Satu
hal yang membuat film “300: Rise of an Empire” mengesankan adalah kehadiran
tokoh Artemisia (Eva Green). Sosok perempuan tangguh yang tidak takut
kehilangan apa-apa lagi, sebab dia sudah hampir kehilangan segalanya, termasuk
nyawa. Tanpa gentar Artemisia berperang membela kerajaan Persia.
Dalam
sejarah Persia, Artemisia adalah tokoh penting yang perannya tidak bisa
dilepaskan dari perang Yunani-Persia. Dia adalah ratu Halicarnassus, dan sekutu
dari Xerxes (Rodrigo Santoro), raja Persia.
Artemisia
banyak diceritakan dalam kisah yang ditulis Herodotus, seorang sejarawan dari
Halicarnassus. Walaupun Artemisia bukan satu-satunya komandan yang ikut ambil
andil dalam perang Yunani-Persia, Herodotus menceritakan Artemisia dengan penuh
simpati. Komandan perempuan ini memimpin lima kapal dari negara-negara bagian
di bawah pimpinannya: Halicarnassus, Cos, Nisyris dan Calydna.
Dalam
film “300: Rise of an Empire” tentu banyak bagian sejarah yang diglorifikasi. Digambarkan
Artemisia memimpin ratusan kapal yang jauh lebih prima dibandingkan kapal-kapal
pasukan Yunani. Artemisia juga diperankan sebagai pemimpin yang sangat ditakuti
sebab dia tidak segan membunuh anak buahnya yang tidak becus. Walaupun
demikian, bagian-bagian film yang rentan untuk dianggap berlebihan itu masih
berdasar pada sejarah.
Menurut
catatan sejarah, Artemisia memang menerapkan gaya kepemimpinan tirani dalam
pemerintahannya. Tidak heran jika pemimpin bertangan besi ini menjadi salah
satu penasihat kepercayaan Xerxes, walaupun dia satu-satunya perempuan yang
menjadi jenderal angkatan laut.
Eva
Green memerankan Artemisia dengan luar biasa: tanpa ampun dan tampak alami
dalam bertarung baik dengan pedang ataupun panah. Green juga berhasil
menampilkan kekecewaan Artemisia terhadap bangsa Yunani yang sudah merenggut
nyawa keluarganya. Tampak disini Artemisia menyimpan kemarahan yang luar biasa,
sehingga dia rela melakukan apapun untuk menghabisi Yunani.
Dari
segi kostum, semua gaun dan jubah perang yang dipakai Artemisia sangat sesuai
dengan karakternya yang gelap. Pakaian terbaiknya adalah jubah perang yang
dipakai ketika saat-saat terakhir pertarungan berlangsung. Sedikit mengingatkan
pada kostum-kostum punk atau bahkan gaya unik Lady Gaga, namun yang ini dipakai
pada tempatnya.
Secara
keseluruhan konsep film “300: Rise of an Empire” masih sama dengan film “300”
yang terdahulu. Cipratan darah, kepala yang terpenggal, bahkan prajurit yang
hancur terinjak kuda ada dalam adegan-adegan sadis film ini. Namun, jujur saja
memang itu yang membuat film epic ini menarik untuk disaksikan. Aksi perang
yang nyaris tanpa henti membuat film ini terasa selalu berada di klimaks.
Ketepatan
sejarah mungkin tidak sepenuhnya dijamin disini, sebab tentu ada bagian-bagian
yang dilebih-lebihkan untuk keperluan visual dan jalan cerita yang lebih “wow.”
Tokoh
perempuan lain yang juga penting dalam film ini adalah Ratu Gorgo (Lena
Headey), istri dari Raja Leonidas (Gerard Butler). Dalam cerita Herodotus, Ratu
Gorgo adalah perempuan yang juga pemberani dan bijaksana. Dia adalah anak dari
Raja Sparta (Cleomenes I), menikah dengan Raja Sparta (Leonidas I) berikutnya,
dan merupakan ibu dari Raja Sparta (Pleistarchus). Karakter ini sukses
diperankan oleh Headey.
Dapat
dikatakan film ini menjadi istimewa karena dua tokoh perempuan yang cukup
dominan. Rasanya istilah Andreia yang dipakai Herodotus untuk
menggambarkan keberanian, tidak salah jika berikan kepada Artemisia. Dalam film
ini Ratu Gorgo juga berhak mendapatkan penghargaan serupa.
Angkat
topi untuk Eva Green sebagai Artemisia. Meminjam pujian Xerxes untuk Artemisia,
'My men have become women, and my women men'. Sumber: http://awismranani.tumblr.com/

Tidak ada komentar:
Posting Komentar