Label

Amsal Cinta: Sebuah Dongeng


Konon, kata para filsuf dan para penyair, cinta itu seperti minyak bagi pelita, atau seperti air bagi bumi, cahaya di kegelapan, dan masih banyak lagi perumpamaan indah tentang cinta. Ia semacam energi gaib yang mendorong seseorang berbuat tulus dan ikhlas, ruhnya badan. Adapun dongeng ini, pada mulanya, adalah hiburan soliter bagi penulisnya, sekedar mengisi waktu luang.

Syahdan, dahulu kala, tersebutlah sebuah negeri bernama Telaga Kahana. Sebuah negeri yang damai dan sunyi, namun memiliki sebuah misteri alias sebuah rahasia dan teka-teki yang diperebutkan mereka yang ingin menguasainya.

Penduduk negeri itu adalah orang-orang yang tulus dan baik hati, hidup dengan bahagia meski bersahaja. Meskipun begitu, tak ada yang tahu di jaman apa cerita ini pernah hidup. Mungkin dari sebuah jaman dan abad-abad yang sepi dan sunyi, ketika manusia belum sempat membangun perpustakaan, hingga tak ada satu pun buku yang mengabadikan kisahnya.

Negeri Telaga Kahana, di mana Siswi Karina dan Misyaila menginap dan makan bersama di rumah Zipora itu, adalah negeri yang damai dan dihuni oleh penduduk yang hatinya dipenuhi cinta dan kasih-sayang kepada segenap yang hidup dan mencintai alam serta lingkungan mereka. Meskipun demikian, negeri itu pun tak luput dari invasi mereka yang hidupnya didasarkan pada nafsu kekuasaan dan hasrat untuk menguasai dan menaklukkan. Hasrat untuk memerintah dan memperbudak manusia yang lain. 

Hari itu, seperti yang telah diniatkan, Misyaila mengarahkan tongkat ajaibnya pada suatu tempat, dan seketika kereta kuda yang sebelumnya dinaikinya bersama Siswi Karina, sahabat sekalig gadis belia yang sedang ia didik, itu muncul di hadapan mereka. Kali ini mereka akan kembali bertualang ke sebuah negeri, yang tentu saja, tidak pernah diketahui atau dikunjungi Siswi Karina sebelumnya. 

Kereta kuda itu melesat begitu cepat setelah mereka berada di dalamnya. Suatu keajaiban lainnya adalah bahwa delapan kuda putih yang masing-masing memiliki sepasang tanduk kristal di kepala mereka itu seakan begitu saja telah mengerti tujuan mereka melalui semacam telepati dengan Misyaila. Semacam ilmu laduni yang dimiliki oleh mereka yang memiliki kedekatan dengan Tuhan yang maha rahman dan maha rahim bagi mereka yang hidup dalam ketulusan dan kekhlasan dalam nestapa atau bahagia. 

Mereka melewati gunung-gunung, rawa-rawa, lembah-lembah, dan hutan-hutan aneh yang ditumbuhi pohon-pohon raksasa. Dihuni oleh makhluk-makhluk aneh dan ajaib pula, yang kebanyakan telah punah, dan yang masih hidup saat ini, menjadi kecil dari ukuran mereka di jaman itu. Meskipun demikian, kereta kuda itu seperti terbang dan agak mengambang melewati hutan-hutan, mengambang di rawa-rawa, atau sesekali seperti berlari dengan begitu cepat di antara lembah-lembah dan kelokan-kelokan pegunungan dan lembah-lembah yang mereka lalui. 

Ternyata negeri yang hendak mereka tuju dan hendak mereka selidiki itu begitu jauh –sebuah negeri yang diberi nama oleh para penghuninya, yaitu kaum yang menyukai kekuasaan dan perang, dengan nama Negeri Amarik. 

Negeri itu begitu mempesona, di mana tempat-tempat tinggal para penghuninya menjulang tinggi. Di negeri itu juga terdapat kawasan-kawasan khusus megah yang hanya boleh ditinggali para prajurit, sementara di kawasan-kawasan khusus lainnya terdapat semacam pabrik-pabrik dan gedung-gedung yang senantiasa menciptakan senjata super canggih. 

Hasrat berkuasa dan menguasai negeri-negeri lain membuat para penduduk atau penghuni negeri itu begitu ulet mengembangkan tekhnologi persenjataan dan melakukan riset-riset dan inovasi-inovasi persenjataan serta alat-alat pengintaian yang mereka gunakan untuk mengintai negeri-negeri lain yang ingin mereka kuasai atau mereka taklukkan sesuai dengan keinginan mereka.

Negeri itu dipimpin oleh seorang yang gila perang dan memiliki hasrat berkuasa yang sangat besar, yang bernama Jarjus Bushan, seorang pemimpin yang anehnya sangat idiot tapi dipatuhi oleh orang-orang yang berada di bawah perintah dan kekuasaannya. 

Dan yang membuat Misyaila kaget adalah negeri itu ternyata dibentengi oleh semacam kubah cermin maha-raksasa yang senantiasa menampakkan kilatan-kilatan cahaya, mirip gelombang-gelombang kilatan listrik, hingga Misyaila hanya bisa melihat sebagian kecil Negeri Amarik yang menakjubkan dan super canggih itu lewat kejernihan kubah pelindungnya. 

Dari ketinggian pegunungan di mana mereka berhenti itu, Misyaila pun tahu bahwa negeri itu dilindungi oleh benteng yang sangat tebal dan tinggi, dan mereka dapat melihat sebuah menara besar yang sangat tinggi terletak di negeri tersebut. Jika negeri itu dilindungi kubah raksasa, dari manakah para penduduknya bisa keluar ketika mereka melakukan invasi ke negeri-negeri lain? Demikian kira-kira yang jadi pertanyaan Misyaila di batin-nya saat itu. Dan tentu saja, rasa heran dan ketakjuban serupa juga dirasakan oleh Siswi Karina. 

Demi menyelidiki dan meneliti negeri tersebut, dan tentu saja dengan sangat hati-hati, agar tidak ketahuan para spion alias intelijen alias mata-mata negeri tersebut, Misyaila dan Siswi Karina memutuskan untuk menuruni gunung di mana kereta kuda mereka ditinggalkan –dan tentu saja, menghilang begitu saja bila tak dibutuhkan, dan akan hadir bila dibutuhkan.

Sungguh ini adalah sebuah kisah di masa silam yang telah dilupakan orang-orang di jaman sekarang. Ketika orang-orang di abad ini telah melupakan mimpi-mimpi mereka. Ketika mereka lebih menyukai tokoh-tokoh nyata di panggung-panggung, bukan cerita khayalan yang disebarkan dari lisan ke lisan. 

Kala itu, kereta kuda yang dinaiki Misyaila dan Siswi Karina melaju begitu cepat –hampir mendekati kecepatan cahaya, dan tak meninggalkan debu di belakangnya. Di dalam kereta kuda itu Siswi Karina masih terus bertanya-tanya di dalam hatinya seputar kejadian-kejadian aneh dan menakjubkan yang ia alami sebelumnya itu. Perahu mungil dan empat peri yang menghilang tiba-tiba begitu saja, dan juga hal-hal lainnya yang tak kalah aneh, bahkan lebih ajaib dan membuatnya bingung dan bertanya-tanya. 

Ia pun memberanikan diri untuk bertanya kepada pemilik kereta itu, “Siapakah engkau sebenarnya?” “Aku Misyaila” jawab si empunya kereta ajaib tersebut. Mendengar nama itu, Siswi Karina teringat nama pelukis dan seniman yang karya lukisannya pernah ia lihat di tempat ia bekerja, Michelangelo, yang jika diterjemahkan, nama itu artinya adalah malaikat Mikhail. 

Sembari berbincang itu, tanpa terasa mereka pun telah sampai di sebuah telaga yang di atasnya berdiri dengan rapihnya barisan rumah-rumah indah yang belum pernah ia lihat. 

Saat itu Siswi Karina pun mendengar sayup-sayup suara musik, yang ia berusaha menduganya dari mana musik tersebut. Ia seakan mendengar petikan-petikan suara harpa, alunan biola, dan komposisi cello, meski menurutnya itu semua hanya mirip saja.

Tempat di mana kini ia berada itu memang lebih mirip sebuah lukisan naturalis para seniman lukis yang pernah ia lihat –sebuah telaga raksasa dengan rumah-rumah ajaib di atasnya. Lembah-lembah, savanna-savana, dan bukit-bukit yang dipenuhi tumbuhan dan binatang-binatang yang juga belum pernah ia lihat. 

Ada unggas-unggas berwarna hijau. Ada kambing-kambing yang memiliki sepasang tanduk hijau dan memiliki sepasang sayap di punggung mereka. Ada capung-capung yang ukuran tubuhnya sama dengan burung-burung dan memiliki sepasang sayap berwarna merah terang. Semua itu membuat Siswi Karina takjub dan heran. 

Siswi Karina pun melihat Unicorn berwajah lelaki tampan, yang tersenyum ke arahnya saat ia memandang Unicorn tersebut. Unicorn itu memiliki sepasang sayap berwarna hijau di punggugnnya –sepasang sayap yang indah dan menakjubkan. 

Karena masih didera keheranan sekaligus kekaguman, Siswi Karina pun berusaha memuaskan sepasang matanya untuk melihat dan mengetahui segala yang ada di sekitaran telaga raksasa itu. Bagaimana ternyata rumah-rumah yang seakan mengambang di telaga itu dihuni oleh manusia-manusia yang lebih kecil dari ukuran tubuh dirinya, namun memiliki wajah-wajah yang cantik, menawan, dan tampan. 

“Semua ini sudah ada sebelum engkau ada”, ujar si pemilik kereta kuda super cepat itu kepada Siswi Karina, yang seakan mengingatkan dirinya bahwa dirinya memiliki seorang sahabat dan tidak sendirian dalam keheranan dan ketakjubannya yang ia pendam di dalam hatinya itu…..(Bersambung)


Sulaiman Djaya

Nalar Bangsa dan Rasio Publik


Oleh: Sulaiman Djaya, pemerhati budaya

Di jaman merebaknya informasi (juga hoax bersamanya) dan bertebarannya sebaran media internet (serta jejaring media sosial), bisa jadi masyarakat malah bingung, bukannya tercerahkan. Terdistorsi ruang kritisnya dan terbunuh nalar analitiknya bersamaan dengan menguatnya budaya oral di era gawai dan internet abad kita saat ini, yaitu melemahnya kemampuan untuk melakukan ‘pembacaan’ dan ‘analisa’ atas informasi yang datang dalam hitungan detik melalui media sosial dan media-media internet, yang tak jarang menyebarkan informasi-informasi instan, dan bahkan hoax.  

Kebingungan dan ‘matinya’ ruang kritis publik tersebut terlebih lagi akan dialami oleh mereka yang tak terbiasa untuk ‘menganalisa’, atau yang tak punya kapasitas literer. Kasus Ratna Sarumpaet beberapa waktu lalu yang kehebohannya sampai tingkat nasional dan melibatkan para elite itu tentu tak bisa dianggap sebagai sesuatu yang remeh dan angin lalu, karena hoax politik dan politik hoax tersebut sempat menimbulkan pro-kontras yang keras di kalangan para pendukung capres-cawapres, yang lazim disebut sebagai kelompok Cebong untuk yang fanatik pro Joko Widodo dan kelompok Kampret untuk yang fanatik pro Prabowo Subianto.

Masyarakat atau publik yang terbiasa menerima informasi yang cepat dan melimpah lewat media sosial, serta terbiasa dengan menyaksikan tayangan reality show dan infotainment yang berkesinambungan setiap hari melalui kanal-kanal televisi, ternyata justru menjadi terbiasa juga untuk menghindari sajian dan forum intelektual yang mendidik dan berbudaya, dan kalau pun ada forum seperti itu di televisi, juga yang dikemas dan diformat sesuai dengan reality show: mempertontonkan adu kubu dan ‘pembenturan’ kelompok, yang justru malah semakin mengentalkan fanatisme tak bernalar di kalangan masyarakat luas.

Dalam hal ini, bisa juga dikatakan, media (baik media internet maupun televisi) memiliki peran sentral dalam menciptakan budaya oral (non literer) dalam masyarakat kita. Suatu budaya yang tak memberi ruang dan kesempatan bagi lahir dan hidupnya ‘nalar publik’ yang sehat, bagi tumbuhnya habitus berpikir kritis dan analitis dalam masyarakat. Sehingga, wajar, misalnya, bila hoax menjadi begitu mudah dikonsumsi banyak orang, dan malah hoax telah dijadikan lahan bisnis untuk meraup untung bagi para pegiat situs-situs abal-abal. Hoax menjadi industri di jaman media dan internet, era kita saat ini, sebuah era yang konon sejak tahun 2014 kemarin telah melahirkan para cebong dan kampret di jagat dunia maya.

Belajar dari Kasus Ratna Sarumpaet beberapa waktu yang lalu itu, betapa bahkan para elite di negeri ini begitu mudahnya termakan hoax dan lalu menjadi para penyebar hoax. Dan ternyata, sudah lama, mereka yang menjadi konsumen dan para penyebar hoax di negeri ini termasuk juga tokoh-tokoh agama, PNS, para penceramah agama (terutama dai-dai yang muncul sejak tahun 2000-an), para politisi hingga partai politik. Tengok saja ketika pecah Perang Suriah sejak tahun 2000-an itu, betapa para penyebar hoax adalah mereka yang biasa melakukan ceramah agama hingga para politisi.Artinya, hoax telah menjadi konsumsi lintas kalangan dan kelas.

Fenomena tersebut, barangkali telah menunjukkan lemahnya rasionalitas dan nalar bangsa ini, yang andai saja tidak ada minoritas yang sabar dan cerdas di negeri ini, yang berbagi informasi kepada organisasi-organisasi keagamaan terbesar di negeri ini, niscaya bangsa ini akan mudah menjadi makanan dan sasaran empuk proxy war dan adu domba yang dilancarkan imperialisme global abad ini melalui hoax yang disebarkan oleh media-media dan situs-situs propaganda dan hasutan yang bekerja demi kepentingan Amerika, Israel, dkk. Di sisi lain, minoritas yang sabar dan cerdas itu di negeri ini justru menjadi sasaran dan target tuduhan kafir dan sesat oleh saudara-suadara sebangsanya yang mereka tolong dari proxy war.

Bangsa ini juga barangkali sudah lama akan hancur dan dilanda perang saudara jika tidak ada minoritas yang cerdas dan sabar tersebut. Sebagai contoh, dalam kasus Suriah itu, mereka mendapatkan informasinya langsung dari marja’-marja’ mereka yang terpercaya, sehingga mereka memiliki informasi tingkat tinggi yang valid di saat kebanyakan orang di negeri ini sedang menjadi santapan dan sasaran hoax yang disebarkan dan dimassifkan media-media dan agen-agen propaganda dan hasutan yang bekerja demi kepentingan Amerika, Israel, dkk.

Kata kunci hoax yang mereka sebarkan contohnya: Syi’ah membantai Sunni di Suriah, Perang Suriah adalah Perang Syi’ah dan Sunni, Bashar Al-Assad adalah tiran bengis yang sedang membantai rakyatnya sendiri, dan yang sejenisnya, dan hoax itu mirisnya, misalnya, disebarkan oleh para penceramah seperti Bachtiar Nasir, Abdul Somad, Felix Siauw, atau oleh orang-orang Wahabi-Nawashib seperti Abu Jibril dkk. Karena itu bukanlah sesuatu yang aneh, jika misalnya, bangsa ini pun mudah menjadi sasaran hoax yang diciptakan oleh Ratna Sarumpaet beberapa waktu yang lalu itu.

Lagi, dalam kasus Suriah (serta juga dalam kasus Libya), sejumlah orang liberal di negeri ini, yang ideologi dan paradigma politiknya berkiblat ke Amerika, turut juga menjadi penyebar hoax dalam kadar yang soft: menganggap Suriah sebagai bagian dari Arab Spring. Hal itu bahkan diamini oleh media cetak sekelas Kompas. Sungguh memprihatinkan. Karena itu, lagi-lagi tidak usah heran, jika kasus Ratna Sarumpaet kemarin terjadi di negeri ini, karena memang ada lahan yang boleh dibilang subur untuk ditanami hoax: disorientasi ideologi dan paradigma religius yang kabur dan tak jelas dalam memahami situasi global.


Dalam kasus Libya, misalnya, orang-orang liberal di negeri ini ramai-ramai menyatakan dan mengekspose pandangan bahwa Muammar Khadafi layak dilengserkan, tanpa mereka sadari bahwa skenario yang sesungguhnya adalah upaya Amerika, NATO, dkk dalam rangka memuluskan upaya ‘ambil-alih’ minyak dan kekayaan alam Libya ke tangan mereka, sehingga yang demi target tersebut, Amerika dan NATO sampai menejunkan perangkat-perangkat perang dan militer mereka untuk menggempur Libya yang dibantu oleh kelompok-kelompok pengusung khilafah di Libya atau yang lazim disebut para pemberontak Libya. Singkat kata, Wahabi, Nawashib, dan Liberal berada di barisan yang sama dalam hal ini. 

Sastra Malam di Udara



Sastra Malam di Udara atau SAMARA adalah program bincang sastra tiap Kamis pukul 20.00 -23.00 WIB di Serang Gawe FM 102.8 FM yang dikemas secara rileks dan santai, ngobrolin sastra dalam hubungannya dengan banyak hal yang ada dan hadir dalam hidup kita.