Label

Abu Dzar Bersama Nabi Saw –Bagian Terakhir


Oleh Ali Syari’ati

Ali lalu membawa Abu Dzar ke rumahnya. Tanpa saling berbicara, Abu Dzar tidur di sana. Gagasan apa yang direncanakan takdir?! Rumah ini, ini rumah Nabi, karena Ali, pada masa itu, adalah seorang laki-laki yang masih muda usia, yang tinggal di rumah Nabi. Peristiwa-peristiwa permulaan dalam perjalanan ini, yang menentukan nasib Abu Dzar dan dia, untuk pertama kalinya, datang dari gurun kepada Islam, inilah: orang pertama yang berbicara dengan dia di Makkah ialah Ali; rumah yang pertama di mana ia tidur ialah rumah Muhammad; orang pertama yang membawa dia dari keterasingan dan keterpencilan di kota itu ke rumah Muhammad, adalah Ali. Dan pertemuan-perteman serta peristiwa-peristiwa pertama ini yang memberikan bentuk kepada seluruh kehidupan Abu Dzar dan tinggal tetap bersama wujudnya sampai pada ajalnya.

Besok paginya, dalam mencari Muhammad, ia meninggalkan rumah Muhammad. Hari itu, tanpa hasil. Pada malam hari, sekali lagi, Ali yang datang untuk bertawaf, membawanya ke rumah, dan lagi, pagi berikutnya dan malam berikutnya, dan sekali ini ― pada malam ketiga ― Ali menambahkan sepatah kata kepada pertanyaan pendek yang diulang-ulang pada setiap malam, Apakah belum tiba saatnya bagi Anda untuk memberikan nama Anda dan mengatakan mengapa Anda datang ke kota ini?”

Abu Dzar, dengan hati-hati, mengatakan rahasianya kepada Ali, “Saya mendengar bahwa di kota ini telah muncul seseorang dan...”

Seberkas senyum, dari rasa gairah dan bahagia, memancar dari wajah Ali yang muda. Dalam nada yang penuh keramahan dan keakraban, ia berbicara kepadanya tentang Muhammad. Ia mengatur pertemuan bersamanya, “Malam ini saya akan membawa Anda ke tempat persembunyiannya. Saya berjalan lebih dahulu. Anda mengikuti dari jauh. Apabila saya melihat mata-mata, saya akan ke dinding dan membungkuk ke sepatu saya seakan-akan hendak mengikatnya. Anda berjalanlah meneruskan perjalanan Anda. Apabila bahaya telah berlalu, saya akan menyusul Anda.”

Inilah hari-hari Nabi yang sulit. Kota itu sepenuhnya merupakan ancaman dan bahaya. Musuh, satu front, dan para sahabat ― hanya tiga orang! Dan pada malam ini, Islam akan mendapatkan Muslim yang keempat.

Muhammad saw berada di rumah Arqam bin Abi Arqam di bukit Safa, beberapa langkah dari Masa’. Dalam kegelapan malam yang menakutkan, remaja putra Abi Thalib di depan dan putra Junadah Ghifari di belakangnya, mereka mendaki Safa, menuju Muhammad. Malam ini tampaknya seperti suatu pemandangan yang indah meliputi takdir mereka, suatu nasib yang segera akan dimulai. Selangkah demi selangkah, ia tumbuh makin akrab, dan pembakaran, nafas demi nafas, makin resah; iman dan keyakinan telah menaklukkannya. Ia tidak akan pergi sebelum melihat si pria yang mengaku Nabi itu, mengenalinya dan menguji dia. Ia mengemban janji untuk melihat kecintaan hatinya dan hasrat imannya. Sekarang ia hanya beberapa langkah dari rumah Arqam. Betapa sulit saat-saat ini! Menanggung saat-saat pertama dari kunjungan ini terasa seram. Cinta telah menawan Jundab. Putra Junadah telah dipenuhi dengan ‘dia’. Lebih banyak Muhammad berada dalam dirinya ketimbang dirinya sendiri. Putra Junadah bagai tertinggal di kejauhan dan terlupa dari ingatan pikiran Jundab. Hatinya telah terpaut pada bidang magnet yang bertenaga tinggi. Setiap detik, aroma yang akrab menghidupkan indera penciumannya, dan tepat pada detik ini, ia merasakan gaya tarik eksistensi Muhammad dengan seluruh wujudnya. Kehadirannya memenuhi area di sekitar Safa. Jundab tahu siapa Muhammad itu. Ia tahu apa yang dikatakannya... namun seperti apakah dia! Wajahnya? Bentuknya? Caranya berbicara? Kehidupannya? Apakah yang dapat dikatakannya kepadanya? Akan ada apa? Apa yang akan terjadi?

“Salam ‘alaik.” “Alaika salam wa rahmatullah.”

Dan, inilah salam yang pertama yang dilakukan dalam Islam. Kita tidak tahu berapa lamanya kunjungan ini. Sekalipun umpamanya sejarah telah mengatakan kepada kita, kita pun tidak juga akan tahu, karena pada detik-detik ini, waktu tidak berarti. Yang kita ketahui ialah bahwa putra Junadah masuk ke dalam rumah Arqam dan hilang di sana. Tiada seorang pun yang tahu ke mana ia pergi. Ia tidak pernah meninggalkan rumah Arqam. Jundab bin Junadah pergi, dan tiba-tiba, di samping Ka’bah, di puncak Safa, dari tempat persembunyian wahyu, cakrawala pagi Islam, bangkit suatu wajah, bersuluh fajar, berhenti sejenak. Dengan dua biji mata yang dipenuhi nyala api padang pasir, ia bergegas berpaling ke atas tembok yang membukit di lembah Makkah, dan melihat ke arah berhala-berhala di Ka’bah.

Patung-patung tolol itu seluruhnya telah menjamin pencarian syaitani akan keekslusifan dari ‘pemuja-pengukir’ mereka. Inilah saat pertama Abu Dzar melihat seperti itu, dan dengan rasa takjub dan marah, bertanya kepada dirinya, “Apakah yang sedang dilakukan oleh tiga ratus sekian berhala syirik di rumah tauhid Ibrahim?”

Ia bergegas turun dari Safa, seorang musafir, sendirian, terbakar dan penuh tekad. Nampak seakan-akan ia adalah Muhammad yang terbakar malam itu, bangkit dari api wahyu yang pertama meninggalkan gua itu, turun dari Hira; atau, ia laksana sebongkah batu yang digilas oleh gempa bumi, dari sebuah bukit, jatuh ke lembah Makkah yang dalam, ke atas kepala-kepala syirik, kemunafikan, dan kehinaan.

Islam masih tersembunyi di rumah Arqam. Rumah ini merupakan seluruh dunia Islam dan Ummah, yang dengan datangnya Abu Dzar, menjadi empat orang. Suasana taqiyyah [8] menguasai perjuangan itu. Ia telah diminta meninggalkan Makkah, tanpa ragu- ragu, untuk kembali ke Ghifar dan menunggu perintah. Tetapi dada bertulang dari putra gurun ini lebih lemah dari kemampuan menyembunyikan api itu dalam dirinya. Abu Dzar ― yang bertubuh tinggi semampai itu, adalah menara dari rumah suci keimanannya, yang tidak lain dari corong suara pekikan, dan bentuknya dengan hatinya yang bernyala-nyala dan dalam penyerahan kepada gurun pasir luas, nampak seakan-akan penuh pemberontakan, tiba-tiba mengental dan menjadi Abu Dzar ― tidak mampu bertaqiyyah; ia adalah pemberontakan itu sendiri ― situasi semacam itu menuntut kemampuan dan ia tidak mampu. “Allah tidak membebani seseorang, melainkan sesuai dengan kemampuannya.” [9]

Di depan Ka’bah, di hadapan berhala-berhala yang mengerikan, di samping Dar Al-Najua (Nadwa), senat Quraisy, ia bediri dan meneriakkan pekikan tauhid, ia menyerukan kepercayaannya akan misi Muhammad; ia menamakan berhala-berhala itu ‘batu-batu bisu yang telah mereka ukir sendiri’. Dan ini seruan pertama yang telah dibawa Islam; untuk pertama kalinya, seorang Muslim memberontak terhadap syirik. Jawaban dari syirik sudah jelas, maut! Kematian yang akan menjadi pelajaran syirik sudah jelas, maut! Kematian yang akan menjadi pelajaran bagi yang lain-lainnya. Tenggorokan pertama dari pekikan ini harus digorok sampai putus. Tanpa ragu-ragu, mereka menyerbunya, memukul kepalanya, mukanya, dadanya dan pinggangnya, sampai mereka memutuskan pekikan-pekikannya yang ‘seperti kafir’ ini.

Abbas tiba. Paman Nabi itu, yang pada waktu itu adalah pengumpul bunga uang dan segolongan dengan para aristokrat Quraisy serta kapitalis musyrikin, menakuti mereka dengan mengatakan, “orang ini dari Ghifar. Apabila kamu membunuh dia, maka pedang-pedang Ghifar akan menuntut balasnya terhadap kafilah dagangmu!” Mereka harus membuat keputusan antara agamanya atau dunianya, tuhan atau barang? Kiblat cinta atau kafilah uang. Yang mana? 

Mereka mundur tanpa ragu-ragu. Abu Dzar, seperti suatu patung, tercemar darah dan patuh, di tengah lingkaran suatu gerombolan ketakutan yang hanya melihat kepada tawanannya; dengan kesulitan, ia berusaha bangkit. Garis menengah lingkaran itu makin membesar. Ia bangkit, menopang dirinya pada kedua kakinya sendiri. Kerumunan itu makin padat; seakan-akan mereka mencari perlindungan antara satu sama lainnya. Di sinilah jalan kekerasan takut akan keimanan. Ia adalah satu wajah, dan mereka tidak berwajah, tidak berkepribadian, semua sendirian, semua tanpa identitas, ternak yang berlimpah-limpah; dan yang sedang menghadapi mereka, seorang manusia, satu pribadi-pribadi yang oleh iman telah diberi makna, isi, ideal-ideal, orientasi, serangan dan kekuatan yang menakjubkan, laksana mukjizat, tidak terkalahkan, yang telah dianugerahkan oleh syahadah kepada seorang mukmin.

Ia pergi. Ia membawa dirinya ke sumur zamzam. Ia membasuh luka-lukanya. Ia membersihkan bekas-bekas darahnya. Besoknya ia kembali ke gelanggang itu, sekai lagi ia menuju ke tepian maut. Abbas datang dan memperkenalkannya, “Ia dari suku Ghifar...”, dan sekali lagi, begitu pun esok harinya.

Sampai Nabi, sekali ini bukan untuk menyelamatkan nyawa Abu Dzar tetapi dengan suatu perintah, menggerakkan si pemberontak yang resah ini dari kota penindasan dan bahaya, dan memberikan kepadanya tugas untuk berdakwah kepada suku Ghifar.

Abu Dzar membawa seluruh keluarganya masuk Islam, dan, sedikit demi sedikit, seluruh sukunya masuk Islam. Ia sedang bersama-sama suku Ghifar ketika kaum Muslimin melewati kesulitan-kesulitan perjuangan di Makkah, ketika mereka berhijrah, dan di Madinah, ketika mereka bergerak dari tahap individualisasi ke tahap pembentukan sistem kemasyarakatan, dan sebagai akibatnya, peperangan pun dimulai.

Di sinilah Abu Dzar merasa bahwa ia barus berada di gelanggang; ia pergi ke Madinah, dan di sana, karena tidak mempunyai tempat atau pekerjaan, ia menjadikan Masjid Nabi sebagai rumahnya ― yang pada waktu itu adalah rumah manusia, dan bergabung dengan para sahabat Ahlu Shuffah. Ia mengorbankan kehidupan, demi akidah. Dalam melayani gerakan itu ―pada masa damai ― pikiran, pengetahuan dan sembahyang. Dan ―dalam masa peperangan ― pertempuran jasmani.

Islam, di bawah pimpinan Nabi, memuaskan segala kebutuhan manusiawi dan hasrat-hasrat sosial Abu Dzar; Islam, berdasarkan tauhid, membuka gerbang perjuangan. Di satu pihak adalah Tuhan, persamaan, agama, roti, cinta dan kekuatan, dan, pada pihak lain, kesombongan, tiran yang despotis, diskriminasi, kufur, kelaparan, dan, agamanya yang menuntut kelemahan dan kehinaan. Islam, untuk pertama kalinya, mengakhiri dongengan dari para penindas perampok yang telah membuat slogan untuk ‘menghendaki dunia ini atau akhirat’ menjadi kepercayaan rakyat, sehingga ‘dunia yang akan datang’ adalah untuk rakyat, dan dunia ini bagi dirinya sendiri, dan, dengan cara ini, mereka menganugerahkan kesucian Ilahi kepada kemiskinan.
Dalam persepsi yang tidak manusiawi ini, Islam membawa suatu revolusi yang sesungguhnya menjadi kenyataan yang mengatakan, ‘Kemiskinan itu kufur.’ “Barangsiapa tidak bernafkah, tidak akan terselamatkan.”

Karunia Allah, kekayaan yang besar (bagi masyarakat), kebaikan dan kebajikan, adalah bagian dari kehidupan jasadi, dan ‘roti’ adalah infrastruktur bagi peribadatan kepada Allah.” “Kemiskinan, kehinaan dan kelemahan, dan dengan semua ini, agama, kerohanian dan ketakwaan dalam suatu masyarakat?” Itu bohong! Karena inilah maka Nabinya Abu Dzar adalah seorang Nabi yang bersenjata; tauhidnya bukanlah falsafah subyektif individual spiritual. Tauhid harus terwujud dengan dukungan terpadu dari kesatuan ras dan bangsa-bangsa, kesatuan kelas, dan persamaan ― setiap orang menurut andil dan haknya ― yakni, suprastruktur yang deterministik dari tauhid tidak akan terwujud hanya dengan kata-kata; pedang harus menyertai amanat itu.

Karena inilah maka Abu Dzar membebaskan kehidupan pribadi jasadinya ― karena orang yang memerangi kelaparan harus menanggung laparnya sendiri, dan lapar itu dapat memberikan kebebasan kepada masyarakatnya yang telah mengalami pembebasannya sendiri ― dan menyerukan ‘peribadatan revolusioner’ yang merupakan kecermatan Islami dan kecermatan Ali, sehingga rakyat akan dipersiapkan dengan kebutuhan material dan persamaan ekonomik, bukan kecermatan mistik ala Kristen atau ala Budha.

Seperti inilah maka agama revolusioner ini, agama ‘dunia maupun akhirat’, agama yang bukan kelemahan dan bukan kebiharaan, bukan deprivasi dan bukan pemencilan dan alam dan ‘kecanduan Hari Terakhir’ dari makhluk manusia dalam alam, adalah agama ‘yang membuat manusia menjadi suci di dalam alam’, ‘khalifah Allah’ di bumi yang jasadi. Pemimpinnya, dan sebelum segala sesuatu, Nabinya, sedang hidup di masjid Tuhan dan di tengah manusia: Muhammad, Ali dan para Sahabat Shuffah: para Salman dan para Abu Dzar.

Abu Dzar sendiri dapat ditemui di serambi berpelindung (shuffah) di sudut masjid pada ketinggian sukses; ia telah menjadi salah satu dari sahabat akrab Nabi. Apabila ia tidak tampak dalam satu kelompok, Nabi akan menanyakannya; apabila ia ada dalam kelompok, beliau akan berpaling kepadanya di tengah-tengah pembicaraan. Di bawah pimpinan Nabi, dalam Perang Tabuk, ketika pasukan dalam kesulitan, melintasi gurun pasir utara yang membakar, untuk mencapai perbatasan (timur) empirium Romawi, Abu Dzar tercecer. Untanya yang kurus terhenti. Ia memerdekakan unta itu di bawah panggangan mentari dan meneruskan pejalanan seorang diri! Ia mendapatkan air; ia mengambil air itu untuk diberikan kepada ‘sahabatnya’ yang juga pasti sedang menderita kehausan di padang pasir seperti itu.

Nabi dan para mujahidin[10] melihat bahwa ada suatu titik yang tidak jelas sedang bergerak maju pada kedalaman gurun pasir yang ganas itu. Sedikit demi sedikit, mereka menyadari bahwa itu seorang manusia! Siapakah itu? Berjalan kaki di gurun yang membakar semacam itu, sendirian? Nabi, dengan kegairahan yang berlimpah dengan hasrat, berseru, “Semoga itu Abu Dzar!” Satu jam berlalu. Itu memang Abu Dzar. Ketika ia sampai kepada mujahidin itu, ia jatuh karena kehausan dan kelelahan.

“Anda membawa air, dan kehausan, Abu Dzar?” tanya Nabi.

“Saya pikir, di gurun seperti ini, dan di bawah terik matahari seperti ini,Engkau...” “Semoga Allah memberkati Abu Dzar! Ia berjalan sendirian, mati sendirian, dan akan dibangkitkan sendirian!” sabda Nabi.

Catatan:

3. Boleh jadi inilah maksud dari Ayat Al-Qur’an, Surat An-Nahl: Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang Imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah, dan hanif... (QS. 16: 120) Yang dimaksud dengan hanif ialah orang yang berpegang kepada kebenaran dan tak pernah meninggalkannya.
4. Perdagangan dan perjalanan haji pada waktu itu adalah dua sisi dari mata uang yang sama dalam sejarah, dan dua kepala dari satu tubuh yang sama, ekonomi. Inilah rahasia di batik keterpaduan religius Quraisy pada Ka’bah. Inilah peranan berhala-berhala di Ka’bah itu, manifestasi-manifestasi dari ketergantungan politeisme dalam agama dan golongan syirik serta sistem kesukuan. Di sinilah harus dipahami peranan tauhid (monoteisme) yang revolusioner.
5. “Kufur” , menutupi, menanam, yakni, dalam bertani, benih ditanam (ditabur) kemudian ditutup dengan tanah. Di dalam hati manusia pun terdapat kebenaran, tetapi karena alasan- alasan tertentu, kebenaran itu ditutup oleh tirai hitam kejahilan, kedengkian, kepentingan-kepentingan nafsu diri sendiri atau kebebalan yang sungguh-sungguh; ini dinamakan kufur. Namun kufur ini tidak berarti menutupi kebenaran suatu agama dengan perantaraan sesuatu yang bukan agama. Sebaliknya, kufr berarti menutupi kebenaran suatu agama dengan perantaran suatu agama yang lain. (Kumpulan karya, jilid XXVI: Agama versus Agama, p. 8).
6. Al-Qur’an, surah al-Mudatstsir ayat 1-2.
7. Al-Qur’an, surah al-Qashash ayat 5.
8. Taqiyyah, sikap berdiam diri, tidak mengungkapkan, atau menyembunyikan suatu kebenaran, yang dipraktekkan dalam keadaan-keadaan tertentu, demi keselamatan akidah dan kelnaslahatan umat. Para penganut Syi’ah diwajibkan menprakteiskan taqiyyah dalam situasi demikian. Namun, dalam keadaan tertentu lainnya, taqiyyah dapat menjadi haram hukumnya, dan dilarang; misalnya, apabila nyawa seseorang terancam karenanya, apabila kezaliman merajalela, apabila kebenaran harus disebarkan secara umum dan terbuka, untuk melindungi Islam, atau dalam menghadapi panggilan jihad pada jalan Allah.
9. Al-Qur’an, Surah al-Baqarah ayat 286.
10. Mujahid: orang yang berjihad, yakni yang berjuang secara spiritual dan religius pada Jalan Allah. Bentuk jamaknya: mujahidin.

Sumber:
·  ABU DZAR
·  Pengarang : Dr. Ali Syari’ati

·  Penerbit : Muthahhari Paperbacks
·  Tahun Penerbitan : April 2001 M/Muharram 1422 H.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar