masuknya unit-unit militer Rusia ke Ukraina untuk membantu para separatis Ukraina timur.
Sementara Menlu Inggris Philip Hammond menanggapi hal yang sama, mengatakan: “Saya mendesak Rusia untuk menghindarkan diri dari tindakan provokatif.”
“Saya sangat khawatir dengan adanya laporan-laporan meningkatnya aliran senjata berat ke wilayah Ukraina dari Rusia dan dengan adanya laporan-laporan tentang pasukan Rusia yang menggelar latihan “intervensi kemanusiaan” di negara ketiga,” tambah Hammond.
Namun tentu saja pernyataan itu tidak ada artinya saat Rusia mengerahkan pasukannya ke wilayah Ukraina. Kecaman-kecaman keras itu akan berubah menjadi “bujuk rayu” dan “iming-iming” kepada Rusia untuk mengembalikan Ukraina timur kepada negara induknya.
Mungkin selanjutnya Robert akan mengusulkan agar Rusia menuntut pemilu ulang di Ukriana dengan mengajukan Victor Yanukovich sebagai kandidat jagoannya, atau bahkan invasi total Rusia atas seluruh wilayah Ukraina untuk mengembalikan wilayah Rusia seperti sebelum tumbangnya Uni Sovyet.
Indonesian Army 2014
5 Desember 2014. Peringatan Hari Armada di Markas Armada Timur TNI AL.
Flashiron 2012 Kopaska navy Seal in Goam.
Komando Strategi Angkatan Darat (KOSTRAD)
Indonesian Airforce.
Indonesian Warship.
Indonesian Warship Yakhont.
Indonesian Special Force.
Pasukan Lintas Udara Kostrad.
Langganan:
Komentar (Atom)




























.jpg)




