Tuan-tuan Hakim yang
terhormat!
Di dalam aksi kami
sering-sering kedengaran kata-kata “kapitalisme” dan “imperialisme”. Di dalam
proses ini, dua perkataan ini pun menjadi penyelidikan. Kami antara lain
dituduh memaksudkan bangsa Belanda dan bangsa asing lain, kalau umpamanya kami
berkata “kapitaisme harus dilenyapkan”. Kami dituduh membahayakan pemerintah
kalau kami berseru “rubuhkanlah imperialisme”. Ya, kami dituduh berkata bahwa
kpitalisme = bangsa Belanda serta bangsa asing lain, dan bahwa imperialisme =
pemerintah yang sekarang!
Adakah bisa jadi benar
tuduhan ini? Tuduhan ini tidak bisa jadi benar. Kami tidak pernah mengatakan,
bahwa kapitalisme = bangsa asing, tidak pernah mengatakan bahwa imperialisme =
pemerintah. Kami pun tidak pernah memaksudkan bangsa asing kalau berkata;
kapitalisme, tidak pernah memaksudkan pemerintah atau ketertiban umum atau apa
saja kalau kami berkata imperialisme. Kami memaksudkan kapitalisme kalau kami
berkata kapitalisme; kami memaksudkan imperialisme kalau kami berkata
imperialisme!
Maka apakah artinya
kapitalisme? Tuan-tuan Hakim, di dalam pemeriksaan sudah kami katakan, Kapitalisme adalah sistem pergaulan hidup yang
timbul dari cara produksi yang memisahkan kaum buruh dari alat-alat produksi.
Kapitalisme timbul dari cara produksi, yang oleh karenanya, menjadi sebabnya nilai-lebih[1] tidak jatuh di dalam tangan kaum
buruh melainkan jatuh di dalam tangan kaum majikan. Kapitalisme, oleh karenanya
pula, menyebabkan akumulasi kapital, konsentrasi kapital, sentralisasi kapital,
dan industrielle reserve-armée[2].
Kapitalisme mempunyai arah kepada Verelendung[3]
(baca: pemelaratan).
Haruskah kami di dalam
pidato ini masih lebih lebar lagi menguraikan, bahwa kapitalisme itu bukan
suatu badan, bukan manusia, bukan suatu bangsa,–tetapi ialah suatu faham, suatu
pengertian, suatu sistem? Haruskah kami menunjukkan lebih lanjut, bahwa
kapitalisme itu ialah sistem cara produksi, sebagai yang kami telah terangkan
dengan singkat itu? Ah, Tuan-tuan Hakim, kami rasa tidak. Sebab tidak ada satu
intelektuil yang tidak mengetahui artinya kata itu. Tidak ada satu hal di dunia
ini, yang sudah begitu banyak diselidiki dari kanan-kiri, luar dalam, sebagai
kapitalisme itu. Tidak ada satu hal di dunia ini, yang begitu luas
perpustakaannya, sebagai kapitalisme itu, –hingga berpuluh-uluh jilid,
berpuluh-puluh ribu studi dan buku-buku standar dan brosur-brosur tentang itu.
Tetapi apa arti perkataan
imperialisme? Imperialisme juga suatu faham, imperialisme juga suatu pengertian.
Ia bukan sebagai yang dituduhkan kepada kami itu. Ia bukan ambtenaar binnelandsch bestuur[4],
bukan pemerintah, bukan gezag[5],
bukan badan apapun jua. Ia adalah suatu nafsu, suatu sistem menguasai atau
mempengaruhi ekonomi bangsa lain atau negeri,–suatu sistem merajai atau
mengendalikan ekonomi atau negeri bangsa lain. Ini adalah suatu “kejadian” di
dalam pergaulan hidup, yang timbulnya ialah oleh keharusan-keharusan di dalam
ekonomi sesuatu negeri atau sesuatu bangsa. Selama ada “ekonomi bangsa”, selama
ada “ekonomi negeri”, selama itu dunia melihat imperialisme. Ia kita dapatkan
dalam nafsu burung Garuda Rum terbang ke mana-mana, menaklukkan negeri-negeri
sekeliling dan di luar Lautan Tengah. Ia kita dapatkan di dalam nafsu bangsa
Spanyol menuduki negeri Belanda untuk bisa mengalahkan Inggris, ia kita
dapatkan di dalam nafsu kerajaan Timur Sriwijaya menaklukkan negeri semenanjung
Malaka, menaklukkan kerajaan Melayu, mempengaruhi rumah tangga negeri Kamboja
atau Campa. Ia kita dapatkan di dalam nafsu negeri Majapahit menaklukkan dan
mempengaruhi semua kepulauan Indonesia, dari Bali sampai Kalimantan, dari
Sumatera sampai Maluku. Ia kita dapatkan di dalam nafsu kerajaan Jepang
menduduki semenanjung Korea, mempengaruhi negeri Mancuria, menguasai pulau-pulau
di Lautan Teduh.
Imperialisme terdapat di
semua zaman “perekonomian bangsa”, terdapat pada semua bangsa yang ekonominya
sudah butuh pada imperialisme itu. Bukan pada bangsa kulit putih saja ada
imperialisme; tapi juga pada bangsa kulit kuning, juga pada bangsa kulit hitam,
juga pada bangsa kulit merah sawo sebagai kami,–sebagai terbukti di zaman
Sriwijaya dan zaman Majapahit; imperialisme adalah suatu “economische gedetermineerde noodwendigheid”,
suatu keharusan yang ditentukan oleh rendah tingginya ekonomi sesuatu pergaulan
hidup, yang tak memandang bulu.
Dan sebagai yang tadi kami
katakan, –imperialisme bukan saja sistem atau nafsu menaklukkan negeri dan
bangsa lain, tapi imperialisme juga hanya nafsu atau sistem mempengaruhi
ekonomi negeri dan bangsa lain! Ia tak usah dijalankan dengan pedang atau bedil
atau meriam atau kapal perang, tak usah berupa “pengluasan negeri-daerah dengan
kekerasan senjata” sebagai yang diartikan oleh van Kol[6] (Seorang anggota parlemen Belanda) –tetapi ia bisa juga berjalan
hanya dengan “putar lidah” atau cara “halus-halusan” saja, bisa juga berjalan
dengan cara “pénétration pacifique”.
Terutama dalam sifatnya
mempengaruhi rumah tangga bangsa lain, imperialisme zaman sekarang sama
berbuahkan “negeri-negeri mandat” alias “mandaatgebieden”,
daerah-daerah pengaruh” alias “invloedssferen”
dan lain-lain sebagainya, sedang di dalam sifatnya menaklukkan negeri orang
lain, imperialisme itu berbuah negeri jajahan, –koloniaal-bezit.
Catatan
[1]Nilai
lebih (merrwarde): kelebihan hasil yang diterima majikan, dari produksi kaum
buruh.
[2] industrielle reserve-armée: barisan penganggur
[3]
Verelendung: Memelaratkan kaum buruh.
[4] ambtenaar BB (binnelandsch bestuur): pegawai
pamong praja kolonial belanda
[5] Gezag:
kekuasaan.
[6] Van Kol
Henri Hubert (1852-1925) , seorang sosialis yang turut mendirikan Sociaal
Democratische Arbeiders Partij (SDAP) dan pernah menjadi Menteri Jajahan.
Kata-kata ini diucapkan Van Kol dalam sidang Tweede Kamer, 22 November 1901.
Sumber: Risalah “Indonesia Menggugat”, yaitu Pidato
Pembelaan Bung Karno di depan pengadilan kolonial (landraad) di Bandung, 1930.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar