Label

Kosmoplitanisme Kolonial (2)


oleh Ben Anderson*

PATRIOTISME KOSMOPOLITAN KOLONIAL YANG UNIK DAN TERLUPAKAN
PADA bagian ini saya hendak menjelaskan apa yang dimaksud dengan kosmopolitanisme kolonial, meski agak sedikit telat. Kwee Thiam Tjing adalah orang yang super cerdas, meski doski gak pernah sekolah di universitas, karena pada waktu itu belum ada universitas ketika doski berusia 18 tahun. Ia dapat membaca setidaknya lima bahasa, bahkan meski belum pernah ninggalin negaranya, dari Hindia–Belanda, bahkan belum pernah ke luar Jawa kecuali perjalanan ke Sumatera sebanyak dua kali, itu-pun waktu sebagai salesmen di sebuah pabrik kina. Semangat patriotisme menempel di diri-nya, namun ia benar-benar enjoy dengan karir-nya dan mengolok-olok beragam masyarakat baik yang pribumi maupun keturunan. Kita sering percaya bahwa orang kosmopolitan yang sesungguhnya haruslah seorang musafir polyglot yang punya minat dan apresiasi dengan negara-negara dimana ia berpijak. Tipe kosmopolitan macam ini cenderung berpikir tentang diri-nya sendiri seperti dalam istilah masa pencerahan sebagai seorang warga negara dunia. Jenis kosmopolitan Kwee merepresentasikan sebaliknya. Doski gak pernah keluar ke dunia yang besar, namun justru dunia yang besar-lah yang datang ke diri-nya, dan tidak dalam bentuk-nya yang kosmopolit. Hal tersebut datang seiring dengan pembelajarannya terhadap bahasa lingua franca dan waktu dimana doski menyerap berbagai macam kecantikan bahasa tersebut dan beragam pelajaran yang tersembunyi di dalam-nya. Kosmopolitan macam begini sulit ditemukan di Eropa, Amerika, di Cina atau Jepang. Dengan alasan sederhana, di tempat-tempat macam begini, penguasa-nya adalah bertipikal negara bangsa yang dipertahankan dan diperkuat dengan satu bahasa nasional tunggal. Kemungkinan hanya mungkin di periode akhir kolonial dimana kolonialisme itu sendiri mengesampingkan negara bangsa dan bahasa nasional.

Dengan latar belakang kehidupan Kwee setelah tahun 1942, ia mulai memperluas pandangan humanitas-nya. Militer Jepang berkuasa di Indonesia selama tiga setengah tahun namun doski selalu punya momentum-momentum yang penting. Sedikit demi sedikit kasta orang Eropa mulai diasingkan, biasanya dilakukan oleh para pribumi, yang pernah berada di bawah pengawasan senjata, mengalami mal–nutrisi, siksaan fisik, hingga penghinaan secara psikis. Selain itu, ekonomi perkebunan juga kolaps, dan mengalami inflasi tak terkontrol, sekolah-sekolah ditutup, ratusan hingga ribuan penduduk pribumi menjadi ajang kerja paksa dan kekerasan militer (termasuk penyiksaan dan eksekusi publik) adalah hal biasa. Di sisi lain, karena mereka semakin sadar bahwa perang besar tengah terjadi melawan mereka, orang-orang Jepang bikin upaya yang masif buat memobilisasi populasi untuk turut ikut menentang invasi sekutu. Sedikit sekali koran yang ada, selama di bawah kekuasaan Jepang, dan selalu tentang propaganda tiada henti tentang Tokyo. Orang Jepang gak punya pilihan kecuali menggunakan bahasa lingua franca untuk memerintah, namun mereka menjadikannya semacam bahasa proto–nasional untuk sebuah bangsa yang masa depan kemerdekaan-nya dijanjikan dalam Asia Timur Besar yang penuh dengan kemakmuran. Selama masa pendudukan, Kwee mendapati dirinya terpilih sebagai ketua badan administrasi rumah tangga yang disebut tonarigumi, di rumah-nya di Malang. Ia bahkan mengatur untuk mendapatkan simpati orang Jepang dengan beberapa pengetahuan lingua franca-nya, seperti kata ‘Hirao’ seorang petugas angkatan laut yang secara reguler mengunjungi Kwee di rumah dan ia mengatakan: ‘Ibumu terlihat seperti ibuku’ (Kwee Thiam Tjing, 1972h).

Sekarang marilah kita secara singkat bicarain satu episode singkat dari periode Jepang. Periode ini disebut sebagai institusi orang Jepang dengan sistem-nya yang luas dan tanpa sembunyi-sembunyi melakukan kerja paksa yang disebut romusha. Ratusan hingga ribuan anak muda pribumi direkrut untuk perang yang juga berkaitan dengan proyek-proyek pembangunan yang disebut dengan “rel kematian” dibangun antara Thailand ke Burma. Orang-orang yang malang dalam jumlah besar ini mati, karena mal-nutrisi dan terkena wabah. Hingga pada akhirnya orang-orang Cino sangat target. Kakyo Shokai, seorang Jepang yang mensponsori Asosiasi Orang Cina di Perantauan yang didominasi oleh orang kaya dan terdidik, diperintah untuk melakukan rekruitmen. Kwee mendapatkan bahwa Kakyo Shokai memimpin bukan untuk membebaskan anak-nya (dengan alasan medis yang palsu) namun sebenarnya ditutupi dengan cara mempublikasikan kampanye sebagai penipuan-nya. Jika kamu tak mau atau tak mampu membayar ongkos 10 rupiah anak lelaki-nya akan diikutsertakan dalam kerja paksa. Kwee marah banget. Berikut ini ultimatum kemarahannya; ‘Hingga sekarang, saja masih simpen baek-baek Kakyo Shokai poenja ultimatum: model romusha hanya sekelas 10 rupiah’ (Tjamboek Berdoeri, 1947: 267). Ultimatum-nya tersebut luar biasa: “Keluar dari Belanda malah jadi kerja paksa, dan ngasih 10 rupiah buat orang Hokkien”.

Kalimat ini secara sengit bisa dibayangkan sangat vulgar, dan secara sengaja mengolok elit-elit peranakan yang mempunyai muasal yang sama, namun pada saat yang sama menempatkan diri-nya pada bingkai lingua franca yang sebenarnya mereka tolak. Bahkan di sini kita bisa deteksi keunikan kosmopolitan Kwee, yang berbasis pada Ke-Indonesia-an dan Ke-Melayuan-nya yang sangat dapat dimengerti di Hindia–Belanda, serta campuran Bahasa Belanda. Romusha orang Jepang juga mulai masuk dalam kata lingua franca. Bahasa Hokkien untuk istilah 10 rupiah tjaptoen juga sudah mulai terlokalisasikan: di mana imigran Hokkiens di seluruh dunia menuliskan kata ch dengan tj, dan u dengan oe?. Gabungan frase tiga bahasa ini yang kemudian tercampur dalam masa depan bahasa Indonesia.

Dengan menyerahnya penjajah Jepang, atau dengan apa yang disebut orang Indonesia sebagai “pecahnya Revolusi” baik secara sosial internal dan eksternal yang anti kolonial. Kekerasan secara luas merebak, heroisme, kriminalitas, bunuh diri dan korupsi hingga Belanda akhir-nya, empat tahun kemudian, mau nerimo kemerdekaan Indonesia. Kwee masih berkomitmen terhadap nasionalisme meskipun sejumlah saudara dekat-nya secara mengerikan dibunuh oleh sekelompok bandit revolusioner yang dipimpin oleh seorang sipir pengawas. Pada akhir tahun 1947 publikasi-publikasinya masih dalam nama pena-nya Tjamboek Berdoeri, dan karya masterpiece yang panjang berjudul Indonesia dalem Api dan Bara, sebuah cerita tentang pengalaman-pengalaman akhir periode kolonial mulai tentang pendudukan hingga tahun-tahun pertama revolusi. Meskipun demikian, menurut saya ini adalah karya terbesar esais yang ditulis oleh orang Indonesia pertama di pertengahan abad kedua puluh, dan hampir terlupakan, atau bisa dikatakan “menghilang”. Pada tahun 1960-an, ia dan istri-nya bergabung dengan anak perempuan-nya dan keluarga-nya di Kuala Lumpur, Malaysia. Dan, pada usia-nya yang ke enam puluh, ia meninggalkan negara yang begitu dicintainya untuk pertama kali-nya. Sekembalinya ke Jakarta pada tahun 1971 (tidak lama setelah peristiwa kerusuhan berdarah antar etnis di ibukota Malaysia tahun 1969) ia mulai, melalui bantuan Mochtar Lubis, seorang jurnalis kawakan, ia mulai men-serialisasikan cerita hidup-nya hingga tahun 1950. Hal yang aneh adalah, sejauh yang saya tahu, ia sama sekali tidak mempublikasikan karya-nya sepanjang tahun 1947 dan 1971. James T. Siegel memperkirakan bahwa hampir tidak ada ruang buat kolonial kosmpolitanisme Kwee yang membebaskan, dan perasaan saya kesimpulan tersebut bener. Untuk menjelaskan kondisi ini harus kita mulai dengan kondisi lingua franca itu sendiri.

Setelah meletusnya revolusi di akhir taon 1945, dan formasi pemerintahan nasional, apa yang telah jadi lingua franca diangkat menjadi satu-satunya bahasa ‘nasional’ dan revolusioner. Pada saat yang sama, upaya yang serius dan berkelanjutan dibuat untuk membuat bahasa tersebut menjadi berharga sebagai status baru dan upaya-upaya menjadi populer di perasaan kalangan nasional yang memobilisasi di belakang-nya. ‘Bahasa Campuran’ jadi tidak ditolerir. Belanda jadi bahasa yang dimusuhi secara horisontal, tapi tidak sebagai bahasa vertikal penguasa; sedangkan bahasa Hokkien diambil sebagai sebuah tanda loyalitas yang mendua terhadap suatu bangsa; Bahasa Daerah, jika tidak secara parsial disembunyikan, dianggap indikator berbahaya buat munculnya rasa ke-daerah-an. Menjelang tahun 1949, semua koran ‘di-Indonesia-kan’ untuk menentang semua gejala hibriditas anti–nasional. Demikian juga dengan demokrasi parlementer, dan sejenis-nya yang bertahan hingga tahun 1958, disiplin linguistik dijalankan lebih dari kepada solidaritas dibanding disiplin. Di bawah kepemimpinan otoriter Sukarno dengan demokrasi terpimpin-nya, yang berakhir sampai tahun 1965, kebiasaan dan beberapa represi menjadi faktor-faktor penting. Namun, hibriditas dan tawa yang menyertainya masih tidak dapat dihilangkan. Ini diasumsikan sebagai sebuah bentuk baru yang menarik. Dialog kasar dari para penduduk senior di Ibukota, yang pada awal-nya terlihat marjinal di era kolonial, sedikit melangkah maju mengisi kekosongan, dengan perbedaan yang signifikan. Bahasa Betawi yang asli kemudian dinamakan sebagai bahasa Djakarta, yang populer (secara oral) di kalangan anak muda, pekerja, pedagang kecil, dan para kriminal; namun dalam bahasa cetak sangatlah tersubordinasi dan terdiskriminasi. Bahasa ini dapat ditemukan di kartun dan komik strip, dan dalam legenda-leganda versi pop berseri, dan dalam halaman depan sudut kolom surat kabar —gaya penulisan beginian diimpor dari Belanda— dengan kalimat-kalimat komentar tentang politik nasional yang ditulis dengan nama-nama pena. Dalam ruang yang terbatas ini, seseorang masih dapat menemukan jejak-jejak hibriditas lama, dengan campuran Bahasa Belanda, Jawa, Arab dan terkadang Hokkien. Namun dua bahasa ditempatkan secara hierarkis, dan sebisa mungkin, tidak diijinkan untuk tercampur satu sama lain. Masterpiece karya Kwee dipublikasikan tepat pada waktu-nya, di saat masuknya Indonesia ke PBB. Karena tidak mudah mempublikasikan-nya setelah itu.

Yang hampir penting juga adalah determinasi negara bangsa, yang pada akhir-nya, semua anggota PBB harus mempunyai ‘sejarah nasional’ yang disebar-luaskan melalui sistem sekolah dan juga media massa. Para kolonialis hampir tidak pernah mengatur untuk menulis atau menyebarkan sejarah koloni yang masuk akal. Beberapa esai sejarah ekspansi Belanda dan penaklukan di abad ke tujuh belas; dan lainnya secara impresif dimunculkan melalui monumen dan literatur yang diproduksi sebelum kedatangan Belanda, dapat ditemukan tanpa ada saling koherensi-nya mulai dari Jaman Borobudur sampai periode Indies. Hingga tahun 1950, orang-orang Indonesia terlalu sibuk, dan terlalu membagi antara aktivitas melawan rejim kolonial, dan mengembangkan konsep bangsa yang kembali ke ribuan tahun sebelum-nya. Setelah ‘sukses’ pada 1949–50, tepat-nya proyek ini menjadi mungkin, namun hanya melalui ratusan penghapusan dan membingkai kolonial versus anti–kolonial. Belanda dan Jepang ditampilkan peranannya sebagai orang jahat namun peranakan Cino, seperti juga Indo rata-rata hilang. Klimaks dari tematik sejarah nasional ini secara natural, dan dengan alasan-alasan heroisme yang luar biasa, adalah revolusi dari tahun 1945–49. Lucu, ironis, melankolis, adalah kompilasi yang terlihat seperti kredit yang kurang dari cukup. Karya masterpiece Kwee, dengan gambarannya yang jelas tentang ke-pengecut-an Belanda yang kadang-kadang saja berani-nya, kehormatan, kebodohan dan aturan-aturan excuus (lihat bagian dua); idealisme orang Indonesia, energi dan kriminalitasnya, kerakusan peranakan Cino, oportunis dan ketabahan, tak tertahankan bagi siapa-pun.

Di sesi akhir Kwee bergerak pada seri otobiografi-nya dimana ia menggambarkan atmosfir dari hari-hari transfer kedaulatan. Ia menemukan diri-nya sendiri tengah duduk di sebuah alun-alun besar di depan bekas istana gubernur jenderal berdampingan dengan puluhan dari ribuan orang-orang yang menyeringai bergembira yang pernah ia saksikan sepanjang hidup-nya. Di samping-nya duduk kakak perempuan Soekarno. Dengan kebiasaannya yang suka menggoda, ia menanyakan kenapa ia gak di istana bersama sodara-nya. Perempuan itu kasih jawab bahwa ia ingin mengalami hari-hari bersama rakyat, seperti yang juga tengah dilakukan sama Kwee. Ketika dokumen-dokumen perjanjian sudah ditanda-tangani, Bendera Belanda akhir-nya direndahkan sedangkan bendera Indonesia dinaikkan di tempat-nya, yang diiringi dengan seringai nyaring dari para kerumunan. Kwee pada waktu itu sangat tergugah dan sangat happy banget namun doski gak bisa menghindari air-mata keharuan yang jatuh di pipi-nya, dengan berkomentar bahwa menyaksikan bendera Belanda yang mulai sirna terasa seperti menyaksikan teman lama yang dikuburkan (Kwee Thiam Tjing, 1972i). Dengan gaya menulisnya, pada usia 72 tahun, di bawah rejim Suharto, menggiring keberanian kosmopolit-nya Kwee yang hibrid dan yang suka berkelakar pula. Tidak ada seorang-pun yang pernah nulis tentang momen-momen historis seperti ini yang mencampurkan antara keromantisan, duka dan rasa lucu.

Momen ini menggiring ia pada semacam; refleksi jarak jauh yang membikin kultur kosmopolitan di akhir periode kolonial menjadi mungkin. Saya rasa ini sebagian karena hasil dari ketidak-berdayaan. Di masa koloni, hanya laki-laki Belanda yang punya kekuatan riil, selalu setiap waktu, padahal di panggung internasional Belanda hanya memainkan sedikit peranan. Sedangkan di ranah lokal, masyarakat dari berbagai macam rupa saling berkompetisi tanpa rasa belas kasihan hanya untuk uang dan hak istimewa, tapi sebenarnya hanya untuk hal-hal yang kecil. Gubernur jenderal sendiri hanya dapat memimpin selama empat tahun dan selalu sewaktu-waktu dapat dipecat. Kekuataan riil-nya adalah di ribuan mil jauhnya dari Hindia–Belanda. Sembari menjalankan Koran-nya di Jember pada pertengahan tahun 1930, Kwee meng-organisasi-kan bantuan untuk korban-korban pengangguran setempat akibat depresi dunia dan menyebabkan protes terhadap kerakusan monopoli kolonial, dimana yang mengejutkan, semua kelompok yang bergabung di dalam-nya, adalah orang-orang gak berdaya yang tidak berharap banyak. Mereka menjadi koalisi yang solid dan mudah saling menerima satu sama lainnya.

Setelah tahun 1949, segala sesuatu-nya berubah. Kekuatan eksternal, khusus-nya yang berasal dari Washington, menjadi krusial meskipun mereka jauh. Namun dalam sebuah negara bangsa yang baru hal ini gak dapat dihindari, untuk pertama kali-nya, keganasan, konsep excuus kurang begitu diperjuangkan di antara para mantan orang-orang yang gak berdaya, perang sipil, pembantaian, diskriminasi, represi, kekejaman. Koalisi-koalisi masih mungkin namun bersifat gak kekal, dalam kerangka manuver-manuver yang taktis. Rasa ketidak-berdayaan muncul namun dalam dibatasi oleh kemiskinan dan marjinalitas. Para nasionalis Indonesia, pada hal tertentu, ‘terbuka‘ namun dengan cara yang seperti telah dilakukan pada sebelum tahun 1942. Anak-anak orang kaya dikirim ke Boston, Moskow, Paris, London, Canberra dan Tokyo, dan jika mereka kembali, mempunyai ekspektasi tinggi akan kemajuan. Namun model kosmopolitanisme yang mereka peroleh diambil ‘dari sono‘ dan kondisi-nya juga diadaptasikan ‘dari sono‘ dan secara isi juga menggunakan istilah-istilah ‘dari sono‘. Hampir gak ada yang bisa membayangkan bahwa seseorang dapat menjadi kosmpolit dengan hanya berada ‘di sini‘ (baca: Hindia–Belanda) dan menggunakan istilah-istilah yang ‘dari sini‘ aja.

Tanda lain-nya dari perubahan adalah hilang-nya perilaku individual yang “kurang ajar“, seperti yang disebut oleh pemilik rumah orang Yahudi. Kwee bahkan hidup jauh sebelum ada-nya televisi, brutalitas orang Yahudi–Israel secara kolektif terhadap orang-orang Palestina–Muslim, meski tak lama kemudian memang banyak orang se-bangsa-nya yang berpikir tentang dendam jarak jauh terhadap perilaku seperti orang-orang Israel ini.

Kembali pada rumus pra-nasionalis Kant terhadap perdamaian global yang universal ditambah dengan ada-nya perdagangan komersil tanpa halangan. Menurut-nya, pedagang yang tekun akan membawa beberapa komoditi dan lain-nya untuk dibawa pulang, dan kemungkinan juga berbagai ide dan penemuan juga diusung pula. Karena itu mereka harus menjadi tamu yang baik dan tidak tinggal lama tentunya. Pada akhir periode pemerintahan Hindia–Belanda ada banyak orang macam begini, meski tidak berarti mereka adalah tamu yang selalu baik. Namun lebih banyak lagi yang tinggal agak lama dan disambut ramah, dan filosof dari Königsberg ini juga tidak menghabiskan banyak waktu, namun bagaimanapun juga, tuan rumah yang tidak pernah meninggalkan rumah-nya akan menyambut dengan istilah-nya sendiri: “Sayangku Setrogantol, semprul, bangsat, badjingan!” 

Ed. HAK & YBA 16 September 2012

*Profesor emeritus dalam bidang Studi Internasional di Universitas Cornell, serta pernah aktif di Cornell Modern Indonesia Project yang terkenal dengan Cornell Paper.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar