oleh Sulaiman Djaya (esais dan penyair)
PENTING UNTUK
DIPAHAMI BAHWA BERPARTISIPASI DALAM RUTINITAS SUKSESI POLITIK (PEMILU) YANG
DIDISAIN DAN DIKENDALIKAN OLEH NEOLIBERALISME BUKAN SIKAP DAN TINDAKAN
PATRIOTIK atau pun sikap dan tindakan nasionalis. Justru sebaliknya, merupakan
sikap dan tindakan pengkhianatan kepada falsafah dan dasar Negara bangsa kita.
Ketika membaca negeri
dan bangsaku yang bernama Indonesia ini, pada akhirnya saya ‘seperti menyerah’
dalam membacanya saat ini, yang tak ubahnya seorang realis yang ‘meneliti’
praktik politik di era komoditas ini, layaknya Niccolo Machiavelli. Bahwa para
elite Negara bangsa sekarang ini, berbeda dengan para bapak bangsa di masa
lalu, tak lebih orang-orang pragmatis. Dalam dunia modern, seperti dinyatakan
sosiolog Max Weber dalam kuliahnya yang bertajuk Politics as Vocation, politik
tak lebih sama halnya dengan orang-orang yang bekerja di pabrik-pabrik dan
industri, dalam rangka mencari pekerjaan dan kekayaan.
Jika saya, misalnya,
sungguh-sunggguh menjadi seorang realis, maka saya harus menerima kenyataan
bahwa ketika manusia-manusia modern terjun dalam gelanggang politik dan
mengejar jabatan, mereka sesungguhnya hanya menjadi manusia-manusia pragmatis
yang dituntun oleh rasionalitas instrumental untuk mengejar uang dan kekayaan,
bukan memikirkan bangsa, Negara, apalagi warga Negara. Dalam kadar ini saya bahkan
sempat menyangsikan manfaat sikap partisipatoris warga Negara dalam rutinitas
suksesi dengan mengajukan pertanyaan satiris: Apa artinya berpartisipasi dalam
pemilihan umum jika hanya untuk memilih para elite yang memandang politik cuma
ajang mencari kekayaan dan selalu saja menjadi para penelor kebijakan
neoliberal?
Jika para bapak
bangsa kita adalah para penulis dan pemikir, contohnya, para elite saat ini
banyak yang tukang korupsi dan jadi pencuri. Berbeda mentalitas 180 derajat.
Tidak ada keteladanan sebagaimana yang dicontohkan oleh Mohammad Hatta,
misalnya. Saat ini saya hanya dipaksa menerima kenyataan yang tak terbantahkan
bahwa ketika manusia-manusia modern terjun dalam politik dan mengejar jabatan
(atau kekuasaan/kedudukan) dalam partai atau birokrasi, mereka sedang mencari
pekerjaan untuk ‘merebut’ peluang mendapatkan akses pendapatan, gaji dan
kekayaan.
Mereka ‘mengejar’
karir, bukan dalam rangka mengabdi kepada masyarakat atau warga Negara. Itulah
realitas birokrasi dan politik saat ini. Tak heran, jika mereka berani berjudi
dengan mengeluarkan modal capital untuk merebut kedudukan dan jabatan politik
atau birokrasi tersebut, acapkali menghalalkan suap. Dan itu bukan berita baru.
Mereka yang merasa tak cocok dalam dunia kebudayaan, akademik, intelektualisme,
dan pemikiran, contohnya memilih politik untuk mencari pekerjaan dan
pendapatan.
Namun tentu saja,
sesungguhnya saya tak ‘menyerah’ begitu saja dalam generalisasi yang memukul
rata seluruh elite dan pejabat di negeri ini korup dan para pencuri. Sebab ada
sejumlah figur yang membuktikan bahwa mereka memiliki integritas, semisal
almarhum Syafiuddin Kartasasmita yang dibunuh oleh Hutomo Mandala Putra alias
Tommy Soeharto, Baharudin Lopa dan yang lainnya. Ada banyak mereka yang
memiliki nurani dan kejujuran, meski barangkali masih kalah banyak oleh mereka
yang bermental pragmatis yang dituntun oleh rasionalitas instrumental belaka.
Dunia atau institusi
pendidikan kita pun cenderung terjebak dalam kekakuan birokratis, memesinkan
manusia, dan tak memberikan ruang bagi kritisisme serta vitalitas berpikir
visioner dan revolusioner. Hanya mencetak calon-calon pekerja dan
manusia-manusia birokratis yang tidak produktif dan inovatif. Sehingga,
jangankan berbicara bagi kemungkinan revolusi, mereka yang mengenyam pendidikan
di perguruan tinggi atau universitas sekalipun masih rendah kapasitas
literernya atau masih kurang terpelajar.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar