Oleh Katon
Baskoro
Baudrillard
menyatakan bahwa dalam masyarakat kapitalisme lanjut (late Capitalism)
dewasa ini, nilai guna dan nilai tukar telah dikalahkan oleh sebuah nilai baru,
yakni nilai tanda dan nilai simbol. Nilai tanda dan nilai simbol, yang lahir bersamaan dengan semakin
meningkatnya taraf ekonomi masyarakat Barat, yang lebih memandang makna simbolik
sebuah objek ketimbang manfaat atau harganya.
Fenomena kelahiran
nilai-tanda dan nilai simbol ini mendorong Baudrillard untuk menyatakan bahwa
analisa komoditi Marx sudah tidak dapat dipakai untuk memandang masyarakat Barat
dewasa ini. Hal ini karena dalam masyarakat kapitalisme-lanjut Barat, perhatian
utama lebih ditijukan kepada simbol, citra sistem tanda dan bukan lagi pada manfaat dan
harga komoditi.
Menurut Daniel
Bell bahwa postmodern sebagai tendensi puncak perlawanan terhadap modernism,
dengan hasrat, insting, kegairahan untuk membawa logika modernism sampai titik
terjauh yang mungkin tercapai. Nilai tanda dan nilai simbol dimaksud sebuah nilai prestise yang
terdapat dari barang atau produk yang dibeli atau dikonsumsi masyarakat,
sehingga nilai kegunaan
dan fungsi barang mulai memudar.
Hempel
menggambarkan perilaku konsumtif sebagai adanya ketegangan antara kebutuhan dan
keinginan manusia. Sedangkan menurut Sumartono mengatakan bahwa perilaku
konsumtif merupakan suatu tindakan menggunakan suatu produk secara tidak tuntas.
Artinya belum habis suatu produk dipakai, seseorang telah menggunakan produk
yang sama dari merek lain atau membeli barang karena adanya hadiah yang
ditawarkan atau membeli suatu produk karena banyak orang yang menggunakan
produk tersebut.
Yayasan
Lembaga Konsumen Indonesia mengatakan perilaku konsumtif adalah kecenderungan
manusia untuk menggunakan konsumsi tanpa batas dan manusia lebih mementingkan
faktor keinginan
daripada kebutuhan. Demikian pula dengan apa yang dikatakan oleh Asry, ia
mengatakan bahwa budaya konsumtif menjelaskan mengenai keinginan untuk
mengkonsumsi barang-barang yang sebenarnya kurang diperlukan secara berlebihan
untuk mencapai kepuasan yang maksimal. Budaya Konsumtif juga biasanya digunakan untuk
menunjukan perilaku konsumen yang memanfaatkan nilai uang lebih besar dari
nilai produksinya untuk barang dan jasa yang bukan menjadi kebutuhan pokok.
Berdasarkan
dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa perilaku
konsumtif merupakan perilaku yang menunjukkan adanya pertimbangan dan ketegangan
antara kebutuhan dan keinginan untuk mengkonsumsi dan membeli barang atau
dapat dikatakan pula perilaku konsumtif memberikan pelayanan serta jalan
keluar untuk menuruti hasrat kesenangan semata demi mencapai kepuasan yang maksimal
dalam mengkonsumsi produk tertentu.
Pada saat ini
ketegangan yang mempertimbangkan antara kebutuhan dan keinginan mulai memudar.
Sehingga individu dalam memenuhi kebuutuhannya tidak melalui pertimbangan
barang mana yang terlebih dahulu untuk dikonsumsi, tanpa adanya pemikiran untuk
mendahulukan kepentingan daripada keinginan, dalam hal ini individu sudah tidak
lagi berpikir rasional karena individu lebih mendahulukan hasrat atau emosi
daripada pemikiran rasional yang mengedepankan pemikiran dengan penuh
pertimbangan untuk mencapai tujuan tertentu. Namun, tentu saja kondisi tersebut
sesungguhnya tidak berjalan dengan sendirinya, terdapat beberapa pengaruh yang
dapat mendukung perilaku tersebut. Pada individu yang mengalami kekurangan
ekonomi sesungguhnya memiliki keterbatasan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya
terlebih untuk berperilaku konsumtif, namun bila keadaan tersebut mendukung dan
masuk ke dalam beberapa faktor untuk berperilaku konsumtif, tidak menutupi
kemungkinan hal tersebut bisa terjadi.
Perilaku
konsumtif bukan berupa perilaku yang yang secara alami timbul dalam diri
manusia, terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi manusia untuk berperilaku
konsumtif. Engel, Blackwell dan Miniard mengatakan bahwa terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi perilaku tersebut,
yang adalah:
[1] Kebudayaan
Budaya dapat
didefinisikan sebagai hasil kreativitas manusia dari satu generasi ke generasi
berikutnya yang sangat menentukan bentuk perilaku dalam kehidupannya sebagai
anggota masyarakat. Kebhinekaan kebudayaan akan membentuk pasar dan perilaku
yang berbeda-beda.
[2] Kelas
Sosial
Kelas sosial mempengaruhi perilaku konsumen dalam
cara seseorang menghabiskan waktu mereka, produk yang dibeli dan berbelanja.
Pernyataan ini diperkuat oleh Swastha dan Handoko yang mengatakan bahwa interaksi
seseorang dalam kelas sosial tertentu akan berpengaruh langsung pada pendapat
dan selera orang tersebut, sehingga akan mempengaruhi produk atau merk barang.
[3]
Kelompok Referensi
Kelompok
referensi merupakan sekelompok orang yang sangat mempengaruhi perilaku individu. Seseorang
akan melihat kelompok referensinya dalam menentukan produk yang dikonsumsinya.
[4]
Situasi
Faktor situasi
seperti lingkunagn fisik, lingkungan sosial, waktu, suasana hati dan kondisi
seseorang sangat mempengaruhi perilaku membeli seseorang.
[5]
Keluarga
Keluarga
mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam menentukan sikap dan perilaku
anggotanya, termasuk dalam pembentukan keyakinan dan berfungsi langsung dalam
menetapkan keputusan konsumen dalam membeli dan menggunakan barang dan jasa.
[6]
Kepribadian
Kepribadian
didefiniskan sebagai suatu bentuk dari sifat-sifat yang terdapat dalam diri
individu yang sangat mempengaruhi perilakunya. Perilaku sangat berpengaruh
dalam mengambil keputusan untuk membeli suatu produk.
[7]
Konsep Diri
Konsep diri
dapat memepengaruhi persepsi dan perilaku membeli seseorang. Terdapat beberapa tipe
konsumen dalam memenuhi konsep diri yaitu konsumen yang berusaha memenuhi
konsep diri yang disadari, konsumen yang berusaha memenuhi konsep diri idealnya dan
konsumen yang memenuhi konsep diri menurut orang lain sehingga akan
mempengaruhi perilaku membelinya.
[8]
Motivasi
Motivasi
merupakan pendorong perilaku seseorang, tidak terkecuali dalam melakukan
pembelian atau penggunaan jasa yang tersedia di pasar.
[9]
Pengalaman Belajar
Pengalaman
belajar seseorang akan menentukan tindakan dan pengambilan keputusan membeli.
Konsumen mengamati dan mempelajari stimulus yang berupa informasi-informasi
yang diperolehnya. Informasi tersebut dapat berasal dari pihak lain atau pun
diri sendiri. Hasil dari proses belajar tersebut dipakai konsumen
sebagai referensi untuk membuat keputusan dalam pembelian.
[10]
Gaya Hidup
Gaya hidup
merupakan suatu konsep yang paling umum dalam memahami perilaku konsumen. Gaya
hidup merupakan suatu pola rutinitas kehidupan dan aktivitas seseorang dalam
menghabiskan waktu dan uang. Gaya hidup menggambarkan aktivitas seseorang,
ketertarikan dan pendapat seseorang terhadap suatu hal.
Beberapa pengaruh atau
faktor yang
menimbulkan manusia untuk berperilaku konsumtif dikatakan sebagai penyebab berupa
faktor-faktor di
atas yang pada akhirnya akan menimbulkan respon berupa perilaku manusia. Secara
keseluruhan bila disimpulkan dari semua pengaruh tersebut timbul dari pengaruh
lingkungan dan dari diri individu sendiri.
Pustaka
Mike Featherstone. Budaya Konsumen, kekuatan
Simboles dan Universalisme, dalam Hans-Dieter evers (ed). Teori Masyarakat:
Proses Peradaban dalam Sistem Dunia Modern. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia;
1988: 202.
L. Hempel. Environment Governance: The Global
Challenge. Washington D.C: Islan Press. 1996.
Sumartono. Terperangkap dalam Iklan. Bandung:
Alfabeta. 2002.
M. Arsy. Kebutuhan dan Gaya Hidup Konsumtif.
Sriwijaya Post. 2006.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar