Oleh: Sulaiman Djaya, pemerhati budaya
Di jaman merebaknya informasi (juga hoax
bersamanya) dan bertebarannya sebaran media internet (serta jejaring media
sosial), bisa jadi masyarakat malah bingung, bukannya tercerahkan. Terdistorsi
ruang kritisnya dan terbunuh nalar analitiknya bersamaan dengan menguatnya
budaya oral di era gawai dan internet abad kita saat ini, yaitu melemahnya
kemampuan untuk melakukan ‘pembacaan’ dan ‘analisa’ atas informasi yang datang
dalam hitungan detik melalui media sosial dan media-media internet, yang tak
jarang menyebarkan informasi-informasi instan, dan bahkan hoax.
Kebingungan dan ‘matinya’ ruang kritis publik
tersebut terlebih lagi akan dialami oleh mereka yang tak terbiasa untuk
‘menganalisa’, atau yang tak punya kapasitas literer. Kasus Ratna Sarumpaet
beberapa waktu lalu yang kehebohannya sampai tingkat nasional dan melibatkan
para elite itu tentu tak bisa dianggap sebagai sesuatu yang remeh dan angin
lalu, karena hoax politik dan politik hoax tersebut sempat menimbulkan
pro-kontras yang keras di kalangan para pendukung capres-cawapres, yang lazim
disebut sebagai kelompok Cebong untuk yang fanatik pro Joko Widodo dan kelompok
Kampret untuk yang fanatik pro Prabowo Subianto.
Masyarakat atau publik yang terbiasa menerima
informasi yang cepat dan melimpah lewat media sosial, serta terbiasa dengan
menyaksikan tayangan reality show dan infotainment yang berkesinambungan setiap
hari melalui kanal-kanal televisi, ternyata justru menjadi terbiasa juga untuk
menghindari sajian dan forum intelektual yang mendidik dan berbudaya, dan kalau
pun ada forum seperti itu di televisi, juga yang dikemas dan diformat sesuai
dengan reality show: mempertontonkan adu kubu dan ‘pembenturan’ kelompok, yang
justru malah semakin mengentalkan fanatisme tak bernalar di kalangan masyarakat
luas.
Dalam hal ini, bisa juga dikatakan, media
(baik media internet maupun televisi) memiliki peran sentral dalam menciptakan
budaya oral (non literer) dalam masyarakat kita. Suatu budaya yang tak memberi
ruang dan kesempatan bagi lahir dan hidupnya ‘nalar publik’ yang sehat, bagi
tumbuhnya habitus berpikir kritis dan analitis dalam masyarakat. Sehingga,
wajar, misalnya, bila hoax menjadi begitu mudah dikonsumsi banyak orang, dan
malah hoax telah dijadikan lahan bisnis untuk meraup untung bagi para pegiat
situs-situs abal-abal. Hoax menjadi industri di jaman media dan internet, era
kita saat ini, sebuah era yang konon sejak tahun 2014 kemarin telah melahirkan
para cebong dan kampret di jagat dunia maya.
Belajar dari Kasus Ratna Sarumpaet beberapa
waktu yang lalu itu, betapa bahkan para elite di negeri ini begitu mudahnya
termakan hoax dan lalu menjadi para penyebar hoax. Dan ternyata, sudah lama,
mereka yang menjadi konsumen dan para penyebar hoax di negeri ini termasuk juga
tokoh-tokoh agama, PNS, para penceramah agama (terutama dai-dai yang muncul
sejak tahun 2000-an), para politisi hingga partai politik. Tengok saja ketika
pecah Perang Suriah sejak tahun 2000-an itu, betapa para penyebar hoax adalah
mereka yang biasa melakukan ceramah agama hingga para politisi.Artinya, hoax
telah menjadi konsumsi lintas kalangan dan kelas.
Fenomena tersebut, barangkali telah
menunjukkan lemahnya rasionalitas dan nalar bangsa ini, yang andai saja tidak
ada minoritas yang sabar dan cerdas di negeri ini, yang berbagi informasi
kepada organisasi-organisasi keagamaan terbesar di negeri ini, niscaya bangsa
ini akan mudah menjadi makanan dan sasaran empuk proxy war dan adu domba yang
dilancarkan imperialisme global abad ini melalui hoax yang disebarkan oleh
media-media dan situs-situs propaganda dan hasutan yang bekerja demi
kepentingan Amerika, Israel, dkk. Di sisi lain, minoritas yang sabar dan cerdas
itu di negeri ini justru menjadi sasaran dan target tuduhan kafir dan sesat
oleh saudara-suadara sebangsanya yang mereka tolong dari proxy war.
Bangsa ini juga barangkali sudah lama akan
hancur dan dilanda perang saudara jika tidak ada minoritas yang cerdas dan
sabar tersebut. Sebagai contoh, dalam kasus Suriah itu, mereka mendapatkan
informasinya langsung dari marja’-marja’ mereka yang terpercaya, sehingga
mereka memiliki informasi tingkat tinggi yang valid di saat kebanyakan orang di
negeri ini sedang menjadi santapan dan sasaran hoax yang disebarkan dan
dimassifkan media-media dan agen-agen propaganda dan hasutan yang bekerja demi
kepentingan Amerika, Israel, dkk.
Kata kunci hoax yang mereka sebarkan
contohnya: Syi’ah membantai Sunni di Suriah, Perang Suriah adalah Perang Syi’ah
dan Sunni, Bashar Al-Assad adalah tiran bengis yang sedang membantai rakyatnya
sendiri, dan yang sejenisnya, dan hoax itu mirisnya, misalnya, disebarkan oleh
para penceramah seperti Bachtiar Nasir, Abdul Somad, Felix Siauw, atau oleh
orang-orang Wahabi-Nawashib seperti Abu Jibril dkk. Karena itu bukanlah sesuatu
yang aneh, jika misalnya, bangsa ini pun mudah menjadi sasaran hoax yang
diciptakan oleh Ratna Sarumpaet beberapa waktu yang lalu itu.
Lagi, dalam kasus Suriah (serta juga dalam
kasus Libya), sejumlah orang liberal di negeri ini, yang ideologi dan paradigma
politiknya berkiblat ke Amerika, turut juga menjadi penyebar hoax dalam kadar
yang soft: menganggap Suriah sebagai bagian dari Arab Spring. Hal itu bahkan
diamini oleh media cetak sekelas Kompas. Sungguh memprihatinkan. Karena itu,
lagi-lagi tidak usah heran, jika kasus Ratna Sarumpaet kemarin terjadi di
negeri ini, karena memang ada lahan yang boleh dibilang subur untuk ditanami
hoax: disorientasi ideologi dan paradigma religius yang kabur dan tak jelas
dalam memahami situasi global.
Dalam kasus Libya, misalnya, orang-orang
liberal di negeri ini ramai-ramai menyatakan dan mengekspose pandangan bahwa
Muammar Khadafi layak dilengserkan, tanpa mereka sadari bahwa skenario yang
sesungguhnya adalah upaya Amerika, NATO, dkk dalam rangka memuluskan upaya
‘ambil-alih’ minyak dan kekayaan alam Libya ke tangan mereka, sehingga yang
demi target tersebut, Amerika dan NATO sampai menejunkan perangkat-perangkat
perang dan militer mereka untuk menggempur Libya yang dibantu oleh kelompok-kelompok
pengusung khilafah di Libya atau yang lazim disebut para pemberontak Libya.
Singkat kata, Wahabi, Nawashib, dan Liberal berada di barisan yang sama dalam
hal ini.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar