Label

Kesadaran dari Per-Desa-an

Oleh: Sulaiman Djaya (pemerhati budaya di Kubah Budaya)

Seseorang dibentuk oleh lingkungannya. Oleh masyarakat dan kemajuan peradaban serta ilmu pengetahuan di mana ia tinggal. Demikian penyederhanaan yang saya lakukan ketika membaca filsafat sejarahnya Friedrich Hegel dan filsafat manusia-nya Martin Heidegger ketika aktif di lembaga kajian mahasiswa saat masih numpang duduk di sebuah kelas di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. Demikian pula, pikiran dan kecerdasan seseorang dibentuk oleh resource atau modal dan ketersediaan sosial-kulturalnya. Sebagai contoh, seseorang yang hidup di lingkungan yang lembaga riset, laboratorium, dan universitas-universitasnya lebih canggih dan maju akan lebih memiliki peluang besar untuk mengembangkan kecerdasan saintifiknya karena keterwadahan bakatnya oleh lembaga sosial dan institusi budaya dii tempatnya hidup dan berada.

Saya sendiri hidup di sebuah dunia dengan kondisi sosial dan kultural masyarakat dan alam pedesaan saya, karena saya dilahirkan di keluarga petani di sebuah jaman ketika listrik dan internet belum menjadi bagian dalam kehidupan kami sebagai orang-orang desa. Tapi berkat kehidupan di pedesaan itulah, saya atau katakanlah jiwa saya, intim dengan alam.

Bersama teman-teman saya, saya berburu belalang di saat hujan mengguyur sawah-sawah dan pematang. Kami serahkan belalang hasil buruan kami itu kepada ibu-ibu kami untuk digoreng sebagai lauk menu makan kami. Rasanya enak dan gurih. Itulah salah-satu kegembiraan saya di masa kanak-kanak.

Dunia bermain kami itu bertambah leluasa dan bebas ketika libur panjang, ketika kami tak perlu berangkat ke sekolah untuk waktu yang cukup lama, sehingga kami bisa melakukan apa saja yang ingin kami lakukan, seperti bermain sepakbola di sawah atau di lapangan upacara di sekolah kami. Di waktu yang lainnya kami akan menerbangkan layang-layang kami, juga di hamparan sawah-sawah dan pematang, yang kami kendalikan dengan seutas benang yang cukup panjang hingga layang-layang kami itu dapat terbang tinggi seperti pesawat terbang atau seumpama para burung yang seringkali beterbangan secara berkelompok di atas hamparan sawah dan pematang. .

Kami punya banyak waktu bermain, meski kadangkala saya harus juga menyempatkan mematuhi ibu saya untuk membantunya bekerja di sawah. Sekedar mengerjakan apa saja yang sesuai dengan kemampuan saya tentu saja, seperti mengangkut batang-batang padi yang telah dipotong dengan arit oleh ibu saya untuk ditumpuk menjadi satu gundukan sehingga akan memudahkan ibu saya mengurai biji-biji padinya dengan cara memukul-mukulkannya ke sebuah alat yang disebut gelebotan.

Sebagai kanak-kanak, kami juga bisa kecewa jika permintaan dan keinginan kami tidak dapat dipenuhi oleh orang tua-orang tua kami. Terlebih lagi orang tua-orang tua kami hanya bekerja sebagai petani yang memiliki pendapatan tak tetap, berbeda dengan mereka yang bekerja di pemerintahan dan pabrik-pabrik atau mereka yang mendapat gaji dengan pekerjaan mereka, semisal para guru Sekolah Dasar kami. Ibu saya sendiri bahkan acapkali harus menunda bayaran iuran (SPP) sekolah karena harus memprioritaskan untuk makan kami sehari-hari.

Keakraban saya dengan lumpur, padi-padi, rumput, sawah, pematang, para burung, air, dan yang lainnya, telah sedemikian membatin dan menjadi bagian dari perenungan-perenungan saya ketika saya tidak lagi seorang bocah. Tapi, sekali lagi, penting untuk dipahami bahwa keintiman pada masa kanak-kanak itulah yang telah menjadikan saya sebagai seorang yang memandang alam bukan sebagai objek yang harus dikuasai, tapi dijaga dengan rasa cinta, sebab derita dan kerusakannya adalah derita dan kerusakan kehidupan manusia.

Alam dan pedesaan-lah yang telah memberi saya bahasa dan metafora. Kejujuran, kecerdasan, dan kepekaan. Mengajarkan saya bagaimana ketulusan dan kejujuran diwujudkan, sebagaimana kejujuran dan ketulusan orang-orang bersahaja yang tak mengurusi dana anggaran yang mereka curi, di saat mereka adalah orang-orang yang berpendidikan tinggi. Rasionalitas instrumental mereka ternyata telah membunuh kecerdasan dan kejujuran mereka. Sejumlah anomali karakterteristik dari apa yang disebut modernitas.

Alam dan pedesaan pula yang telah mengajarkan saya untuk merenung dan berpikir. Di sore hari, misalnya, ketika saya menjalankan tugas dari ibu saya untuk menunggui padi-padi yang telah menua dan menguning dari serbuan para burung, ada capung-capung selepas hujan, juga riap sejumlah kupu-kupu yang adakalanya terbang dan adakalanya singgah di kelopak bunga. Getaran-getaran sayap mereka yang hampir tak terlihat seakan-akan mengajarkan saya tentang kegembiraan. Mereka membentuk gerakan-gerakan yang mirip gelombang-gelombang kecil, gelombang-gelombang yang meliuk di atas semak belukar, rumput-rumput, dan ilalang, di saat buih-buih masih berjatuhan dan beterbangan. Seakan-akan mereka asik bercanda dengan hembus angin dan lembab cuaca.

Sementara itu, di barisan pohon-pohon, masih terdengar kicau burung-burung yang merasa kedinginan, dingin yang meresap pada bulu-bulu mereka. Tentulah di saat-saat seperti itu matahari sudah enggan menampakkan diri. Di saat-saat seperti itu, sudut-sudut langit dan pematang-pematang sawah lebih mirip figur-figur bisu. Dalam cuaca seperti itu sebenarnya saya tak hanya dapat memandangi capung-capung yang dapatlah kita umpamakan sebagai para peri mungil, sesekali juga kupu-kupu atau belalang-belalang yang meloncat-loncat dan yang terbang.

Saya tergoda untuk membayangkan getaran-getaran sayap-sayap mereka yang tipis itu adalah kiasan dari kematian yang menyamar sebagai keindahan dan kelembutan. Saya tergoda untuk mengandaikan mereka adalah maut yang bermain-main itu sendiri. Saya akan menyebut capung-capung itu sebagai peri-peri kecil yang tengah mencandai kematian, sosok kematian yang memang tidak terlihat oleh mata telanjang dan hanya bisa dipahami oleh keintiman bathin kita.

Sedemikian membatin-nya impressi alam kepada jiwa saya, saya di kemudian hari disadarkan tentang kontradiksi masyarakat modern yang memperkosanya. Korporasi dan kapitalisme, demikian para pelakunya, yang lahir dari hasrat dan cara berpikir antroposentris dan paradigma rasionalitas instrumental masyarakat modern yang justru mendaku sebagai masyarakat yang tercerahkan, tapi malah melahirkan karakteristik dan sifat rakus dan korup.

Seperti itu pula, masyarakat-masyarakat adat dan tradisional yang dulu patuh dengan kearifan lokal ekologis mereka, kini ikut juga terbawa arus anomali karakter masyarakat dan dunia modern. Baduy Banten, sebagai contohnya, pelan-pelan mulai tergerus keyakinan dan kepercayaan local wisdom mereka ketika mereka menjalani rutinitas seba ke Kota Serang, Banten tiap tahunnya, yang karena seba itu generasi muda mereka berjumpa dengan konsumerisme dan materialisme masyarakat kota Serang yang menjadikan mall-mall dan pusat-pusat perbelanjaan sebagai tempat-tempat ritual baru. Terlebih lagi, ritual tahunan Seba Baduy itu sarat dengan motif dan kepentingan ekonomis atau paradigma rasionalitas instrumental pemerintah provinsi Banten melalui dinas terkait sebagai ‘komoditas’ pariwisata. Belum lama ini, sebagai contoh, kejahatan (pembunuhan) juga telah hadir di lingkungan masyarakat Baduy Banten, sesuatu yang sebelumnya tak ada.

Modernitas yang mereka banggakan lahir dari pencerahan Eropa itu ternyata melahirkan anomali karakteristik dalam diri manusia, seperti watak eksploitatif di kalangan para borjuis dan korporat serta budaya konsumtif di kalangan masyarakat kebanyakan. Bersama dengan itu semua adalah produksi sampah (residu) yang mengancam dan merusak lingkungan dalam skala dan ukuran yang juga sangat mengkhawatirkan.

Kritik filosofis terhadap paradigma antroposentrisme modernitas dan rasionalitas instrumental, serta perspektif ekologis dalam memandang dunia dan semesta, justru telah disiapkan oleh filsafat realitas dan metafisika-nya Mulla Sadra, yang kelak disuarakan pula oleh Fritjof Capra yang menimba kearifan Timur itu, bahwa adanya semesta merupakan seumpama satu tubuh dan manusia hanyalah salah-satu dari ‘ekosistem akbar’ dunia dan semesta.

Nusrat Fateh Ali Khan | Ali Mawla, Ali Dam Dam | Musik Qawwali

 



Serang Gawe 102.8 FM | Ali Akbar & Badrussalam | Sastra Malam di Udara

 

Program Sastra Malam di Udara Radio Serang Gawe FM Edisi 8 April 2021 bersama Ali Akbar dari Teater Kafe Ide dan Badrussalam dari Teater Nol Banten yang dipandu Kang Martin dan penyair Sulaiman Djaya.






Musthafa Chamran Savei, adalah Menteri pertahanan Iran dari 1978 hingga 1981, lahir di Teheran pada 1932. Sebelum Revolusi Iran dia merupakan seorang dosen di Universitas California di Barkeley. Saat Revolusi pecah, dia meninggalkan karir akademinya yang cemerlang dan memilih pulang memenuhi panggilan kemanusiaan, dia berkeliling ke Palestina hingga Lebanon sebagai gerilyawan perlawanan anti-Zionis.

Pendidikan menengahnya dilaluinya di sekolah menengah Alborz, kemudian dia menempuh Pendidikan sarjana mikroelektronik di Universitas Teheran, pada 1950an ia meneruskan kuliahnya di Texas A&M University. Setelah itu pada 1963, dia mengambil prodi fisika plasma dan Teknik kelistrikan di University of California, Barkeley. Di Universitas Berkeley, prestasinya terus menonjol bahkan sempat diangkat menjadi dosen. Musthafa Chamran sendiri sempat bekerja sebagai ilmuwan staf penelitian di NASA.

Chamran adalah salah satu anggota senior Gerakan Merdeka yang dipimpin oleh Mehdi Bazargan pada 1960-an. Dia merupakan bagian dari sayap luar radikal bersama dengan Ebrahim Yazdi, Sadegh Ghotbzadeh dan Ali Shariati. Chamran sendiri sempat menerima pelatihan militer di Kuba, Pada Desember 1963, dia bersama Ghotbzadeh dan Yazdi meninggalkan AS menuju Mesir, disana ia menerima Pendidikan perang gerilya. Mereka bertemu dengan otoritas Mesir untuk mendirikan organisasi anti-Shah di negara itu, yang kemudian disebut SAMA, organisasi khusus untuk persatuan dan aksi. Chamran dipilih sebagai kepala militernya. Sekembalinya ke AS pada tahun 1965, ia mendirikan sebuah kelompok, Syiah Merah, di San Jose dengan tujuan melatih para militan. Saudaranya, Mehdi, juga merupakan bagian dari kelompok tersebut. Pada tahun 1968, ia mendirikan kelompok lain, Asosiasi Mahasiswa Muslim Amerika (MSA), dan dipimpin oleh Ebrahim Yazdi.

Pada 1971 Chamran meninggalkan AS menuju Lebanon dan bergabung dengan kamp-kamp Organisasi Pembebasan Palestina dan gerakan Amal. Ia menjadi anggota terkemuka dan pendiri gerakan revolusioner Islam di Timur Tengah, mengorganisir dan melatih gerilyawan dan pasukan revolusioner di Aljazair, Mesir, Suriah. Selama perang saudara di Lebanon ia secara aktif bekerja sama dengan Musa Al Sadr, pendiri gerakan Amal. Chamran juga menjadi anggota gerakan Amal.

Saat Revolusi Islam pecah di Iran, Chamran kembali ke Iran. Pada 1979, ia menjabat sebagai wakil perdana menteri di kabinet Mehdi Bazargan. Dia memimpin operasi militer di Kurdistan di mana Kurdi memberontak melawan Pemerintah Sementara Iran.

Ia menjabat sebagai menteri pertahanan dari September 1979 hingga 1980, menjadi menteri pertahanan sipil pertama Republik Islam Iran.

Saat Saddam Hussein menginvasi Iran pada 1980, Chamran memimpin sebuah unit infantri, dia sempat terluka beberapa kali karena pecahan peluru mortir, pada pertempuran di Dehlavieh 21 Juni 1981, Dr. Musthafa Chamran menemui kesyahidannya di medan tempur. Semoga teladannya dapat terus menginspirasi kawan-kawan sosialis agar terus berjuang!

Sulaiman Djaya - Remy Sylado | Selvi Sulistiani & Encep Abdullah | Sastr...

 

Pembacaan puisi berjudul 'Di Kota Ini' karya penyair Sulaiman Djaya oleh Selvi Sulistiani dan musikalisasi puisi karya Remy Sylado oleh Encep Abdullah di program Sastra Malam di Udara Radio Serang Gawe FM edisi 25 Maret 2021.




Sulaiman Djaya | Sastra Malam di Udara | Rony M Khalid | Teater & Sastra...

 


Program Sastra Malam di Udara Radio Serang Gawe FM edisi 4 Maret 2021 bersama penyair Sulaiman Djaya dan pegiat teater dan guru seni Rony M Khalid yang dipandu Kang Martin.

Sastra Malam di Udara | Sulaiman Djaya & Rony M Khalid | Serang Gawe FM

 

Pembacaan puisi 'Di Kota Ini' karya Sulaiman Djaya oleh penyairnya dan puisi berjudul 'Diari' karya penyair Sulaiman Djaya oleh pegiat dan pengajar teater Rony M Khalid di acara Sastra Malam di Udara Radio Serang Gawe FM edisi 4 Maret 2021.

Arif Sodakoh & Hendra Setiawan | Serang Gawe FM | Sastra Malam di Udara ...

 

Arif Sodakoh dan Hendra Setiawan dari Teater Kafe Ide di program Sastra Malam di Udara (SAMARA) edisi 18 Maret 2021.

Sulaiman Djaya | Bila Aku Mati | Rony M Khalid

 

BILA AKU MATI 

(Puisi Sulaiman Djaya)

Sudah lama tak ada tamu di pintuku:
padahal aku telah menyalakan malam.

Bintang-bintang di langit
seperti kota-kota yang sepi

dan betapa jauh dari bumi.
Adakah di sana

kelak tempatku?
Saatku mati

dan lupa kepada puisi.
Sungguh aku

selalu rindu kematian
bila sunyi tak lagi bisa kupadamkan.

Membayangkan waktu seperti rusa-rusa
di hutan-hutan senja

yang ditinggalkan gerimis
dan matahari.

Ketika sabana dan lereng-lereng lembab
dikepung gaib cakrawala.

Tak ada hasratku untuk bertanya
di mana surga berada

apalagi memikirkan dunia mana
yang pertama ada dan terjaga.

Dan barangkali langit
akan jadi rumahku nanti.

(2015) 

Sumber: Indo Pos 2 Agustus 2015

Sulaiman Djaya | SAMARA | Rony M Khalid (2)


Program Sastra Malam di Udara Radio Serang Gawe FM bersama penyair Sulaiman Djaya dan pegiat teater dan guru seni Rony M. Khalid yang dipandu Kang Martin ngobrolin kreativitas di masa pandemi sembari membaca puisi, 4 Maret 2021. 



Sulaiman Djaya | Gambar Senja Seorang Pelukis | Pelukis Salim

 

Gambar Senja Sang Pelukis

–tentang pelukis Salim

 

Puisi Sulaiman Djaya

 

Ia gambar jalan setapak

Dengan warna merah muda

Dan langit dari jendela kaca

Khusyuk menjahit pecahan lanskap.  

 

Terkadang ia kagum

Saat membuka album lama

Memandang sejenak

Orang yang tak lagi dikenalnya.

 

Di sebuah hari yang tak rampung itu

Ada sore yang luntur

Dan seekor burung melintas

Diantara dua cerobong asap.

 

‘Ah kenangan’, gumamnya,

‘Seperti butir-butir salju yang gugur’.

Senja memang hampir kandas

Seperti sisa warna di ujung kuas.

 

Dan salju memang terus luruh

Di depan matanya yang jauh

Dan saat itu ia teringat tanah kelahiran

Bersama malam yang baru datang.

 

(2011)

 

Sumber: Mazmur Musim Sunyi (Kumpulan Sajak Sulaiman Djaya), Kubah Budaya 2013, halaman 77.


Irwan Sofwan | Sastra Malam Panggung Akhir Tahun | Serang Gawe FM

Forum Seniman Banten (FSB) dan Radio Serang Gawe FM Mempersembahkan ‘Panggung Solidaritas Kemanusiaan’ untuk para korban Tsunami Selat Sunda (Banten dan Lampung)….Catat tanggal mainnya: 27 Desember 2018 jam tiga sore sampai jam sebelas malam di panggung kecil Radio Serang Gawe FM Jln. KH. Fatah Hasan 9B, Bunderan Ciceri, Kota Serang, Banten.

Event Director Serang Gawe FM : Martin

Program Director Serang Gawe FM: Idham Gofur
Station Director Serang Gawe FM: Fajar Ramadhan.
IT dan Design Samara: Helmi 



Panggung Puisi Earhouse

 
Penyair Sulaiman Djaya membacakan puisinya di Earhouse, Pamulang, Tangerang Selatan 28 Juni 2018 dengan rileks dan santai

Jadikan Rinduku Sebagai Pisau

 
Jadikan Rinduku Sebagai Pisau


Di malam tak berjendela
Di jalanan sepi pelarian yang kalah
Di dukacita mereka yang ditinggalkan
Di kegembiraan kanak-kanak
Di kesepian mereka yang putus-asa
Jadikan rinduku sebagai pisau
Yang membunuh amarah.

Aku cinta kau
Justru ketika hidup tak dapat diukur.
Pagiku tak berbantal
Mencari dan mencari
Apa saja yang jadi puisi.

Di bawah lampu-lampu taman
Dan trotoar basah
Selepas hujan
Aku adalah para serangga
Yang kedinginan.
Aku adalah bahasa
Berkelana di dalam pikiran.

Aku tak bisa membaca wahyu
Dari para pengkhutbah agama
Yang menjelma badut
Di mimbar-mimbar
Di layar-layar televisi.

Di lontaran mesiu-mesiu perang
Di ratapan para pengungsi
Di sudut-sudut tempat
Mereka yang diasingkan
Jadikan rinduku sebagai peluru
Untuk menggempur
Kesedihanku yang ragu.

Di rambutmu, di matamu,
Di hembusan nafasmu saat tidur
Maut tak pernah bergegas
Untuk mencuri waktu
Di dalam sajakku.

(2018)

Tidak Ada Politik Islam di Indonesia



oleh Sulaiman Djaya, pemerhati budaya

Seorang teman berkata, bahwa saat ini di Indonesia tengah terjadi kebangkitan konservatisme keagamaan dan Islam Politik. Saya jawab, jika kebangkitan konservatisme yang kau maksud adalah konservatisme keagamaan sebagaimana yang saya pahami seperti Revolusi Islam Iran, itu malah bagus, dan yang kedua, soal Islam Politik, bagi saya tidak ada Politik Islam di Indonesia, yang ada di Indonesia adalah politisasi Islam seperti yang dulu dikhawatirkan Cak Nur sampai-sampai mengeluarkan kredo: Islam Yes, Partai Islam No! Karena dalam pemahaman saya, Cak Nur melihat di Indonesia itu memang yang ada dan terjadi adalah upaya dan usaha yang tak pernah berhenti untuk mempolitisasi agama demi kepentingan sekuler.

Jawaban saya kepada seorang teman itu karena bagi saya yang dimaksud Islam Politik itu yah seperti Revolusi Islam Iran 1979 yang jelas ideologi, argumen dan tujuan-nya: semangat keagamaan yang mencerahkan dengan tujuan memerdekakan manusia dari tirani dan penindasan serta ketakbebasan yang akan menghilangkan jati diri kemanusiaannya sebagai pribadi dan manusia, bukan agama yang memperbudak dan menjadi alat tirani. Sebenarnya saya kecewa juga kepada para sarjana lulusan Barat yang mengimani secara ideologis, dan lalu menulis bahwa politik Islam itu buruk. Mereka sepertinya tidak memahami bahwa politik yang diajarkan Islam itu ajaran, nilai, dan gerakan yang bertujuan mencerahkan dan memerdekakan manusia.

Para sarjana itu bagi saya ‘korban’ pabrikasi (pencetakan dan penyamaan) oleh dogmatisme akademik universitas atau perguruan tinggi yang kepentingan utamanya adalah terpenuhinya capaian yang ingin didapatkan kapitalisme: pemetaan demi tujuan strategis politik global. Istilah-istilah seperti Islamisme dan Fundamentalisme diciptakan dalam rangka ‘memudahkan’ pemetaan demi tujuan strategis yang sama. Dalam hal ini, para sarjana Barat atau para sarjana non-Barat yang lulusan perguruan tinggi atau universitas di Barat memaksudkan Islamisme sebagai komunitas atau gerakan sebagian kaum muslim yang mereka identifikasi sebagai kelompok atau kaum yang memiliki ciri-ciri apa yang mereka sebut sebagai Islam Politik. Segaris dengan ini, sebagai contoh, Revolusi Islam Iran 1979, mereka anggap sebagai Fundamentalisme dan Islamisme, yang sayangnya mereka samakan dengan Wahabisme dalam cakupan istilah dan definisi yang sama. Padahal, Islam di Iran dan Wahabisme seumpama perbedaan antara terang dan gelap.

Political Science karena didesak kebutuhan pemetaan yang demikian, pada akhirnya tak sanggup menghindarkan diri dari reduksi dan generalisasi. Yang pertama adalah praktik kekerasan memasukkan sesuatu yang tak sama dan tidak tepat bersama-sama dengan sesuatu yang lainnya, dan yang kedua melakukan penyimpulan berdasarkan kasus sebagai kebenaran universal atau kebenaran umum. Sebagai contoh, para sarjana umumnya menggunakan istilah Islam Sunni yang di dalamnya mencakup pula sekte Wahabi (yang mana Wahabi ditolak para ulama Sunni se-Dunia sebagai bagian dari mereka) dan tidak diakui sebagai bagian dari Mazhab Islam oleh ulama se-Dunia ketika mereka memetakan mazhab Islam demi membedakannya dengan Islam Syi’ah.

Barangkali saja, ketika ada sejumlah sarjana lulusan Barat menyatakan Islam Politik dan Politik Islam di Indonesia semisal kelompok yang menyuarakan gerakan khilafah itu, maka itu hanya kulit luar saja. Karena mereka yang menyuarakan pendirian khilafah itu adalah kaum dan golongan yang dibajak dan menjadi korban indoktrinasi kelompok Islam Proksi yang garis kepentingannya adalah tujuan politik global Barat (Amerika dkk) yang memiliki motif dan kepentingan menyebarkan ekstrimisme melalui elite-elite yang mereka kendalikan dan mereka bayar. Maka tak heran, ketika sejumlah elite monarkhi Saudi Arabia, misalnya, sempat menyatakan bahwa mereka menyabarkan doktrin dan ideologi Wahabi mereka ke seluruh dunia atas permintaan Barat (Amerika dkk). Maka sebut saja yang demikian sebagai Pseudo Islam Politik atau Islam Politik Gadungan (palsu).

Hal demikian terbukti dengan kasus ISIS, ketika kaum muslim ekstrim dan yang termakan isu pendirian khilafah, banyak yang menjadi begundal ISIS. Sementara elite-elite dan pemimpin ISIS itu sendiri dikendalikan dan ‘dibayar’ oleh Amerika, Israel dkk. Mereka yang kemudian menjadi para begundal ISIS itu, contohnya, adalah mereka yang menjadi korban kampanye-kampanye takfir (pengkafiran) terhadap sesama muslim, misalnya kepada Islam Syi’ah. Mereka-mereka yang termakan isu murahan (fitnah) bahwa konflik dan Perang Suriah adalah perang Sunni dan Syi’ah seperti yang dihembuskan oleh Bachtiar Nasir dkk.

Singkat kata, istilah-istilah dan definisi-definisi yang digunakan dalam diskursus dan penulisan di ranah ilmu sosial termasuk political science atau dalam sains sekalipun memang berguna demi pemetaan dan ‘penyederhanaan’, namun bukan berarti merepresentasikan kebenaran dan validitas. Malah seringkali merupakan reduksi semata, untuk tidak dikatakan ‘praktik kebohongan’ demi kepentingan politis dan strategis atas nama sains dan diskursus akademik.

Lord of the Rings: Gugurnya Boromir


oleh J.R.R. Tolkien

Aragorn bergegas mendaki bukit. Sesekali ia membungkuk ke tanah. Hobbit bisa berjalan ringan, jejak kaki mereka tak mudah dibaca, meski oleh Penjaga Hutan sekalipun, tapi tidak jauh dari puncak, sebuah mata air melintasi jalan, dan di tanah yang basah Aragorn melihat apa yang dicarinya.


"Aku sudah benar membaca tanda-tandanya," kata Aragorn pada dirinya sendiri. "Frodo lari ke puncak bukit. Apa yang dilihatnya di sana? Tapi dia kembali lewat jalan yang sama, dan menuruni bukit lagi."


Aragorn ragu. Ia ingin pergi ke takhta tinggi itu, berharap melihat sesuatu yang bisa menuntunnya dalam kebingungannya; tapi waktu sudah mendesak. Mendadak ia melompat maju dan berlari ke puncak, melintasi ubin-ubin besar dan menaiki tangga. Lalu, sambil duduk di takhta, ia memandang sekelilingnya. Tapi matahari seolah meredup, dunia tampak remang-remang dan jauh. Ia mengalihkan pandang dari Utara, lalu memandang ke Utara lagi, dan tidak melihat apa pun selain perbukitan di kejauhan. Pada jarak sejauh itu ia bisa melihat lagi seekor burung besar seperti elang tinggi di angkasa, terbang turun dengan lambat, melingkar-lingkar ke bumi.


Saat ia memandang, pendengarannya yang tajam menangkap bunyi-bunyi di hutan di bawah, di sisi barat Sungai. Ia berdiri kaku. Ada suara-suara teriakan, dan di antaranya, dengan ngeri ia mengenali suara-suara Orc. Lalu sekonyong- konyong terdengar bunyi berat terompet, lenguhannya membelah perbukitan dan bergema di lembah, naik dengan teriakan keras melebihi gemuruh air terjun. "Terompet Boromir!" teriak Aragorn. "Dia perlu bantuan!" Aragorn melompat menuruni tangga dan berlari menuruni jalan. "Aduh! Hari ini nasibku benar-benar buruk, semua yang kulakukan kacau. Di mana Sam?"


Sementara ia berlari, teriakan-teriakan itu terdengar makin keras, tapi bunyi terompet semakin lemah dan terdengar putus asa. Teriakan-teriakan Orc terdengar garang dan nyaring, dan tiba-tiba tiupan terompet berhenti. Aragorn lari menuruni lereng terakhir, tapi sebelum ia mencapai kaki bukit, bunyi-bunyi itu sudah hilang; ketika ia belok ke kiri dan berlari ke arah bunyi-bunyi itu, suara mereka makin menjauh dan akhirnya tak terdengar lagi. Sambil menghunus pedangnya yang bersinar dan berteriak Elendil! Elendil! ia menerobos pepohonan.

Kira-kira satu mil dari Parth Galen, di sebuah lembah kecil tak jauh dari telaga, ia menemukan Boromir. Boromir duduk bersandar pada sebatang pohon besar, seolah beristirahat. Tapi Aragorn melihat tubuhnya ditembus banyak sekali panah berbulu hitam; pedangnya masih di tangan, tapi sudah patah dekat pangkalnya; terompetnya tergeletak terbelah dua di sisinya. Banyak sekali Orc mati, bertumpuk di sekitarnya dan di dekat kakinya.


Aragorn berlutut di sampingnya. Boromir membuka mata dan berusaha berbicara. Akhirnya perlahan-lahan keluar kata-kata. "Aku mencoba mengambil Cincin itu dari Frodo," katanya. "Aku menyesal. Aku sudah membayarnya." ia melirik ke arah musuh-musuhnya yang sudah tewas; sekurang-kurangnya ada dua puluh Orc terbaring di sana. "Mereka sudah pergi: kedua Halfling itu; Orc- Orc membawa mereka. Kurasa mereka tidak mati. Orc-Orc mengikat mereka." Ia diam dan memejamkan mata dengan letih. Setelah beberapa saat, ia berbicara lagi.


"Selamat jalan, Aragorn! Pergilah ke Minas Tirith dan selamatkan rakyatku! Aku sudah gagal!"


"Tidak!" kata Aragorn, memegang tangan Boromir dan mengecup dahinya. "Kau sudah menang. Hanya sedikit yang memperoleh kemenangan seperti itu. Tenanglah! Minas Tirith tidak akan jatuh!"


Boromir tersenyum.

"Ke arah mana mereka pergi? Apakah Frodo bersama mereka?" kata Aragorn. Tapi Boromir tidak berbicara lagi.

"Sayang sekali!" kata Aragorn. "Demikianlah akhir hayat putra mahkota Denethor, Penguasa Menara Penjagaan! Sungguh akhir yang pahit. Sekarang Rombongan ini hancur berantakan. Akulah yang gagal. Kepercayaan Gandalf padaku sia-sia. Apa yang akan kulakukan sekarang? Boromir memintaku pergi ke Minas Tirith, dan hatiku pun menginginkannya; tapi di mana Cincin dan Penyandangnya? Bagaimana aku akan menemukan mereka dan menyelamatkan Pencarian ini dari malapetaka?"

la berlutut sebentar, merunduk sambil menangis, masih menggenggam tangan Boromir. Begitulah Legolas dan Gimli menemukannya. Mereka datang dan lereng barat bukit, diam-diam, merangkak di antara pepohonan, seolah sedang berburu. Gimli memegang kapaknya, dan Legolas memegang pisau panjangnya: semua anak panahnya habis terpakai. Ketika masuk ke lembah, mereka berhenti dengan kaget; lalu mereka berdiri sejenak dengan kepala tertunduk karena duka, sebab jelas sudah apa yang telah terjadi.


"Sayang!" kata Legolas, sambil mendekati Aragorn. "Kami memburu dan membunuh banyak Orc di hutan, tapi sebenarnya kami akan lebih bermanfaat di sini. Kami datang ketika mendengar bunyi terompet tapi rupanya terlambat. Aku khawatir kau terluka parah."


"Boromir tewas," kata Aragorn. "Aku tidak terluka, karena aku tidak berada di sini bersamanya. Dia jatuh ketika membela para hobbit, sementara aku berada jauh di atas bukit."


"Para hobbit!" seru Gimli. "Di mana mereka, kalau begitu? Di mana Frodo?"

"Aku tidak tahu," jawab Aragorn lelah. "Sebelum mati, Boromir mengatakan padaku bahwa para Orc mengikat mereka; menurutnya mereka tidak dibunuh. Aku menyuruhnya mengikuti Merry dan Pippin, tapi aku tidak bertanya apakah Frodo dan Sam bersamanya; akhirnya sudah terlambat. Semua yang kulakukan hari ini gagal. Apa yang harus dilakukan sekarang?"


"Pertama-tama, kita. harus mengurus yang sudah tewas," kata Legolas. "Kita tak bisa meninggalkannya di sini, berbaring seperti bangkai di antara Orc-Orc menjijikkan ini."

"Tapi kita harus cepat," kata Gimli. "Dia tidak akan mau kita berlama-lama di sini. Kita harus mengikuti Orc-Orc itu, siapa tahu masih ada harapan, bahwa anggota Rombongan kita ditawan hidup-hidup."


"Tapi kita tidak tahu, apakah Penyandang Cincin ada bersama mereka atau tidak," kata Aragorn. "Apakah kita akan meninggalkannya? Tidakkah kita harus mencarinya dulu? Pilihan sulit ada di depan kita!"


"Kalau begitu, kita bereskan dulu urusan yang lebih penting," kata Legolas. "Kita tak punya waktu atau alat untuk menguburkan kawan kita dengan pantas, atau membuat gundukan tanah di atasnya. Mungkin kita bisa membuat tumpukan batu."


"Pekerjaannya akan lama dan keras: tak ada batu yang bisa kita gunakan, selain yang ada di tepi sungai," kata Gimli.


"Kalau begitu, sebaiknya kita masukkan dia ke dalam perahu, bersama senjatanya dan senjata musuh-musuhnya yang tewas," kata Aragorn. "Kita akan mengirimnya ke Air Terjun Rauros dan menyerahkannya kepada Anduin. Setidaknya Sungai Gondor akan menjaga agar tidak ada makhluk jahat yang mencemarkan tulang-belulangnya."


Dengan cepat mereka menggeledah tubuh Orc-Orc, mengumpulkan pedang- pedang, topi baja pecah, serta perisai menjadi satu tumpukan.


"Lihat!" seru Aragorn. "Ada yang meninggalkan tanda-tanda!"