Oleh Husain Heriyanto*
Kelangsungan hidup menusia
dan planet bumi kini menjadi keprihatinan manusia sedunia. Dalam “Global
Forum on Ecology and Poverty”, Dhaka, 22-24 Juli 1993, Direktur Eksekutif
Program Lingkungan PBB (UNEP) menyatakan: “Dunia kita berada di tepi
kehancuran lantaran ulah manusia. Di seluruh planet, sumber-sumber alam dijarah
kelewat batas.” Disebutkan juga, pada setiap detik, diperkirakan sekitar
200 ton karbon dioksida dilepas ke atmosfir dan 750 ton top soil musnah.
Sementara itu, diperkirakan sekitar 47.000 hektar hutan dibabat, 16.000 hektar
tanah digunduli, dan antara 100 hingga 300 spesies mati setiap hari. Pada saat
yang sama, secara absolut jumlah penduduk meningkat 1 milyar orang per dekade.
Ini menambah beban bumi yang sudan renta. Inilah yang sepanjang dua dekade
terakhir menyentakkan kesadaran orang akan krisis lingkungan. Karena, hal ini
menyangkut soal kelangsungan hidup jagad keseluruhan.
Solusi terhadap krisis
lingkungan yang kini melanda seluruh dunia bukanlah melulu soal teknis atau
ekonomis. Kiranya perlu dicatat bahwa persepsi seorang individu terhadap alam
sering kali mempengaruhi tindakan-tindakannya. Hal ini berarti imaji, citra
manusia tentang alam akan langsung mempengaruhi perbuatan-perbuatan,
kepercayaan, tingkah laku sosial dan kehidupan pribadi manusia. Sesungguhya
cara kita hidup berkaitan erat dengan cara kita memandang dunia atau pandangan
dunia (world view). ). Sebagaimana yang dikutip oleh
Fritjof Capra dalam The Web and Life (London, 1996), R.D. Laing
menyatakan, “… Kita telah menghancurkan dunia ini secara teori sebelum kita
menghancurkannya dalam praktek…”
Menurut Seyyed
Hossein Nasr dalam Man and Nature: The Spiritual Crisis of Modern Man (London,
1976), krisis ekologi berkorelasi erat dengan krisis spiritual-eksistensial
yang menerpa kebanyakan manusia modern. Karena menangnya
humanisme-antroposentris yang memutlakkan si manusia, maka bumi,
alam dan lingkungan diperkosa atas nama hak-hak manusia. Dan bagi manusia, alam
telah menjadi layaknya pelacur (prostitute) yang dimanfaatkam tanpa rasa
kewajiban dan tanggung jawab terhadapnya.
Tidak sulit untuk
membuktikan bahwa pemberhalaan benda dan pengingkaran realitas Ilahi
(materialisme), pendewaan manusia (humanisme), kekuasaan (kolonialisme), dan
sebagainya merupakan landasan filosofis dan intelektual bagi munculnya
kebudayaan modern. Di sisi lain, revolusi industri yang berdampak pada konsumsi
dan distribusi adalah landasan historis bagi munculnya perkembangan dan
pertumbuhan kebudayaan ini pada masa-masa selanjutnya.
Di samping itu pendekatan
kuantitatif (banyak-sedikit, besar-kecil, untung rugi) menggusur pertimbangan
kualitatif (benar-salah, baik-buruk, indah-jelek) terhadap alam.
Pada gilirannya alam hanya dipandang sebagai obyek pemuas nafsu yang tidak
berkesadaran, pelayan nafsu syahwat eksploitatif manusia, dijadikan sebagai
komoditas politik atau ekonomi. Akibat terlalu menafikan sisi kualitatif
kehidupan maka revolusi industri –sejak zaman Renaissans– selalu saja
terantuk dalam persimpangan jalan; mendorong kemajuan teknis, tapi juga
menelantarkan buruh; menemukan obat-obatatan, tapi juga menebar penyakit;
meningkatkan efisiensi, tapi juga merusak lingkungan; membuat peralatan
praktis, tapi juga meningkatkan polusi dan limbah.
Eksploitasi manusia
terhadap alam mendapat legitimasi ilmiah-filosofis melalui pandangan dunia
modern bahwa manusia adalah pusat dunia (antroposentrisme). Alam dipahami
sebagai sesuatu yang tidak punyai nilai intrinsik kecuali semata-mata nilai
yang dilekatkan oleh manusia terhadapnya.
Tahap selanjutnya adalah
saintisme; rencana menelanjangi segala sesuatu secara empiris. Sebagai dasar
epistemik modernisme, saitisme, menggelumbung menjadi ideologi yang diterapkan
untuk semua realitas. Saintisme membuat pandangan-dunia religius tidak relevan
secara ilmiah. Agama tidak lebih dari keyakinan orang perorang yang berwatak
subjektif, emosional dan tidak ilmiah. Maka, konsep alam sebagai ciptaan Tuhan
pun lantas tersapu bersih dari cara berpikir saintisme.
Namun realitas terkini
membalikkan keadaan. Optimisme manusia modern yang mengklaim mampu
menundukkan dan menguasai alam, harus bertekuk lutut di hadapan “kemarahan”
alam dengan berbagai krisisnya seperti polusi udara, suara, penipisan lapisan
ozon dan lain-lain, hal ini juga sekaligus menyentakkan kesadaran manusia bahwa
alam mempunyai tatanan tersendiri. Dalam laporan pertamanya Limits to
Growth (Batas-batas Pertumbuhan) tahun 1975, Club of Roma
mengingatkan malapetaka yang mengancam peradaban manusia jika cara-pandang
manusia modern umumnya terhadap ekosistem tidak berubah atau diubah, khususnya
terhadap konsep pertumbuhan demi pertumbuhan tanpa memperhatikan ekosistem
secara holistik dan integral. Sementara dalam laporan keduanya Mankind
at the Turning Point (Umat Manusia di Titik Balik), kelompok pemerhati
ekosistem itu malah meramalkan bakal kiamatnya dunia jika tanda-tanda bahaya
peradaban seperti krisis ekologi tidak diperhatikan dengan sungguh-sungguh.
*Deputi Rektor Islamic
College for Advanced Studies (ICAS) dan dosen Filsafat Lingkungan di
Universitas Indonesia.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar