“Jika nuklir ini dinilai buruk dan kami tidak boleh menguasai dan memilikinya, mengapa kalian sebagai
negara adikuasa boleh memilikinya? Sebaliknya, jika teknonuklir ini baik bagi
kalian, mengapa kami juga tidak boleh memakainya?” (Mahmoud Ahmadinejad, Presiden Republik Islam Iran)
Logis, jelas, dan tegas. Begitulah gambaran yang cukup tepat bagi seorang lelaki yang mengaku dirinya pelayan rakyat Iran ini –Mahmoud Ahmadinejad yang terbilang memiliki wajah yang kalem dan sejuk. Kesehariannya –tentu saja sebagai seorang presiden, mengenakan kemeja putih atau yang berwarna terang- dibalut dengan jas, dan sesekali dengan jaket.
Logis, jelas, dan tegas. Begitulah gambaran yang cukup tepat bagi seorang lelaki yang mengaku dirinya pelayan rakyat Iran ini –Mahmoud Ahmadinejad yang terbilang memiliki wajah yang kalem dan sejuk. Kesehariannya –tentu saja sebagai seorang presiden, mengenakan kemeja putih atau yang berwarna terang- dibalut dengan jas, dan sesekali dengan jaket.
Berbeda dengan tokoh-tokoh
lain, ia tidak pernah memakai dasi –meskipun dalam pertemuan resmi kenegaraan
sekalipun –barangkali kita dapat menyimpulkan bahwa pakaian seseorang
mencerminkan visi dan kepribadiannya, di mana dapatlah kita menebak bahwa ia
tidak ingin menjadi ke-Barat-barat-an ala kaum snobis atau para epigon yang
kehilangan identitas mereka.
Dan sebagaimana dapat kita
lihat –meski perawakannya tidak terlalu besar, kesungguhan dan adab terpancar kuat
dari wajahnya yang sejuk dan bersahaja. Tatapan matanya dalam dan membatin,
sementara tangannya tampak kekar seperti pekerja kasar. Rambutnya pun tidak
terlihat memakai minyak rambut, hingga membuat rambutnya tampak klimis.
Yah, dia adalah Mahmoud Ahmadinejad,
sosok yang tidak disukai Israel dan Amerika –salah-satunya karena mau berdiri
tegak terhadap mereka, bahkan seringkali melontarkan pernyataan-pernyataan
politik yang kontroversial dan –tentu saja, menyulut rasa kesal Amerika, Israel
dan para sekutunya. Mungkin karena hal itu pula, Hugo Chavez –Presiden Venezuela,
mengagumi dan menjadi sahabat kentalnya.
Pada November 2010, Ahmadinejad mengunjungi perbatasan Libanon, tidak jauh dari sarang para tentara Israel. Lautan manusia datang menyambut kedatangan Ahmadinejad ini.
Pada November 2010, Ahmadinejad mengunjungi perbatasan Libanon, tidak jauh dari sarang para tentara Israel. Lautan manusia datang menyambut kedatangan Ahmadinejad ini.
Di
panggung yang besar itu, ada dua mimbar yang tersedia. Yang pertama adalah
mimbar anti peluru yang disediakan untuk sang presiden, dan yang kedua mimbar
biasa untuk penerjemah. Ketika tiba saatnya memberikan sambutan di atas
panggung, sang presiden pun naik dengan diikuti beberapa pemuda berkecamata
hitam yang terlihat sibuk memperhatikan lautan manusia yang menumpahkan tepuk tangan
–dan tak jarang memandang jauh ke arah jendela-jendela beberapa gedung tinggi
yang berdiri di sekeliling lapangan pertemuan akbar itu.
Panita pelaksana tersentak ketika Ahmadinejad memilih untuk berpidato di mimbar biasa. Semua orang tahu, ini adalah pilihan berisiko apalagi presiden berada di zona ‘rawan’. Namun kekhawatiran itu tidak tampak ketika Ahmadinejad berpidato dengan sangat tenang dan berhasil membakar semangat perjuangan rakyat Timur Tengah dan Iran –sekaligus mengutuk secara terbuka penjajahan serta penindasan di muka bumi ini.
Jika kembali pada sejarah Islam, kita tentu akan teringat pada Husain cucu Muhammad dan para sahabatnya yang dengan setia –dan tidak gentar sedikit pun menghadapi kepungan bala tentara prajurit Yazid yang selalu haus dengan kedzaliman dan penindasan. Bagi mereka, kematian bukanlah pilihan, tapi sebuah jalan yang harus dilalui. Namun kematian akan lebih indah dengan syahid untuk sebuah keadilan.
Apakah anda masih ingat ketika hampir semua negara malu-malu kucing, segan bahkan takluk dengan Paman Sam, namun Mahmoud Ahmadinejad tampil tegak untuk menyarankan debat terbuka:
“Saya menyarankan, kami berdebat dengan tuan Bush, Presiden Amerika Serikat, di televisi yang disiarkan langsung mengenai masalah-masalah yang terjadi, termasuk pandangan Amerika, juga Iran. Debat ini tidak boleh disensor agar publik Amerika tahu apa yang sebenarnya terjadi.”
Panita pelaksana tersentak ketika Ahmadinejad memilih untuk berpidato di mimbar biasa. Semua orang tahu, ini adalah pilihan berisiko apalagi presiden berada di zona ‘rawan’. Namun kekhawatiran itu tidak tampak ketika Ahmadinejad berpidato dengan sangat tenang dan berhasil membakar semangat perjuangan rakyat Timur Tengah dan Iran –sekaligus mengutuk secara terbuka penjajahan serta penindasan di muka bumi ini.
Jika kembali pada sejarah Islam, kita tentu akan teringat pada Husain cucu Muhammad dan para sahabatnya yang dengan setia –dan tidak gentar sedikit pun menghadapi kepungan bala tentara prajurit Yazid yang selalu haus dengan kedzaliman dan penindasan. Bagi mereka, kematian bukanlah pilihan, tapi sebuah jalan yang harus dilalui. Namun kematian akan lebih indah dengan syahid untuk sebuah keadilan.
Apakah anda masih ingat ketika hampir semua negara malu-malu kucing, segan bahkan takluk dengan Paman Sam, namun Mahmoud Ahmadinejad tampil tegak untuk menyarankan debat terbuka:
“Saya menyarankan, kami berdebat dengan tuan Bush, Presiden Amerika Serikat, di televisi yang disiarkan langsung mengenai masalah-masalah yang terjadi, termasuk pandangan Amerika, juga Iran. Debat ini tidak boleh disensor agar publik Amerika tahu apa yang sebenarnya terjadi.”
Keberanian
seperti ini pernah hanya dimiliki orang-orang yang akan mengukir sejarah,
seperti Husain sang cucu tercinta Muhammad saw sekaligus tonggak Islam dan
keadilan ummat manusia –yang bersama kudanya dengan gagah berani meninggalkan
kemah keluarganya menghampiri Pasukan Yazid yang sudah haus dengan darah.
Husain
sekali lagi mengumandangkan seruan perdamaian, persatuan untuk kemaslahatan dan
visi kemanusiaan. Namun melihat Husain hanya seorang diri, pasukan Yazid
pura-pura tuli mendengar seruan dari cucu Nabi itu –dan tidak sabar lagi membantai
orang yang tentangnya Rasulullah bersabda: “Husain dariku, dan aku dari Husain”.
Lepas dari siapa yang menang di mega tragedi ini, Husain telah mewariskan
keberanian dengan darah dan sejarah untuk melawan tirani penindas kepada
generasi-generasi Islam dari masa ke masa.
Husain adalah simbol revolusi yang dirindukan para
kaum tertindas dan ditakuti oleh para imperialisme yang dicontohkan oleh Yazid.
Setidak-tidaknya, Ahmadinejad telah menunjukkan kepada dunia bahwa persitiwa 10 Muharram masih ada dalam sejarah kekinian ummat manusia. Dan kita masih berada di tengah-tengah Padang Karbala –yang mau tidak mau harus memilih antara keadilan dan kedzaliman.
Setidak-tidaknya, Ahmadinejad telah menunjukkan kepada dunia bahwa persitiwa 10 Muharram masih ada dalam sejarah kekinian ummat manusia. Dan kita masih berada di tengah-tengah Padang Karbala –yang mau tidak mau harus memilih antara keadilan dan kedzaliman.
Ketika
kita memilih menyuarakan keadilan, maka resiko apapun harus dihadapi dengan
berani dan penuh keikhlasan. Ahmadinejad telah membuktikan bahwa ia tidak
gentar sedikitpun –dengan segala kemungkinan resiko, ketika ia berani menentang
unilateralisme Israel dan Amerika. Semangat prajurit Husain menghadapi kaum
penindas di Karbala benar-benar terpancar dari dirinya. Sesuatu yang terbilang unik –karena dia bukan lahir
dan besar dari militer.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar