oleh Ben Anderson*
PATRIOTISME KOSMOPOLITAN
KOLONIAL YANG UNIK DAN TERLUPAKAN
PADA bagian ini saya hendak menjelaskan apa yang dimaksud dengan kosmopolitanisme kolonial, meski agak sedikit telat. Kwee Thiam Tjing adalah orang yang super cerdas, meski doski gak pernah sekolah di universitas, karena pada waktu itu belum ada universitas ketika doski berusia 18 tahun. Ia dapat membaca setidaknya lima bahasa, bahkan meski belum pernah ninggalin negaranya, dari Hindia–Belanda, bahkan belum pernah ke luar Jawa kecuali perjalanan ke Sumatera sebanyak dua kali, itu-pun waktu sebagai salesmen di sebuah pabrik kina. Semangat patriotisme menempel di diri-nya, namun ia benar-benar enjoy dengan karir-nya dan mengolok-olok beragam masyarakat baik yang pribumi maupun keturunan. Kita sering percaya bahwa orang kosmopolitan yang sesungguhnya haruslah seorang musafir polyglot yang punya minat dan apresiasi dengan negara-negara dimana ia berpijak. Tipe kosmopolitan macam ini cenderung berpikir tentang diri-nya sendiri seperti dalam istilah masa pencerahan sebagai seorang warga negara dunia. Jenis kosmopolitan Kwee merepresentasikan sebaliknya. Doski gak pernah keluar ke dunia yang besar, namun justru dunia yang besar-lah yang datang ke diri-nya, dan tidak dalam bentuk-nya yang kosmopolit. Hal tersebut datang seiring dengan pembelajarannya terhadap bahasa lingua franca dan waktu dimana doski menyerap berbagai macam kecantikan bahasa tersebut dan beragam pelajaran yang tersembunyi di dalam-nya. Kosmopolitan macam begini sulit ditemukan di Eropa, Amerika, di Cina atau Jepang. Dengan alasan sederhana, di tempat-tempat macam begini, penguasa-nya adalah bertipikal negara bangsa yang dipertahankan dan diperkuat dengan satu bahasa nasional tunggal. Kemungkinan hanya mungkin di periode akhir kolonial dimana kolonialisme itu sendiri mengesampingkan negara bangsa dan bahasa nasional.
PADA bagian ini saya hendak menjelaskan apa yang dimaksud dengan kosmopolitanisme kolonial, meski agak sedikit telat. Kwee Thiam Tjing adalah orang yang super cerdas, meski doski gak pernah sekolah di universitas, karena pada waktu itu belum ada universitas ketika doski berusia 18 tahun. Ia dapat membaca setidaknya lima bahasa, bahkan meski belum pernah ninggalin negaranya, dari Hindia–Belanda, bahkan belum pernah ke luar Jawa kecuali perjalanan ke Sumatera sebanyak dua kali, itu-pun waktu sebagai salesmen di sebuah pabrik kina. Semangat patriotisme menempel di diri-nya, namun ia benar-benar enjoy dengan karir-nya dan mengolok-olok beragam masyarakat baik yang pribumi maupun keturunan. Kita sering percaya bahwa orang kosmopolitan yang sesungguhnya haruslah seorang musafir polyglot yang punya minat dan apresiasi dengan negara-negara dimana ia berpijak. Tipe kosmopolitan macam ini cenderung berpikir tentang diri-nya sendiri seperti dalam istilah masa pencerahan sebagai seorang warga negara dunia. Jenis kosmopolitan Kwee merepresentasikan sebaliknya. Doski gak pernah keluar ke dunia yang besar, namun justru dunia yang besar-lah yang datang ke diri-nya, dan tidak dalam bentuk-nya yang kosmopolit. Hal tersebut datang seiring dengan pembelajarannya terhadap bahasa lingua franca dan waktu dimana doski menyerap berbagai macam kecantikan bahasa tersebut dan beragam pelajaran yang tersembunyi di dalam-nya. Kosmopolitan macam begini sulit ditemukan di Eropa, Amerika, di Cina atau Jepang. Dengan alasan sederhana, di tempat-tempat macam begini, penguasa-nya adalah bertipikal negara bangsa yang dipertahankan dan diperkuat dengan satu bahasa nasional tunggal. Kemungkinan hanya mungkin di periode akhir kolonial dimana kolonialisme itu sendiri mengesampingkan negara bangsa dan bahasa nasional.
Dengan latar belakang
kehidupan Kwee setelah tahun 1942, ia mulai memperluas pandangan humanitas-nya.
Militer Jepang berkuasa di Indonesia selama tiga setengah tahun namun doski
selalu punya momentum-momentum yang penting. Sedikit demi sedikit kasta orang Eropa
mulai diasingkan, biasanya dilakukan oleh para pribumi, yang pernah berada di
bawah pengawasan senjata, mengalami mal–nutrisi, siksaan fisik, hingga
penghinaan secara psikis. Selain itu, ekonomi perkebunan juga kolaps, dan
mengalami inflasi tak terkontrol, sekolah-sekolah ditutup, ratusan hingga
ribuan penduduk pribumi menjadi ajang kerja paksa dan kekerasan militer
(termasuk penyiksaan dan eksekusi publik) adalah hal biasa. Di sisi lain,
karena mereka semakin sadar bahwa perang besar tengah terjadi melawan mereka,
orang-orang Jepang bikin upaya yang masif buat memobilisasi populasi untuk
turut ikut menentang invasi sekutu. Sedikit sekali koran yang ada, selama di
bawah kekuasaan Jepang, dan selalu tentang propaganda tiada henti tentang
Tokyo. Orang Jepang gak punya pilihan kecuali menggunakan bahasa lingua franca
untuk memerintah, namun mereka menjadikannya semacam bahasa proto–nasional
untuk sebuah bangsa yang masa depan kemerdekaan-nya dijanjikan dalam Asia Timur
Besar yang penuh dengan kemakmuran. Selama masa pendudukan, Kwee mendapati
dirinya terpilih sebagai ketua badan administrasi rumah tangga yang disebut
tonarigumi, di rumah-nya di Malang. Ia bahkan mengatur untuk mendapatkan
simpati orang Jepang dengan beberapa pengetahuan lingua franca-nya, seperti
kata ‘Hirao’ seorang petugas angkatan laut yang secara reguler mengunjungi Kwee
di rumah dan ia mengatakan: ‘Ibumu terlihat seperti ibuku’ (Kwee Thiam Tjing,
1972h).
Sekarang marilah kita
secara singkat bicarain satu episode singkat dari periode Jepang. Periode ini
disebut sebagai institusi orang Jepang dengan sistem-nya yang luas dan tanpa
sembunyi-sembunyi melakukan kerja paksa yang disebut romusha. Ratusan hingga
ribuan anak muda pribumi direkrut untuk perang yang juga berkaitan dengan
proyek-proyek pembangunan yang disebut dengan “rel kematian” dibangun antara
Thailand ke Burma. Orang-orang yang malang dalam jumlah besar ini mati, karena
mal-nutrisi dan terkena wabah. Hingga pada akhirnya orang-orang Cino sangat
target. Kakyo Shokai, seorang Jepang yang mensponsori Asosiasi Orang Cina di
Perantauan yang didominasi oleh orang kaya dan terdidik, diperintah untuk
melakukan rekruitmen. Kwee mendapatkan bahwa Kakyo Shokai memimpin bukan untuk
membebaskan anak-nya (dengan alasan medis yang palsu) namun sebenarnya ditutupi
dengan cara mempublikasikan kampanye sebagai penipuan-nya. Jika kamu tak mau
atau tak mampu membayar ongkos 10 rupiah anak lelaki-nya akan diikutsertakan
dalam kerja paksa. Kwee marah banget. Berikut ini ultimatum kemarahannya;
‘Hingga sekarang, saja masih simpen baek-baek Kakyo Shokai poenja ultimatum:
model romusha hanya sekelas 10 rupiah’ (Tjamboek Berdoeri, 1947: 267).
Ultimatum-nya tersebut luar biasa: “Keluar dari Belanda malah jadi kerja paksa,
dan ngasih 10 rupiah buat orang Hokkien”.
Kalimat ini secara sengit
bisa dibayangkan sangat vulgar, dan secara sengaja mengolok elit-elit peranakan
yang mempunyai muasal yang sama, namun pada saat yang sama menempatkan diri-nya
pada bingkai lingua franca yang sebenarnya mereka tolak. Bahkan di sini kita
bisa deteksi keunikan kosmopolitan Kwee, yang berbasis pada Ke-Indonesia-an dan
Ke-Melayuan-nya yang sangat dapat dimengerti di Hindia–Belanda, serta campuran
Bahasa Belanda. Romusha orang Jepang juga mulai masuk dalam kata lingua franca.
Bahasa Hokkien untuk istilah 10 rupiah tjaptoen juga sudah mulai
terlokalisasikan: di mana imigran Hokkiens di seluruh dunia menuliskan kata ch
dengan tj, dan u dengan oe?. Gabungan frase tiga bahasa ini yang kemudian
tercampur dalam masa depan bahasa Indonesia.
Dengan menyerahnya
penjajah Jepang, atau dengan apa yang disebut orang Indonesia sebagai “pecahnya
Revolusi” baik secara sosial internal dan eksternal yang anti kolonial.
Kekerasan secara luas merebak, heroisme, kriminalitas, bunuh diri dan korupsi
hingga Belanda akhir-nya, empat tahun kemudian, mau nerimo kemerdekaan
Indonesia. Kwee masih berkomitmen terhadap nasionalisme meskipun sejumlah
saudara dekat-nya secara mengerikan dibunuh oleh sekelompok bandit revolusioner
yang dipimpin oleh seorang sipir pengawas. Pada akhir tahun 1947
publikasi-publikasinya masih dalam nama pena-nya Tjamboek Berdoeri, dan karya
masterpiece yang panjang berjudul Indonesia dalem Api dan Bara, sebuah cerita
tentang pengalaman-pengalaman akhir periode kolonial mulai tentang pendudukan
hingga tahun-tahun pertama revolusi. Meskipun demikian, menurut saya ini adalah
karya terbesar esais yang ditulis oleh orang Indonesia pertama di pertengahan
abad kedua puluh, dan hampir terlupakan, atau bisa dikatakan “menghilang”. Pada
tahun 1960-an, ia dan istri-nya bergabung dengan anak perempuan-nya dan
keluarga-nya di Kuala Lumpur, Malaysia. Dan, pada usia-nya yang ke enam puluh,
ia meninggalkan negara yang begitu dicintainya untuk pertama kali-nya.
Sekembalinya ke Jakarta pada tahun 1971 (tidak lama setelah peristiwa kerusuhan
berdarah antar etnis di ibukota Malaysia tahun 1969) ia mulai, melalui bantuan
Mochtar Lubis, seorang jurnalis kawakan, ia mulai men-serialisasikan cerita
hidup-nya hingga tahun 1950. Hal yang aneh adalah, sejauh yang saya tahu, ia
sama sekali tidak mempublikasikan karya-nya sepanjang tahun 1947 dan 1971.
James T. Siegel memperkirakan bahwa hampir tidak ada ruang buat kolonial
kosmpolitanisme Kwee yang membebaskan, dan perasaan saya kesimpulan tersebut
bener. Untuk menjelaskan kondisi ini harus kita mulai dengan kondisi lingua
franca itu sendiri.
Setelah meletusnya
revolusi di akhir taon 1945, dan formasi pemerintahan nasional, apa yang telah
jadi lingua franca diangkat menjadi satu-satunya bahasa ‘nasional’ dan
revolusioner. Pada saat yang sama, upaya yang serius dan berkelanjutan dibuat
untuk membuat bahasa tersebut menjadi berharga sebagai status baru dan
upaya-upaya menjadi populer di perasaan kalangan nasional yang memobilisasi di
belakang-nya. ‘Bahasa Campuran’ jadi tidak ditolerir. Belanda jadi bahasa yang
dimusuhi secara horisontal, tapi tidak sebagai bahasa vertikal penguasa;
sedangkan bahasa Hokkien diambil sebagai sebuah tanda loyalitas yang mendua
terhadap suatu bangsa; Bahasa Daerah, jika tidak secara parsial disembunyikan,
dianggap indikator berbahaya buat munculnya rasa ke-daerah-an. Menjelang tahun
1949, semua koran ‘di-Indonesia-kan’ untuk menentang semua gejala hibriditas
anti–nasional. Demikian juga dengan demokrasi parlementer, dan sejenis-nya yang
bertahan hingga tahun 1958, disiplin linguistik dijalankan lebih dari kepada
solidaritas dibanding disiplin. Di bawah kepemimpinan otoriter Sukarno dengan
demokrasi terpimpin-nya, yang berakhir sampai tahun 1965, kebiasaan dan
beberapa represi menjadi faktor-faktor penting. Namun, hibriditas dan tawa yang
menyertainya masih tidak dapat dihilangkan. Ini diasumsikan sebagai sebuah
bentuk baru yang menarik. Dialog kasar dari para penduduk senior di Ibukota,
yang pada awal-nya terlihat marjinal di era kolonial, sedikit melangkah maju
mengisi kekosongan, dengan perbedaan yang signifikan. Bahasa Betawi yang asli
kemudian dinamakan sebagai bahasa Djakarta, yang populer (secara oral) di
kalangan anak muda, pekerja, pedagang kecil, dan para kriminal; namun dalam
bahasa cetak sangatlah tersubordinasi dan terdiskriminasi. Bahasa ini dapat
ditemukan di kartun dan komik strip, dan dalam legenda-leganda versi pop
berseri, dan dalam halaman depan sudut kolom surat kabar —gaya penulisan
beginian diimpor dari Belanda— dengan kalimat-kalimat komentar tentang politik
nasional yang ditulis dengan nama-nama pena. Dalam ruang yang terbatas ini,
seseorang masih dapat menemukan jejak-jejak hibriditas lama, dengan campuran
Bahasa Belanda, Jawa, Arab dan terkadang Hokkien. Namun dua bahasa ditempatkan
secara hierarkis, dan sebisa mungkin, tidak diijinkan untuk tercampur satu sama
lain. Masterpiece karya Kwee dipublikasikan tepat pada waktu-nya, di saat
masuknya Indonesia ke PBB. Karena tidak mudah mempublikasikan-nya setelah itu.
Yang hampir penting juga
adalah determinasi negara bangsa, yang pada akhir-nya, semua anggota PBB harus
mempunyai ‘sejarah nasional’ yang disebar-luaskan melalui sistem sekolah dan
juga media massa. Para kolonialis hampir tidak pernah mengatur untuk menulis
atau menyebarkan sejarah koloni yang masuk akal. Beberapa esai sejarah ekspansi
Belanda dan penaklukan di abad ke tujuh belas; dan lainnya secara impresif
dimunculkan melalui monumen dan literatur yang diproduksi sebelum kedatangan
Belanda, dapat ditemukan tanpa ada saling koherensi-nya mulai dari Jaman
Borobudur sampai periode Indies. Hingga tahun 1950, orang-orang Indonesia
terlalu sibuk, dan terlalu membagi antara aktivitas melawan rejim kolonial, dan
mengembangkan konsep bangsa yang kembali ke ribuan tahun sebelum-nya. Setelah
‘sukses’ pada 1949–50, tepat-nya proyek ini menjadi mungkin, namun hanya
melalui ratusan penghapusan dan membingkai kolonial versus anti–kolonial.
Belanda dan Jepang ditampilkan peranannya sebagai orang jahat namun peranakan
Cino, seperti juga Indo rata-rata hilang. Klimaks dari tematik sejarah nasional
ini secara natural, dan dengan alasan-alasan heroisme yang luar biasa, adalah
revolusi dari tahun 1945–49. Lucu, ironis, melankolis, adalah kompilasi yang
terlihat seperti kredit yang kurang dari cukup. Karya masterpiece Kwee, dengan
gambarannya yang jelas tentang ke-pengecut-an Belanda yang kadang-kadang saja
berani-nya, kehormatan, kebodohan dan aturan-aturan excuus (lihat bagian dua);
idealisme orang Indonesia, energi dan kriminalitasnya, kerakusan peranakan
Cino, oportunis dan ketabahan, tak tertahankan bagi siapa-pun.
Di sesi akhir Kwee
bergerak pada seri otobiografi-nya dimana ia menggambarkan atmosfir dari
hari-hari transfer kedaulatan. Ia menemukan diri-nya sendiri tengah duduk di
sebuah alun-alun besar di depan bekas istana gubernur jenderal berdampingan
dengan puluhan dari ribuan orang-orang yang menyeringai bergembira yang pernah
ia saksikan sepanjang hidup-nya. Di samping-nya duduk kakak perempuan Soekarno.
Dengan kebiasaannya yang suka menggoda, ia menanyakan kenapa ia gak di istana
bersama sodara-nya. Perempuan itu kasih jawab bahwa ia ingin mengalami
hari-hari bersama rakyat, seperti yang juga tengah dilakukan sama Kwee. Ketika
dokumen-dokumen perjanjian sudah ditanda-tangani, Bendera Belanda akhir-nya
direndahkan sedangkan bendera Indonesia dinaikkan di tempat-nya, yang diiringi
dengan seringai nyaring dari para kerumunan. Kwee pada waktu itu sangat
tergugah dan sangat happy banget namun doski gak bisa menghindari air-mata
keharuan yang jatuh di pipi-nya, dengan berkomentar bahwa menyaksikan bendera
Belanda yang mulai sirna terasa seperti menyaksikan teman lama yang dikuburkan
(Kwee Thiam Tjing, 1972i). Dengan gaya menulisnya, pada usia 72 tahun, di bawah
rejim Suharto, menggiring keberanian kosmopolit-nya Kwee yang hibrid dan yang
suka berkelakar pula. Tidak ada seorang-pun yang pernah nulis tentang
momen-momen historis seperti ini yang mencampurkan antara keromantisan, duka
dan rasa lucu.
Momen ini menggiring ia
pada semacam; refleksi jarak jauh yang membikin kultur kosmopolitan di akhir
periode kolonial menjadi mungkin. Saya rasa ini sebagian karena hasil dari
ketidak-berdayaan. Di masa koloni, hanya laki-laki Belanda yang punya kekuatan
riil, selalu setiap waktu, padahal di panggung internasional Belanda hanya
memainkan sedikit peranan. Sedangkan di ranah lokal, masyarakat dari berbagai
macam rupa saling berkompetisi tanpa rasa belas kasihan hanya untuk uang dan
hak istimewa, tapi sebenarnya hanya untuk hal-hal yang kecil. Gubernur jenderal
sendiri hanya dapat memimpin selama empat tahun dan selalu sewaktu-waktu dapat
dipecat. Kekuataan riil-nya adalah di ribuan mil jauhnya dari Hindia–Belanda.
Sembari menjalankan Koran-nya di Jember pada pertengahan tahun 1930, Kwee
meng-organisasi-kan bantuan untuk korban-korban pengangguran setempat akibat
depresi dunia dan menyebabkan protes terhadap kerakusan monopoli kolonial,
dimana yang mengejutkan, semua kelompok yang bergabung di dalam-nya, adalah
orang-orang gak berdaya yang tidak berharap banyak. Mereka menjadi koalisi yang
solid dan mudah saling menerima satu sama lainnya.
Setelah tahun 1949, segala
sesuatu-nya berubah. Kekuatan eksternal, khusus-nya yang berasal dari
Washington, menjadi krusial meskipun mereka jauh. Namun dalam sebuah negara
bangsa yang baru hal ini gak dapat dihindari, untuk pertama kali-nya,
keganasan, konsep excuus kurang begitu diperjuangkan di antara para mantan
orang-orang yang gak berdaya, perang sipil, pembantaian, diskriminasi, represi,
kekejaman. Koalisi-koalisi masih mungkin namun bersifat gak kekal, dalam
kerangka manuver-manuver yang taktis. Rasa ketidak-berdayaan muncul namun dalam
dibatasi oleh kemiskinan dan marjinalitas. Para nasionalis Indonesia, pada hal
tertentu, ‘terbuka‘ namun dengan cara yang seperti telah dilakukan pada sebelum
tahun 1942. Anak-anak orang kaya dikirim ke Boston, Moskow, Paris, London,
Canberra dan Tokyo, dan jika mereka kembali, mempunyai ekspektasi tinggi akan
kemajuan. Namun model kosmopolitanisme yang mereka peroleh diambil ‘dari sono‘
dan kondisi-nya juga diadaptasikan ‘dari sono‘ dan secara isi juga menggunakan
istilah-istilah ‘dari sono‘. Hampir gak ada yang bisa membayangkan bahwa
seseorang dapat menjadi kosmpolit dengan hanya berada ‘di sini‘ (baca:
Hindia–Belanda) dan menggunakan istilah-istilah yang ‘dari sini‘ aja.
Tanda lain-nya dari
perubahan adalah hilang-nya perilaku individual yang “kurang ajar“, seperti
yang disebut oleh pemilik rumah orang Yahudi. Kwee bahkan hidup jauh sebelum
ada-nya televisi, brutalitas orang Yahudi–Israel secara kolektif terhadap
orang-orang Palestina–Muslim, meski tak lama kemudian memang banyak orang
se-bangsa-nya yang berpikir tentang dendam jarak jauh terhadap perilaku seperti
orang-orang Israel ini.
Kembali pada rumus
pra-nasionalis Kant terhadap perdamaian global yang universal ditambah dengan
ada-nya perdagangan komersil tanpa halangan. Menurut-nya, pedagang yang tekun
akan membawa beberapa komoditi dan lain-nya untuk dibawa pulang, dan
kemungkinan juga berbagai ide dan penemuan juga diusung pula. Karena itu mereka
harus menjadi tamu yang baik dan tidak tinggal lama tentunya. Pada akhir
periode pemerintahan Hindia–Belanda ada banyak orang macam begini, meski tidak
berarti mereka adalah tamu yang selalu baik. Namun lebih banyak lagi yang
tinggal agak lama dan disambut ramah, dan filosof dari Königsberg ini juga
tidak menghabiskan banyak waktu, namun bagaimanapun juga, tuan rumah yang tidak
pernah meninggalkan rumah-nya akan menyambut dengan istilah-nya sendiri:
“Sayangku Setrogantol, semprul, bangsat, badjingan!”
Ed. HAK & YBA 16 September 2012
*Profesor emeritus dalam
bidang Studi Internasional di Universitas Cornell, serta pernah aktif di
Cornell Modern Indonesia Project yang terkenal dengan Cornell Paper.

