Oleh Ali Syari’ati
“Tiga tahun sebelum saya bertemu dengan Nabi
Allah, saya menyembah Allah.”
“Ke arah mana engkau
menghadap?”
“Ke arah di mana Dia
menyadarkan saya akan Diri-Nya.” Tiga tahun kemudian ia mendengar bahwa seorang
laki-laki telah muncul di Makkah, yang mencela agama penduduk, yang menamakan
barang-barang suci dari penduduk itu “palsu”; yang menamakan segala berhala
besar di Ka’bah “batu-batu bisu dan bebal”; yang telah menempatkan Allah Yang
Esa mengatasi segala yang dipertaruhkan.
Para musafir dan pelancong
suku Ghifar menerima kabar ini seakan-akan suatu tragedi bagi agama dan etika
Arab. Mereka berbicara tentang dia dengan kata-kata yang dipenuhi ejekan dan
rasa tidak senang. Tetapi, Jundab, di tengah-tengah mereka, mendapatkan kembali
dirinya yang telah hilang. Ia tahu bahwa apa pun yang dikutuk, dikatakan oleh
para pemuja fosil ―yang telah menempelkan kecemaran syirik dan
takhayul-takhayul jahil kepada Ibrahim, si penghancur berhala― yang ditafsirkan
sebagai penyebab perpecahan dalam masyarakat, kelesuan kepercayaan,
penyelewengan pikiran para pemuda, kelancangan rakyat jelata, goncangan
terhadap basis moralitas dan keimanan, penyebab dari pesimisme dan keterpisahan
antara seorang remaja putra dan putri dengan ibu dan ayahnya, sebab dari ejekan
terhadap bangsawan, para muliawan dan tokoh-tokoh keagamaan, lenyapnya
penghormatan terhadap para leluhur, keotentikan mitos-mitos dan adat istiadat
lama dari nenek moyang dan datuk kakek dan... semuanya adalah isyarat-isyarat
yang jelas akan suatu revolusi penyelamatan dan tanda-tanda yang kukuh akan
kebenaran Ilahi.
Dan Jundab ―yang berasal
dan kalangan jiwa-jiwa revolusioner yang bergelora, yang tidak menjadi kaku
membatu dalam adonan sempit tradisi-tradisi sosial dan keturunan, tidak
ketinggalan dari gerakan, kreatifitas, kemampuan untuk berubah, transformasi
dan kemampuan untuk memilih― merasakan bahwa ada sesuatu di udara; inilah
tepatnya apa yang dicari-cari oleh rohaninya yang tidak terpelajar dan oleh
pikirannya yang telah bebas dalam kesunyian gurun pasir, dalam kesepian
batinnya.
Ia tidak diam mendengar
‘berita’ ini. Tanggung jawab mewajibkan dia mulai mencari, dan bukan untuk
mendasarkan keyakinan dan penilaiannya atas desas-desus, propaganda,
kebohongan, fitnah-fitnah dan pemalsuan yang beruntun, yang dibangun oleh kaum
elite yang hanya mementingkan diri sendiri dan disiarkan oleh penduduk yang
telah merosot; ia sendiri harus bangkit dan menyelidik, karena penilaian
seseorang adalah tanda yang paling dapat dimengerti dari kepribadiannya. Barangsiapa
memberi penilaian terhadap seseorang, sesuatu pikiran, sesuatu tindakan,
sesuatu gerakan dan terhadap setiap realitas, mendasarkannya pada apa yang
telah dikatakan orang ― dan sumber dari semua pemikiran dan penilaian mereka
ialah ‘Si Anu dan Fulan mengatakan...’ ― sebelum mereka secara jahil dan tidak
adil mengutuk sesuatu kebenaran, mereka adalah orang-orang tertindas yang telah
mengutuk dirinya sendiri ke dalam jeratan perbudakan intelektual dari
kekuatan-kekuatan zamannya, para majikan pembuat takhayul dan sarana propaganda
mereka yang nyata dan tersembunyi ― mereka telah menunjukkan dirinya sebagai
para pembuat desas-desus, fitnah dan kebohongan-kebohongan, yang impoten, yang
telah diberikan tugas khusus oleh musuh, struktur-struktur munafik; si
penghasut menyebarkan dan rakyat menerima!
Namun, putra Junadah
mengutus saudara lelakinya, Anis, ke Makkah, untuk melihat dari dekat si pria ―
yang dikutuk sebagai pembohong, gila, penyihir, penyair dan kafir, yang kata
mereka telah datang untuk mencemarkan kehormatan rumah Tuhan, mengubah kesatuan
masyarakat menjadi pembentrokan dan perpecahan, serta solidaritas keluarga
menjadi perselisihan dan permusuhan ― memperhatikan kata-katanya, menangkap
pesannya dan memberikan laporan kepadanya.
Anis datang ke Makkah. Ia
tidak menemukan laki-laki itu. Tiada seorang pun menunjukkan kepadanya, orang
asing yang tidak bernama, dan tidak bertempat ini. Dengan putus asa ia mencari
di seluruh kota. Ia tidak mendengar sesuatu selain caci maki, ejekan, sikap
tidak suka dan kebencian, terhadap laki-laki ini. Setiap tempat ― masjid, pasar
― dan orang, terutama “orang-orang yang terhormat”, “tokoh-tokoh ternama”,
“gembong-gembong keagamaan dan dunia”, dan juga, pada khususnya “para pemuja
yang beriman dan orang-orang yang berprasangka religius”, “orang-orang yang
percaya akan tradisi-tradisi Ibrahim dan rumah Ibrahim!” mengulangi kata-kata
dan desas desus yang senada tentang dia, yang mencapai tingkat jalinan yang
beruntun:
“Ia gila, ia ahli sihir.
Godaan kata-katanya bukanlah gaya tarik dari wahyu; itu sihir, itu bukan
keindahan dari kebenaran, itu syair; ia tidak menerima kata-katanya dari
Jibril; kata-katanya bukan pula kata-katanya sendiri; seorang ulama asing
mengatakan apa yang harus dikatakannya, ia mendapatkannya dari seorang rahib
Kristen, seorang cendekiawan Iran; ia adalah malapetaka yang menimpa umat
Ibrahim; ia memorak-porandakan kehormatan masjid, kesucian Rumah Tuhan, tradisi
ziarah ke Ka’bah, pemuja dewa-etika, penghormatan atas keluarga, serta semua
kehormatan dan nilai-nilai dari nenek moyang kita.”
Tiba-tiba, serentak, di
salah satu dari lorong-lorong sempit Makkah, ia melihat sekumpulan besar orang
sedang berkerumun di suatu sudut. Ia ke sana: seorang pria sendirian, berwajah
cerah, dengan pandangan yang membangunkan kedalaman jiwanya, alis yang terbuka
dan tenang, sosok tubuh yang berukuran sedang, bentuk agresif, dan dalam pada
itu, keramahan dan kasih sayang yang memberi inspirasi; dengan suara jantan,
tegas dan pasti, dan, pada saat yang sama, manis dan penuh kehalusan; dengan
kata-kata yang mendalam, nada yang menyedapkan dan lebih indah dari seni syair,
penuh takwa dan harapan. Anis berdiri di hadapannya. Ia tidak tahu: apakah akan
mendengarkan kata-katanya, memberikan hatinya kepada karismanya, atau sekadar
memperhatikan segala keindahan dan keramahan posturnya, pandangannya,
perilakunya atau kata-katanya?
Ia masih dalam kebingungan
melihat pria ini, ketika sekelompok laki-laki membuat huru-hara. Tanpa
memperhatikan kata-katanya dan mendengarkan jawabannya, mereka menciptakan
banjir caci maki dan fitnah yang diulang-ulang, yang telah dipersiapkan
sebelumnya, ke arah kepala dan wajahnya; dan, kejahilan dari orang-orang tidak
berprasangka yang tidak mempunyai apa-apa sehingga tidak akan kehilangan apa-apa
dalam “penerangan risalah” itu; dan “revolusi dari misi itu”, yang mereka
sendiri terkutuk oleh sistem kekuasaan dan pengorbanan-pengorbanan dari status
quo itu, telah membuat mereka menjadi boneka-boneka dari tirani dan
terperangkap oleh penjara-penjara mereka sendiri, massa rakyat, dengan
kegairahan yang jelek dan pembiusan, memekikkan apa yang telah dimasukkan oleh
orang-orang yang berperasangka ke dalam mulut mereka.
Mereka mendorong “rasul
yang sendirian” itu dengan kemarahan atau keberangan, atau mereka menarik diri
darinya dengan caci maki dan ejekan, dan meninggalkannya sendirian. Karena ia
memiliki ketabahan dan ketenangan surgawi serta neraca kesabaran, dan kekukuhan
bak gunung ― karena ia telah turun dari Hira’ dan telah membawa risalah ilahi ―
maka pukulan kemarahan dan gelapnya kejahilan tidak mempengaruhi, tidak
meninggalkan garis kemarahan pada wajahnya yang berlimpah-limpah dengan
keramahan dan kasih sayang. Ia bergegas ke suatu tempat lain dan, di tengah
suatu kelompok lain, kata-katanya mulai lagi, sekali lagi, setelah orang
menutup kuping dan otak, caci maki dan tuduhan fitnahan dan ejekan, lagi ia ke
tempat-tempat lain, dan sekali lagi, memulai kata-katanya!
Ia berkelana di sepanjang
wilayah kota itu, di jalan dan pasar, tempat berkumpul dan masjid; ia pergi ke
mana-mana mencari manusia. Ia berdiri di sepanjang jalan orang, dan tanpa
memikirkan jawaban-jawaban memberi ketakutan kepada mereka, memberikan kabar
gembira kepada mereka, memperingatkan mereka akan suatu bahaya, menunjukkan kepada
mereka jalan keselamatan, karena ia mengemban suatu pesan, karena ia mengemban
suatu misi, bahwa Allah ‘Sahabat orang-orang terhormat’ dan ‘Musuh orang-orang
yang sombong’, telah berseru kepadanya, “Hai orang yang berselimut! Bangunlah,
dan berilah peringatan!”[6]. Peringatkanlah orang-orang yang terlena
dalam ketenangan jahiliah dan keamanan tirani, yang membuat srigala menjadi
gembala pengusap kemiskinan dan kehinaan! Wahai, gembala yang ditunjuk!
Bebaskan biri-biri itu dari gurun pasir Qarar, karena di kota Tuhan, manusia
menjadi gembala! Tuhannya Ibrahim membuat seluruh malaikat bersujud ke bumi di
hadapan kaki Adam, dan sekarang, di rumah Ibrahim, anak-anak Adam dibuat
bersujud di muka bumi, di hadapan kaki fosil-fosil Iblis pelindung suku dan
golongan.
Walaupun adanya badai
fitnah, persekongkolan, ancaman dan ejekan yang ditimbulkan oleh para
aristokrat nista serta sekutu-sekutu bebal untuk membungkamkannya, membuatnya
diam, ia tetap bicara, ‘Tuhan kaum mustadh’afin, kaum tertindas, telah
mengatakan, “Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas
di bumi dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka para
pewaris.” [7]
Anis melihat kepada pria
ini, mengikuti dia, mendengarkan kata-katanya dan memikirkan tentang kehidupannya,
kehidupan yang membingungkan dan menakjubkan, namun keajaiban-keajaiban dari
wujud pria itu sendiri, daya tarik dari kehadirannya, karisma perilaku dan
keindahannya begitu memukau dan menawan dia, sehingga ia lebih menjadi penonton
pria ini ketimbang sebagai pendengar.
Segala keramahan dalam
segala kesulitan ini, segala keindahan dalam segala kekukuhan ini, segala
ketegasan dalam segala kecemasan ini; segala pengabdian dalam segala
pemberontakan ini, segala ketekunan dalam segala kepedihan ini, segala kekuatan
dari segala kelemahan ini, segala yang memalukan dalam segala keberanian ini,
segala ketenangan dalam segala keresahan ini, segala kesabaran dalam segala
ketidaksabaran ini, segala kerendahan dalam segala yang mencengangkan ini,
segala-gala dari cinta, ilham, dan emosi, keindahan dan kejutan perasaan dan
hati dalam segala kebijakan, logika, kewaspadaan, kesungguhan, kepahlawanan dan
kecerdasan, dan akhirnya, dengan segala ‘yang samawi’ dan segala yang ‘nampak
sebagai duniawi’; segala peribadatan kepada Tuhan ini, dan apa yang dapat saya
katakan? Segala sikap agresif dan kepastian dan segala ini... dan ia sendirian.
Keajaiban seorang pria
ini, melemparkan hingar bingar dan jeritan ke dalam diri Anis. Sehingga ia
tidak mendengarkan kata-katanya dan keajaiban nada suaranya menyebabkan rasa
takjub muncul dalam dirinya ― karena ia sedang mendengarkan Kata-Kata Tuhan
untuk pertama kalinya ―sehingga ia tidak mampu memahami artinya; Anis ― saudara
Jundab ― adalah seorang badui muda, ‘tidak mengetahui’ apa yang yang dikatakan
pria itu, namun melalui nalurinya yang kuat, melalui watak fitriah yang jelas
dari ‘rohani badui’, ‘pribadi fitriah’ di mana ‘logika’ belum pernah
menggantikan ‘kesadaran’, ia mendapatkan bahwa pria itu adalah suatu ‘event’.
Ia menyadari, melalui indera perasaannya, bahwa kata-kata ini datang dari suatu
dunia lain, ia tidak memahami kebenaran itu, ia tidak mengerti arti dari
kata-kata itu, ia tidak sampai mengenal pria itu, namun ia mencium wanginya
wahyu, merasakan selera kebenaran dan merasakan kehangatan iman yang tak
terlukiskan.
Dan Abu Dzar, resah di
gurun pasir, dengan cemas menanti di jalan ke Arab Makkah.
“Anis, saudaraku, apakah
engkau melihatnya? Adakah engkau mendengarkan kata-katanya? Apa yang
dikatakannya? Siapakah ia?”
“Ia seorang laki-laki yang
sendirian. Sukunya menyusahkan dia, dan menunjukkan permusuhan, tetapi ia sabar
dan ramah; apabila suatu kerumunan manusia menolak dia atau meninggalkan dia
dengan caci maki dan ejekan, ia berpindah ke kelompok lain dan mulai bicara
lagi.”
“Katakan kepada saya,
Anis! Katakan apa yang dikatakannya! Untuk apa dia mengajak manusia?”
“Saya bersumpah demi
Tuhan, betapa pun saya berusaha untuk memahami apa yang dikatakannya, saya
tidak mengerti, tetap kata-katanya bagaikan penawar yang sangat lezat dan lari
masuk menembus jiwa saya!”
Abu Dzar, dalam mencari
pesan itu, tidak mempunyai rasa ingin tahu sebagai seorang ilmuwan atau untuk
hiburan intelektual. Ia gelisah dan haus, dan Anis bahkan tidak membawa setetes
air pun baginya dari sumber. Ia bergegas bangkit, dan tanpa duduk sejenak untuk
merenungkan mengapa dan untuk apa perjalanan itu serta akibatnya, ia menempuh
perjalanan panjang dari tanah suku Ghifar ke Makkah. Sepanjang jalan, musafir
itu, perjalanan itu, jalan dari perjalanan itu, dan tujuan yang terakhir,
semuanya adalah ‘ia’.
Ia pergi dan iman pun
datang. Ya, keimanan datang padanya. Lalu ia sampai di Makkah. Seorang
laki-laki dari suku Ghifar di tengah-tengah para pemimpin kafilah Quraisy, dan
para kapitalis! Ia mencari seorang laki-laki, yang menyebutkan namanya saja
sudah merupakan kejahatan di kota ini. Ia mencari sepanjang hari di lorong-lorong
kota Makkah, pasar dan Masjid al-Haram. Ia tidak mendapatkan apa pun. Ia pergi
tidur di Masjid al-Haram, sendirian dan kelaparan, ketika Ali, yang setiap
malam, sebelum pulang ke rumah, datang ke masjid itu dan melakukan tawaf ―
sesuai dengan tradisi Ibrahim ― dan kemudian ke rumah, melihat Abu Dzar sedang
sendirian, tertidur di atas debu.
“Anda nampaknya seperti orang asing!”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar