oleh J.R.R. Tolkien
Aragorn
bergegas mendaki bukit. Sesekali ia membungkuk ke tanah. Hobbit bisa berjalan
ringan, jejak kaki mereka tak mudah dibaca, meski oleh Penjaga Hutan sekalipun,
tapi tidak jauh dari puncak, sebuah mata air melintasi jalan, dan di tanah yang
basah Aragorn melihat apa yang dicarinya.
"Aku
sudah benar membaca tanda-tandanya," kata Aragorn pada dirinya sendiri.
"Frodo lari ke puncak bukit. Apa yang dilihatnya di sana? Tapi dia kembali
lewat jalan yang sama, dan menuruni bukit lagi."
Aragorn
ragu. Ia ingin pergi ke takhta tinggi itu, berharap melihat sesuatu yang bisa
menuntunnya dalam kebingungannya; tapi waktu sudah mendesak. Mendadak ia
melompat maju dan berlari ke puncak, melintasi ubin-ubin besar dan menaiki
tangga. Lalu, sambil duduk di takhta, ia memandang sekelilingnya. Tapi matahari
seolah meredup, dunia tampak remang-remang dan jauh. Ia mengalihkan pandang
dari Utara, lalu memandang ke Utara lagi, dan tidak melihat apa pun selain
perbukitan di kejauhan. Pada jarak sejauh itu ia bisa melihat lagi seekor
burung besar seperti elang tinggi di angkasa, terbang turun dengan lambat,
melingkar-lingkar ke bumi.
Saat
ia memandang, pendengarannya yang tajam menangkap bunyi-bunyi di hutan di
bawah, di sisi barat Sungai. Ia berdiri kaku. Ada suara-suara teriakan, dan di
antaranya, dengan ngeri ia mengenali suara-suara Orc. Lalu sekonyong- konyong
terdengar bunyi berat terompet, lenguhannya membelah perbukitan dan bergema di
lembah, naik dengan teriakan keras melebihi gemuruh air terjun. "Terompet
Boromir!" teriak Aragorn. "Dia perlu bantuan!" Aragorn melompat menuruni tangga
dan berlari menuruni jalan. "Aduh! Hari ini nasibku benar-benar buruk,
semua yang kulakukan kacau. Di mana Sam?"
Sementara
ia berlari, teriakan-teriakan itu terdengar makin keras, tapi bunyi terompet
semakin lemah dan terdengar putus asa. Teriakan-teriakan Orc terdengar garang
dan nyaring, dan tiba-tiba tiupan terompet berhenti. Aragorn lari menuruni
lereng terakhir, tapi sebelum ia mencapai kaki bukit, bunyi-bunyi itu sudah
hilang; ketika ia belok ke kiri dan berlari ke arah bunyi-bunyi itu, suara
mereka makin menjauh dan akhirnya tak terdengar lagi. Sambil menghunus
pedangnya yang bersinar dan berteriak Elendil! Elendil! ia menerobos pepohonan.
Kira-kira satu mil dari Parth Galen, di
sebuah lembah kecil tak jauh dari telaga, ia menemukan Boromir. Boromir duduk
bersandar pada sebatang pohon besar, seolah beristirahat. Tapi Aragorn melihat
tubuhnya ditembus banyak sekali panah berbulu hitam; pedangnya masih di tangan,
tapi sudah patah dekat pangkalnya; terompetnya tergeletak terbelah dua di
sisinya. Banyak sekali Orc mati, bertumpuk di sekitarnya dan di dekat kakinya.
Aragorn
berlutut di sampingnya. Boromir membuka mata dan berusaha berbicara. Akhirnya
perlahan-lahan keluar kata-kata. "Aku mencoba mengambil Cincin itu dari
Frodo," katanya. "Aku menyesal. Aku sudah membayarnya." ia
melirik ke arah musuh-musuhnya yang sudah tewas; sekurang-kurangnya ada dua
puluh Orc terbaring di sana. "Mereka sudah pergi: kedua Halfling itu; Orc-
Orc membawa mereka. Kurasa mereka tidak mati. Orc-Orc mengikat mereka." Ia
diam dan memejamkan mata dengan letih. Setelah beberapa saat, ia berbicara
lagi.
"Selamat
jalan, Aragorn! Pergilah ke Minas Tirith dan selamatkan rakyatku! Aku sudah
gagal!"
"Tidak!"
kata Aragorn, memegang tangan Boromir dan mengecup dahinya. "Kau sudah
menang. Hanya sedikit yang memperoleh kemenangan seperti itu. Tenanglah! Minas
Tirith tidak akan jatuh!"
Boromir
tersenyum.
"Ke arah mana mereka pergi? Apakah
Frodo bersama mereka?" kata Aragorn. Tapi Boromir tidak berbicara lagi.
"Sayang sekali!" kata Aragorn.
"Demikianlah akhir hayat putra mahkota Denethor, Penguasa Menara
Penjagaan! Sungguh akhir yang pahit. Sekarang Rombongan ini hancur berantakan.
Akulah yang gagal. Kepercayaan Gandalf padaku sia-sia. Apa yang akan kulakukan
sekarang? Boromir memintaku pergi ke Minas Tirith, dan hatiku pun
menginginkannya; tapi di mana Cincin dan Penyandangnya? Bagaimana aku akan
menemukan mereka dan menyelamatkan Pencarian ini dari malapetaka?"
la
berlutut sebentar, merunduk sambil menangis, masih menggenggam tangan Boromir. Begitulah
Legolas dan Gimli menemukannya. Mereka datang dan lereng barat bukit,
diam-diam, merangkak di antara pepohonan, seolah sedang berburu. Gimli memegang
kapaknya, dan Legolas memegang pisau panjangnya: semua anak panahnya habis
terpakai. Ketika masuk ke lembah, mereka berhenti dengan kaget; lalu mereka
berdiri sejenak dengan kepala tertunduk karena duka, sebab jelas sudah apa yang
telah terjadi.
"Sayang!"
kata Legolas, sambil mendekati Aragorn. "Kami memburu dan membunuh banyak
Orc di hutan, tapi sebenarnya kami akan lebih bermanfaat di sini. Kami datang
ketika mendengar bunyi terompet tapi rupanya terlambat. Aku khawatir kau terluka
parah."
"Boromir
tewas," kata Aragorn. "Aku tidak terluka, karena aku tidak berada di
sini bersamanya. Dia jatuh ketika membela para hobbit, sementara aku berada
jauh di atas bukit."
"Para
hobbit!" seru Gimli. "Di mana mereka, kalau begitu? Di mana Frodo?"
"Aku tidak tahu," jawab Aragorn
lelah. "Sebelum mati, Boromir mengatakan padaku bahwa para Orc mengikat
mereka; menurutnya mereka tidak dibunuh. Aku menyuruhnya mengikuti Merry dan
Pippin, tapi aku tidak bertanya apakah Frodo dan Sam bersamanya; akhirnya sudah
terlambat. Semua yang kulakukan hari ini gagal. Apa yang harus dilakukan
sekarang?"
"Pertama-tama,
kita. harus mengurus yang sudah tewas," kata Legolas. "Kita tak bisa
meninggalkannya di sini, berbaring seperti bangkai di antara Orc-Orc menjijikkan
ini."
"Tapi kita harus cepat," kata
Gimli. "Dia tidak akan mau kita berlama-lama di sini. Kita harus mengikuti
Orc-Orc itu, siapa tahu masih ada harapan, bahwa anggota Rombongan kita ditawan
hidup-hidup."
"Tapi
kita tidak tahu, apakah Penyandang Cincin ada bersama mereka atau tidak,"
kata Aragorn. "Apakah kita akan meninggalkannya? Tidakkah kita harus
mencarinya dulu? Pilihan sulit ada di depan kita!"
"Kalau
begitu, kita bereskan dulu urusan yang lebih penting," kata Legolas.
"Kita tak
punya waktu atau alat untuk menguburkan kawan kita dengan pantas, atau membuat
gundukan tanah di atasnya. Mungkin kita bisa membuat tumpukan batu."
"Pekerjaannya
akan lama dan keras: tak ada batu yang bisa kita gunakan, selain yang ada di
tepi sungai," kata Gimli.
"Kalau
begitu, sebaiknya kita masukkan dia ke dalam perahu, bersama senjatanya dan
senjata musuh-musuhnya yang tewas," kata Aragorn. "Kita akan
mengirimnya ke Air Terjun Rauros dan menyerahkannya kepada Anduin. Setidaknya
Sungai Gondor akan menjaga agar tidak ada makhluk jahat yang mencemarkan
tulang-belulangnya."
Dengan
cepat mereka menggeledah tubuh Orc-Orc, mengumpulkan pedang- pedang, topi baja
pecah, serta perisai menjadi satu tumpukan.
"Lihat!" seru
Aragorn. "Ada yang meninggalkan tanda-tanda!"
