Puisi Sulaiman
Djaya
Di masa kanak, jalanan
ramai
oleh bunyi anak-anak sekolah
dan mereka
yang pergi ke pasar.
Di hari Minggu, aku
membantu ibu
menyusun senja
dan potongan-potongan
kayu.
Pada halaman-halaman buku gambar,
kupindahkan sungai dan sawah-sawah,
seolah aku ingin menyimpan tanah kelahiran
yang tak boleh
dilupakan.
Pelajaran pertamaku
adalah bagaimana
harus terbangun dengan
sabar
ketika halaman masih
basah,
ketika sisa hujan membuatku enggan melangkah.
Di hari-hari di mana aku
harus mengenakan
seragam, fajar lembab
bulan Desember
membuat hatiku hanya
ingin terlelap.
Tetapi dengan sepasang
sepatu kesayangan
aku melangkah selepas
menyantap sarapan
buatan tangan ibu yang
tak pernah lelah.
Aku ingat, sepanjang jalan,
sesekali
aku memandang langit.
Ada saatnya
cuaca tak terduga, dan
aku harus menghentikan
perjalanan. Saat usai,
kuakrabi dingin gerimis
sebagai ketabahan, dan
kepulan asap
di dapur ibu segera
menjadi penebus rasa gundah
sepulang sekolah.
(2015)
Iraqi Shiite Muslim women pray at the shrine of Imam Moussa al-Kadhim, to mark the anniversary of the death of the religious figure, in the northern district of Kadhimiya in the Iraqi capital Baghdad. Pilgrims are converging on the Imam’s shrine to mark the death of the seventh Imam, who was imprisoned for four years and then poisoned by the then ruler Harun al-Rashid in 795. (Ahmad Al-Rubaye/Getty Images)Muslim women pray at the shrine of Imam Moussa al-Kadhim, to mark the anniversary of the death of the religious figure, in the northern district of Kadhimiya in the Iraqi capital Baghdad. Pilgrims are converging on the Imam’s shrine to mark the death of the seventh Imam, who was imprisoned for four years and then poisoned by the then ruler Harun al-Rashid in 795. (Ahmad Al-Rubaye/Getty Images)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar