Dalam catatan sejarah,
Kesultanan Safawi dikenal sebagai kesultanan yang telah mengukir prestasi di
bidang filsafat, kajian keagamaan, ilmu pengetahuan, seni dan arsitektur.
Bahkan, menurut sejumlah sejarawan, kegemilangan Safawi dalam prestasi-prestasi
tersebut telah mengungguli Turki Usmani. Lihatlah bangunan-bangunan indah di
Isfahan dan wilayah-wilayah lain di Iran yang merupakan
peninggalan-peninggalannya. Kemajuan bidang seni
arsitektur, misalnya, ditandai dengan
berdirinya sejumlah bangunan megah yang memperindah Isfahan sebagai ibukota
kerajaan. Sejumlah Masjid, sekolah, rumah sakit, jembatan yang memanjang di
atas Zende Rud dan istana Chihil Sutun. Kota
Isfahan juga diperindah dengan kebun wisata yang tertata apik. Beberapa
perayaaan di bulan Muharram pun menjadi prioritas, seperti pembacaan tragedi Imam Husain di Karbala yang sangat memilukan hati. Terlepas dari sisi kurang baiknya, sebagaimana
perjalanan sejarah pada umumnya, Kesultanan Safawi telah menjadi sebuah
"alternatif versi" untuk apa
yang dinamakan Islam yang kompherensif dan menjadi
inspirasi dan rahim pengetahuan dan peradaban. (Sulaiman Djaya)
Naqsh e Jahan Square, Isfahan by Pascal Coste.

Aerial view of the Allahverdi Khan Bridge or Bridge of Thirty Three Arches, built by Shah Abbas I to carry the line of the new Chahar Bagh across the river to the palace known as Hezer Jerib.
The Khwaju Bridge, from Pascal Coste, Les Monuments modernes de la Perse (1867) . The central feature, set on a wider footing, helped the bridge to resist the pressure of the water.
The Allahverdi Khan Bridge, from Pascal Coste, Les Monuments modernes de la Perse, 1867 . Here we are looking towards the centre of the city, to the Madrasa Mader-i-Shah with its swelling dome and twin minarets.
Jalan Sejarah Safawi Persia
Kesultanan
Safawi bermula dari gerakan tarekat yang berdiri di Ardabil, sebuah kota di
Azerbaijan, sebuah kawasan yang terbilang
indah dan menawan. Tarekat ini diberi nama Safawiyah karena pendirinya bernama Syekh
Safuyudin Ishaq (1252-1334), seorang guru agama yang
lahir dari sebuah keluarga Kurdi di Iran Utara. Beliau merupakan anak murid Syekh Zahed Gilani (1216–1301)
dari Lahijan. Pada mulanya gerakan tasawuf Safawiyah ini
bertujuan untuk memerangi orang-orang inkar dan golongan Ahlul Bid’ah. Namun pada perkembangannya, gerakan tasawuf yang bersifat
lokal ini berubah menjadi gerakan keagamaan yang mempunyai pengaruh besar di
Persia, Syria dan Anatolia. Di negeri-negeri yang berada di luar Ardabil
inilah, Safi al Din menempatkan seorang wakil yang diberi gelar Khalifah untuk
memimpin murid-murid di daerahnya masing-masing. Bermula dari sinilah, gerakan Safawi mewakili sebuah kebangkitan Islam Populer
yang menentang dominasi militer Mongol yang meresahkan dan
bersifat eksploitatif. Tidak seperti gerakan lainnya, gerakan Safawiyah
memprakarsai penaklukan Iran dan mendirikan sebuah Kesultanan baru yang berkuasa dari 1501 sampai 1722. Sang pendiri
mengawali gerakannya dengan seruan untuk memurnikan dan memulihkan kembali
ajaran Islam.
Berdirinya Kesultanan
Safawi ini bersamaan dengan masa ketika kerajaan Turki Usmani sudah mencapai puncak kejayaan,
di saat Kesultanan Safawi yang didirikan di Persia tersebut
baru
berdiri. Hanya saja, tanpa diduga, kesultanan ini dapat berkembang
dengan cepat. Nama Safawi ini pun terus dipertahankan sampai Tarekat
Safawiyah menjadi gerakan politik dan menjadi sebuah kesultanan yang disebut Kesultanan Safawi. Dan dalam perkembangannya, Kesultanan Safawi sering berselisih
dengan kerajaan Turki Usmani. Kesultanan Safawi mempunyai
perbedaan dari dua kerajaan besar Islam lainnya, seperti kerajan Turki Usmani dan Mughal. Kesultanan ini menyatakan sebagai Penganut Syi’ah Islam
dan
dijadikan sebagai mazhab Negara, dan karena itulah, dalam sejaran bangsa Iran, Kesultanan Safawi dianggap sebagai peletak
dasar pertama terbentuknya Negara Iran dewasa ini, di mana ketika Revolusi Islam Iran yang dipimpin Imam Khomeini sukses
menyudahi rezim Syah Pahlevi yang disokong Amerika dan Israel itu, Iran kembali
memantapkan Syi’ah Islam sebagai mazhab resmi Negara. (Sulaiman Djaya)




Tidak ada komentar:
Posting Komentar