Label

Jadikan Rinduku Sebagai Pisau

 
Jadikan Rinduku Sebagai Pisau


Di malam tak berjendela
Di jalanan sepi pelarian yang kalah
Di dukacita mereka yang ditinggalkan
Di kegembiraan kanak-kanak
Di kesepian mereka yang putus-asa
Jadikan rinduku sebagai pisau
Yang membunuh amarah.

Aku cinta kau
Justru ketika hidup tak dapat diukur.
Pagiku tak berbantal
Mencari dan mencari
Apa saja yang jadi puisi.

Di bawah lampu-lampu taman
Dan trotoar basah
Selepas hujan
Aku adalah para serangga
Yang kedinginan.
Aku adalah bahasa
Berkelana di dalam pikiran.

Aku tak bisa membaca wahyu
Dari para pengkhutbah agama
Yang menjelma badut
Di mimbar-mimbar
Di layar-layar televisi.

Di lontaran mesiu-mesiu perang
Di ratapan para pengungsi
Di sudut-sudut tempat
Mereka yang diasingkan
Jadikan rinduku sebagai peluru
Untuk menggempur
Kesedihanku yang ragu.

Di rambutmu, di matamu,
Di hembusan nafasmu saat tidur
Maut tak pernah bergegas
Untuk mencuri waktu
Di dalam sajakku.

(2018)

Tidak Ada Politik Islam di Indonesia



oleh Sulaiman Djaya, pemerhati budaya

Seorang teman berkata, bahwa saat ini di Indonesia tengah terjadi kebangkitan konservatisme keagamaan dan Islam Politik. Saya jawab, jika kebangkitan konservatisme yang kau maksud adalah konservatisme keagamaan sebagaimana yang saya pahami seperti Revolusi Islam Iran, itu malah bagus, dan yang kedua, soal Islam Politik, bagi saya tidak ada Politik Islam di Indonesia, yang ada di Indonesia adalah politisasi Islam seperti yang dulu dikhawatirkan Cak Nur sampai-sampai mengeluarkan kredo: Islam Yes, Partai Islam No! Karena dalam pemahaman saya, Cak Nur melihat di Indonesia itu memang yang ada dan terjadi adalah upaya dan usaha yang tak pernah berhenti untuk mempolitisasi agama demi kepentingan sekuler.

Jawaban saya kepada seorang teman itu karena bagi saya yang dimaksud Islam Politik itu yah seperti Revolusi Islam Iran 1979 yang jelas ideologi, argumen dan tujuan-nya: semangat keagamaan yang mencerahkan dengan tujuan memerdekakan manusia dari tirani dan penindasan serta ketakbebasan yang akan menghilangkan jati diri kemanusiaannya sebagai pribadi dan manusia, bukan agama yang memperbudak dan menjadi alat tirani. Sebenarnya saya kecewa juga kepada para sarjana lulusan Barat yang mengimani secara ideologis, dan lalu menulis bahwa politik Islam itu buruk. Mereka sepertinya tidak memahami bahwa politik yang diajarkan Islam itu ajaran, nilai, dan gerakan yang bertujuan mencerahkan dan memerdekakan manusia.

Para sarjana itu bagi saya ‘korban’ pabrikasi (pencetakan dan penyamaan) oleh dogmatisme akademik universitas atau perguruan tinggi yang kepentingan utamanya adalah terpenuhinya capaian yang ingin didapatkan kapitalisme: pemetaan demi tujuan strategis politik global. Istilah-istilah seperti Islamisme dan Fundamentalisme diciptakan dalam rangka ‘memudahkan’ pemetaan demi tujuan strategis yang sama. Dalam hal ini, para sarjana Barat atau para sarjana non-Barat yang lulusan perguruan tinggi atau universitas di Barat memaksudkan Islamisme sebagai komunitas atau gerakan sebagian kaum muslim yang mereka identifikasi sebagai kelompok atau kaum yang memiliki ciri-ciri apa yang mereka sebut sebagai Islam Politik. Segaris dengan ini, sebagai contoh, Revolusi Islam Iran 1979, mereka anggap sebagai Fundamentalisme dan Islamisme, yang sayangnya mereka samakan dengan Wahabisme dalam cakupan istilah dan definisi yang sama. Padahal, Islam di Iran dan Wahabisme seumpama perbedaan antara terang dan gelap.

Political Science karena didesak kebutuhan pemetaan yang demikian, pada akhirnya tak sanggup menghindarkan diri dari reduksi dan generalisasi. Yang pertama adalah praktik kekerasan memasukkan sesuatu yang tak sama dan tidak tepat bersama-sama dengan sesuatu yang lainnya, dan yang kedua melakukan penyimpulan berdasarkan kasus sebagai kebenaran universal atau kebenaran umum. Sebagai contoh, para sarjana umumnya menggunakan istilah Islam Sunni yang di dalamnya mencakup pula sekte Wahabi (yang mana Wahabi ditolak para ulama Sunni se-Dunia sebagai bagian dari mereka) dan tidak diakui sebagai bagian dari Mazhab Islam oleh ulama se-Dunia ketika mereka memetakan mazhab Islam demi membedakannya dengan Islam Syi’ah.

Barangkali saja, ketika ada sejumlah sarjana lulusan Barat menyatakan Islam Politik dan Politik Islam di Indonesia semisal kelompok yang menyuarakan gerakan khilafah itu, maka itu hanya kulit luar saja. Karena mereka yang menyuarakan pendirian khilafah itu adalah kaum dan golongan yang dibajak dan menjadi korban indoktrinasi kelompok Islam Proksi yang garis kepentingannya adalah tujuan politik global Barat (Amerika dkk) yang memiliki motif dan kepentingan menyebarkan ekstrimisme melalui elite-elite yang mereka kendalikan dan mereka bayar. Maka tak heran, ketika sejumlah elite monarkhi Saudi Arabia, misalnya, sempat menyatakan bahwa mereka menyabarkan doktrin dan ideologi Wahabi mereka ke seluruh dunia atas permintaan Barat (Amerika dkk). Maka sebut saja yang demikian sebagai Pseudo Islam Politik atau Islam Politik Gadungan (palsu).

Hal demikian terbukti dengan kasus ISIS, ketika kaum muslim ekstrim dan yang termakan isu pendirian khilafah, banyak yang menjadi begundal ISIS. Sementara elite-elite dan pemimpin ISIS itu sendiri dikendalikan dan ‘dibayar’ oleh Amerika, Israel dkk. Mereka yang kemudian menjadi para begundal ISIS itu, contohnya, adalah mereka yang menjadi korban kampanye-kampanye takfir (pengkafiran) terhadap sesama muslim, misalnya kepada Islam Syi’ah. Mereka-mereka yang termakan isu murahan (fitnah) bahwa konflik dan Perang Suriah adalah perang Sunni dan Syi’ah seperti yang dihembuskan oleh Bachtiar Nasir dkk.

Singkat kata, istilah-istilah dan definisi-definisi yang digunakan dalam diskursus dan penulisan di ranah ilmu sosial termasuk political science atau dalam sains sekalipun memang berguna demi pemetaan dan ‘penyederhanaan’, namun bukan berarti merepresentasikan kebenaran dan validitas. Malah seringkali merupakan reduksi semata, untuk tidak dikatakan ‘praktik kebohongan’ demi kepentingan politis dan strategis atas nama sains dan diskursus akademik.

Lord of the Rings: Gugurnya Boromir


oleh J.R.R. Tolkien

Aragorn bergegas mendaki bukit. Sesekali ia membungkuk ke tanah. Hobbit bisa berjalan ringan, jejak kaki mereka tak mudah dibaca, meski oleh Penjaga Hutan sekalipun, tapi tidak jauh dari puncak, sebuah mata air melintasi jalan, dan di tanah yang basah Aragorn melihat apa yang dicarinya.


"Aku sudah benar membaca tanda-tandanya," kata Aragorn pada dirinya sendiri. "Frodo lari ke puncak bukit. Apa yang dilihatnya di sana? Tapi dia kembali lewat jalan yang sama, dan menuruni bukit lagi."


Aragorn ragu. Ia ingin pergi ke takhta tinggi itu, berharap melihat sesuatu yang bisa menuntunnya dalam kebingungannya; tapi waktu sudah mendesak. Mendadak ia melompat maju dan berlari ke puncak, melintasi ubin-ubin besar dan menaiki tangga. Lalu, sambil duduk di takhta, ia memandang sekelilingnya. Tapi matahari seolah meredup, dunia tampak remang-remang dan jauh. Ia mengalihkan pandang dari Utara, lalu memandang ke Utara lagi, dan tidak melihat apa pun selain perbukitan di kejauhan. Pada jarak sejauh itu ia bisa melihat lagi seekor burung besar seperti elang tinggi di angkasa, terbang turun dengan lambat, melingkar-lingkar ke bumi.


Saat ia memandang, pendengarannya yang tajam menangkap bunyi-bunyi di hutan di bawah, di sisi barat Sungai. Ia berdiri kaku. Ada suara-suara teriakan, dan di antaranya, dengan ngeri ia mengenali suara-suara Orc. Lalu sekonyong- konyong terdengar bunyi berat terompet, lenguhannya membelah perbukitan dan bergema di lembah, naik dengan teriakan keras melebihi gemuruh air terjun. "Terompet Boromir!" teriak Aragorn. "Dia perlu bantuan!" Aragorn melompat menuruni tangga dan berlari menuruni jalan. "Aduh! Hari ini nasibku benar-benar buruk, semua yang kulakukan kacau. Di mana Sam?"


Sementara ia berlari, teriakan-teriakan itu terdengar makin keras, tapi bunyi terompet semakin lemah dan terdengar putus asa. Teriakan-teriakan Orc terdengar garang dan nyaring, dan tiba-tiba tiupan terompet berhenti. Aragorn lari menuruni lereng terakhir, tapi sebelum ia mencapai kaki bukit, bunyi-bunyi itu sudah hilang; ketika ia belok ke kiri dan berlari ke arah bunyi-bunyi itu, suara mereka makin menjauh dan akhirnya tak terdengar lagi. Sambil menghunus pedangnya yang bersinar dan berteriak Elendil! Elendil! ia menerobos pepohonan.

Kira-kira satu mil dari Parth Galen, di sebuah lembah kecil tak jauh dari telaga, ia menemukan Boromir. Boromir duduk bersandar pada sebatang pohon besar, seolah beristirahat. Tapi Aragorn melihat tubuhnya ditembus banyak sekali panah berbulu hitam; pedangnya masih di tangan, tapi sudah patah dekat pangkalnya; terompetnya tergeletak terbelah dua di sisinya. Banyak sekali Orc mati, bertumpuk di sekitarnya dan di dekat kakinya.


Aragorn berlutut di sampingnya. Boromir membuka mata dan berusaha berbicara. Akhirnya perlahan-lahan keluar kata-kata. "Aku mencoba mengambil Cincin itu dari Frodo," katanya. "Aku menyesal. Aku sudah membayarnya." ia melirik ke arah musuh-musuhnya yang sudah tewas; sekurang-kurangnya ada dua puluh Orc terbaring di sana. "Mereka sudah pergi: kedua Halfling itu; Orc- Orc membawa mereka. Kurasa mereka tidak mati. Orc-Orc mengikat mereka." Ia diam dan memejamkan mata dengan letih. Setelah beberapa saat, ia berbicara lagi.


"Selamat jalan, Aragorn! Pergilah ke Minas Tirith dan selamatkan rakyatku! Aku sudah gagal!"


"Tidak!" kata Aragorn, memegang tangan Boromir dan mengecup dahinya. "Kau sudah menang. Hanya sedikit yang memperoleh kemenangan seperti itu. Tenanglah! Minas Tirith tidak akan jatuh!"


Boromir tersenyum.

"Ke arah mana mereka pergi? Apakah Frodo bersama mereka?" kata Aragorn. Tapi Boromir tidak berbicara lagi.

"Sayang sekali!" kata Aragorn. "Demikianlah akhir hayat putra mahkota Denethor, Penguasa Menara Penjagaan! Sungguh akhir yang pahit. Sekarang Rombongan ini hancur berantakan. Akulah yang gagal. Kepercayaan Gandalf padaku sia-sia. Apa yang akan kulakukan sekarang? Boromir memintaku pergi ke Minas Tirith, dan hatiku pun menginginkannya; tapi di mana Cincin dan Penyandangnya? Bagaimana aku akan menemukan mereka dan menyelamatkan Pencarian ini dari malapetaka?"

la berlutut sebentar, merunduk sambil menangis, masih menggenggam tangan Boromir. Begitulah Legolas dan Gimli menemukannya. Mereka datang dan lereng barat bukit, diam-diam, merangkak di antara pepohonan, seolah sedang berburu. Gimli memegang kapaknya, dan Legolas memegang pisau panjangnya: semua anak panahnya habis terpakai. Ketika masuk ke lembah, mereka berhenti dengan kaget; lalu mereka berdiri sejenak dengan kepala tertunduk karena duka, sebab jelas sudah apa yang telah terjadi.


"Sayang!" kata Legolas, sambil mendekati Aragorn. "Kami memburu dan membunuh banyak Orc di hutan, tapi sebenarnya kami akan lebih bermanfaat di sini. Kami datang ketika mendengar bunyi terompet tapi rupanya terlambat. Aku khawatir kau terluka parah."


"Boromir tewas," kata Aragorn. "Aku tidak terluka, karena aku tidak berada di sini bersamanya. Dia jatuh ketika membela para hobbit, sementara aku berada jauh di atas bukit."


"Para hobbit!" seru Gimli. "Di mana mereka, kalau begitu? Di mana Frodo?"

"Aku tidak tahu," jawab Aragorn lelah. "Sebelum mati, Boromir mengatakan padaku bahwa para Orc mengikat mereka; menurutnya mereka tidak dibunuh. Aku menyuruhnya mengikuti Merry dan Pippin, tapi aku tidak bertanya apakah Frodo dan Sam bersamanya; akhirnya sudah terlambat. Semua yang kulakukan hari ini gagal. Apa yang harus dilakukan sekarang?"


"Pertama-tama, kita. harus mengurus yang sudah tewas," kata Legolas. "Kita tak bisa meninggalkannya di sini, berbaring seperti bangkai di antara Orc-Orc menjijikkan ini."

"Tapi kita harus cepat," kata Gimli. "Dia tidak akan mau kita berlama-lama di sini. Kita harus mengikuti Orc-Orc itu, siapa tahu masih ada harapan, bahwa anggota Rombongan kita ditawan hidup-hidup."


"Tapi kita tidak tahu, apakah Penyandang Cincin ada bersama mereka atau tidak," kata Aragorn. "Apakah kita akan meninggalkannya? Tidakkah kita harus mencarinya dulu? Pilihan sulit ada di depan kita!"


"Kalau begitu, kita bereskan dulu urusan yang lebih penting," kata Legolas. "Kita tak punya waktu atau alat untuk menguburkan kawan kita dengan pantas, atau membuat gundukan tanah di atasnya. Mungkin kita bisa membuat tumpukan batu."


"Pekerjaannya akan lama dan keras: tak ada batu yang bisa kita gunakan, selain yang ada di tepi sungai," kata Gimli.


"Kalau begitu, sebaiknya kita masukkan dia ke dalam perahu, bersama senjatanya dan senjata musuh-musuhnya yang tewas," kata Aragorn. "Kita akan mengirimnya ke Air Terjun Rauros dan menyerahkannya kepada Anduin. Setidaknya Sungai Gondor akan menjaga agar tidak ada makhluk jahat yang mencemarkan tulang-belulangnya."


Dengan cepat mereka menggeledah tubuh Orc-Orc, mengumpulkan pedang- pedang, topi baja pecah, serta perisai menjadi satu tumpukan.


"Lihat!" seru Aragorn. "Ada yang meninggalkan tanda-tanda!"