Label

Kebudayaan Pop dalam Masyarakat Komoditas –Bagian Kedua


Oleh Idi Subandy Ibrahim

Masyarakat Komoditas Indonesia: Komodifikasi Gaya Hidup?

Dalam artikelnya, "A Social Critique of Radio Music" (1945), Theodor W. Adorno, salah seorang tokoh Mazhab Frankfurt, mengajukan beberapa aksiorna yang penting menandai lahirnya apa yang disebutnya "masyarakat komoditas" (commodity society) yang di dalamnya kebudayaan pop menampakkan perkembangan luar biasa. Kalau hal ini kita kaitkan dengan fenomena "masyarakat komoditas" Indonesia, barangkali dengan dukungan industri kebudayaan untuk publik massa baru yang ditandai menjamurnya penerbitan majalah populer, televisi swasta, perumahan mewah, kawasan wisata, pusat hiburan, dan perbelanjaan modern seperti mall atau berbagai macam industri hiburan lainnya, maka aksioma yang diajukan Adorno berikut bermanfaat untuk kita sirnak [40]. Pertama, kita hidup dalam suatu masyarakat komoditas, yakni masyarakat yang di dalamnya berlangsung produksi barang-barang, bukan terutama bagi pemuasan keinginan dan kebutuhan manusia, tapi demi profit atau keuntungan. Dalam pandangan Adorno, di dalam masyarakat komoditas, kebutuhan manusia terpuaskan hanya secara insidental. Kondisi produksi yang mendasar ini lantas mempengaruhi tidak hanya bentuk dari suatu produk, tapi juga hubungan antarmanusia.

Kedua, dalam masyarakat komoditas, muncul kecenderungan umum ke arah konsentrasi kapital yang luar biasa yang memungkinkan terselubungnya operasi pasar bebas demi keuntungan produksi massa yang dimonopoli dari barang-barang yang distandarisasi. Kecenderungan itu, menurut Adorno, akan benar-benar terjadi teristimewa terhadap industri komunikasi. Ketiga, hal yang lebih sulit dihadapi masyarakat kontemporer adalah meningkatnya tuntutan terus-menerus, sebagai kecenderungan umum dari kelompok yang lebih kuat untuk memelihara, melalui semua sarana yang tersedia, kondisi-kondisi dari relasi kekuasaan dan kekayaan yang ada dalam menghadapi ancaman-ancaman yang sebenarnya mereka semai sendiri. Keempat, karena dalam masyarakat kita kekuatan-kekuatan produksi sudah sangat maju, dan pada saat yang sama, hubungan-hubungan produksi terus membelenggu kekuatan-kekuatan produksi yang ada, hal ini membuat masyarakat komoditas--menggunakan istilah Adorno - "sarat dengan antagonisme" (full of antagonisms). Antagonisme ini tentu saja tidak terbatas pada "wilayah ekonomi" (economic sphere) seperti yang sudah umum diakui, tapi juga mendominasi hingga ke "wilayah budaya" (cultural sphere) yang masih sulit diterima orang kebanyakan [41].

Padahal, terhadap antagonisme yang mungkin mencuat di "wilayah budaya" inilah pandangan mesti kita hadapkan: bahwa saat ini atau bahkan kecenderungan ini mungkin akan terus bertahan hingga pergantian abad nanti, dalam masyarakat komoditas Indonesia era Orde Baru tengah tumbuh dengan subur pernik-pernik industri kebudayaan pop yang menampakkan wajah yang mungkin belum pernah terbayangkan sebelumnya. Tentu saja, kerja ini bermula dari niat untuk mengangkat ke permukaan "antagonisme di wilayah budaya" ini. Paling tidak dengan cara ini kita bisa menyaksikan bahwa dalam masyarakat komoditas Indonesia kini tengah dipentaskan semacam "semangat yang tak kena lelah" untuk menghidupkan "budaya tontonan" yang sedikit banyak ikut dipoles oleh "budaya lisan" yang masih mendominasi lemahnya "budaya baca" dan "budaya tulis." Lantas, apalagi hal yang paling telanjang dari yang Telanjang, yang paling real dari yang Real, dan yang paling absurd dari yang Absurd, kalau bukan gaya hid up yang tengah dipertontonkan oleh berbagai kekuatan dan subkultur dalam masyarakat.

Kenyataan absurditas kultural seperti inilah yang telah diangkat oleh pemikir pasca-modernisme Prancis seperti Jean Baudrillard lewat karyanya The Ecstasy of Communication. Penampakan gaya yang lahir dari kegilaan manusia mengkonsumsi tidak hanya barang yang "Real," tapi juga yang "Tidak Real" ini jalin-menjalin dalam irama komodifikasi produksi kesan dan citra yang bertumpuk-tumpuk dalam sebuah Simulacrum –kalau kita meminjam istilah Baudrillard kembali [42]. Ketika itu citra (image) telah mengalahkan kenyataan (reality). Padahal, kenyataan, demikian Milan Kundera, lebih perkasa ketimbang ideoiogi sekalipun. Tapi, lebih dari yang pernah dibayangkan, citra justru telah menaklukkan kenyataan, bahkan sekaligus menggeser "ideologi" itu sendiri. Kekuatan citra inilah yang menandai apa yang disebut Milan Kundera sebagai kernenanqan "imagology" [43]. Dalam era ini, produsen budaya citra adalah produsen "ideoloqi" dan sekaligus pendefinisi kenyataan. Dengan kemenangan imagologi, biro iklan, manajer kampanye, ahli desain, perancang mode, perekayasa peralatan gimnastik, penata rambut, bintang showbiz telah ikut mendiktekan "ideal-ideal kecantikan," "norma-norma keindahan tubuh" lewat televisi, film, iklan, dan juga dalam dunia olahraga. Kategori-kategori tubuh, body, fisikal, atau logika instrumentalistik kini rupanya mulai mendefinisikan arti kebahagiaan individu dalam masyarakat komoditas. "Ideologi tubuh" sebagai pusat kesadaran adalah sisi lain dari kemenangan "imagologi." Ideologi ini didukung media, di samping iklan. Karena media butuh yang "serba lebih" (ingat, "more than"-nya Baudrillard!). Tak heran, dipacu oleh program gaya hidup yang dikemas dalam paket-paket komersial, jadilah urusan kecantikan tak sekadar memantas-mantas diri di depan cermin, tapi sudah menjadi gaya hidup secara menyeluruh. Dan media-media populer benar-benar memanfaatkannya. Tak heran, menurut Akbar S. Ahmed, media membentuk kriteria "cantik"-nya wanita zaman sekarang bila mereka memiliki penampilan wajah yang anggun namun atraktif, tubuhnya sintal, bibirnya sensual, langsing, dan memiliki daya pikat seksual." Inilah yang disebut anak muda sekarang "cewek keren" untuk menandingi "pria ideal" yang mereka bilang "cowok macho" [45].

Dalam masyarakat komoditas, kecantikan dan ketampanan adalah komoditas yang berharga. Karena ia didukung budaya citra yang mengutamakan penampilan. Tak heran kalau sekolah-sekolah mode menggunakan iklan: "Sekolah melatih penampilan kepribadian." Fitness-fitness juga menggunakan cara ini. Rupanya belum pernah terbayangkan modernitas telah memaksakan ideologi tubuh sebagai pusat kesadaran. Karena itulah dalam masyarakat komoditas kita, ibu-ibu muda dan remaja-remaja kota menemukan jalan untuk membunuh waktu, tidak hanya dengan menghibur diri atau bertelepon ria sepanjang hari seperti selama ini telah disediakan radio dan televisi, tapi muncul pula kesibukan baru untuk mengikuti program-program fitness atau aerobik, atau bahkan yoga dan latihan pernafasan yang mulai menjadi gaya hidup kekotaan. Namun, dalam mendukung gaya hidup baru itu orang butuh figur. Karena itu, para bintang yang disebut Akbar S. Ahmed sebagai "filsuf pop budaya pascamodern" seperti Michael Jackson atau Madonna, "disembah" di mana-mana. Madonna adalah contoh ketika komodifikasi tubuh menemukan ruang pemadatannya. la menjadi figur fantasi yang memutarbalikkan relasi tanda-tanda mengenai seksualitas, kekuasaan, dan ambiguitas gender. Dalam tulisan dengan judul "yang agak aneh." "Metatextual Girl: --> Patriarchy --> Postmodernism --> Power --> Money --> Madonna," David Tetzlaff, mengatakan, "As massive as mass culture gets, Madonna"s fame has proliferated her signs throughout society" [46]. Ia membius dan menggoda pengagumnya tidak hanya dengan suara dan wajahnya. Tapi, Madonna dengan kepiawaian menggunakan media telah berhasil menjadikan dirinya sebagai "icon pop" [47] "icon of glamour" [48] yang menurut Tetzlaff, "As superstar, as icon of adulation, as repository of power-she is commodity" [49]. Ia benar sadar diri dalam memaksimalkan semua potensi yang dimiliknya: tubuh, suara, kecantikan, dan kecerdasan.

Ketika melihat fenomena "berkuasa"-nya "icon pop" seperti Madonna, yang daya tarik "tubuh"-nya telah menggairahkan apa yang disebut Baudrillard sebagai "the depths desire" [50] manusia-maka tampak bahwa "masyarakat komoditas" atau "masyarakat konsumer" (consumer society) telah menjadi tonggak penting dalam memasuki drama masyarakat yang lebih pelik dan angkuh, yakni "masyarakat konsumer pascamodern." Dan, Madonna adalah salah satu contoh figur yang berhasil menjadikan dirinya sebagai "produser budaya" masyarakat konsumer pascamodern yang terus mempesona imaji "masyarakat di bawah pusar" hingga ke kawasan paling jauh di negara-negara berkembang lewat MTV dan video-videonya yang kontroversial. Kembali kepada gagasan Baudrillard, kita bisa melihat keradikalan analisisnya. Karena ia tidak hanya melakukan kritik terhadap analisis implikasi pemujaan komoditas yang biasanya diagungkan oleh pengagum Marx. Tapi ia juga keluar dari logika "nilai guna" Marx. Dalam tatapan yang lebih mutakhir, Baudrillard menunjukkan bahwa "alasan status" sebagai logika konsumen, ternyata lebih merupakan hal yang masuk akal ketimbang "alasan fungsional" yang sekian lama dipuja oleh para penganut teori ekonomi Marxis.

Lantas, bagaimana pergeseran logika konsumen dari "alasan fungsional" ke "alasan status" ini bisa kita jelaskan? Pertanyaan ini membawa kita ke dalam perdebatan ideologi yang mengkonstruksi logika nafsu konsumtif masyarakat. Inilah yang menjadi lahan perbincangan ideologi pascamodernisme. Menurut pemikiran Marxisme, beroperasinya ideologi dalam masyarakat kapitalisme didasarkan pada relasi kelas-kelas dalam masyarakat, yaitu antara kelas penguasa atau "konseptor" (superstructure) dan kelas pekerja atau "pelaksana" (base). Menurut analisis ini, kelas pertama senantiasa mendorninasi kelas kedua rnelalui legitimasi kekuasaan. Namun, dalam masyarakat komoditas pascamodern, justru terjadi pembalikan logika tersebut. Dalam masyarakat ini, berlangsung perubahan yang radikal dari pola beroperasinya kekuasaan (power). Apa yang terjadi justru pembalikan analisis kelas Marxian. Distribusi "kekuasaan" berbalik-atas-bawah ke bawah-atas-i-dari tangan penguasa sentral ke tangan para pelaksana, yang membentuk fragmentasi kekuasaan. Dalam masyarakat komoditas kontemporer, kekuasaan berkembang dari berbagai kelompok sosial di tingkat peripheral (produser, perusahaan multinasional, industri informasi, industri hiburan, dan lain-lain yang bisa dikategorikan sebagai agen atau produser kebudayaan) [51].

Tak heran kalau produksi makna dan nilai-nilai juga dikuasai dan dikondisikan oleh agen-agen tersebut, yang legitimasi kekuasaannya dimotori oleh sistem komunikasi massa, khususnya iklan. Dalam hal ini kritik terhadap "nilai guna" Marx semakin aktual dan menemukan bentuknya ketika semua agen kebudayaan yang sekalipun jauh dari sentrum kekuasaan (apalagi yang dekat) justru dalam masyarakat komoditas menjadikan "komoditas" sebagai bentuk representasi kekuasaan dengan media massa sebagai motornya. Dalam watak masyarakat komoditas yang cenderung fragmentaris ini, media biasanya rnemainkan politik sensasi. Dengan cara ini media rnempermainkan "komoditas estetika" menjadi "estetisasi komoditas." Seperti halnya komodifikasi berita tentang kekerasan telah berubah menjadi "kekerasan komoditas" itu sendiri. Dalam keadaan demikian lengkaplah drama masyarakat komoditas; pada saat "wilayah politik" tak pernah tersentuh dari kritik, aliran sungai kreativitas kultural pun tengah lesu darah. Maka kebudayaan massa pada gilirannya hanya menjadi lahan subur bagi pembiakan kemacetan dan apatisme, semacam budi daya kebodohan [52] dan iklan hanya menjadi cermin polusi gaya hidup. Iklan yang menurut Roland Barthes rnembangun diskursusnya lewat "retorika citra" (rhetoric of the image) akhirnya hanya melahirkan "mitologi masyarakat modern" di mana mimpi-mimpi masyarakat disalurkan [53].

Itulah barangkali cermin "antagonisme kultural" yang paling naif. Dalam masyarakat komoditas ataupun dalam pengertian masyarakat konsumer pascamodern –agen-agen industri kebudayaan secara bersama-sama membangun kekuasaan. Tidak dengan intimidasi dan teror yang kasar dan telanjang, tapi bagaimana membuat orang merasa "mati" kalau tidak tampil trendy, kaya, cantik, awet muda, dan serba wah. Mereka tidak "mati rasa" dalam tangisan karena membayangkan kemiskinan yang diderita oleh saudara sebangsanya yang sekian persen itu. Tapi mereka "mati rasa" sambil tertawa membayangkan bagaimana menjadi kaya atau minimal menjadi bagian kelas menengah yang baik yang tidak pernah dicap subversif. Biarlah sesekali digosipkan. Karena dengan gosip mereka menjadi pahlawan media [54]. Inikah mosaik nilai-nilai yang tengah tercabik dalam drama ecstasy gaya hidup ? Memalingkan pandangan ke wajah industri hiburan, film, sinetron, teledrama, iklan, atau acara-acara yang digelar anak muda atau mereka yang berselera muda di tanah air, barangkali kesan yang muncul hanyalah: "Bagaimana cara mereka menikmati hidup?" Gelombang pasang kebudayaan pop lewat film-film Hollywood, India, Mandarin, Hongkong, telenovela Amerika Latin, atau sinetron dalam negeri sendiri barangkali bisa dirangkum dalam ungkapan bernada polos tapi parodis dari Rano Karno: "Saya hanya menjual mimpi" [55].

Tidak ada komentar:

Posting Komentar