Oleh Muhammad Rois Rinaldi, penyair
(Paper diskusi 4 Januari 2014 di Cilegon, Banten)
Satu hal yang dapat ditandai dari puisi-puisi
Sulaiman Djaya dalam antologi puisi tunggal bertajuk “Mazmur Musim Sunyi”,
adalah kesunyian itu sendiri. Kesunyian yang dalam dan dingin! Tentu saja dilantari
oleh perjalanan hidupnya yang penuh dengan sinyal-sinyal makna serta
kesan-kesan puitik yang ia jumputi sebagai bahan renung di ruang kontemplasinya
sebagai seorang penyair. Membaca serta menelaah 69 puisi dalam Mazmur Musim Sunyi,
saya menemukan beberapa hal yang diulang-ulang oleh Sulaiman Djaya, baik kata,
frasa, majas, pola pengandaian maupun cara melihat dan memaknai sesuatu yang ia
saksikan dan rasakan.
Menyoal pengulangan sebenarnya lumrah saja,
mengingat hampir semua antologi puisi tunggal mengalami nasib yang sama.
Penyebabnya tidak lain tidak bukan, karena keterbatasan mata dalam memandang
alam semesta, keterbatasan pikiran manusia dalam memahami, mendalami, dan
memaknai kehidupan, serta keterbatasan kata di jagat Indonesia ini, termasuk
majas-majas yang berlaku. Maka, dari tidak banyaknya hal yang benar-benar dapat
menarik jiwa penyair untuk menulis puisi, terjadilah beberapa pengulangan tema
dan pemakaian pengandaian yang tidak jauh-jauh dari situ ke situ juga. Tidak
terkecuali dalam Mazmur Sunyi. Selain itu, beberapa simbol juga mendominasi, di
antaranya “warna” dan “waktu”. Kedua simbol tersebut sepertinya dengan
sungguh-sungguh diposisikan oleh Sulaiman Djaya (kemudian disingkat SD) sebagai
media pengandaian sekaligus simbol tertutup dan terbuka untuk menemukan
kebermaknaan dalam puisi-puisinya:
“Aku adalah sebuah kalimat sajak // dengan
kertas merah tua // dari senja yang menghitung daun-daun albasia (Mula Puisi,
Hal 11). “Aku baik-baik saja // seperti hari-hari yang kadang putih // atau
agak sedikit berlumut (Di Ruang Baca, Hal 12). “Buku-buku, kertas-kertas,
almanak // pintu dan jendela, saling berbisik tentang nasib // yang bukan biru,
bukan ungu // bukan juga hijau abu-abu (Monolog, hal 17). “Aku pun tahu kadang
engkau bersembunyi // di balik tirai yang terbentang yang kau sebut hijau
(Nyanyian Desember, hal 86).
Warna dalam puisi (barangkali) gambaran suatu
keadaan sedih, senang, muram, sumringah dan sejenisnya. Misalnya putih, lazim
dikonotasikan pada kebersihan, kesucian, katarsis, dan sejenisnya dan
sejenisnya. Hijau berkaitan dengan kesejukan, keteduhan, dan sejenisnya. Merah
dimaknai sebagai keberanian atau kemarahan. Dapat juga dimaknai lain semisal
merah adalah gambaran ketakutan, kemurkaan, atau kemalangan.
Pemaknaan-pemaknaan yang dimaksud sangat tergantung pada teks dan konteksnya.
Pernah Moh. Wan Anwar mengulas beberapa karya pelajar yang dimuat di Horison
sekitar tahun 2002/2003, bahwa warna yang dimasukkan dalam puisi dapat membantu
penyair untuk mengejawantahkan suasana atau nuansa serta memperkuat puisi.
Terlepas dari sepaham atau tidaknya, yang
perlu ditekankan adalah bagaimana warna yang ditulis dalam puisi tidak selesai
sebagai warna melainkan benar-benar mewakili makna tertentu. Karena apa saja di
tangan penyair mesti memiliki perwujudan berbeda selain wujud aslinya. Semisal
bunga di tangan penyair tidak akan jadi bunga belaka. Lantas bagaimana dengan warna-warna
yang ditulis Sulaiman Djaya, sudahkah mampu membawa makna atau sekadar
nama-nama warna yang ditulis tanpa membawa apa-apa? Jawabannya dalam puisi
Epigraf halaman 15: “Dan aku sibuk memindahkan warna-warna, kalimat, dan
kata-kata di pojok waktu tempatmu membaca buku kesukaanmu yang bersampul merah
muda dan biru.”
Kesibukan yang dimaksud dapat dimaknai
pencarian—Sulaiman Djaya terus berusaha mencari posisi yang tepat bagi warna
agar dapat selaras dengan kata dan kalimat. Sehingga saling bersinergi
membangun makna yang kuat—karena tidak mudah mencarikan posisi yang tepat bagi
warna-warna di dalam puisi. Disebabkan pemanfaatan warna baik, hijau, merah,
kuning, biru, putih, hitam, dan sejenisnya, sudah banyak digunakan orang dalam
puisi, berpuluh tahun atau bahkan berabad-abad lalu. Kedepan baiknya SD mencari
pembaharuan dalam pemakaian simbol. Setidaknya bukan yang kebanyakan orang
pakai. Meski demikian, bukan berarti apa yang dilakukan SD adalah salah.
Terlebih, konon, kebaruan hanya bagian dari masa lalu.
Tidak jauh berbeda dengan simbol “waktu”,
dapat dimaknai sebagai bentuk kesadaran penyair akan keberadaannya di dunia
fana. Kaitannya dekat dengan hakikat keabadian Sang Khalik, sebagaimana
disajikan dalam “bersama angin Januari yang menggodaku” (Di Ruang Baca, hal
12), “Di ruang ini, ada detik-detik lengang” (Di Ruang Ini Kubaca Lagi Waktu,
hal 35) “meniup terompet ulangtahun / di sekartu bergambarku / yang kini telah
jadi langit sabtu” (Musim Untuk Ibuku, hal 43), “pada derai angin Februari”
(Nyanyian Desember, hal 86), dan “bunga-bunga waktu” (Sajak Bangun Tidur, hal
41). Simbol-simbol waktu yang ditanam Sulaiman Djaya dalam puisi-puisinya
mengingatkan pada sumpah Tuhan atas nama makhluknya, yakni “Demi Waktu”.
Keberadaan waktu dalam kehidupan memang misterius. Ia seperti sangat jauh
padahal begitu dekat. Seperti sangat renggang padahal begitu rapat dengan tubuh
dan ruh manusia. Inilah isyarat proses kratif seorang SD. Ada kegelisahan
sekaligus kesadaran, betapa waktu begitu penting bahkan jadi genting jika tidak
dimanfaatkan sebagaimana mestinya.
PENYAIR,
BAHAN BACA, dan PUISI
Dalam dunia kepenyairan, proses kreativitas seorang penyair sangat dipengaruhi oleh apa yang dicercap dari kehidupan (realitas)—mencercap sinyal-sinyal alam semesta—semisal hakikat gugurnya daun dari dahan, hujan, rumput, kambing, kecoa, neon, piring, kelelawar dan sebagainya dan sebagainya. Selain itu adalah bahan baca yang turut memengaruhi proses kreativitas seorang penyair. Intensitas membaca yang turut mempengaruhi kepenulisan itu pula yang menjadi landasan hukum terhadap karya-karya yang terpengaruh oleh apa yang dibaca. Tidak terkecuali SD. Terlebih, SD adalah satu dari sedikitnya orang yang gemar membaca dan memiliki pengetahuan yang sangat luas. Berbicara dengannya seperti mencuri banyak pengetahuan bahkan saat bercanda sekali pun, ada saja ilmu yang dapat dirampok dari ucap dan lakunya. Dikarenakan kegemarannya membaca itulah, sangat mungkin (untuk tidak bilang pasti) ada keterpengaruhan dari bahan bacanya. Meski tidaklah mutlak, bahkan bisa jadi hanya “kebetulan?” Dari puisi-puisinya ditemukan kedekatan dengan puisi-puisi karya penyair terdahulu semisal Chairil Anwar, Abdul Hadi WM, dan WS Rendra. Perhatikan beberapa amsal berikut ini:
Dalam dunia kepenyairan, proses kreativitas seorang penyair sangat dipengaruhi oleh apa yang dicercap dari kehidupan (realitas)—mencercap sinyal-sinyal alam semesta—semisal hakikat gugurnya daun dari dahan, hujan, rumput, kambing, kecoa, neon, piring, kelelawar dan sebagainya dan sebagainya. Selain itu adalah bahan baca yang turut memengaruhi proses kreativitas seorang penyair. Intensitas membaca yang turut mempengaruhi kepenulisan itu pula yang menjadi landasan hukum terhadap karya-karya yang terpengaruh oleh apa yang dibaca. Tidak terkecuali SD. Terlebih, SD adalah satu dari sedikitnya orang yang gemar membaca dan memiliki pengetahuan yang sangat luas. Berbicara dengannya seperti mencuri banyak pengetahuan bahkan saat bercanda sekali pun, ada saja ilmu yang dapat dirampok dari ucap dan lakunya. Dikarenakan kegemarannya membaca itulah, sangat mungkin (untuk tidak bilang pasti) ada keterpengaruhan dari bahan bacanya. Meski tidaklah mutlak, bahkan bisa jadi hanya “kebetulan?” Dari puisi-puisinya ditemukan kedekatan dengan puisi-puisi karya penyair terdahulu semisal Chairil Anwar, Abdul Hadi WM, dan WS Rendra. Perhatikan beberapa amsal berikut ini:
“Aku tak punya banyak nama sepi, tapi yang
paling indah kusebut dapur yang tak punya api (Memoar, Hal 18). “Apabila aku
dalam kangen dan sepi, itulah berarti aku tungku tanpa api.” (diambil dari buku
: EMPAT KUMPULAN SAJAK, karya RENDRA, penerbit Pustaka Jaya, cetakan kedelapan,
tahun 2003). Unsur-unsur yang tampak lekat dari puisi WS Rendra dalam puisi SD
yang dikutip di atas yakni: 1). “Sepi” tetap menjadi “sepi:”; 2). “Tungku”
diperluas oleh SD menjadi “dapur”, yang merupakan tempat tungku berada; 3).
“Tak punya” dipadankan dengan “tanpa”; 4). “Api” tetap menjadi “api”; dan 5).
“Tapi yang paling indah” memiliki kesan yang sama dengan “itulah berarti” yakni
sama-sama sebagai media penunjuk sebelum sampai pada objek yang dimaksud: SD
memaksudkan keindahan itu pada “dapur yang tak punya api” dan WS. Rendra
memaksudkan pada “tungku tanpa api”. “Dan aku ingin sekali menjadi nyala di
depan kakimu” (Memoar, Hal 18). “Kini aku nyala pada lampu padammu” (Abdul Hadi
W.M., 1977, Tuhan, Kita Begitu Dekat).
Unsur-unsur yang dapat diperhatikan adalah:
1). “Kini aku nyala” dalam puisi Abdul Hadi WM yang tegas dibuat gamang dalam
puisi SD menjadi “aku ingin sekali menjadi nyala”; dan 2). Pada “lampu padammu”
dalam puisi Abdul Hadi WM dieksekusi SD dalam puisinya menjadi “di depan
kakimu”. Kedekatannya semakin terasa saat melihat kata depan “pada” (kata depan
pada menandai hubungan tempat dan waktu) dalam puisi Abdul Hadi WM dan “di”
(kata depan di menandai hubungan tempat beradanya sesuatu) dalam puisi SD. “Aku
tak ingin hidup lagi // walau kau beri aku surga // aku sudah kecewa”
(Pertanyaan Untuk Eskatologi-Mu, hal 93). “Hingga hilang pedih peri // Dan aku
akan lebih tidak peduli // Aku mau hidup seribu tahun lagi” (Chairil Anwar,
1943, Aku).
Berbeda dengan contoh-contoh sebelumnya,
kedekatan puisi “Pertanyaan Untuk Eskatologi-Mu” karya SD dengan puisi “Aku”
karya Chairil Anwar terlihat sebagai pertentangan/antetisis terutama pada
bagian “Aku mau hidup seribu tahun lagi” (Chairil) dan “Aku tak ingin hidup
lagi” (SD). Selain itu, juga dapat ditemukan pada bagian berikut ini: 1). “Aku”
sama-sama sebagai kata pembuka larik; 2). “Mau” (Chairil) menjadi “tak ingin”
atau kalau dipertegas menjadi “tidak mau” (Sulaiman Djaya); 3). “Hidup” yang
ditulis Chairil juga ditulis “hidup” oleh SD; 4). “Lagi” sebagai penutup dalam
puisi Chairil juga ditulis “lagi” sebagai penutup dalam puisi SD.
Bagaimana pun setiap manusia memang selalu
dipengaruhi oleh segala hal yang berinteraksi dengan dirinya. Baik interaksi
sosial (manusia kepada manusia), interaksi alam (manusia dengan alam) dan
interaksi ketuhanan (manusia dengan Tuhan). Karena itu fitrah, bahkan Goenawan
Mohamad lebih ekstrim, ia mengatakan bahwa orisinalitas mengacu ke masa lalu
sementara hari ini dan untuk masa depan hanya ada kreativitas. Meski saya tidak
sependapat dengan pendapat tersebut, karena manusia yang selalu mencari
akhirnya akan menemu juga—menemu sesuatu yang baru.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar