oleh Benedict Richard O’Gorman Anderson (Ben Anderson)*
Dapat dikatakan bahwa awal
dari tulisan ini terinspirasi oleh tulisan James T. Siegel dalam bagian introduksinya
yang brilian di buku yang baru saja diterbitkan mengenai memoar seorang satiris
dan ahli humor keturunan Tionghoa–Indonesia, dia adalah Kwee Thiam Tjing, yang
ditulis dua tahun sebelum kematiannya pada tahun 1974 (Djati & Anderson,
2010). Dalam bagian introduksi, Siegel memperkenalkan istilah ”Colonial
Cosmopolitanism” (Kosmopolitanisme Kolonial) yang ia terapkan dalam kehidupan
tertentu Kwee dan beberapa kehidupan unik masyarakat urban kolonial di
Hindia–Belanda.
Kwee dilahirkan pada tahun
1900, sebelas tahun setelah Jawaharlal Nehru, sepuluh tahun setelah Ho Chi
Minh, dan tujuh tahun setelah Mao Tse-tung dan satu tahun sebelum Sukarno yang
mewakili generasi kedua anti-kolonial setelah generasi Jozé Rizal, Sun Yat-sen
dan Mahatma Gandhi, yang kesemuanya terlahir pada tahun 1860-an. Kwee masih
berusia lima tahun ketika terjadi Restorasi Meiji di Jepang yang menentang
kekaisaran dan ketika Dinasti Qing (Ching) kolaps dan tepat ketika ulang tahun
ke tujuh belas Vladimir Lenin memegang tampuk kekuasaan di Saint Petersburg,
Rusia. Nenek moyang-nya adalah Hokkien yang telah tinggal di Jawa dan Madura
semenjak abad ke tujuh belas dan bahasa pertamanya adalah Hokkien dan Jawa.
Kwee tahu bahasa Mandarin dan di usia tua-nya ia tidak bisa membaca huruf-huruf
Tionghoa. Ayahnya adalah orang yang berkecukupan dan mempunyai hubungan yang
baik dengan para elit Belanda dan khususnya sekolah elit, khususnya hampir
semua anak Belanda, orang-orang keturunan Eurasia, Cino dan para kelas atas
pribumi. Pada waktu itu tidak ada universitas di Negara koloni, dengan demikian
usai menyelesaikan sekolah menengah atas, ia harus mendapatkan pekerjaan.
Dengan menentang nasehat orang tuanya, ia memutuskan untuk menjadi seorang
jurnalis dan bekerja setidaknya di lima harian kecil dan labil, termasuk yang
ia miliki sendiri, hingga datangnya pendudukan Jepang. Semua koran ini dimiliki
oleh orang-orang Indonesia–Tionghoa namun para staf-nya adalah orang Eropa dan
juga penduduk pribumi, di mana Kwee secara garis besar, pada waktu itu menyebutnya
sebagai Indonesiers. Untuk alasan komersial dan alasan lainnya, koran-koran ini
membuat upaya yang kuat untuk menarik pembaca di setiap barisnya, dan hal ini
bisa tercapai karena adanya bahasa lingua franca Melayu yang dikenal luas, di
mana setiap orang membawa elemen-elemen bahasa ibu-nya, kosakata-nya,
sintaksis-nya, ejaan dan sebagainya. Kweek ahli dalam esai-esai satir
mingguan-nya dan menjadi ahli tak tertandingi hingga berakhirnya penguasa
kolonial Belanda. Hampir dari awal ia menjadi bintang kolumnis yang tajam dan
lucu dalam mengkritik komunitas Tionghoa–Indonesia[1], yang ditulis dengan nama
pseudonym yang sangat cantik Tjamboek Berdoeri. Namun kemudian tulisannya juga
menentang rasisme Belanda, autoritarianisme, dan eksploitasi ekonomi. Pada
bulan Januari 1926 ia dipenjara karena melanggar hukum pers kolonial, jauh
sebelum aktivisme Sukarno dan para aktivis lainnya yang terlibat dalam
pemberontakan komunis di tahun 1926 dan awal tahun 1927.
Dalam dua dekade terakhir
dari pemerintahan Belanda, orang Cino secara kultural terbagi ke dalam totok,
yang kebanyakan adalah imigran dari Tionghoa, berbahasa utama pesisir dan tidak
begitu menganut ajaran konfusian; dan peranakan, yakni keturunan dari generasi
imigran yang lebih tua dan istri mereka, pada umumnya berbahasa lokal dan
sangatlah dipengarui oleh norma-normal kebudayaan lokal. Totok, sebagai
minoritas tidak tertarik dalam politik kolonial, dan jikapun tertarik pada
politik lebih terfokus pada negara asal usulnya. Sedangkan masyarakat Peranakan
terbagi ke dalam tiga grup yang saling bersaing: mereka Cino yang mencoba untuk
mensiniskan diri mereka sendiri dan mengidentifikasi dengan Cino, mereka
(biasanya kaya dan berbahasa Belanda) berkolaborasi dengan kolonialis, kedua
mereka juga mencari aliansi dengan para nasionalis Indonesia, dan pada hal
tertentu juga beraliran kiri. Kwee, bergabung pada kelompok ketiga dan ia tidak
pernah gentar bergabung di posisi tersebut.
Pada tahun 1932 ia adalah
pendiri Partai Tionghoa Indonesia (PTI), yang didirikan karena tidak ada partai
masyarakat pribumi yang berkehendak untuk menerima anggota Orang Cino Indonesia
sebagai anggota. Namun Kwee tidak terlalu tertarik pada ideologi, dan juga
tidak tertarik pada kehidupan organisasional dan tidak mempunyai ambisi-ambisi
politik, dengan demikian keaktifannya di PTI cukup singkat. Dalam periode
kolonial ia tidak pernah meninggalkan Hindia–Belanda, bahkan untuk liburan
singkat di Singapura, Hongkong atau Shanghai, tidak seperti banyak kolega
profesionalnya, namun dengan cukup sinis ia menyukai film-film Hollywood, mampu
membaca dengan baik bahasa Belanda dan Jerman dan tahu sedikit bahasa Inggris.
Ia juga menguasai bahasa Melayu pasar dan menulisnya dengan baik dibanding
siapapun. Jadi ia menguasai sekitar empat bahasa, dua di antaranya bahasa
Eropa.
Bagaimana dengan keadaan
pada waktu itu? Salah satu keunikan dari negara Hindia–Belanda dibanding negara
koloni lainnya adalah ukurannya yang luas dan populasinya yang besar (lebih
dari 60 juta), yang terkombinasikan dengan kekayaan sumber alam, dan terletak
di posisi yang strategis dalam peta dunia. Berbeda dengan jumlah penduduknya, Belanda
(dengan jumlah penduduk 6 juta), terlihat seperti kutu yang berada di atas
punggung kerbau. Den Haag misalnya, pada awal abad dua puluh sangat tergantung,
baik secara militer dan ekonomi, pada London di mana koloninya yang begitu
besar tidak dapat lagi dikembangkan secara monopolistik. Dari tahun 1880
masyarakat asing, seperti Inggris, Orang Cino, Amerika, Jerman, Austria, Ceko,
Belgia, India, Yahudi, Yaman dan orang Jepang, mereka tinggal terkotak-kotak di
kota-kota pelabuhan seperti Batavia, kota asal Kwee, Surabaya, dan Medan.
Mereka juga tersebar di perkebunan dan pertambangan yang berada di seluruh
kepulauan Nusantara. Namun, dalam hal ini, Hindia–Belanda berbeda dibanding
negara koloni lainnya, karena adanya para pendatang yang poliglot, poli-etnis,
dan multi-rasial baik secara kuantitatif maupun secara kualitatif.
Keunikannya yang lain juga
adalah, masyarakat mulai seringkali berpindah-pindah. Setelah tahun 1880-an
jaringan kereta api mulai menyilang sengkarut di Jawa, yang diawali dengan
mengangkut produk-produk perkebunan dan pertambangan, namun segera setelah itu,
mengangkut jutaan manusia, dan juga koran-koran dan majalah, furnitur rumah
tangga dan beragam jenis kabel. Jalur kereta api ini juga terhubungkan dengan
sangat efisien dan relatif murah dalam mengangkut barang dalam pulau. Kota yang
lebih besar mempunyai kereta trem dan bus. Hingga pada akhirnya, sekitar tahun
1910, regulasi memisahkan populasi (khususnya orang Cino) dan pembatasan
gerakannya mulai dicanangkan. Blok-blok Chinatowns, Arabtowns dan kawasan orang
Eropa mulai terbentuk, meski keterikatan ke-tetangga-an masih didasarkan pada
kaya dan miskin dibanding ras atau etnisitas. Orang Cino laki-laki dan
perempuan mulai bekerja di firma-firma Eropa yang berdampingan pula dengan
orang ber-ras Eurasia dan penduduk pribumi. Pakaian yang melintas batas kasta
dapat ditemukan tanpa ada kesulitan. Setiap orang dapat menonton film Ramón
Novarro: Ben-Hur (1925), di mana Kwee dengan sarkasnya menyebut film tersebut
dengan “Arjuna modern yang bikin banyak Srikandi berdebar lebih cepat”
(Pembrita Djember, 20 May 1934).[2]
Keunikan ketiga adalah
kecemasan sekaligus ketenangan yang diciptakan oleh polisi negara di akhir
periode kolonial. Terdapat represi tapi pada saat yang sama pembantaian
terhadap masyarakat Eropa dapat dicegah. Banyak orang masuk penjara, termasuk
orang-orang Eropa sendiri, namun jarang terjadi penyiksaan. Ini tentu adalah pengalaman
yang tidak menyenangkan, karena merusak jiwa dan fisik. Terkadang terdapat
kerusuhan, namun adalah tidak biasa jika berakhir dengan eksekusi. Negara tidak
dapat mengambil keputusan yang emosional untuk mendapatkan loyalitas secara
populer, karena 95% dari populasi adalah orang-orang yang bukan warga negara.
Hal ini bertujuan untuk mendapatkan dukungan yang luas dari warga jajahannya
(yang paling ditakuti dari kesemuanya adalah mobilisasi-mobilisasi atas nama
sosialisme, nasionalisme dan Islam). Lebih lagi, kekuatan yang paling nampak
dari negara bukanlah tentara melainkan para personel polisi sipil. Tidak banyak
yang diminta oleh pemerintah terhadap massa, kecuali kepatuhan hukum dan
pembayaran pajak. Inilah kenapa, keguncangan pada tahun 1950-an, setelah
kemerdekaan, terjadi semua orang mulai membincangkan kebiasaan yang terjadi di
periode akhir kolonial sebagai djaman normal.
Keempat dan merupakan
keunikan terakhir, adalah perbedaan kualitatif. Belanda, sekelompok orang yang
berjumlah sedikit, dengan bahasa yang tidak prestisius di mata internasional,
tidak secara sepenuh hati mencoba untuk benar-benar menempatkan bahasa mereka
sebagai “bahasa kolonial“, tidak seperti rival mereka, Inggris, Perancis,
Portugis, Jepang dan Amerika Serikat. Hal ini karena masyarakat jajahan, hanya
dibentuk pada awal abad sembilan belas, yang merupakan warisan dua abad dari
pemerintahan lokal yang dipimpin oleh korporasi multi-nasional besar pada waktu
itu yakni VOC (Vereenigde Oost–Indische Compagnie/United East Indies Company).
Nenek moyang mereka ini menggunakan administrasi tingkat murahan dengan
menggunakan bahasa maritim Melayu yang telah menjadi lingua franca. Karena
birokrasi, penguasa mencoba, meski dengan tingkat kesuksesan yang kecil, untuk
merasionalisasi dan menstandardisasi bahasa ini hanya di tingkatan yang rendah
dan digunakan dengan cara seperti bergosip. Bahasa Melayu pada awalnya tidak
dimiliki oleh para nasionalis, tapi menyebar dengan sendirinya, yang pada
akhirnya tidak dapat dibantah mampu menjadi bahasa nasional kemerdekaan
Indonesia. Di masa muda Kwee, lingua franca koran dan majalah berbahasa Melayu
bergerak cepat melampaui bahasa Belanda, Jawa, Tionghoa dan Arab[3]. Hampir
setiap orang yang melek huruf (tulisan Romawi) dapat membaca bahasa Melayu dan
bahasa ini tidak secara spesifik dimiliki oleh komunitas etnik, rasial dan
keagamaan tertentu. Dengan demikian mempunyai implikasi egaliter dan
proto–kosmopolitan.
Lebih lagi, dunia
jurnalisme mempunyai posisi unik. Sebagai misal dapat ambil contoh koran yang
paling terkenal pro Cino pada waktu itu, Sin Po, dipublikasikan di Batavia
(Jakarta). Editor in–chief yang kedua adalah J.R. Razoux Kuhr, seorang Belanda
asli dan mantan pejabat distrik. Pemikiran orang Cino pemilik koran itu,
melihat bahwa editor Belanda tentu akan meningkatkan minat baca dan
perlindungan koran dari represi. Sayangnya, setelah empat tahun kinerja yang
mengesankan dari orang yang kapabel ini digiring ke penjara akibat terlibat
konflik kekerasan dengan seorang perempuan pribumi. Salah satu dari reporter
yang aktif dan loyal, bukan semata pribumi, namun ia adalah seorang komposer
yang berbakat. Sebuah lagunya kemudian menjadi anthem gerakan Indonesia, dia
adalah Wage Rudolf (W. R.) Supratman. Sin Po adalah koran pertama yang dicetak
dengan kata-kata yang menjadi favorit dan ada W. R. Supratman yang suka bekerja
di dalamnya (Kwee Kek Beng, 1948: 21, 36). Di antara teman baik Kwee dan
koleganya yang awet adalah Abdurrahman (A. R.) Baswedan, keturunan migran
keluarga Muslim dari Yaman yang kemudian mendirikan Partai Arab Indonesia (PAI)
dengan penuh antusias, merupakan tiruan dari PTI, dan J. Sjaranamual, seorang
Protestan Maluku yang ciamik nan edan. (Tiga orang ini seringkali satu tim
dalam bermain bola. Pada waktu itu sepak bola masih merupakan aktivitas yang
tidak diakui penguasa. Malahan, di antara para jurnalis dari semua ras, ada
kesenangan aktivitas, dan juga persahabatan maupun rasa permusuhan.)
KAWAN DAN LAWAN DALAM
DUNIA KOLONIAL KOSMOPOLITAN
Setelah melihat latar belakangnya, jika dapat dikatakan demikian, saya ingin
menunjukkan, dari tulisan Kwee, beberapa manifestasi colonial
cosmopolitanism-nya. Pada beberapa kejadian, doski datang ke Surabaya untuk
sebuah kunjungan, Kwee Thiam Tjing memutuskan untuk mengunjungi Liem Koen Hian,
seorang teman lama dan rekan jurnalis. Seperti Kwee sendiri, ia dikenal sebagai
seorang yang pedes melemparkan humor dan sangat cuek terhadap siapapun (Kwee
Thiam Tjing, 1972f). Liem menyewa lima ruangan yang bagi Kwee sangatlah aneh. Dikelilingi
oleh dinding tinggi dan hanya satu jalan masuk yang disebut oleh pemiliknya
sebagai Vardonpark, karena pemiliknya adalah seorang Yahudi yang bernama
Vardon. Di jalan, laki-laki paruh baya berwajah sangar itu mendekatinya dengan
rasa ingin tahu yang tinggi dan bertanya mencari siapa. Mendengar nama Lien,
laki-laki tersebut menarik lengan Kwee dan mendorongnya ke salah satu ujung
rumah. Vardon berulang kali menyebut Liem sebagai “editor kurang ajar”. Kwee
pada awalnya melihat tindakan ini sangat normal sebagai perlakuan kekerasan di
jalanan. Namun ketika memasuki rumah Liem, ia terkesima menemukan
dinding-dinding yang dipenuhi dengan cipratan tai. Ia kembali ke Vardon dan
bertanya apa yang telah terjadi pada Liem “Aku tahu Koen Hian sangat akrab, dan
ia nggak akan melakukan seperti ini jika anda yang memulainya. Sesungguhnya,
anda beruntung bahwa ia telah pindah, jika tidak, kepalamu pun juga akan
diciprati dengan tai”.
Dengan menahan tawa kurang
ajar-nya, Kwee pergi sambil terheran-heran; ‘Dari mana Koen Hian bisa kumpulkan
begitu banjak kotoran manusia?‘ ketika dua teman ini bertemu, Koen Hian
menjelaskan bahwa Vardon adalah orang yang kurang ajar. Jika ada orang yang
menyewa rumah pada pagi hari, ia akan datang di sore hari, dengan rasa ingin
tahu yang besar dan mengeluh soal ini dan itu dan sama sekali tidak menaroh
perhatian pada tamu-tamu yang sedang dilayani oleh Koen Hian. ‘Saya sudah kasih
tahu ia berulang kali, bahwa ia tidak boleh bersikap seperti itu. Jika kamu
hendak menyewakan tempat pada seseorang, anda harus menghormati privasi orang
tersebut. Itulah adat di sini, tapi ia tidak menaruh perhatian sama sekali.‘
Di sini Kwee menjelaskan
kepada para pembacanya bahwa Vardon adalah seorang Yahudi, untuk menjelaskan
tempat tinggal aneh yang dimilikinya bukanlah milik orang Arab, Cina atau
Belanda. Orang Yahudi menjadi spekulator dan pengembang utama di era kolonial.
Dia membuktikan bahwa bukanlah mengejutkan menemui orang Yahudi semasa
pemerintahan Belanda di Surabaya, tapi jangan menyebut mereka sebagai “Yahudi“
karena akan menyinggung. Ia berbincang dengan Vardon di samping jalan dan dalam
rumah dengan menggunakan bahasa lingua franca, yakni bahasa pasar Melayu. Dua
orang ini tidaklah sedang berkenalan, namun mereka mencoba untuk saling sejajar
dalam perbincangan. Vardon meminta Kwee sebagai orang Cina untuk bersimpati,
dan ia menggambarkan Liem sebagai editor cap taek, tapi bukan orang Cino taek.
Dalam memoar Kwee, ada banyak cerita lain dimana teman-teman peranakan-nya
seringkali menimbulkan perasaan menjengkelkan dan memalukan secara sengaja,
meski yang seringkali jadi korbannya juga orang Cino juga. Sebagai bagian dari
klas orang biasa, karena Kwee adalah orang yang selalu miskin, dan Koen Hian
sebagai orang yang boros, ia selalu meminjamkan uangnya kepada para pengutang. Namun
keberatan Koen Hian kepada Vardon adalah bukan karena ia adalah tuan tanah,
melainkan karena ia tidak punya tenggang rasa, tidak menunjukkan rasa hormat
kepada para penyewa rumah sebagai manusia.
Kecenderungan yang
egaliter ini muncul dalam beberapa catatan pula. Dalam sejumlah kolom
tulisannya di koran, Kwee menceritakan kunjungannya ke teman lama sekelasnya
keturunan Eropa, yang selalu tinggal di kawasan pinggiran yang kumuh. Ia adalah
Micawber, seorang suami dan ayah sekaligus yang sangat menyenangkan. Ia
bertutur kata slang yang aneh bagi komunitas-nya, campuran antara bahasa
Belanda yang secara tidak sadar dirajut dengan kata-kata Melayu dan idiom Jawa.
Kwee lancar berbahasa Belanda, Melayu dan Jawa, dan ia sangat paham bahwa
menggunakan salah satu dari bahasa ini secara eksklusif kepada rekan lamanya
yang akan “menempatkan” ia sendiri dalam hirarki kolonial tertentu, maka dari
itu, ia dengan sangat genit merespon bahasa Slang campuran dari rekan lamanya
dan keduanya tertawa bahagia. Hal yang paling mengejutkan dari kolom-kolomnya,
adalah dialog dengan orang Eropa, narasi dan komentarnya dalam bahasa Melayu,
Kwee berasumsi bahwa sebagai peranakan, orang pribumi Indonesia dan pembaca
Eropa mengerti bahasa-bahasa Slang-nya dan membacanya dengan bukan saja sangat
menyenangkan tetapi juga simpatik.
Dalam memoar-nya, pembaca
dapat belajar alasan-alasan kenapa dua laki-laki di atas terikat. Keduanya
pernah belajar di sebuah sekolah swasta berbahasa Belanda yang didominasi oleh
anak-anak Belanda totok dan mereka menjadi objek yang biasanya seringkali
diganggu dan mendapatkan perlakuan bullying, dan tentunya dalam bentuk rasisme
kolonial di masa kecil. Terdapat pula perkelahian fisik di halaman sekolah.
Kwee terkesan dengan fakta bahwa ada beberapa peraturan terkait dengan
perkelahian yang kasar ini. Jika seorang anak yang kalah, maka ia mengatakan
‘excuus’ kepada pemenangnya agar ia berhenti memukul dan menolong yang kalah
untuk berdiri dan memperbaiki letak bajunya. Kwee, tertawa, ketika mencatat
bahwa anak-anak Belanda terjebak pada aturan-aturan mereka sendiri secara
ketat, sedangkan orang Cino dan Indo seringkali pura-pura nggak denger kata
excuus ketika menang, supaya mendapatkan sedikit tambahan pukulan. Namun mereka
masih menolong korban-korban mereka untuk bangun dan memperbaiki bajunya
setelah kalah (Kwee Thiam Tjing, 1971b). Sebuah lingkungan yang aneh, dimana
seorang Cino dan juga anak Indo boleh pukul anak Belanda totok berkulit putih
tanpa hukuman legal dari pemerintah kolonial.
Sebagaimana yang
disebutkan di awal, pada tahun 1926 Kwee dipenjara karena menyinggung hukum
pers kolonial, termasuk dianggap menyebarkan kebencian antar ras dan
pemberontakan. Ia mempunyai kepercayaan yang tinggi untuk menulis artikel
tentang buruknya pemerintah yang gagal menekan pemberontakan lokal di provinsi
yang sangat kuat Muslim-nya, Aceh. Ia menyimpulkan dengan sebuah puisi
sederhana, dengan mengatakan bahwa jika aku juga orang Aceh aku juga akan
mencabut rentjong, pedang tradisional orang Aceh, karena ‘dijajah itu tidak
enak‘ (KweeThiam Tjing, 1972c). Kwee tidak pernah ke Aceh, namun ia
membayangkan dirinya sendiri sebagai orang Aceh karena orang-orang ini adalah
subjek yang sama dalam peta kolonial.
Ia adalah patriot
kosmopolitan dan nasionalis. Di pengadilan ketika ia mendengarkan laporan dari
seorang haik Belanda, ia dengan jijiknya mengatakan: “Apa, itu tuduhan kamu
lagi!!!” Sebuah respon spontan, dan egaliter. Orang-orang Belanda mengingat
perilaku Kwee pada percobaan tuduhan sebelumnya dimana ia sangat sopan namun
tetap angkuh menyebut hakim dengan Meneer de Voorzitter (Hakim Ketua) Wieneke,
sedangkan berdasarkan protokol kolonial, non Belanda menuduh bahwa Kwee
menggunakan sebutan penghorman hibrid yang aneh, yakni Kandjeng Toewan,
pengkombinasian antara gelar feodal Jawa dengan kata Melayu “tuan” (Kwee Thiam
Tjing, 1971a). Di penjara, Kwee secara sengaja menggunakan kata sopan, namun
informal dan mensejajarkan dengan Bahasa Belanda ketika berbicara dengan
penjaga pintu dan sekuriti Belanda. Ia kemudian bertemu dengan seorang Indo
pencuri amatiran, karena anak itu mempunyai status hukum yang aneh di mata
orang Eropa (Ayahnya yang Belanda memutuskan mengakui ia secara legal, karena
jika tidak ia akan dianggap sebagai “pribumi”). Dia diberi kelambu, matras yang
nyaman dan anget, sebuah toilet yang gak begitu buruk dan juga makanan Eropa
yang melimpah. Kwee marah besar dengan prinsip diskriminasi ini dan ia siap
menuntut anak ini, namun hatinya meleleh ketika mendengar bahwa anak itu ngaku
gak tahan sama makanan Eropa dan jika gak keberatan Kwee mengantarkan ia sebuah
nasi goreng yang sederhana dan ikan asin (Kwee Thiam Tjing, 1972a). Si Indo
pencopet ini kemudian menjadi sopan setelah itu. Ini adalah persoalan
interaksi, dua orang saling menghargai antara orang Cino dan Indo, tapi tidak
masalah dan mereka gak mempersoalkan itu.
Temen-temen Cino-nya
seringkali bikin ia tersinggung bahkan marah gede, khususnya jika mareka adalah
laki-laki dewasa. Pada satu kesempatan, Tan Tek Ho (a.k.a. Kwo Lay Yen atau Si
Mahir), editor koran berbahasa Melayu edisi Jawa Timur, Sin Po, yang mengakui
dirinya pengikut Sun Yat-sen, mengejek artikel Kwee yang mempertahankan dan
simpati kepada “pribumi Indonesia”. “Kamu orang Cina yang pengen jadi seorang
hwanna, dan menulis. Kamu udah pernah disunat belum?“ Hwanna adalah sebutan
rasis, kata-kata Hokkien yang merendahkan seorang pribumi yang artinya orang
yang gak berperadaban. Sedangkan kebanyakan orang laki-laki Indonesia, yang
Muslim, wajib disunat, sedangkan sunat yang higienis bukanlah mode yang ngetren
di kalangan Cina Borjuis di negara koloni. Dengan datarnya, Kwee membalas:
‘Kapan aku disunat ato nggak, aku sesungguhnya sudah lupa. Jika kowe pengen
tahu pastinya, kenapa gak tanya istrimu?‘ Hasilnya, Tek Ho mendatangi rumah
Kwee, menggedor pintunya dan meminta maaf atas sindiran keterlaluan tentang
istrinya yang selingkuh. Dua laki-laki ini akhirnya sepakat untuk
menyelesaikannya di pengadilan, berargumen mengalahkan satu sama lain meski
akhirnya jadi temen yang deket (Kwee Thiam Tjing, 1972b).
Kwee sangat terkenal
karena keahliannya yang sempurna, bikin lucu, satir terhadap orang Cino,
khususnya yang peranakan. Tapi juga menyangkut perbedaan gender. Khususnya pada
perempuan yang tipikal usia paroh baya, suka gosip, berlagak bos, tengah naik
daun, gila fashion, kecewa ama suaminya, mak comblang yang konservatif, namun
seringkali punya perasaan afeksi. Dan kesatiran ini seringkali muncul dalam
gaya tulisan yang khususnya meniru separoh gaya Hokkien, orang Jawa, sebagian
Melayu dan sebagian bahasa Belanda yang ia gunakan. Cowok paruh baya dan yang
lebih tua biasanya diperlakukan lebih liar dan tanpa humor dalam tulisannya.
Dalam banyak hal, Kwee adalah seorang moderat konservatif sepanjang peranan
gender diperhatikan tapi ia tidak punya waktu banyak buat mengulas patriarki
Konfusian yang seringkali tercermin dalam bentukan masyarakat kolonial. Namun
sekali lagi, cukup jelas bahwa penggunaan gaya bahasa Hokkien cukup sesuai, bahkan
lebih dari cukup untuk bikin ketawa pembaca Hokkien Indonesia dan membikin
pembaca non Hokkien sedikit mengerti tentang satir dan beberapa frasa berguna
yang dipilihnya, bootjingli (taik kebo omong kosong).
Kwee secara sempurna
sangat sadar bahwa ketegangan antara orang Cino dan penduduk pribumi lokal,
yang satunya biasanya kaya dan jadi orang kota, dan yang satunya lagi adalah
orang yang benar-benar miskin tinggal di desa. Ini adalah satu alasan kenapa ia
dengan sangat antusias adalah pendukung dan promotor pertandingan olahraga.
Dalam memoirnya, ia bercerita mengajak para pemain bola (yang secara personal
telah ia latih) untuk bermain melawan sebelas pemain pribumi di sebuah kawasan
yang agak misterius di masyarakat Osing di Jawa bagian timur. Ia akur dengan
pemilik tim, sebuah bos di kota kecil yang agak susah orangnya, dan ia membujuk
untuk berjanji sebelum pertandingan bahwa ia akan mengekang berbagai macam
ekses dari tim lokal yang seringkali membawa parang dan bikin rusuh. Pertandingan
berjalan baik-baik saja dan hingga pada akhirnya seorang Cina paroh baya, yang
Kwee sendiri gak tahu, mulai berteriak dengan bahasa lingua franca yang dapat
dimengerti semua orang di tepi lapangan; ‘Patahin aja lengannya keparat!’
Sebuah kerusuhan tiba-tiba pecah, dan Kwee hanya bisa mengatur anak buahnya
untuk lari ke mobil di tengah-tengah terjangan batu dan tongkat. Ketika ia
kembali pulang ia menemukan bahwa orang Cino paroh baya yang provokator itu
adalah seorang dokter gigi Hindia−Belanda yang baru saja pindah dari Taiwan
(Taiwan, setelah tahun 1895, menjadi bagian dari imperium Jepang) dan kemudian
ia jadi mendapatkan ‘hak istimewa sebagai orang Eropa‘ dari pemerintah Jepang
di koloni Belanda[4]. Kwee kemudian ngelabrak orang itu, memaki-makinya,
kemungkinan dalam bahasa Hokkien, atas kearoganan dan insentifitasnya. Ketika
dokter itu membalas, dengan mengatakan bahwa Kwee, adalah seorang pengkhianat
dari ras Cina, Kwee membekuk dokter itu hingga jatuh ke lantai (Kwee Thiam
Tjing, 1972d, 1972e). Bayangin: Seorang dokter Cina jaman kolonial yang secara
oportunis pergi ke Taiwan, koloni Jepang, dan berencana untuk kembali pulang
sebagai seorang idiot kaki tangan Jepang berstatus Eropa, dan dengan goblok-nya
memprovokasi sebuah ‘kerusuhan antar ras‘.
Setelah jatuhnya Belanda
ke tangan tentara Hitler, dan diiringi dengan puncak kejayaan hantu invasi
Jepang, rejim kolonial menawarkan kepada setiap orang di kawasan jajahan untuk
bergabung dengan the Stadswacht, sebuah organisasi multi-rasial untuk
pertahanan sipil. Kwee, merasa terhormat untuk mempertahankan tanah airnya. Di
antara yang lainnya, dialah yang bergabung dan sangat senang sekali mendapatkan
dirinya (sebagai seorang sersan) memerintah orang Belanda, orang Cino dan
masyarakat pribumi rendahan. Ia mencatat, memimpin unit-nya pada suatu patroli
malam hari di sebuah kawasan kumuh yang tak punya saluran got, dan menginjak
sesuatu yang kental dan ternyata tai manusia yang tak kelihatan. Dan ia juga
mendapati bahwa ternyata dua anak buahnya bekerja di sebuah firma yang sama,
seseorang adalah manajer Belanda dan satunya adalah juru tulis pribumi.
Mengetahui bahwa senapan-nya dipenuhi dengan tai, si manajer memerintah juru
tulis itu untuk membersihkannya, sehingga bikin klerk itu ketakutan dan
melakukannya. Dengan sangat marahnya, Sersan Kwee memaki manajer tersebut dan
menyuruh ia sendiri buat membersihkan pantat senjata-nya yang kotor tersebut
dan ia menggertak si juru tulis: ‘Apakah gak ada akhir untuk kelemahgemulaian
dan tabiat budakmu. Kamu sekarang bukan lagi di kantor, tapi mempertahankan
negeri ini dari invasi, dan kamu berada di bawah perintahku’ (Tjamboek
Berdoeri, 1947: 39–40).
Pada akhirnya, ada lagi
anekdot di awal tahun 1942, ketika tentara-tentara Inggris dan angkatan
lautnya, dikalahkan oleh tentara Jepang di Malaysia dan Singapura, yang
kemudian mereka lari ke selatan, Hindia−Belanda. Kwee menunjukkan rasa yang
agak simpati, khususnya ketika menemukan beberapa dari tentara tersebut
berhasrat untuk menggunakan bahasa Melayu sebagai lingua franca. Orang-orang
yang iseng lazimnya mengajarkan orang inosen yang baru belajar bahasa dengan
mengenalkan kata ‘Apa kabar, setrogantol?’, yang artinya: ‘Apa kabar lubang
pantat?’ (Kwee Thiam Tjing, 1972g). Bagian yang lucu dari cerita Kwee adalah
kenyataan bahwa orang-orang cowok di Indonesia sendiri masih sering mengatakan
itu sebagai bagian dari saling mengejek. Dalam tafsiran saya, para tentara ini
juga saling mengucap salam dengan kata tersebut dengan gaya yang sama persis.
Bagaimanapun juga, jika para tentara Inggris ini tinggal agak lebih lama,
mungkin mereka akan tahu maknanya. Pada awalnya mereka memang akan menikmati
kata makian itu…..(Bersambung)
*Profesor emeritus dalam
bidang Studi Internasional di Universitas Cornell.
CATATAN:
[1] Beberapa kolom
pertamanya, bertujuan untuk mengejek masyarakat paroh baya perempuan keturunan
klas menengah Cino yang dianggap seperti drakula karena sering mengunyah
pinang
____dan membuat gigi mereka tampak kemerahan serta sering meludah.
[2] Koran kecil ini didirikan dan ditulis oleh Kwee sendiri dan dipublikasikan
di sebuah kota kecil penghasil tembakau, Jember–Jawa Timur. Koran ini tutup
usia sekitar setelah satu tahun.
[3] Statistik berikut menunjukkan kemajuan yang baik. Pada tahun 1890-an hanya
ada lima koran yang dipublikasikan di Jawa Timur, semuanya terletak di
Surabaya: Tiga berbahasa Belanda, dua
____berbahasa Melayu. Antara tahun 1900 dan 1909 segala sesuatunya terlihat
sama kecuali bahwa ada empat koran berbahasa Belanda. Namun antara tahun
1910–1919, 23 koran diterbitkan,
____termasuk dua di Malang, kota terbesar kedua di provinsi Jawa Timur, dan
detailnya adalah: 15 berbahasa Melayu, 7 berbahasa Belanda dan 1 berbahasa
Arab. Lebih dari tahun 1920-an, 65
____koran muncul, 51 di antaranya berada di Surabaya dan Malang, dan sisanya di
kota-kota yang lebih kecil: 38 berbahasa Melayu, 16 berbahasa Belanda, 7
berbahasa Arab, dan 4 berbahasa
____Jawa. Di dekade akhir sebelum runtuhnya periode kolonial, muncul 77 koran,
57 di Surabaya dan Malang, dan sisanya di 6 kota yang lebih kecil.
Distribusinya antara lain sebagai berikut: 50
____adalah koran berbahasa Melayu, 13 berbahasa Jawa, 12 berbahasa Belanda dan
2 berbahasa Arab. Data diambil
[4] Setelah kemenangan Jepang dalam perang Sino–Japanese dan Russo–Japanese,
Belanda secara merasa terancam memberikan orang Jepang dan segala bentuk
____status hukumnya lebih tinggi dari orang Eropa. Pada saat yang sama, ada
banyak pembicaraan publik berkenaan dengan 300 tahun persahabatan Jepang
dan
____Belanda berdasarkan sebuah pulau kecil bernama Deshima, di lautan lepas
Nagasaki, yang didirikan pada abad tujuh belas. Persahabatan ini terkesan
oportunis
____di mata Kwee dan banyak dijadikan subjek sinis dalam esai-esainya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar