Oleh Ali Syari’ati
Dalam kegelapan yang
meliputi malam penindasan, fajar sedang menanti matahari lain yang akan terbit,
dunia sedang dalam ketenangan menjelang badai, dan sejarah merenungkan suatu
pemberontakan besar melawan dewa-dewa duniawi serta bayang-bayang dan
tanda-tandanya ―dewa-dewa langit: politeisme dan syirik.
Pada kedalaman dari
kesadaran-kesadaran yang ternaung dalam bayangan “kehendak Ilahi” dan dalam
ketersembunyian watak-watak fitriah, yang pada lahimya tampak berhubungan
dengan hakikat wujud, perubahan-perubahan yang tidak dapat dilukiskan dan
ganjil, mulai muncul, hanya sebagai suatu pengertian berupa penciuman indera
rahasia burung-burung liar yang merasakan akan datangnya badai dan secara
tergesa-gesa berpindah dari tempatnya, sebagai naluri misterius dari seekor
kuda waspada yang bangkit menjelang peristiwa gempa bumi, memutuskan tali
kekangnya dan meninggalkan rumah tuanya, tanpa pelana, tanpa penunggang, menuju
padang pasir ―rohani-rohani yang kesepian merasakan bahwa ada sesuatu di udara,
sesuatu yang besar! Kadang-kadang seorang pribadi adalah suatu dunia, dan
kadang-kadang seorang individu adalah suatu masyarakat. [3]
Dan Jundan putra Junadah,
seorang Arab badui dari Ghifar, suku yang terlanda kemiskinan di Rabadzah,
suatu gurun di antara Makkah dan Madinah, di jalan kafilah perdagangan Quraisy
dan kafilah peziarah Ka’bah, bersama orang-orang yang tak tahu malu, tidak
mengenal takut akan adat istiadat, tak kenal tata aturan dan hukum, dan
karenanya, di mata orang yang tinggal dalam lindungan peraturan-peraturan dan
sistem-sistem ini dan menjadi makmur karena keuntungan dan keamanan ―terkenal
jahat, tidak peduli, dan berakhlak buruk! Karena akhlak atau etika di sini
berarti mengikuti adat istiadat, menaati hukum-hukum, yang semuanya melindungi
tembok-tembok yang meliputi eksklusivitas dan hak-hak istimewa: kebenaran dan
hak-hak, tata tertib dan keamanan, dan semua ini demikian adanya, supaya orang
ini dapat makan enak dan bersenang-senang sebagai kepala pada pesta-pesta mewah
dikitari sekelompok orang-orang lapar.
Ghifar, suku yang tekenal jahat, bandit-bandit! Para perampok barang-barang dan budak-budak kafilah dagang, ugal-ugalan, yang bahkan tidak menghormati keempat bulan suci. Mereka juga menganggu keamanan yang menguasai semenanjung itu. Ketika para kafilah dagang ―yang bergerak antara Roma, Makkah dan Iran, di bawah perlindungan agama sepanjang bulan-bulan ziarah ini― melintasi tempat yang berbahaya Rabadzah,[4] mereka sekali lagi melihat orang Ghifar, dengan pedang di atas kepala, meluncur menyerang mereka dari tempat hadangan. Rakyat Ghifar, orang-orang miskin, pendosa, jahat, alih-alih menadahkan tangan bak mangkuk pengemis kepada kafilah-kafilah dagang, mereka memberikan pedangnya kepada para majikan itu!
Putra Junadah adalah salah
seorang dari mereka, dan inilah sebabnya mengapa kemudian ketika ia telah
menjadi Abu Dzar, “Ia bingung memikirkan seorang lapar yang tidak mempunyai
roti di rumahnya, tetapi tidak bangkit, menghunus pedang dan memberontak.”
Jundan putra Junadah, seperti setiap pria dari suku Ghifar, mengetahui bahwa
dalam suatu sistem tirani, setiap hukum dan peraturan, adat dan etika, tata
tertib dan keamanan, adalah pelindung tirani, dan menaatinya adalah kejahilan.
Namun ia mengambil suatu langkah ―maju lebih jauh dari siapa pun lainnya― ia
mengetahui bahwa di sini agama yang berkuasa mempunyai peranan yang sama, dan
menaatinya adalah kufur. [5]
Dan berhala? Apakah itu?
Pada suatu malam, ketika suku itu pergi berziarah ke Manat ―berhala suku
Ghifar― dan dengan hasrat, bahagia, gairah dan semangat, berdoa, memuja,
bersumpah dan memohon, menghasratkan hujan untuk menyelamatkan mereka dari
kelaparan dan kekeringan yang mengancamkan maut kepada suku Ghifar, ia, dalam
kedalaman keyakinannya, merasakan api suci keraguan.
Api kearifan ini
dinyalakan selanjutnya dalam angin sepoi renungan dan pertimbangan yang
mendalam dan menerus ketika suku itu jatuh tidur; ketenangan yang misterius
menguasai lingkungan Manat, di padang gurun, malam dan langit; ia bangkit
dengan diam-diam, memungut sebongkah batu, dengan ketidakpastian dan terombang-ambing
antara keraguan dan keyakinan, ia maju; untuk sejenak ia terpaku memandang
kedua mata dewa zamannya. Ia tidak mendapatkan sesuatu, kecuali dua biji mata
yang tidak melihat; dengan segala kemarahan dan kebenciannya, ia melempar
berhala itu, yang diukir oleh kejahilan dan tirani, dengan batin itu.
Bunyi batu yang menghantam
batu, dan... kemudian tidak ada apa-apa.
Kembali dalam keselamatan
kepada Yang Mutlak, setelah terbebas dan rantai, ikatan dan belenggu yang
seakan-akan telah melilit jiwanya selama berabad-abad, ia tiba-tiba merasakan
bahwa ia, sendirian dan tak dikenal telah meninggalkan suatu lobang yang dalam
dan gua yang sempit lagi gelap, di mana ia telah dipenjarakan sejak awal
penciptaan. Ia melihat ke padang gurun, suatu rentangan luas yang tidak
bertepian; sampai ke batas cakrawala, jauh, luas, dan angin! penuh kemuliaan,
indah, dalam dan misterius... seakan-akan ia melihat, dan baru dapat
melihatnya, untuk pertama kalinya.
Melalui keyakinan dan
kepastian, ia telah mencapai kebebasan dan kelegaan. Sedikit demi sedikit,
kuncup-kuncup baru iman dan kepastian, tetapi jelas, luas, dalam, sadar, apa
yang dipilihnya sendiri telah merekah!
Di bawah hujan pikiran
yang tidak putus-putusnya bertambah deras, ia merasakan bahwa sumber-sumber air
terbuka baginya dalam gurun batin yang gelap, kering dahaga, dan sekarang,
suara ‘derap air!’ dan setiap saat makin lama makin cepat, meninggi dan terus
semakin tinggi dan menempati seluruh batinnya; ia dipenuhinya. Dalam pembakaran
yang perih dan kecemasan yang pedih dan suatu kelahiran, sendirian di dunia,
hanya suatu bayangan di padang pasir, di tengah malam, di bawah langit gurun
yang menyaksikan, seluruh wujudnya dialamatkan kepada ‘Dia!’, ia tiba-tiba
tersungkur ke pasir, kepalanya sujud di atas bumi. Dan suara kegelisahan,
sentimen-sentimen lama terlepas ―menangis.
Inilah sembahyang Abu Dzar yang pertama.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar