Label

Kosmoplitanisme Kolonial (2)


oleh Ben Anderson*

PATRIOTISME KOSMOPOLITAN KOLONIAL YANG UNIK DAN TERLUPAKAN
PADA bagian ini saya hendak menjelaskan apa yang dimaksud dengan kosmopolitanisme kolonial, meski agak sedikit telat. Kwee Thiam Tjing adalah orang yang super cerdas, meski doski gak pernah sekolah di universitas, karena pada waktu itu belum ada universitas ketika doski berusia 18 tahun. Ia dapat membaca setidaknya lima bahasa, bahkan meski belum pernah ninggalin negaranya, dari Hindia–Belanda, bahkan belum pernah ke luar Jawa kecuali perjalanan ke Sumatera sebanyak dua kali, itu-pun waktu sebagai salesmen di sebuah pabrik kina. Semangat patriotisme menempel di diri-nya, namun ia benar-benar enjoy dengan karir-nya dan mengolok-olok beragam masyarakat baik yang pribumi maupun keturunan. Kita sering percaya bahwa orang kosmopolitan yang sesungguhnya haruslah seorang musafir polyglot yang punya minat dan apresiasi dengan negara-negara dimana ia berpijak. Tipe kosmopolitan macam ini cenderung berpikir tentang diri-nya sendiri seperti dalam istilah masa pencerahan sebagai seorang warga negara dunia. Jenis kosmopolitan Kwee merepresentasikan sebaliknya. Doski gak pernah keluar ke dunia yang besar, namun justru dunia yang besar-lah yang datang ke diri-nya, dan tidak dalam bentuk-nya yang kosmopolit. Hal tersebut datang seiring dengan pembelajarannya terhadap bahasa lingua franca dan waktu dimana doski menyerap berbagai macam kecantikan bahasa tersebut dan beragam pelajaran yang tersembunyi di dalam-nya. Kosmopolitan macam begini sulit ditemukan di Eropa, Amerika, di Cina atau Jepang. Dengan alasan sederhana, di tempat-tempat macam begini, penguasa-nya adalah bertipikal negara bangsa yang dipertahankan dan diperkuat dengan satu bahasa nasional tunggal. Kemungkinan hanya mungkin di periode akhir kolonial dimana kolonialisme itu sendiri mengesampingkan negara bangsa dan bahasa nasional.

Dengan latar belakang kehidupan Kwee setelah tahun 1942, ia mulai memperluas pandangan humanitas-nya. Militer Jepang berkuasa di Indonesia selama tiga setengah tahun namun doski selalu punya momentum-momentum yang penting. Sedikit demi sedikit kasta orang Eropa mulai diasingkan, biasanya dilakukan oleh para pribumi, yang pernah berada di bawah pengawasan senjata, mengalami mal–nutrisi, siksaan fisik, hingga penghinaan secara psikis. Selain itu, ekonomi perkebunan juga kolaps, dan mengalami inflasi tak terkontrol, sekolah-sekolah ditutup, ratusan hingga ribuan penduduk pribumi menjadi ajang kerja paksa dan kekerasan militer (termasuk penyiksaan dan eksekusi publik) adalah hal biasa. Di sisi lain, karena mereka semakin sadar bahwa perang besar tengah terjadi melawan mereka, orang-orang Jepang bikin upaya yang masif buat memobilisasi populasi untuk turut ikut menentang invasi sekutu. Sedikit sekali koran yang ada, selama di bawah kekuasaan Jepang, dan selalu tentang propaganda tiada henti tentang Tokyo. Orang Jepang gak punya pilihan kecuali menggunakan bahasa lingua franca untuk memerintah, namun mereka menjadikannya semacam bahasa proto–nasional untuk sebuah bangsa yang masa depan kemerdekaan-nya dijanjikan dalam Asia Timur Besar yang penuh dengan kemakmuran. Selama masa pendudukan, Kwee mendapati dirinya terpilih sebagai ketua badan administrasi rumah tangga yang disebut tonarigumi, di rumah-nya di Malang. Ia bahkan mengatur untuk mendapatkan simpati orang Jepang dengan beberapa pengetahuan lingua franca-nya, seperti kata ‘Hirao’ seorang petugas angkatan laut yang secara reguler mengunjungi Kwee di rumah dan ia mengatakan: ‘Ibumu terlihat seperti ibuku’ (Kwee Thiam Tjing, 1972h).

Sekarang marilah kita secara singkat bicarain satu episode singkat dari periode Jepang. Periode ini disebut sebagai institusi orang Jepang dengan sistem-nya yang luas dan tanpa sembunyi-sembunyi melakukan kerja paksa yang disebut romusha. Ratusan hingga ribuan anak muda pribumi direkrut untuk perang yang juga berkaitan dengan proyek-proyek pembangunan yang disebut dengan “rel kematian” dibangun antara Thailand ke Burma. Orang-orang yang malang dalam jumlah besar ini mati, karena mal-nutrisi dan terkena wabah. Hingga pada akhirnya orang-orang Cino sangat target. Kakyo Shokai, seorang Jepang yang mensponsori Asosiasi Orang Cina di Perantauan yang didominasi oleh orang kaya dan terdidik, diperintah untuk melakukan rekruitmen. Kwee mendapatkan bahwa Kakyo Shokai memimpin bukan untuk membebaskan anak-nya (dengan alasan medis yang palsu) namun sebenarnya ditutupi dengan cara mempublikasikan kampanye sebagai penipuan-nya. Jika kamu tak mau atau tak mampu membayar ongkos 10 rupiah anak lelaki-nya akan diikutsertakan dalam kerja paksa. Kwee marah banget. Berikut ini ultimatum kemarahannya; ‘Hingga sekarang, saja masih simpen baek-baek Kakyo Shokai poenja ultimatum: model romusha hanya sekelas 10 rupiah’ (Tjamboek Berdoeri, 1947: 267). Ultimatum-nya tersebut luar biasa: “Keluar dari Belanda malah jadi kerja paksa, dan ngasih 10 rupiah buat orang Hokkien”.

Kalimat ini secara sengit bisa dibayangkan sangat vulgar, dan secara sengaja mengolok elit-elit peranakan yang mempunyai muasal yang sama, namun pada saat yang sama menempatkan diri-nya pada bingkai lingua franca yang sebenarnya mereka tolak. Bahkan di sini kita bisa deteksi keunikan kosmopolitan Kwee, yang berbasis pada Ke-Indonesia-an dan Ke-Melayuan-nya yang sangat dapat dimengerti di Hindia–Belanda, serta campuran Bahasa Belanda. Romusha orang Jepang juga mulai masuk dalam kata lingua franca. Bahasa Hokkien untuk istilah 10 rupiah tjaptoen juga sudah mulai terlokalisasikan: di mana imigran Hokkiens di seluruh dunia menuliskan kata ch dengan tj, dan u dengan oe?. Gabungan frase tiga bahasa ini yang kemudian tercampur dalam masa depan bahasa Indonesia.

Dengan menyerahnya penjajah Jepang, atau dengan apa yang disebut orang Indonesia sebagai “pecahnya Revolusi” baik secara sosial internal dan eksternal yang anti kolonial. Kekerasan secara luas merebak, heroisme, kriminalitas, bunuh diri dan korupsi hingga Belanda akhir-nya, empat tahun kemudian, mau nerimo kemerdekaan Indonesia. Kwee masih berkomitmen terhadap nasionalisme meskipun sejumlah saudara dekat-nya secara mengerikan dibunuh oleh sekelompok bandit revolusioner yang dipimpin oleh seorang sipir pengawas. Pada akhir tahun 1947 publikasi-publikasinya masih dalam nama pena-nya Tjamboek Berdoeri, dan karya masterpiece yang panjang berjudul Indonesia dalem Api dan Bara, sebuah cerita tentang pengalaman-pengalaman akhir periode kolonial mulai tentang pendudukan hingga tahun-tahun pertama revolusi. Meskipun demikian, menurut saya ini adalah karya terbesar esais yang ditulis oleh orang Indonesia pertama di pertengahan abad kedua puluh, dan hampir terlupakan, atau bisa dikatakan “menghilang”. Pada tahun 1960-an, ia dan istri-nya bergabung dengan anak perempuan-nya dan keluarga-nya di Kuala Lumpur, Malaysia. Dan, pada usia-nya yang ke enam puluh, ia meninggalkan negara yang begitu dicintainya untuk pertama kali-nya. Sekembalinya ke Jakarta pada tahun 1971 (tidak lama setelah peristiwa kerusuhan berdarah antar etnis di ibukota Malaysia tahun 1969) ia mulai, melalui bantuan Mochtar Lubis, seorang jurnalis kawakan, ia mulai men-serialisasikan cerita hidup-nya hingga tahun 1950. Hal yang aneh adalah, sejauh yang saya tahu, ia sama sekali tidak mempublikasikan karya-nya sepanjang tahun 1947 dan 1971. James T. Siegel memperkirakan bahwa hampir tidak ada ruang buat kolonial kosmpolitanisme Kwee yang membebaskan, dan perasaan saya kesimpulan tersebut bener. Untuk menjelaskan kondisi ini harus kita mulai dengan kondisi lingua franca itu sendiri.

Setelah meletusnya revolusi di akhir taon 1945, dan formasi pemerintahan nasional, apa yang telah jadi lingua franca diangkat menjadi satu-satunya bahasa ‘nasional’ dan revolusioner. Pada saat yang sama, upaya yang serius dan berkelanjutan dibuat untuk membuat bahasa tersebut menjadi berharga sebagai status baru dan upaya-upaya menjadi populer di perasaan kalangan nasional yang memobilisasi di belakang-nya. ‘Bahasa Campuran’ jadi tidak ditolerir. Belanda jadi bahasa yang dimusuhi secara horisontal, tapi tidak sebagai bahasa vertikal penguasa; sedangkan bahasa Hokkien diambil sebagai sebuah tanda loyalitas yang mendua terhadap suatu bangsa; Bahasa Daerah, jika tidak secara parsial disembunyikan, dianggap indikator berbahaya buat munculnya rasa ke-daerah-an. Menjelang tahun 1949, semua koran ‘di-Indonesia-kan’ untuk menentang semua gejala hibriditas anti–nasional. Demikian juga dengan demokrasi parlementer, dan sejenis-nya yang bertahan hingga tahun 1958, disiplin linguistik dijalankan lebih dari kepada solidaritas dibanding disiplin. Di bawah kepemimpinan otoriter Sukarno dengan demokrasi terpimpin-nya, yang berakhir sampai tahun 1965, kebiasaan dan beberapa represi menjadi faktor-faktor penting. Namun, hibriditas dan tawa yang menyertainya masih tidak dapat dihilangkan. Ini diasumsikan sebagai sebuah bentuk baru yang menarik. Dialog kasar dari para penduduk senior di Ibukota, yang pada awal-nya terlihat marjinal di era kolonial, sedikit melangkah maju mengisi kekosongan, dengan perbedaan yang signifikan. Bahasa Betawi yang asli kemudian dinamakan sebagai bahasa Djakarta, yang populer (secara oral) di kalangan anak muda, pekerja, pedagang kecil, dan para kriminal; namun dalam bahasa cetak sangatlah tersubordinasi dan terdiskriminasi. Bahasa ini dapat ditemukan di kartun dan komik strip, dan dalam legenda-leganda versi pop berseri, dan dalam halaman depan sudut kolom surat kabar —gaya penulisan beginian diimpor dari Belanda— dengan kalimat-kalimat komentar tentang politik nasional yang ditulis dengan nama-nama pena. Dalam ruang yang terbatas ini, seseorang masih dapat menemukan jejak-jejak hibriditas lama, dengan campuran Bahasa Belanda, Jawa, Arab dan terkadang Hokkien. Namun dua bahasa ditempatkan secara hierarkis, dan sebisa mungkin, tidak diijinkan untuk tercampur satu sama lain. Masterpiece karya Kwee dipublikasikan tepat pada waktu-nya, di saat masuknya Indonesia ke PBB. Karena tidak mudah mempublikasikan-nya setelah itu.

Yang hampir penting juga adalah determinasi negara bangsa, yang pada akhir-nya, semua anggota PBB harus mempunyai ‘sejarah nasional’ yang disebar-luaskan melalui sistem sekolah dan juga media massa. Para kolonialis hampir tidak pernah mengatur untuk menulis atau menyebarkan sejarah koloni yang masuk akal. Beberapa esai sejarah ekspansi Belanda dan penaklukan di abad ke tujuh belas; dan lainnya secara impresif dimunculkan melalui monumen dan literatur yang diproduksi sebelum kedatangan Belanda, dapat ditemukan tanpa ada saling koherensi-nya mulai dari Jaman Borobudur sampai periode Indies. Hingga tahun 1950, orang-orang Indonesia terlalu sibuk, dan terlalu membagi antara aktivitas melawan rejim kolonial, dan mengembangkan konsep bangsa yang kembali ke ribuan tahun sebelum-nya. Setelah ‘sukses’ pada 1949–50, tepat-nya proyek ini menjadi mungkin, namun hanya melalui ratusan penghapusan dan membingkai kolonial versus anti–kolonial. Belanda dan Jepang ditampilkan peranannya sebagai orang jahat namun peranakan Cino, seperti juga Indo rata-rata hilang. Klimaks dari tematik sejarah nasional ini secara natural, dan dengan alasan-alasan heroisme yang luar biasa, adalah revolusi dari tahun 1945–49. Lucu, ironis, melankolis, adalah kompilasi yang terlihat seperti kredit yang kurang dari cukup. Karya masterpiece Kwee, dengan gambarannya yang jelas tentang ke-pengecut-an Belanda yang kadang-kadang saja berani-nya, kehormatan, kebodohan dan aturan-aturan excuus (lihat bagian dua); idealisme orang Indonesia, energi dan kriminalitasnya, kerakusan peranakan Cino, oportunis dan ketabahan, tak tertahankan bagi siapa-pun.

Di sesi akhir Kwee bergerak pada seri otobiografi-nya dimana ia menggambarkan atmosfir dari hari-hari transfer kedaulatan. Ia menemukan diri-nya sendiri tengah duduk di sebuah alun-alun besar di depan bekas istana gubernur jenderal berdampingan dengan puluhan dari ribuan orang-orang yang menyeringai bergembira yang pernah ia saksikan sepanjang hidup-nya. Di samping-nya duduk kakak perempuan Soekarno. Dengan kebiasaannya yang suka menggoda, ia menanyakan kenapa ia gak di istana bersama sodara-nya. Perempuan itu kasih jawab bahwa ia ingin mengalami hari-hari bersama rakyat, seperti yang juga tengah dilakukan sama Kwee. Ketika dokumen-dokumen perjanjian sudah ditanda-tangani, Bendera Belanda akhir-nya direndahkan sedangkan bendera Indonesia dinaikkan di tempat-nya, yang diiringi dengan seringai nyaring dari para kerumunan. Kwee pada waktu itu sangat tergugah dan sangat happy banget namun doski gak bisa menghindari air-mata keharuan yang jatuh di pipi-nya, dengan berkomentar bahwa menyaksikan bendera Belanda yang mulai sirna terasa seperti menyaksikan teman lama yang dikuburkan (Kwee Thiam Tjing, 1972i). Dengan gaya menulisnya, pada usia 72 tahun, di bawah rejim Suharto, menggiring keberanian kosmopolit-nya Kwee yang hibrid dan yang suka berkelakar pula. Tidak ada seorang-pun yang pernah nulis tentang momen-momen historis seperti ini yang mencampurkan antara keromantisan, duka dan rasa lucu.

Momen ini menggiring ia pada semacam; refleksi jarak jauh yang membikin kultur kosmopolitan di akhir periode kolonial menjadi mungkin. Saya rasa ini sebagian karena hasil dari ketidak-berdayaan. Di masa koloni, hanya laki-laki Belanda yang punya kekuatan riil, selalu setiap waktu, padahal di panggung internasional Belanda hanya memainkan sedikit peranan. Sedangkan di ranah lokal, masyarakat dari berbagai macam rupa saling berkompetisi tanpa rasa belas kasihan hanya untuk uang dan hak istimewa, tapi sebenarnya hanya untuk hal-hal yang kecil. Gubernur jenderal sendiri hanya dapat memimpin selama empat tahun dan selalu sewaktu-waktu dapat dipecat. Kekuataan riil-nya adalah di ribuan mil jauhnya dari Hindia–Belanda. Sembari menjalankan Koran-nya di Jember pada pertengahan tahun 1930, Kwee meng-organisasi-kan bantuan untuk korban-korban pengangguran setempat akibat depresi dunia dan menyebabkan protes terhadap kerakusan monopoli kolonial, dimana yang mengejutkan, semua kelompok yang bergabung di dalam-nya, adalah orang-orang gak berdaya yang tidak berharap banyak. Mereka menjadi koalisi yang solid dan mudah saling menerima satu sama lainnya.

Setelah tahun 1949, segala sesuatu-nya berubah. Kekuatan eksternal, khusus-nya yang berasal dari Washington, menjadi krusial meskipun mereka jauh. Namun dalam sebuah negara bangsa yang baru hal ini gak dapat dihindari, untuk pertama kali-nya, keganasan, konsep excuus kurang begitu diperjuangkan di antara para mantan orang-orang yang gak berdaya, perang sipil, pembantaian, diskriminasi, represi, kekejaman. Koalisi-koalisi masih mungkin namun bersifat gak kekal, dalam kerangka manuver-manuver yang taktis. Rasa ketidak-berdayaan muncul namun dalam dibatasi oleh kemiskinan dan marjinalitas. Para nasionalis Indonesia, pada hal tertentu, ‘terbuka‘ namun dengan cara yang seperti telah dilakukan pada sebelum tahun 1942. Anak-anak orang kaya dikirim ke Boston, Moskow, Paris, London, Canberra dan Tokyo, dan jika mereka kembali, mempunyai ekspektasi tinggi akan kemajuan. Namun model kosmopolitanisme yang mereka peroleh diambil ‘dari sono‘ dan kondisi-nya juga diadaptasikan ‘dari sono‘ dan secara isi juga menggunakan istilah-istilah ‘dari sono‘. Hampir gak ada yang bisa membayangkan bahwa seseorang dapat menjadi kosmpolit dengan hanya berada ‘di sini‘ (baca: Hindia–Belanda) dan menggunakan istilah-istilah yang ‘dari sini‘ aja.

Tanda lain-nya dari perubahan adalah hilang-nya perilaku individual yang “kurang ajar“, seperti yang disebut oleh pemilik rumah orang Yahudi. Kwee bahkan hidup jauh sebelum ada-nya televisi, brutalitas orang Yahudi–Israel secara kolektif terhadap orang-orang Palestina–Muslim, meski tak lama kemudian memang banyak orang se-bangsa-nya yang berpikir tentang dendam jarak jauh terhadap perilaku seperti orang-orang Israel ini.

Kembali pada rumus pra-nasionalis Kant terhadap perdamaian global yang universal ditambah dengan ada-nya perdagangan komersil tanpa halangan. Menurut-nya, pedagang yang tekun akan membawa beberapa komoditi dan lain-nya untuk dibawa pulang, dan kemungkinan juga berbagai ide dan penemuan juga diusung pula. Karena itu mereka harus menjadi tamu yang baik dan tidak tinggal lama tentunya. Pada akhir periode pemerintahan Hindia–Belanda ada banyak orang macam begini, meski tidak berarti mereka adalah tamu yang selalu baik. Namun lebih banyak lagi yang tinggal agak lama dan disambut ramah, dan filosof dari Königsberg ini juga tidak menghabiskan banyak waktu, namun bagaimanapun juga, tuan rumah yang tidak pernah meninggalkan rumah-nya akan menyambut dengan istilah-nya sendiri: “Sayangku Setrogantol, semprul, bangsat, badjingan!” 

Ed. HAK & YBA 16 September 2012

*Profesor emeritus dalam bidang Studi Internasional di Universitas Cornell, serta pernah aktif di Cornell Modern Indonesia Project yang terkenal dengan Cornell Paper.

Kosmopolitanisme Kolonial


oleh Benedict Richard O’Gorman Anderson (Ben Anderson)*

Dapat dikatakan bahwa awal dari tulisan ini terinspirasi oleh tulisan James T. Siegel dalam bagian introduksinya yang brilian di buku yang baru saja diterbitkan mengenai memoar seorang satiris dan ahli humor keturunan Tionghoa–Indonesia, dia adalah Kwee Thiam Tjing, yang ditulis dua tahun sebelum kematiannya pada tahun 1974 (Djati & Anderson, 2010). Dalam bagian introduksi, Siegel memperkenalkan istilah ”Colonial Cosmopolitanism” (Kosmopolitanisme Kolonial) yang ia terapkan dalam kehidupan tertentu Kwee dan beberapa kehidupan unik masyarakat urban kolonial di Hindia–Belanda.

Kwee dilahirkan pada tahun 1900, sebelas tahun setelah Jawaharlal Nehru, sepuluh tahun setelah Ho Chi Minh, dan tujuh tahun setelah Mao Tse-tung dan satu tahun sebelum Sukarno yang mewakili generasi kedua anti-kolonial setelah generasi Jozé Rizal, Sun Yat-sen dan Mahatma Gandhi, yang kesemuanya terlahir pada tahun 1860-an. Kwee masih berusia lima tahun ketika terjadi Restorasi Meiji di Jepang yang menentang kekaisaran dan ketika Dinasti Qing (Ching) kolaps dan tepat ketika ulang tahun ke tujuh belas Vladimir Lenin memegang tampuk kekuasaan di Saint Petersburg, Rusia. Nenek moyang-nya adalah Hokkien yang telah tinggal di Jawa dan Madura semenjak abad ke tujuh belas dan bahasa pertamanya adalah Hokkien dan Jawa. Kwee tahu bahasa Mandarin dan di usia tua-nya ia tidak bisa membaca huruf-huruf Tionghoa. Ayahnya adalah orang yang berkecukupan dan mempunyai hubungan yang baik dengan para elit Belanda dan khususnya sekolah elit, khususnya hampir semua anak Belanda, orang-orang keturunan Eurasia, Cino dan para kelas atas pribumi. Pada waktu itu tidak ada universitas di Negara koloni, dengan demikian usai menyelesaikan sekolah menengah atas, ia harus mendapatkan pekerjaan. Dengan menentang nasehat orang tuanya, ia memutuskan untuk menjadi seorang jurnalis dan bekerja setidaknya di lima harian kecil dan labil, termasuk yang ia miliki sendiri, hingga datangnya pendudukan Jepang. Semua koran ini dimiliki oleh orang-orang Indonesia–Tionghoa namun para staf-nya adalah orang Eropa dan juga penduduk pribumi, di mana Kwee secara garis besar, pada waktu itu menyebutnya sebagai Indonesiers. Untuk alasan komersial dan alasan lainnya, koran-koran ini membuat upaya yang kuat untuk menarik pembaca di setiap barisnya, dan hal ini bisa tercapai karena adanya bahasa lingua franca Melayu yang dikenal luas, di mana setiap orang membawa elemen-elemen bahasa ibu-nya, kosakata-nya, sintaksis-nya, ejaan dan sebagainya. Kweek ahli dalam esai-esai satir mingguan-nya dan menjadi ahli tak tertandingi hingga berakhirnya penguasa kolonial Belanda. Hampir dari awal ia menjadi bintang kolumnis yang tajam dan lucu dalam mengkritik komunitas Tionghoa–Indonesia[1], yang ditulis dengan nama pseudonym yang sangat cantik Tjamboek Berdoeri. Namun kemudian tulisannya juga menentang rasisme Belanda, autoritarianisme, dan eksploitasi ekonomi. Pada bulan Januari 1926 ia dipenjara karena melanggar hukum pers kolonial, jauh sebelum aktivisme Sukarno dan para aktivis lainnya yang terlibat dalam pemberontakan komunis di tahun 1926 dan awal tahun 1927.

Dalam dua dekade terakhir dari pemerintahan Belanda, orang Cino secara kultural terbagi ke dalam totok, yang kebanyakan adalah imigran dari Tionghoa, berbahasa utama pesisir dan tidak begitu menganut ajaran konfusian; dan peranakan, yakni keturunan dari generasi imigran yang lebih tua dan istri mereka, pada umumnya berbahasa lokal dan sangatlah dipengarui oleh norma-normal kebudayaan lokal. Totok, sebagai minoritas tidak tertarik dalam politik kolonial, dan jikapun tertarik pada politik lebih terfokus pada negara asal usulnya. Sedangkan masyarakat Peranakan terbagi ke dalam tiga grup yang saling bersaing: mereka Cino yang mencoba untuk mensiniskan diri mereka sendiri dan mengidentifikasi dengan Cino, mereka (biasanya kaya dan berbahasa Belanda) berkolaborasi dengan kolonialis, kedua mereka juga mencari aliansi dengan para nasionalis Indonesia, dan pada hal tertentu juga beraliran kiri. Kwee, bergabung pada kelompok ketiga dan ia tidak pernah gentar bergabung di posisi tersebut.

Pada tahun 1932 ia adalah pendiri Partai Tionghoa Indonesia (PTI), yang didirikan karena tidak ada partai masyarakat pribumi yang berkehendak untuk menerima anggota Orang Cino Indonesia sebagai anggota. Namun Kwee tidak terlalu tertarik pada ideologi, dan juga tidak tertarik pada kehidupan organisasional dan tidak mempunyai ambisi-ambisi politik, dengan demikian keaktifannya di PTI cukup singkat. Dalam periode kolonial ia tidak pernah meninggalkan Hindia–Belanda, bahkan untuk liburan singkat di Singapura, Hongkong atau Shanghai, tidak seperti banyak kolega profesionalnya, namun dengan cukup sinis ia menyukai film-film Hollywood, mampu membaca dengan baik bahasa Belanda dan Jerman dan tahu sedikit bahasa Inggris. Ia juga menguasai bahasa Melayu pasar dan menulisnya dengan baik dibanding siapapun. Jadi ia menguasai sekitar empat bahasa, dua di antaranya bahasa Eropa.

Bagaimana dengan keadaan pada waktu itu? Salah satu keunikan dari negara Hindia–Belanda dibanding negara koloni lainnya adalah ukurannya yang luas dan populasinya yang besar (lebih dari 60 juta), yang terkombinasikan dengan kekayaan sumber alam, dan terletak di posisi yang strategis dalam peta dunia. Berbeda dengan jumlah penduduknya, Belanda (dengan jumlah penduduk 6 juta), terlihat seperti kutu yang berada di atas punggung kerbau. Den Haag misalnya, pada awal abad dua puluh sangat tergantung, baik secara militer dan ekonomi, pada London di mana koloninya yang begitu besar tidak dapat lagi dikembangkan secara monopolistik. Dari tahun 1880 masyarakat asing, seperti Inggris, Orang Cino, Amerika, Jerman, Austria, Ceko, Belgia, India, Yahudi, Yaman dan orang Jepang, mereka tinggal terkotak-kotak di kota-kota pelabuhan seperti Batavia, kota asal Kwee, Surabaya, dan Medan. Mereka juga tersebar di perkebunan dan pertambangan yang berada di seluruh kepulauan Nusantara. Namun, dalam hal ini, Hindia–Belanda berbeda dibanding negara koloni lainnya, karena adanya para pendatang yang poliglot, poli-etnis, dan multi-rasial baik secara kuantitatif maupun secara kualitatif.

Keunikannya yang lain juga adalah, masyarakat mulai seringkali berpindah-pindah. Setelah tahun 1880-an jaringan kereta api mulai menyilang sengkarut di Jawa, yang diawali dengan mengangkut produk-produk perkebunan dan pertambangan, namun segera setelah itu, mengangkut jutaan manusia, dan juga koran-koran dan majalah, furnitur rumah tangga dan beragam jenis kabel. Jalur kereta api ini juga terhubungkan dengan sangat efisien dan relatif murah dalam mengangkut barang dalam pulau. Kota yang lebih besar mempunyai kereta trem dan bus. Hingga pada akhirnya, sekitar tahun 1910, regulasi memisahkan populasi (khususnya orang Cino) dan pembatasan gerakannya mulai dicanangkan. Blok-blok Chinatowns, Arabtowns dan kawasan orang Eropa mulai terbentuk, meski keterikatan ke-tetangga-an masih didasarkan pada kaya dan miskin dibanding ras atau etnisitas. Orang Cino laki-laki dan perempuan mulai bekerja di firma-firma Eropa yang berdampingan pula dengan orang ber-ras Eurasia dan penduduk pribumi. Pakaian yang melintas batas kasta dapat ditemukan tanpa ada kesulitan. Setiap orang dapat menonton film Ramón Novarro: Ben-Hur (1925), di mana Kwee dengan sarkasnya menyebut film tersebut dengan “Arjuna modern yang bikin banyak Srikandi berdebar lebih cepat” (Pembrita Djember, 20 May 1934).[2]

Keunikan ketiga adalah kecemasan sekaligus ketenangan yang diciptakan oleh polisi negara di akhir periode kolonial. Terdapat represi tapi pada saat yang sama pembantaian terhadap masyarakat Eropa dapat dicegah. Banyak orang masuk penjara, termasuk orang-orang Eropa sendiri, namun jarang terjadi penyiksaan. Ini tentu adalah pengalaman yang tidak menyenangkan, karena merusak jiwa dan fisik. Terkadang terdapat kerusuhan, namun adalah tidak biasa jika berakhir dengan eksekusi. Negara tidak dapat mengambil keputusan yang emosional untuk mendapatkan loyalitas secara populer, karena 95% dari populasi adalah orang-orang yang bukan warga negara. Hal ini bertujuan untuk mendapatkan dukungan yang luas dari warga jajahannya (yang paling ditakuti dari kesemuanya adalah mobilisasi-mobilisasi atas nama sosialisme, nasionalisme dan Islam). Lebih lagi, kekuatan yang paling nampak dari negara bukanlah tentara melainkan para personel polisi sipil. Tidak banyak yang diminta oleh pemerintah terhadap massa, kecuali kepatuhan hukum dan pembayaran pajak. Inilah kenapa, keguncangan pada tahun 1950-an, setelah kemerdekaan, terjadi semua orang mulai membincangkan kebiasaan yang terjadi di periode akhir kolonial sebagai djaman normal.

Keempat dan merupakan keunikan terakhir, adalah perbedaan kualitatif. Belanda, sekelompok orang yang berjumlah sedikit, dengan bahasa yang tidak prestisius di mata internasional, tidak secara sepenuh hati mencoba untuk benar-benar menempatkan bahasa mereka sebagai “bahasa kolonial“, tidak seperti rival mereka, Inggris, Perancis, Portugis, Jepang dan Amerika Serikat. Hal ini karena masyarakat jajahan, hanya dibentuk pada awal abad sembilan belas, yang merupakan warisan dua abad dari pemerintahan lokal yang dipimpin oleh korporasi multi-nasional besar pada waktu itu yakni VOC (Vereenigde Oost–Indische Compagnie/United East Indies Company). Nenek moyang mereka ini menggunakan administrasi tingkat murahan dengan menggunakan bahasa maritim Melayu yang telah menjadi lingua franca. Karena birokrasi, penguasa mencoba, meski dengan tingkat kesuksesan yang kecil, untuk merasionalisasi dan menstandardisasi bahasa ini hanya di tingkatan yang rendah dan digunakan dengan cara seperti bergosip. Bahasa Melayu pada awalnya tidak dimiliki oleh para nasionalis, tapi menyebar dengan sendirinya, yang pada akhirnya tidak dapat dibantah mampu menjadi bahasa nasional kemerdekaan Indonesia. Di masa muda Kwee, lingua franca koran dan majalah berbahasa Melayu bergerak cepat melampaui bahasa Belanda, Jawa, Tionghoa dan Arab[3]. Hampir setiap orang yang melek huruf (tulisan Romawi) dapat membaca bahasa Melayu dan bahasa ini tidak secara spesifik dimiliki oleh komunitas etnik, rasial dan keagamaan tertentu. Dengan demikian mempunyai implikasi egaliter dan proto–kosmopolitan.

Lebih lagi, dunia jurnalisme mempunyai posisi unik. Sebagai misal dapat ambil contoh koran yang paling terkenal pro Cino pada waktu itu, Sin Po, dipublikasikan di Batavia (Jakarta). Editor in–chief yang kedua adalah J.R. Razoux Kuhr, seorang Belanda asli dan mantan pejabat distrik. Pemikiran orang Cino pemilik koran itu, melihat bahwa editor Belanda tentu akan meningkatkan minat baca dan perlindungan koran dari represi. Sayangnya, setelah empat tahun kinerja yang mengesankan dari orang yang kapabel ini digiring ke penjara akibat terlibat konflik kekerasan dengan seorang perempuan pribumi. Salah satu dari reporter yang aktif dan loyal, bukan semata pribumi, namun ia adalah seorang komposer yang berbakat. Sebuah lagunya kemudian menjadi anthem gerakan Indonesia, dia adalah Wage Rudolf (W. R.) Supratman. Sin Po adalah koran pertama yang dicetak dengan kata-kata yang menjadi favorit dan ada W. R. Supratman yang suka bekerja di dalamnya (Kwee Kek Beng, 1948: 21, 36). Di antara teman baik Kwee dan koleganya yang awet adalah Abdurrahman (A. R.) Baswedan, keturunan migran keluarga Muslim dari Yaman yang kemudian mendirikan Partai Arab Indonesia (PAI) dengan penuh antusias, merupakan tiruan dari PTI, dan J. Sjaranamual, seorang Protestan Maluku yang ciamik nan edan. (Tiga orang ini seringkali satu tim dalam bermain bola. Pada waktu itu sepak bola masih merupakan aktivitas yang tidak diakui penguasa. Malahan, di antara para jurnalis dari semua ras, ada kesenangan aktivitas, dan juga persahabatan maupun rasa permusuhan.)

KAWAN DAN LAWAN DALAM DUNIA KOLONIAL KOSMOPOLITAN
Setelah melihat latar belakangnya, jika dapat dikatakan demikian, saya ingin menunjukkan, dari tulisan Kwee, beberapa manifestasi colonial cosmopolitanism-nya. Pada beberapa kejadian, doski datang ke Surabaya untuk sebuah kunjungan, Kwee Thiam Tjing memutuskan untuk mengunjungi Liem Koen Hian, seorang teman lama dan rekan jurnalis. Seperti Kwee sendiri, ia dikenal sebagai seorang yang pedes melemparkan humor dan sangat cuek terhadap siapapun (Kwee Thiam Tjing, 1972f). Liem menyewa lima ruangan yang bagi Kwee sangatlah aneh. Dikelilingi oleh dinding tinggi dan hanya satu jalan masuk yang disebut oleh pemiliknya sebagai Vardonpark, karena pemiliknya adalah seorang Yahudi yang bernama Vardon. Di jalan, laki-laki paruh baya berwajah sangar itu mendekatinya dengan rasa ingin tahu yang tinggi dan bertanya mencari siapa. Mendengar nama Lien, laki-laki tersebut menarik lengan Kwee dan mendorongnya ke salah satu ujung rumah. Vardon berulang kali menyebut Liem sebagai “editor kurang ajar”. Kwee pada awalnya melihat tindakan ini sangat normal sebagai perlakuan kekerasan di jalanan. Namun ketika memasuki rumah Liem, ia terkesima menemukan dinding-dinding yang dipenuhi dengan cipratan tai. Ia kembali ke Vardon dan bertanya apa yang telah terjadi pada Liem “Aku tahu Koen Hian sangat akrab, dan ia nggak akan melakukan seperti ini jika anda yang memulainya. Sesungguhnya, anda beruntung bahwa ia telah pindah, jika tidak, kepalamu pun juga akan diciprati dengan tai”.


Dengan menahan tawa kurang ajar-nya, Kwee pergi sambil terheran-heran; ‘Dari mana Koen Hian bisa kumpulkan begitu banjak kotoran manusia?‘ ketika dua teman ini bertemu, Koen Hian menjelaskan bahwa Vardon adalah orang yang kurang ajar. Jika ada orang yang menyewa rumah pada pagi hari, ia akan datang di sore hari, dengan rasa ingin tahu yang besar dan mengeluh soal ini dan itu dan sama sekali tidak menaroh perhatian pada tamu-tamu yang sedang dilayani oleh Koen Hian. ‘Saya sudah kasih tahu ia berulang kali, bahwa ia tidak boleh bersikap seperti itu. Jika kamu hendak menyewakan tempat pada seseorang, anda harus menghormati privasi orang tersebut. Itulah adat di sini, tapi ia tidak menaruh perhatian sama sekali.‘

Di sini Kwee menjelaskan kepada para pembacanya bahwa Vardon adalah seorang Yahudi, untuk menjelaskan tempat tinggal aneh yang dimilikinya bukanlah milik orang Arab, Cina atau Belanda. Orang Yahudi menjadi spekulator dan pengembang utama di era kolonial. Dia membuktikan bahwa bukanlah mengejutkan menemui orang Yahudi semasa pemerintahan Belanda di Surabaya, tapi jangan menyebut mereka sebagai “Yahudi“ karena akan menyinggung. Ia berbincang dengan Vardon di samping jalan dan dalam rumah dengan menggunakan bahasa lingua franca, yakni bahasa pasar Melayu. Dua orang ini tidaklah sedang berkenalan, namun mereka mencoba untuk saling sejajar dalam perbincangan. Vardon meminta Kwee sebagai orang Cina untuk bersimpati, dan ia menggambarkan Liem sebagai editor cap taek, tapi bukan orang Cino taek. Dalam memoar Kwee, ada banyak cerita lain dimana teman-teman peranakan-nya seringkali menimbulkan perasaan menjengkelkan dan memalukan secara sengaja, meski yang seringkali jadi korbannya juga orang Cino juga. Sebagai bagian dari klas orang biasa, karena Kwee adalah orang yang selalu miskin, dan Koen Hian sebagai orang yang boros, ia selalu meminjamkan uangnya kepada para pengutang. Namun keberatan Koen Hian kepada Vardon adalah bukan karena ia adalah tuan tanah, melainkan karena ia tidak punya tenggang rasa, tidak menunjukkan rasa hormat kepada para penyewa rumah sebagai manusia.

Kecenderungan yang egaliter ini muncul dalam beberapa catatan pula. Dalam sejumlah kolom tulisannya di koran, Kwee menceritakan kunjungannya ke teman lama sekelasnya keturunan Eropa, yang selalu tinggal di kawasan pinggiran yang kumuh. Ia adalah Micawber, seorang suami dan ayah sekaligus yang sangat menyenangkan. Ia bertutur kata slang yang aneh bagi komunitas-nya, campuran antara bahasa Belanda yang secara tidak sadar dirajut dengan kata-kata Melayu dan idiom Jawa. Kwee lancar berbahasa Belanda, Melayu dan Jawa, dan ia sangat paham bahwa menggunakan salah satu dari bahasa ini secara eksklusif kepada rekan lamanya yang akan “menempatkan” ia sendiri dalam hirarki kolonial tertentu, maka dari itu, ia dengan sangat genit merespon bahasa Slang campuran dari rekan lamanya dan keduanya tertawa bahagia. Hal yang paling mengejutkan dari kolom-kolomnya, adalah dialog dengan orang Eropa, narasi dan komentarnya dalam bahasa Melayu, Kwee berasumsi bahwa sebagai peranakan, orang pribumi Indonesia dan pembaca Eropa mengerti bahasa-bahasa Slang-nya dan membacanya dengan bukan saja sangat menyenangkan tetapi juga simpatik.

Dalam memoar-nya, pembaca dapat belajar alasan-alasan kenapa dua laki-laki di atas terikat. Keduanya pernah belajar di sebuah sekolah swasta berbahasa Belanda yang didominasi oleh anak-anak Belanda totok dan mereka menjadi objek yang biasanya seringkali diganggu dan mendapatkan perlakuan bullying, dan tentunya dalam bentuk rasisme kolonial di masa kecil. Terdapat pula perkelahian fisik di halaman sekolah. Kwee terkesan dengan fakta bahwa ada beberapa peraturan terkait dengan perkelahian yang kasar ini. Jika seorang anak yang kalah, maka ia mengatakan ‘excuus’ kepada pemenangnya agar ia berhenti memukul dan menolong yang kalah untuk berdiri dan memperbaiki letak bajunya. Kwee, tertawa, ketika mencatat bahwa anak-anak Belanda terjebak pada aturan-aturan mereka sendiri secara ketat, sedangkan orang Cino dan Indo seringkali pura-pura nggak denger kata excuus ketika menang, supaya mendapatkan sedikit tambahan pukulan. Namun mereka masih menolong korban-korban mereka untuk bangun dan memperbaiki bajunya setelah kalah (Kwee Thiam Tjing, 1971b). Sebuah lingkungan yang aneh, dimana seorang Cino dan juga anak Indo boleh pukul anak Belanda totok berkulit putih tanpa hukuman legal dari pemerintah kolonial.

Sebagaimana yang disebutkan di awal, pada tahun 1926 Kwee dipenjara karena menyinggung hukum pers kolonial, termasuk dianggap menyebarkan kebencian antar ras dan pemberontakan. Ia mempunyai kepercayaan yang tinggi untuk menulis artikel tentang buruknya pemerintah yang gagal menekan pemberontakan lokal di provinsi yang sangat kuat Muslim-nya, Aceh. Ia menyimpulkan dengan sebuah puisi sederhana, dengan mengatakan bahwa jika aku juga orang Aceh aku juga akan mencabut rentjong, pedang tradisional orang Aceh, karena ‘dijajah itu tidak enak‘ (KweeThiam Tjing, 1972c). Kwee tidak pernah ke Aceh, namun ia membayangkan dirinya sendiri sebagai orang Aceh karena orang-orang ini adalah subjek yang sama dalam peta kolonial.

Ia adalah patriot kosmopolitan dan nasionalis. Di pengadilan ketika ia mendengarkan laporan dari seorang haik Belanda, ia dengan jijiknya mengatakan: “Apa, itu tuduhan kamu lagi!!!” Sebuah respon spontan, dan egaliter. Orang-orang Belanda mengingat perilaku Kwee pada percobaan tuduhan sebelumnya dimana ia sangat sopan namun tetap angkuh menyebut hakim dengan Meneer de Voorzitter (Hakim Ketua) Wieneke, sedangkan berdasarkan protokol kolonial, non Belanda menuduh bahwa Kwee menggunakan sebutan penghorman hibrid yang aneh, yakni Kandjeng Toewan, pengkombinasian antara gelar feodal Jawa dengan kata Melayu “tuan” (Kwee Thiam Tjing, 1971a). Di penjara, Kwee secara sengaja menggunakan kata sopan, namun informal dan mensejajarkan dengan Bahasa Belanda ketika berbicara dengan penjaga pintu dan sekuriti Belanda. Ia kemudian bertemu dengan seorang Indo pencuri amatiran, karena anak itu mempunyai status hukum yang aneh di mata orang Eropa (Ayahnya yang Belanda memutuskan mengakui ia secara legal, karena jika tidak ia akan dianggap sebagai “pribumi”). Dia diberi kelambu, matras yang nyaman dan anget, sebuah toilet yang gak begitu buruk dan juga makanan Eropa yang melimpah. Kwee marah besar dengan prinsip diskriminasi ini dan ia siap menuntut anak ini, namun hatinya meleleh ketika mendengar bahwa anak itu ngaku gak tahan sama makanan Eropa dan jika gak keberatan Kwee mengantarkan ia sebuah nasi goreng yang sederhana dan ikan asin (Kwee Thiam Tjing, 1972a). Si Indo pencopet ini kemudian menjadi sopan setelah itu. Ini adalah persoalan interaksi, dua orang saling menghargai antara orang Cino dan Indo, tapi tidak masalah dan mereka gak mempersoalkan itu.

Temen-temen Cino-nya seringkali bikin ia tersinggung bahkan marah gede, khususnya jika mareka adalah laki-laki dewasa. Pada satu kesempatan, Tan Tek Ho (a.k.a. Kwo Lay Yen atau Si Mahir), editor koran berbahasa Melayu edisi Jawa Timur, Sin Po, yang mengakui dirinya pengikut Sun Yat-sen, mengejek artikel Kwee yang mempertahankan dan simpati kepada “pribumi Indonesia”. “Kamu orang Cina yang pengen jadi seorang hwanna, dan menulis. Kamu udah pernah disunat belum?“ Hwanna adalah sebutan rasis, kata-kata Hokkien yang merendahkan seorang pribumi yang artinya orang yang gak berperadaban. Sedangkan kebanyakan orang laki-laki Indonesia, yang Muslim, wajib disunat, sedangkan sunat yang higienis bukanlah mode yang ngetren di kalangan Cina Borjuis di negara koloni. Dengan datarnya, Kwee membalas: ‘Kapan aku disunat ato nggak, aku sesungguhnya sudah lupa. Jika kowe pengen tahu pastinya, kenapa gak tanya istrimu?‘ Hasilnya, Tek Ho mendatangi rumah Kwee, menggedor pintunya dan meminta maaf atas sindiran keterlaluan tentang istrinya yang selingkuh. Dua laki-laki ini akhirnya sepakat untuk menyelesaikannya di pengadilan, berargumen mengalahkan satu sama lain meski akhirnya jadi temen yang deket (Kwee Thiam Tjing, 1972b).

Kwee sangat terkenal karena keahliannya yang sempurna, bikin lucu, satir terhadap orang Cino, khususnya yang peranakan. Tapi juga menyangkut perbedaan gender. Khususnya pada perempuan yang tipikal usia paroh baya, suka gosip, berlagak bos, tengah naik daun, gila fashion, kecewa ama suaminya, mak comblang yang konservatif, namun seringkali punya perasaan afeksi. Dan kesatiran ini seringkali muncul dalam gaya tulisan yang khususnya meniru separoh gaya Hokkien, orang Jawa, sebagian Melayu dan sebagian bahasa Belanda yang ia gunakan. Cowok paruh baya dan yang lebih tua biasanya diperlakukan lebih liar dan tanpa humor dalam tulisannya. Dalam banyak hal, Kwee adalah seorang moderat konservatif sepanjang peranan gender diperhatikan tapi ia tidak punya waktu banyak buat mengulas patriarki Konfusian yang seringkali tercermin dalam bentukan masyarakat kolonial. Namun sekali lagi, cukup jelas bahwa penggunaan gaya bahasa Hokkien cukup sesuai, bahkan lebih dari cukup untuk bikin ketawa pembaca Hokkien Indonesia dan membikin pembaca non Hokkien sedikit mengerti tentang satir dan beberapa frasa berguna yang dipilihnya, bootjingli (taik kebo omong kosong).

Kwee secara sempurna sangat sadar bahwa ketegangan antara orang Cino dan penduduk pribumi lokal, yang satunya biasanya kaya dan jadi orang kota, dan yang satunya lagi adalah orang yang benar-benar miskin tinggal di desa. Ini adalah satu alasan kenapa ia dengan sangat antusias adalah pendukung dan promotor pertandingan olahraga. Dalam memoirnya, ia bercerita mengajak para pemain bola (yang secara personal telah ia latih) untuk bermain melawan sebelas pemain pribumi di sebuah kawasan yang agak misterius di masyarakat Osing di Jawa bagian timur. Ia akur dengan pemilik tim, sebuah bos di kota kecil yang agak susah orangnya, dan ia membujuk untuk berjanji sebelum pertandingan bahwa ia akan mengekang berbagai macam ekses dari tim lokal yang seringkali membawa parang dan bikin rusuh. Pertandingan berjalan baik-baik saja dan hingga pada akhirnya seorang Cina paroh baya, yang Kwee sendiri gak tahu, mulai berteriak dengan bahasa lingua franca yang dapat dimengerti semua orang di tepi lapangan; ‘Patahin aja lengannya keparat!’ Sebuah kerusuhan tiba-tiba pecah, dan Kwee hanya bisa mengatur anak buahnya untuk lari ke mobil di tengah-tengah terjangan batu dan tongkat. Ketika ia kembali pulang ia menemukan bahwa orang Cino paroh baya yang provokator itu adalah seorang dokter gigi Hindia−Belanda yang baru saja pindah dari Taiwan (Taiwan, setelah tahun 1895, menjadi bagian dari imperium Jepang) dan kemudian ia jadi mendapatkan ‘hak istimewa sebagai orang Eropa‘ dari pemerintah Jepang di koloni Belanda[4]. Kwee kemudian ngelabrak orang itu, memaki-makinya, kemungkinan dalam bahasa Hokkien, atas kearoganan dan insentifitasnya. Ketika dokter itu membalas, dengan mengatakan bahwa Kwee, adalah seorang pengkhianat dari ras Cina, Kwee membekuk dokter itu hingga jatuh ke lantai (Kwee Thiam Tjing, 1972d, 1972e). Bayangin: Seorang dokter Cina jaman kolonial yang secara oportunis pergi ke Taiwan, koloni Jepang, dan berencana untuk kembali pulang sebagai seorang idiot kaki tangan Jepang berstatus Eropa, dan dengan goblok-nya memprovokasi sebuah ‘kerusuhan antar ras‘.

Setelah jatuhnya Belanda ke tangan tentara Hitler, dan diiringi dengan puncak kejayaan hantu invasi Jepang, rejim kolonial menawarkan kepada setiap orang di kawasan jajahan untuk bergabung dengan the Stadswacht, sebuah organisasi multi-rasial untuk pertahanan sipil. Kwee, merasa terhormat untuk mempertahankan tanah airnya. Di antara yang lainnya, dialah yang bergabung dan sangat senang sekali mendapatkan dirinya (sebagai seorang sersan) memerintah orang Belanda, orang Cino dan masyarakat pribumi rendahan. Ia mencatat, memimpin unit-nya pada suatu patroli malam hari di sebuah kawasan kumuh yang tak punya saluran got, dan menginjak sesuatu yang kental dan ternyata tai manusia yang tak kelihatan. Dan ia juga mendapati bahwa ternyata dua anak buahnya bekerja di sebuah firma yang sama, seseorang adalah manajer Belanda dan satunya adalah juru tulis pribumi. Mengetahui bahwa senapan-nya dipenuhi dengan tai, si manajer memerintah juru tulis itu untuk membersihkannya, sehingga bikin klerk itu ketakutan dan melakukannya. Dengan sangat marahnya, Sersan Kwee memaki manajer tersebut dan menyuruh ia sendiri buat membersihkan pantat senjata-nya yang kotor tersebut dan ia menggertak si juru tulis: ‘Apakah gak ada akhir untuk kelemahgemulaian dan tabiat budakmu. Kamu sekarang bukan lagi di kantor, tapi mempertahankan negeri ini dari invasi, dan kamu berada di bawah perintahku’ (Tjamboek Berdoeri, 1947: 39–40).

Pada akhirnya, ada lagi anekdot di awal tahun 1942, ketika tentara-tentara Inggris dan angkatan lautnya, dikalahkan oleh tentara Jepang di Malaysia dan Singapura, yang kemudian mereka lari ke selatan, Hindia−Belanda. Kwee menunjukkan rasa yang agak simpati, khususnya ketika menemukan beberapa dari tentara tersebut berhasrat untuk menggunakan bahasa Melayu sebagai lingua franca. Orang-orang yang iseng lazimnya mengajarkan orang inosen yang baru belajar bahasa dengan mengenalkan kata ‘Apa kabar, setrogantol?’, yang artinya: ‘Apa kabar lubang pantat?’ (Kwee Thiam Tjing, 1972g). Bagian yang lucu dari cerita Kwee adalah kenyataan bahwa orang-orang cowok di Indonesia sendiri masih sering mengatakan itu sebagai bagian dari saling mengejek. Dalam tafsiran saya, para tentara ini juga saling mengucap salam dengan kata tersebut dengan gaya yang sama persis. Bagaimanapun juga, jika para tentara Inggris ini tinggal agak lebih lama, mungkin mereka akan tahu maknanya. Pada awalnya mereka memang akan menikmati kata makian itu…..(Bersambung)

*Profesor emeritus dalam bidang Studi Internasional di Universitas Cornell.

CATATAN:

[1] Beberapa kolom pertamanya, bertujuan untuk mengejek masyarakat paroh baya perempuan keturunan klas menengah Cino yang dianggap seperti drakula karena sering mengunyah pinang 
____dan membuat gigi mereka tampak kemerahan serta sering meludah.
[2] Koran kecil ini didirikan dan ditulis oleh Kwee sendiri dan dipublikasikan di sebuah kota kecil penghasil tembakau, Jember–Jawa Timur. Koran ini tutup usia sekitar setelah satu tahun.
[3] Statistik berikut menunjukkan kemajuan yang baik. Pada tahun 1890-an hanya ada lima koran yang dipublikasikan di Jawa Timur, semuanya terletak di Surabaya: Tiga berbahasa Belanda, dua 
____berbahasa Melayu. Antara tahun 1900 dan 1909 segala sesuatunya terlihat sama kecuali bahwa ada empat koran berbahasa Belanda. Namun antara tahun 1910–1919, 23 koran diterbitkan, 
____termasuk dua di Malang, kota terbesar kedua di provinsi Jawa Timur, dan detailnya adalah: 15 berbahasa Melayu, 7 berbahasa Belanda dan 1 berbahasa Arab. Lebih dari tahun 1920-an, 65 
____koran muncul, 51 di antaranya berada di Surabaya dan Malang, dan sisanya di kota-kota yang lebih kecil: 38 berbahasa Melayu, 16 berbahasa Belanda, 7 berbahasa Arab, dan 4 berbahasa 
____Jawa. Di dekade akhir sebelum runtuhnya periode kolonial, muncul 77 koran, 57 di Surabaya dan Malang, dan sisanya di 6 kota yang lebih kecil. Distribusinya antara lain sebagai berikut: 50 
____adalah koran berbahasa Melayu, 13 berbahasa Jawa, 12 berbahasa Belanda dan 2 berbahasa Arab. Data diambil
[4] Setelah kemenangan Jepang dalam perang Sino–Japanese dan Russo–Japanese, Belanda secara merasa terancam memberikan orang Jepang dan segala bentuk 
____status hukumnya lebih tinggi dari orang Eropa. Pada saat yang sama, ada banyak pembicaraan publik berkenaan dengan 300 tahun persahabatan Jepang dan 
____Belanda berdasarkan sebuah pulau kecil bernama Deshima, di lautan lepas Nagasaki, yang didirikan pada abad tujuh belas. Persahabatan ini terkesan oportunis 
____di mata Kwee dan banyak dijadikan subjek sinis dalam esai-esainya.