“Imajinasi itu lebih penting ketimbang ilmu
pengetahuan. Imu pengetahuan itu terbatas, sedangkan imajinasi mengelilingi
dunia” (Albert Einstein).
Einstein dikenal sebagai fisikawan yang
memiliki imajinasi yang kuat, hingga Lawrence M. Krauss, sang penulis Fisika
Star Trek itu pernah berseloroh: “Sama seperti para pengarang, ia tak berbekal
apa pun selain imajinasi”. Dalam hal inilah, sains dan sastra, sebagai
contohnya, sama-sama dimungkinkan oleh rahim yang sama, yaitu imajinasi. Dan memang,
Einstein pernah terus-terang berujar, “Imajinasi itu lebih penting ketimbang
ilmu pengetahuan. Imu pengetahuan itu terbatas, sedangkan imajinasi
mengelilingi dunia”.
Dan berikut ini cuplikan salah-satu karya
fiksi, sebuah novel karya Alan Lightman, yang terinspirasi dari fisikawan
bernama Einstein yang pernah mengejutkan dunia dan didapuk oleh majalah Time
sebagai ilmuwan paling berpengaruh di abad ke-20.
"Siapa yang lebih mujur di dunia dengan
waktu yang gelisah ini? Mereka yang telah melihat masa depan dan menjalani
kehidupan ini? Mereka yang melihat masa depan dan menunggu untuk menjalani
kehidupan? Atau mereka yang menolak masa depan dan menjalani dua kehidupan? Di
suatu dunia, waktu berjalan lingkaran. Orang-orang di dalamnya tak henti
mengulang takdirnya tanpa perubahan sedikit pun. Di tempat lain, orang mencoba
menangkap waktu, yang berwujud burung bulbul ke dalam guci. Di tempat lain tak
ada lagi waktu, yang ada hanyalah peristiwa-peristiwa yang membeku....
Andaikan manusia hidup selamanya. Secara unik,
warga di tiap kota terbagi menjadi dua: Kelompok Belakangan dan Kelompok
Sekarang. Kelompok Belakangan bersikukuh untuk tidak perlu buru-buru kuliah di
universitas, belajar bahasa asing, membaca karya Voltaire atau Newton, meniti
karir, jatuh cinta, berkeluarga. Untuk semua itu, waktu tak terbatas. Kelompok
Belakangan dapat dijumpai di setiap toko atau di setiap jalanan, mereka berjalan
santai dengan busana longgar. Kelompok Sekarang beranggapan bahwa dengan
kehidupan yang abadi mereka bisa melakukan apa saja yang mereka inginkan. Ada
tumpukan karir yang jumlahnya tak terhingga, menikah dalam kali kesekian yang
tak terbayangkan, dan pandangan politik terus berganti. Mereka secara teratur
membaca buku-buku terbaru, belajar tata cara perdagangan baru, bahasa-bahasa
baru. Demi mencucup sari madu kehidupan yang tak terbatas itu, Kelompok
Sekarang bangun lebih pagi dan tak pernah bergerak lamban....
Seandainya waktu berwujud burung bulbul. Waktu
berdetak, bergerak, dan melompat bersama burung-burung itu – yang bergerak
cepat, sangat gesit, dan sulit ditangkap. Tiap lelaki dan perempuan mendambakan
seekor burung, karena dengan mengurung seekor burung bulbul dalam guci maka
waktu berhenti dan membeku bagi orang-orang yang menangkapnya. Anak-anak, yang
cukup gesit untuk menangkap burung, tidak tertarik menghentikan waktu. Bagi
mereka, waktu bergerak terlalu lambat. Mereka selalu terburu-buru dari satu
kejadian ke kejadian lain, tak sabar menanti hari ulangtahun dan tahun baru,
tak sabar menunggu lebih lama lagi. Kelompok tua mati-matian menginginkan waktu
berhenti, tetapi mereka terlalu renta dan lamban untuk menangkap burung apapun.
Bagi mereka, waktu berlalu demikian cepat. Mereka berhasrat menahan satu menit
saja, untuk minum teh saat sarapan pagi, atau membantu seorang cucu yang
kesulitan melepaskan seragamnya, atau menatap pemandangan senja saat matahari
di musim dingin memantul dari hamparan salju dan menerangi ruangan musik dengan
cahayanya....
Dunia tanpa ingatan adalah dunia saat ini.
Masa silam hanya ada dalam buku-buku, dokumen-dokumen. Untuk mengenali diri
sendiri, setiap orang membawa Buku Riwayat Hidup yang penuh dengan sejarah
masing-masing. Dengan membaca buku itu tiap hari, ia mencari tahu kembali
identitas orangtua mereka, apakah dirinya berasal dari golongan atas atau
bawah, apakah prestasinya di sekolah memuaskan atau memprihatinkan, apakah ia
telah mencapai sesuatu dalam hidupnya. Di satu kafe di bawah rimbun pohon di
Brunngasshalde, terdengar jerit pilu seorang lelaki yang baru saja membaca
bahwa ia pernah membunuh orang, desah seorang perempuan yang menemukan dirinya
pernah dipacari seorang pangeran, teriakan bangga seorang perempuan yang
menyadari dirinya pernah menerima penghargaan tertinggi dari universitasnya 10
tahun lalu. Seiring waktu, Buku Riwayat Hidup itu menjadi demikian tebal
sehingga tak mungkin lagi dibaca seluruhnya. Lalu, muncullah pilihan....
Para lanjut usia memilih membaca halaman awal
agar dapat mengenali diri mereka dalam kemudaan. Beberapa orang memutuskan
untuk sama sekali berhenti membaca. Mereka meninggalkan masa lalu. Apapun yang
terjadi di hari kemarin, kaya atau miskin, terpelajar atau bodoh, congkak atau
rendah hati, pernah kasmaran atau patah hati, tak lebih dari angin lembut yang
menari-narikan rambut mereka. Merekalah orang-orang yang menatap tajam pada
mata kita dan menggenggam tangan kita erat-erat. Merekalah orang-orang yang
melepas kemudaan dengan langkah tanpa beban. Merekalah orang-orang yang telah
belajar untuk hidup di dunia tanpa ingatan” (Alan Lightman, Einstein’s Dreams)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar