(Foto: Perayaan Maulid Nabi Muhammad Saw di Kota Serang, Banten
Tahun 2013. Fotografer: Maya Rani Wulan)
Oleh
Idi Subandy Ibrahim
MORALITAS, ETIKA, di manakah ia saat ini? Di selangkangan Madonna-kah yang histeris saat melemparkan celana dalam di hadapan ribuan pengagumnya yang haus kultus tontonan? Ataukah, di balik kemilau konstruksi warna kulit Michael Jackson yang melengking meneriakkan "kebebasan" di panggung kegandrungan masyarakat akan aerobik, kebugaran, fitness, body building, operasi plastik, facial creams, budaya kosmetika yang memoles basis material industri budaya kapitalisme? Ataukah di balik gemerlap gaya hidup subkultur generasi yang tidak direpresi dan diintimidasi lewat semprotan gas air mata pasukan antihuruhara, tapi lewat semprotan aroma parfum Paris pemeluk budaya hura-hura yang tanpa rasa haru?
Sungguhkah penampilan dan gaya lebih penting dari moralitas di saat citra-citra telah menyingkirkan persoalan baik dan buruk dalam permainan rumit gaya-gaya dan penjungkirbalikan makna-makna. Lantas gaya hidup (lifestyle) pun menjadi segala-galanya dan segala-galanya adalah gaya hidup. Bahkan gaya hidup menjadi komoditas dan komoditas pun sepenuhnya dipermak untuk mengkonstruksi gaya hidup. Maka manusia hidup dalam alam ecstasy akan gaya, dan gaya hidup pun senantiasa diakutkan lewat "kenikmatan semu," "kebahagiaan ilutif," "keindahan halusinatif," "daya tarik pseudorasional" yang mengendap di bawah permukaan pesan budaya sehari-hari dan membentuk manusia secara diam-diam, mencabik-cabik "aura simbolis" ... seperti pentas ecstasy.
Dalam pentas itu ada pelipatgandaan kegairahan dan kegembiraan yang luar biasa hingga mencapai "keadaan di luar kesadaran diri" [1]. Lantas seketika orang pun terbang di alam ecstasy. Alam yang tidak hanya dikonstruksi oleh "pil cinta," yang konon sebagai hasil keajaiban zaman modern, tapi oleh gaya hidup yang telah menggiring ribuan manusia seolah tersihir dalam suatu kondisi psikologis yang telanjang. Alam konsumtif ecstasy menjadi drama kehidupan modern yang telah jenuh dengan tumpukan "kebudayaan sampah" yang didaur ulang dalam mesin giling kapitalisme mutakhir [2]. Tak ada sejengkal wilayah budaya pun yang steril dari rembesannya. Lalu muncul pertanyaan, "Apakah dalam abad sekarang jarak antara kematian dan happy itu begitu dekatnya..." [3].
Pertanyaan itu menggelitik "bawah sadar" menusia modern yang amat bertumpu pada ekonomi, khususnya logika pertumbuhan. Kini, pertumbuhan itu bagaikan "superego" yang mendikte manusia modern [4]. Bawah sadar yang didikte logika ekonomi ini lantas merembes diam-diam ke segenap wilayah budaya yang ada dalam universum relasi manusia. Sebuah bayangan relasi yang dilukiskan dengan begitu menyentuh oleh Kenneth J. Gergen, penulis buku The Saturated Self: Dillemas of Identity in Contemporary Life (1991), Menurutnya, "Kita memperoleh pandangan dan nilai-nilai dari seluruh sudut dunia. Kita juga mengambil banyak isyarat dari media, sehingga identitas kita kini tengah terus berubah dan kembali diarahkan, sebagaimana kita bergerak mengarungi lautan hubungan atau relasi yang terus berubah. Manusia hanyalah sekadar satu unit yang sangat sederhana dari sebuah relasi atau hubungan. Kita menyadari apa dan siapa pun kita bukanlah merupakan hasil dari esensi kepribadian, melainkan bagaimana kita dikonstruksi di dalam Masyarakat" [5].
Di balik tawaran nilai itulah, mengendap preokupasi atau keasyikan terhadap hal-hal yang ada di luar kesadaran diri yang asali yang tidak hanya membuat kita jenuh pada suara orang lain. Tapi, juga keharuan akan kenikmatan-kenikmatan sesaat, ketakjuban akan kebahagiaan di luar batas, dan kerinduan untuk terus mengkonsumsi, untuk terus hidup dalam gaya. Inikah tanda "kegilaan" dalam modernitas yang mencabik humanitas. Lantas, manusia seperti digiring ke dalam jurang jiwanya yang menganga lebar" [6].
Tak heran di pentas pemujaan akan gaya menganga semacam jurang ketidaksadaran yang disadari dan kesadaran yang tidak disadari. Di antara batas tipis kedua wilayah inilah massa terus diberondong dan dibius dengan aneka warna nilai-nilai yang ditawarkan dari segenap penjuru dunia yang memaksakan semacam ketidaksadaran massal. Ketidaksadaran sebagai "kesadaran baru" yang tak lebih dari sekadar puing-puing eksistensial yang tengah tercabik ini lantas meruyakkan aura ecstasy gaya hidup yang hanya mementingkan permukaan, penampakan, penampilan, hura-hura, hiburan, dan permainan tanda-tanda yang tanpa kedalaman dan yang tidak mengacu kepada realitas. Di dalam ecstasy gaya hidup manusia hidup seakan di alam mimpi, ilusi, khayali, fantasi, dan "halusinasi estetika akan realitas" yang dikonstruksi tidak hanya dalam pengertian sosio-ekonomis dan politis, tapi juga ideoloqis [7].
Dalam ruang komodifikasi yang ditandai mengambangnya bidang pemberi tanda oleh terpaan banjir bandang komoditas ini, seluruh ruang dan waktu terserap menjadi sumber daya yang dikomodifikasi untuk dieksploitasi. Di dalamnya individu lebih sebagai objek ketimbang bagian dari komunitas. Melalui iklan, misalnya, dikonstruksi keinginan yang tak bisa dipenuhi, dan gaya hidup yang ditawarkan itu pun khayalan. Itulah sebabnya orang mencari kepuasan melalui konsumsi. Orang bekerja untuk berbelanja dan berbelanja untuk bekerja. Tak heran seorang mahasiswa atau pegawai boleh tak bersemangat di ruang kuliah atau di kantornya, tapi mereka begitu bergairah di lantai diskotek atau di pusat perbelanjaan. Tak begitu berlebihan apa yang disitir Allison J. Murray, ketika mengamati perilaku subkultur kelas bawah dan kelas menengah Jakarta, "Konsumsi, seks, dan moralitas disulap dalam suatu permainan rumit di dalam suatu kelompok sosial, di mana penampilan lebih penting daripada moral, karena citra-citra telah mengatasi persoalan baik dan buruk" [8].
Lantas, dari manakah kita harus melacak bahwa pernik ecstasy gaya hidup begitu menemukan lokus perkembangbiakannya yang demikian mewadak dalam universum relasi manusia kontemporer? Pemikir pasca-strukturalis Perancis, Jean Baudrillard, seakan menyentakkan kita ketika menulis Ecstasy of Communication (1987), bahwa berkat makna, informasi, dan tranparansi, masyarakat kita telah melampaui ambang batas, menuju "ecstasy permanen": "the ecstasy of the social (the masses), the body (obesity), sex (obscenity), violence (terror), and information (simulation)" [9].
Kini, di tengah dunia benda kita, "masyarakat," "tubuh," "seks," "kekerasan," dan "informasi" kian tercelup dalam wilayah yang tak luput dari intervensi logika ekonomi. Dalam keadaan demikian, ukuran-ukuran kewajaran porak-poranda demi pemenuhan tuntutan gaya-gaya yang terus berubah-ubah dan tanpa henti ditawarkan. Tak heran, menyitir Baudrillard kembali, manusia menjadi, " ... more social than the social (the masses); fatter than fat (obessity), more violent than the violent (terror), more sexual than sex (porn), more real than the real (simulation), more beautiful than the beautiful (fashion)" [10].
Lalu, bagaimana logika untuk selalu tampil "lebih dari" dalam hal gaya itu menemukan salurannya lewat industri kebudayaan pop. Dalam keterbatasannya, pengantar ini akan memotret sisi-sisi subtil bagaimana gaya hidup disebarluaskan melalui kebudayaan pop. Bagaimana dalam perembesannya ia tak bisa menghindar dari dinamik politik dan kultur dominan. Dan, lebih lanjut bagaimana kultur ini dalam pertumbuhannya telah ikut mengkonstruksi sebuah masyarakat di mana gaya hidup begitu dikultuskan dan dipuja.
Kebudayaan yang dimaksud sebagai kebudayaan massa/pop(uler) (mass/pop[ular] culture) dengan ditopang industri kebudayaan (cultural industry) telah mengkonstruksi masyarakat yang tak sekadar berbasis konsumsi, tapi juga menjadikan semua artefak budaya sebagai produk industri, dan sudah tentu komoditas. Suatu kutukan modernitas[11] pun perlahan muncul dan pada gilirannya melahirkan sebuah wajah masyarakat baru: "masyarakat komoditas" (commodity society) yang membiakkan kebudayaan pop dan memaksakan penyembahan, pemujaan, pengkultusan, ecstasy gaya hidup yang tak tepermanai dalam apa yang disebut humanis seperti Peter L. Berger sebagai "semesta simbolisme modernitas" dengan bawah sadar pertumbuhan sebagai ideologi yang memayunginya.
Sekilas Penelusuran Literatur
Kini mulailah kita menyelami sejumlah literatur mengenai kebudayaan massa atau pop(uler) untuk mereguk beberapa tetesan pemikiran dari para peminat studi budaya yang tumbuh bersamaan dengan perdebatan tentang aspek-aspek subtil hingga radikal dari kebudayaan pop. Dalam rentang sejarah yang panjang, kebudayaan pop telah menarik minat para akademisi, teoretisi, analis, kritisi, dan para pendukung kajian budaya[12] yang mencuat bersamaan dengan kian derasnya gelombang kebudayaan pop dengan segala pernik, warna, dan nuansa yang menyertainya, serta dengan muatan budaya yang dikandungnya. Mereka yang berminat terhadap sisi-sisi subtil kebudayaan pop biasanya menggunakan penekanan, sudut pandang, perspektif, dan aspek-apsek yang beraneka. Ada yang melacak akar sosiohistoris, pola penyebaran, media yang digunakan, basis material, muatan politis-ekonomis, aspek ritual dan simbolik, hingga ke wilayah propaganda dan, bahkan, sampai jauh ke implikasi ideologisnya. Singkatnya, mulai dari kelompok yang sering disebut kaum modernis hingga mencuatnya pascamodernis dalam kajian budaya telah ikut memperkaya perkembangan khazanah literatur kebudayaan pop yang sedikit-banyak disemangati perkembangan analisis kritis tentang "industri kebudayaan" (cultural industry)[13] sebagai aspek paling radikal dari penjenuhan masyarakat kapitalisme kontemporer.
Kalau kita melirik ke literatur-literatur yang tumbuh di bawah payung kebudayaan massa/pop, ada beberapa penerbitan penting yang menandai tonggak kajian ini. Sebutlah misalnya Journal of Popular Culture yang diterbitkan Bowling Green State University Popular Press sejak 1967; Journal of Popular Film and Television oleh penerbit yang sama sejak 1972; 3 volume Handbook of American Popular Culture yang disunting oleh M.T. Inge, diterbitkan Greenwood Press, New York, 1989. Selain itu ada pula beberapa penerbitan penting lainnya yang sesekali menyorot pernik-pernik kebudayaan pop, misalnya serial Media, Culture and Society yang diterbitkan Sage Publication sejak 1979, Critical Studies in Mass Communication yang diterbitkan Speech Communication Association sejak 1984. Tentu saja masih banyak penerbitan tentang dunia sastra, drama, teater, musik, radio siaran, sinema, komik, gender, kekerasan, seks, dan pornografi, dan tidak jarang juga menyoroti kebudayaan pop.
Daftar di atas sengaja diketengahkan hanya untuk menunjukkan bahwa di kawasan yang lain kebudayaan pop telah melahirkan setumpuk literatur yang kaya. Sementara di tanah air, sejauh yang bisa dipantau, penerbitan dalam bidang yang satu ini memang belum menampakkan perkembangan yang cukup berarti [14]. Kembali ke soal kebudayaan pop. Biasanya perdebatan yang pertama muncul adalah menyangkut soal istilah (terma) dan dalam latar historis bagaimana ia (awalnya) lahir. Namun, dengan hanya berkutat pada masalah istilah saja bukan mustahil akan membuat upaya kajian yang lebih serius malah tidak pernah bisa terwujud. Karena kita hanya mengelus-elus kulit luarnya saja, tanpa pernah menyentuh isi terdalamnya. Dan itu tidak berarti membenarkan sikap apologi untuk menghindar dari pentingnya pembatasan istilah. Karena yang ditekankan di sini bukan membuat daftar istilah, tapi menyoroti bagaimana kebudayaan pop telah berkembang sebagai "kekuatan," kalau boleh disebut begitu, yang muncul dalam drama kebudayaan (Indonesia) dan membuat kita terlena untuk menjadikan gaya hidup sebagai kriterium budaya. Ke fokus inilah penelusuran literatur ini akan kita curahkan.
Bergerak dari perdebatan masalah "definisi" kebudayaan "populer)," lantas dihadapkan kepada berbagai subkultur lainnya, kemudian eksplosi pembentukannya dalam wajah yang paling garang hingga yang paling halus "penyamarannya," membuat kebudayaan pop telah menjadi lahan yang tak pernah kering dari perbincangan. Ini beralasan, mengingat studi tentang kebudayaan senantiasa melibatkan telaah tentang aktivitas dan interaksi manusia, di samping tentang produk budaya [15]. Maka karena menyentuh wilayah publik yang luas, otomatis perdebatan tentang kebudayaan pop pun tak mungkin dihindari. Adalah Allan O'Connor, salah seorang pengkaji budaya, saat menyoroti topik "popular culture," menjelaskan bahwa terma ini mengacu pada "proses budaya yang berlangsung di antara masyarakat umumnya (general public)" [16]. Barangkali ini bisa menjadi salah satu contoh definisi yang sederhana. Sayangnya, ini belum menolong menjawab bagaimana ia bisa menjangkau sejumlah besar penduduk dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sehari-hari. Lalu, kalau budaya massa tak bisa dipisahkan dari kehidupan sehari-hari, sebelum ia menjadi bagian di dalam masyarakat, pasti ada kelompok atau bagian masyarakat (produser budaya) yang merancang atau memproduksinya. Bagaimana produk budaya itu sampai ke masyarakat, dan produk yang bagaimana pula yang "dibutuhkan" oleh sejumlah massa yang besar. Semua ini tidak mungkin ada tanpa melibatkan teknologi. Pertumbuhan teknologi adalah hasil peradaban manusia yang penting tidak hanya dalam menghasilkan produk budaya yang dibuat dalam jumlah besar (mass production), tapi berkat teknologi pula produk budaya bisa disebarkan (dissemination).
"Pemassalan" produk (massification of product) budaya adalah salah satu perkembangan penting dalam revolusi industri. Dengan proses tersebut barang-barang bisa diproduksi dalam jumlah besar (large-scale product) dan dengan biaya yang lebih rendah (minimization of cost) meskipun dengan mengorbankan kelas pekerja (ingat alienasi!). Barang-barang yang diproduksi dalam jumlah besar ini menuntut standarisasi (standardization). Dengan cara ini selera massal bisa dinetralkan sampai batas-batas yang memuaskan semua lapisan dalam masyarakat. Atas desakan standarisasi produk yang diperuntukkan bagi sejumlah besar massa itulah, muncul alasan kuat untuk menyeragamkan produk budaya. Dilihat dari kacamata ini, penyeragaman produk budaya adalah awal dari logika industri kebudayaan yang berkembang sebagai "proyek penyeragaman selera dan cita rasa" (homogenization of taste). Karenanya, pertumbuhan budaya massa atau yang dalam perkembangan masyarakat mutakhir sering disebut sebagai "budaya komoditas," sebenarnya beriringan dengan kritik terhadap kapitalisme. Hal ini termasuk juga di Barat yang telah terindustrialisasikan, yang di situ mencuat penolakan tapi sekaligus daya tarik dengan adanya diskriminasi cita rasa. Maka di sinilah alasan homogenisasi cita rasa menemukan justifikasi historis-kulturalnya. Paling tidak, dengan meningkatnya industrialisasi dan urbanisasi, monopoli aristokrasi atas budaya tradisional dihancurkan. la kemudian menjadi milik semua orang [17]. Dan inilah cikal bakal kebudayaan massa itu.
Tak heran kalau pertumbuhan awal kebudayaan massa pun berkaitan erat dengan pertumbuhan demokrasi politik dan pendidikan masyarakat yang dipandang telah menumbangkan monopoli kelas terhadap kebudayaan. Juga beralasan kalau untuk tingkat tertentu kebudayaan massa menjadi kelanjutan dari kebudayaan rakyat yang hingga zaman Revolusi Industri merupakan kebudayaan masyarakat luas. Dengan demikian kebudayaan massa pun telah menjadi kekuatan yang dinamis dan revolusioner dalam meruntuhkan batas-batas kelas, tradisi, cita rasa, dan ia pun telah melarutkan semua perbedaan budaya [18]. Dalam perkembangan lebih lanjut, indutrialisasi tidak hanya memungkinkan proses massifikasi, yang menuntut standarisasi produk budaya dan homogenisasi cita rasa, tapi juga ia telah membawa perkembangan baru dengan semakin terbentangnya peluang pasar. Inilah yang menandai komersialisasi atas produk budaya. Dengan komersialisasi, produk budaya (massa) berubah seirama dengan percepatan tuntutan komersial (baca: pasar). Maka, massa pun berubah menjadi tempat pemasaran produk budaya dan sasaran berondongan iklan. Kalau kenyataan inilah yang tak bisa ditolak, yang muncul dalam pertumbuhan masyarakat modern –yang terjadi pada hampir semua wilayah- adalah munculnya pasar, keunggulan korporasi raksasa, dan tersedianya teknologi baru dalam proses produksi budaya [19].
Untuk alasan komersialisasi inilah, tidak hanya produk budaya yang distandarisasi berdasarkan kategori-kategori instrumentalistik, bahkan selera dan cita rasa masyarakat pun dikemas dan dikonstruksi menurut logika pasar. Arus industri kebudayaan yang amat bertumpu pada pasar ini, dan atas nama segmentasi pasar, lantas ikut mengaburkan batas-batas perbedaan kelas, wilayah, profesi, dan berbagai kemajemukan yang ada di masyarakat. Masyarakat yang terbentuk dari hasil polesan industri inilah yang kemudian dikenal sebagai masyarakat massa (mass society)[20]. Masyarakat massa adalah suatu kategori masyarakat industrial. Sementara budaya massa mewakili korelasi budaya dari masyarakat massa dan media massa. Budaya massa dibedakan berdasarkan standar produksi massa dan pemasarannya[21] Tentu saja industri media massa memegang peran penting dalam drama ini. Tak heran, kalau media massa merupakan basis bagi apa yang disebut "industri kebudayaan" [22] Karena itu, dalam perkembangan iebih lanjut, keberhasilan industri kebudayaan amat bergantung pada media massa. Media massa telah tumbuh menjadi industri yang tidak hanya mernenuhi kebutuhan masyarakat akan informasi, tapi mengikuti standar dan logika yang hidup dalam industri budaya kapitalisme. la tidak hanya memoles produk budaya, tapi dengan produk budaya itu lantas mengkonstruksi selera, cita rasa, dan bawah sadar khalayak. Dan, sebagai output media yang penting adalah kebudayaan pop [23].
Berkat media pula, produk budaya yang belum sampai ke khalayak, yang masih dalam "kemasan" (barang konsumsi yang baru dirancang, ingat iklan!) lantas hadir seketika. Maka dengan dukungan media massa, standarisasi produk budaya massa telah ikut rnendefinisikan keinginan dan selera massa (mass behaviour). Yang terjadi kemudian adalah "standarisasi produk" menjadi "homogenisasi cita rasa" untuk tujuan "komersialisasi" segenap produk budaya. Maka simaklah apa yang diungkapkan oleh salah seorang teoretisi awal tentang kebudayaan massa, Dwight MacDonald, dalam tulisannya bertajuk "The Theory of Mass Culture" "Massa yang telah dirusakkan moralnya selama beberapa generasi ..., pada gilirannya menuntut produk budaya yang sepele dan menggiurkan. Seperti pertanyaan mana yang lebih dulu ada, ayam atau telur, pertanyaan mana yang lebih dulu apakah permintaan massa atau pemuasannya (dan stimulasi lebih jauh) merupakan masalah akademis yang belum terjawab. Sementara mesin terus berputar dan tak menampakkan tanda-tanda untuk melemah" [24].
Bila demikian halnya, tak disangsikan bahwa masyarakat yang terus berubah akan tetap menghasilkan kebudayaan pop. Dan media senantiasa menyerap kebudayaan pop demi kepentingan isi dan bentuknya. Budaya tersebut tercermin dalam media dan terkadang malah ditampilkan dalam bentuk yang telah disesuaikan oleh masyarakat sendiri. Ciri utama kebudayaan ini ialah orisinalitas yang spontan, eksistensinya yang berlangsung terus dalam kehidupan sosial dengan perniknya yang beraneka--dalam wujud bahasa, busana, musik, tata cara, dan sebaqainya" [25]. Bersamaan dengan perkembangan media massa, konsep tentang kebudayaan massa pun berkembang. Konsep ini rnenjangkau hingga seluruh tingkatan aktivitas dan artefak populer seperti hiburan, tontonan, musik, buku, film, yang kandungannya diidentifikasikan sesuai dengan isi yang tipikal media rnassa dan teristimewa dengan materi hiburan, fiksi, dan drama yang disajikannya [26].
Namun, di antara sekian banyak produk budaya yang ada, secara konvensional, objek-objek yang termasuk kebudayaan pop mencakup materi-materi tertulis atau visual, objek-objek yang bisa dibaca (readable) yang memungkinkan munculnya tradisi-tradisi interpretasi dan kritisisme [27]. Dalam tahun-tahun kemudian, tingkatan yang dipandang "readable" ini pun terus berkembang. Sehingga ia meliputi hal-hal seperti penataan ruangan, barang-barang rumah tangga, iklan, makanan dan minuman, pakaian, dan bahkan hingga style kebudayaan kaum muda, semuanya merupakan bagian dari sistem kebudayaan "readable" itu. Tak heran kalau kemudian interpretasi terhadap kebudayaan pop pun kian berkembang. Bidang-bidang seperti antropologi, sosiolinguistik, psikoanalisis, semiotika, atau semiologi pun ikut memberi kontribusi yang amat berarti.
Lantas, dengan menyimak perkembangan kebudayaan pop inilah salah seorang kritisi budaya, Michael Schudson, lewat tulisannya "The New Validation of Popular Culture: Sense and Sentimentality in Academia" mencoba memetakan studi tentang kebudayaan pop sebagai berikut. Pertama, studi tentang produksi objek-objek budaya; Kedua, studi tentang kandungan objek-objek itu sendiri, dan; Ketiga, studi tentang objek-objek dan makna-makna yang dikaitkan dengan objek tersebut lewat subpopulasi atau populasi secara umum. Dalam ketiga dimensi-"studi tentang produksi budaya," "studi tentang teks," "studi tentang khalayak” –tampak bahwa perkembangan intelektual generasi sebelumnya telah menyuguhkan suatu validasi baru bagi studi tentang kebudayaan pop [28].
Secara demikian, kebudayaan pop pun bisa dimengerti secara luas sebagai kepercayaan-kepercayaan, praktik-praktik, dan objek-objek melalui mana ia diorganisasikan, dan yang tersebar luas di antara populasi [29]. Ia bahkan termasuk pula kepercayaan, praktik, dan objek-objek "folk" atau "popular" yang berasal dari pusat-pusat ekonomi dan politik. Sampai kini, para sarjana cenderung memuji-muji kebudayaan rakyat (folk) karena otentisitasnya dan mengutuk kebudayaan massa karena muatan komersial, maksud ideologis dan kehampaan estetiknya [30]. Kebudayaan pop lantas dianggap sebagai sarana dominasi baru. la menjadi pusat pergulatan budaya global yang dikritik sebagai ajang "imperialisrne kultural" karena negara maju dianggap menciptakan "imperialisme media" untuk mengakutkan "imperialisme kesadaran" dengan cara mengincar otak dan gaya hidup yang berpusat jauh di luar wilayah kesadaran kultural masyarakat Dunia Ketiga. Mungkin kini orang menyebutnya sebagai Amerikanisasi Gaya Hidup [31].
Kritikan terhadap kebudayaan pop pun sebenarnya jauh-jauh hari telah rnuncul. Adalah John Stuart Mill, misalnya, lewat esainya yang banyak dikutip para kritisi budaya di Inggris, On Liberty yang mengajukan kritik cukup pedas terhadap kebudayaan massa [32]. Lewat analisisnya yang telah menjadi klasik itu, ia mengingatkan keprihatinan akan tergusurnya posisi individu oleh tirani mayoritas yang mewujud antara lain dalam bentuk dominasi industri dan penyebaran kebudayaan massa. Teknologi pada gilirannya dinggap bertanggung jawab bagi pembentukan masyarakat yang secara moral dan intelektual seragam. Tak heran kalau dalam The Politics of Popular Culture, CWE Bigsby menyebut kebudayaan pop sebagai "the child of technology" yang sekaligus menjadi "symbol of new brutalism" [33]. Bahkan lebih jauh lagi, ide tentang kebudayaan pop di era modern dilihat hampir tak bisa dipisahkan dari ide dan praktik dari rasionalitas instrumental [34]. Pada titik ini, kajian kebudayaan pop memasuki wilayah analisis teori kritis [35]. Analisis kritis mencari arti tersembunyi yang seringkali tidak bisa diobservasi secara langsung di balik beroperasinya industri kebudayaan yang membentuk manusia secara tersamar. Industri budaya dilihat dalam implikasi terdalamnya sebagai bentuk "industrialisasi pikiran" [36] atau wahana "kolonisasi kesadaran" [37] di mana "kekuasaan teknologi" telah menjelma menjadi "teknologi(sasi) kekuasaan" [38]. Tak heran kalau Ross Snyder dalam tulisannya bertajuk "Architecs of Contemporary Man's Consciousness," berkomentar, "New modes of communication reshape the humand mind. New qualities and powers of consciousness emerge with electronic communication" [39].
Kenyataan ini menemukan bentuknya di saat adat dan moralitas serta relasi antar-individu terus-menerus dalam proses pembentukan yang tanpa henti. Dan, sebagai hasil dari dinamika perkembangan teknologi itulah cikal-bakal kebudayaan pop menemukan lahan persemaiannya yang subur. Saat individu kehilangan rasa pertalian dengan dirinya di dalam masyarakat yang tengah terus diarahkan ke dalam lautan makna-makna baru, saat itu pula berbagai kecemasan pun mencuat. Mereka membutuhkan landasan dan kepercayaan baru. Mungkin sekadar tempat singgah, lalu terlelap sebentar dan melupakan kesibukan (kalau memang ada yang disibukkan), atau malah terkapar dalam mimpi yang boleh jadi telah dikomodifikasikan. Lalu apalagi kalau bukan industri kebudayaan pop yang menyediakannya(?).
MORALITAS, ETIKA, di manakah ia saat ini? Di selangkangan Madonna-kah yang histeris saat melemparkan celana dalam di hadapan ribuan pengagumnya yang haus kultus tontonan? Ataukah, di balik kemilau konstruksi warna kulit Michael Jackson yang melengking meneriakkan "kebebasan" di panggung kegandrungan masyarakat akan aerobik, kebugaran, fitness, body building, operasi plastik, facial creams, budaya kosmetika yang memoles basis material industri budaya kapitalisme? Ataukah di balik gemerlap gaya hidup subkultur generasi yang tidak direpresi dan diintimidasi lewat semprotan gas air mata pasukan antihuruhara, tapi lewat semprotan aroma parfum Paris pemeluk budaya hura-hura yang tanpa rasa haru?
Sungguhkah penampilan dan gaya lebih penting dari moralitas di saat citra-citra telah menyingkirkan persoalan baik dan buruk dalam permainan rumit gaya-gaya dan penjungkirbalikan makna-makna. Lantas gaya hidup (lifestyle) pun menjadi segala-galanya dan segala-galanya adalah gaya hidup. Bahkan gaya hidup menjadi komoditas dan komoditas pun sepenuhnya dipermak untuk mengkonstruksi gaya hidup. Maka manusia hidup dalam alam ecstasy akan gaya, dan gaya hidup pun senantiasa diakutkan lewat "kenikmatan semu," "kebahagiaan ilutif," "keindahan halusinatif," "daya tarik pseudorasional" yang mengendap di bawah permukaan pesan budaya sehari-hari dan membentuk manusia secara diam-diam, mencabik-cabik "aura simbolis" ... seperti pentas ecstasy.
Dalam pentas itu ada pelipatgandaan kegairahan dan kegembiraan yang luar biasa hingga mencapai "keadaan di luar kesadaran diri" [1]. Lantas seketika orang pun terbang di alam ecstasy. Alam yang tidak hanya dikonstruksi oleh "pil cinta," yang konon sebagai hasil keajaiban zaman modern, tapi oleh gaya hidup yang telah menggiring ribuan manusia seolah tersihir dalam suatu kondisi psikologis yang telanjang. Alam konsumtif ecstasy menjadi drama kehidupan modern yang telah jenuh dengan tumpukan "kebudayaan sampah" yang didaur ulang dalam mesin giling kapitalisme mutakhir [2]. Tak ada sejengkal wilayah budaya pun yang steril dari rembesannya. Lalu muncul pertanyaan, "Apakah dalam abad sekarang jarak antara kematian dan happy itu begitu dekatnya..." [3].
Pertanyaan itu menggelitik "bawah sadar" menusia modern yang amat bertumpu pada ekonomi, khususnya logika pertumbuhan. Kini, pertumbuhan itu bagaikan "superego" yang mendikte manusia modern [4]. Bawah sadar yang didikte logika ekonomi ini lantas merembes diam-diam ke segenap wilayah budaya yang ada dalam universum relasi manusia. Sebuah bayangan relasi yang dilukiskan dengan begitu menyentuh oleh Kenneth J. Gergen, penulis buku The Saturated Self: Dillemas of Identity in Contemporary Life (1991), Menurutnya, "Kita memperoleh pandangan dan nilai-nilai dari seluruh sudut dunia. Kita juga mengambil banyak isyarat dari media, sehingga identitas kita kini tengah terus berubah dan kembali diarahkan, sebagaimana kita bergerak mengarungi lautan hubungan atau relasi yang terus berubah. Manusia hanyalah sekadar satu unit yang sangat sederhana dari sebuah relasi atau hubungan. Kita menyadari apa dan siapa pun kita bukanlah merupakan hasil dari esensi kepribadian, melainkan bagaimana kita dikonstruksi di dalam Masyarakat" [5].
Di balik tawaran nilai itulah, mengendap preokupasi atau keasyikan terhadap hal-hal yang ada di luar kesadaran diri yang asali yang tidak hanya membuat kita jenuh pada suara orang lain. Tapi, juga keharuan akan kenikmatan-kenikmatan sesaat, ketakjuban akan kebahagiaan di luar batas, dan kerinduan untuk terus mengkonsumsi, untuk terus hidup dalam gaya. Inikah tanda "kegilaan" dalam modernitas yang mencabik humanitas. Lantas, manusia seperti digiring ke dalam jurang jiwanya yang menganga lebar" [6].
Tak heran di pentas pemujaan akan gaya menganga semacam jurang ketidaksadaran yang disadari dan kesadaran yang tidak disadari. Di antara batas tipis kedua wilayah inilah massa terus diberondong dan dibius dengan aneka warna nilai-nilai yang ditawarkan dari segenap penjuru dunia yang memaksakan semacam ketidaksadaran massal. Ketidaksadaran sebagai "kesadaran baru" yang tak lebih dari sekadar puing-puing eksistensial yang tengah tercabik ini lantas meruyakkan aura ecstasy gaya hidup yang hanya mementingkan permukaan, penampakan, penampilan, hura-hura, hiburan, dan permainan tanda-tanda yang tanpa kedalaman dan yang tidak mengacu kepada realitas. Di dalam ecstasy gaya hidup manusia hidup seakan di alam mimpi, ilusi, khayali, fantasi, dan "halusinasi estetika akan realitas" yang dikonstruksi tidak hanya dalam pengertian sosio-ekonomis dan politis, tapi juga ideoloqis [7].
Dalam ruang komodifikasi yang ditandai mengambangnya bidang pemberi tanda oleh terpaan banjir bandang komoditas ini, seluruh ruang dan waktu terserap menjadi sumber daya yang dikomodifikasi untuk dieksploitasi. Di dalamnya individu lebih sebagai objek ketimbang bagian dari komunitas. Melalui iklan, misalnya, dikonstruksi keinginan yang tak bisa dipenuhi, dan gaya hidup yang ditawarkan itu pun khayalan. Itulah sebabnya orang mencari kepuasan melalui konsumsi. Orang bekerja untuk berbelanja dan berbelanja untuk bekerja. Tak heran seorang mahasiswa atau pegawai boleh tak bersemangat di ruang kuliah atau di kantornya, tapi mereka begitu bergairah di lantai diskotek atau di pusat perbelanjaan. Tak begitu berlebihan apa yang disitir Allison J. Murray, ketika mengamati perilaku subkultur kelas bawah dan kelas menengah Jakarta, "Konsumsi, seks, dan moralitas disulap dalam suatu permainan rumit di dalam suatu kelompok sosial, di mana penampilan lebih penting daripada moral, karena citra-citra telah mengatasi persoalan baik dan buruk" [8].
Lantas, dari manakah kita harus melacak bahwa pernik ecstasy gaya hidup begitu menemukan lokus perkembangbiakannya yang demikian mewadak dalam universum relasi manusia kontemporer? Pemikir pasca-strukturalis Perancis, Jean Baudrillard, seakan menyentakkan kita ketika menulis Ecstasy of Communication (1987), bahwa berkat makna, informasi, dan tranparansi, masyarakat kita telah melampaui ambang batas, menuju "ecstasy permanen": "the ecstasy of the social (the masses), the body (obesity), sex (obscenity), violence (terror), and information (simulation)" [9].
Kini, di tengah dunia benda kita, "masyarakat," "tubuh," "seks," "kekerasan," dan "informasi" kian tercelup dalam wilayah yang tak luput dari intervensi logika ekonomi. Dalam keadaan demikian, ukuran-ukuran kewajaran porak-poranda demi pemenuhan tuntutan gaya-gaya yang terus berubah-ubah dan tanpa henti ditawarkan. Tak heran, menyitir Baudrillard kembali, manusia menjadi, " ... more social than the social (the masses); fatter than fat (obessity), more violent than the violent (terror), more sexual than sex (porn), more real than the real (simulation), more beautiful than the beautiful (fashion)" [10].
Lalu, bagaimana logika untuk selalu tampil "lebih dari" dalam hal gaya itu menemukan salurannya lewat industri kebudayaan pop. Dalam keterbatasannya, pengantar ini akan memotret sisi-sisi subtil bagaimana gaya hidup disebarluaskan melalui kebudayaan pop. Bagaimana dalam perembesannya ia tak bisa menghindar dari dinamik politik dan kultur dominan. Dan, lebih lanjut bagaimana kultur ini dalam pertumbuhannya telah ikut mengkonstruksi sebuah masyarakat di mana gaya hidup begitu dikultuskan dan dipuja.
Kebudayaan yang dimaksud sebagai kebudayaan massa/pop(uler) (mass/pop[ular] culture) dengan ditopang industri kebudayaan (cultural industry) telah mengkonstruksi masyarakat yang tak sekadar berbasis konsumsi, tapi juga menjadikan semua artefak budaya sebagai produk industri, dan sudah tentu komoditas. Suatu kutukan modernitas[11] pun perlahan muncul dan pada gilirannya melahirkan sebuah wajah masyarakat baru: "masyarakat komoditas" (commodity society) yang membiakkan kebudayaan pop dan memaksakan penyembahan, pemujaan, pengkultusan, ecstasy gaya hidup yang tak tepermanai dalam apa yang disebut humanis seperti Peter L. Berger sebagai "semesta simbolisme modernitas" dengan bawah sadar pertumbuhan sebagai ideologi yang memayunginya.
Sekilas Penelusuran Literatur
Kini mulailah kita menyelami sejumlah literatur mengenai kebudayaan massa atau pop(uler) untuk mereguk beberapa tetesan pemikiran dari para peminat studi budaya yang tumbuh bersamaan dengan perdebatan tentang aspek-aspek subtil hingga radikal dari kebudayaan pop. Dalam rentang sejarah yang panjang, kebudayaan pop telah menarik minat para akademisi, teoretisi, analis, kritisi, dan para pendukung kajian budaya[12] yang mencuat bersamaan dengan kian derasnya gelombang kebudayaan pop dengan segala pernik, warna, dan nuansa yang menyertainya, serta dengan muatan budaya yang dikandungnya. Mereka yang berminat terhadap sisi-sisi subtil kebudayaan pop biasanya menggunakan penekanan, sudut pandang, perspektif, dan aspek-apsek yang beraneka. Ada yang melacak akar sosiohistoris, pola penyebaran, media yang digunakan, basis material, muatan politis-ekonomis, aspek ritual dan simbolik, hingga ke wilayah propaganda dan, bahkan, sampai jauh ke implikasi ideologisnya. Singkatnya, mulai dari kelompok yang sering disebut kaum modernis hingga mencuatnya pascamodernis dalam kajian budaya telah ikut memperkaya perkembangan khazanah literatur kebudayaan pop yang sedikit-banyak disemangati perkembangan analisis kritis tentang "industri kebudayaan" (cultural industry)[13] sebagai aspek paling radikal dari penjenuhan masyarakat kapitalisme kontemporer.
Kalau kita melirik ke literatur-literatur yang tumbuh di bawah payung kebudayaan massa/pop, ada beberapa penerbitan penting yang menandai tonggak kajian ini. Sebutlah misalnya Journal of Popular Culture yang diterbitkan Bowling Green State University Popular Press sejak 1967; Journal of Popular Film and Television oleh penerbit yang sama sejak 1972; 3 volume Handbook of American Popular Culture yang disunting oleh M.T. Inge, diterbitkan Greenwood Press, New York, 1989. Selain itu ada pula beberapa penerbitan penting lainnya yang sesekali menyorot pernik-pernik kebudayaan pop, misalnya serial Media, Culture and Society yang diterbitkan Sage Publication sejak 1979, Critical Studies in Mass Communication yang diterbitkan Speech Communication Association sejak 1984. Tentu saja masih banyak penerbitan tentang dunia sastra, drama, teater, musik, radio siaran, sinema, komik, gender, kekerasan, seks, dan pornografi, dan tidak jarang juga menyoroti kebudayaan pop.
Daftar di atas sengaja diketengahkan hanya untuk menunjukkan bahwa di kawasan yang lain kebudayaan pop telah melahirkan setumpuk literatur yang kaya. Sementara di tanah air, sejauh yang bisa dipantau, penerbitan dalam bidang yang satu ini memang belum menampakkan perkembangan yang cukup berarti [14]. Kembali ke soal kebudayaan pop. Biasanya perdebatan yang pertama muncul adalah menyangkut soal istilah (terma) dan dalam latar historis bagaimana ia (awalnya) lahir. Namun, dengan hanya berkutat pada masalah istilah saja bukan mustahil akan membuat upaya kajian yang lebih serius malah tidak pernah bisa terwujud. Karena kita hanya mengelus-elus kulit luarnya saja, tanpa pernah menyentuh isi terdalamnya. Dan itu tidak berarti membenarkan sikap apologi untuk menghindar dari pentingnya pembatasan istilah. Karena yang ditekankan di sini bukan membuat daftar istilah, tapi menyoroti bagaimana kebudayaan pop telah berkembang sebagai "kekuatan," kalau boleh disebut begitu, yang muncul dalam drama kebudayaan (Indonesia) dan membuat kita terlena untuk menjadikan gaya hidup sebagai kriterium budaya. Ke fokus inilah penelusuran literatur ini akan kita curahkan.
Bergerak dari perdebatan masalah "definisi" kebudayaan "populer)," lantas dihadapkan kepada berbagai subkultur lainnya, kemudian eksplosi pembentukannya dalam wajah yang paling garang hingga yang paling halus "penyamarannya," membuat kebudayaan pop telah menjadi lahan yang tak pernah kering dari perbincangan. Ini beralasan, mengingat studi tentang kebudayaan senantiasa melibatkan telaah tentang aktivitas dan interaksi manusia, di samping tentang produk budaya [15]. Maka karena menyentuh wilayah publik yang luas, otomatis perdebatan tentang kebudayaan pop pun tak mungkin dihindari. Adalah Allan O'Connor, salah seorang pengkaji budaya, saat menyoroti topik "popular culture," menjelaskan bahwa terma ini mengacu pada "proses budaya yang berlangsung di antara masyarakat umumnya (general public)" [16]. Barangkali ini bisa menjadi salah satu contoh definisi yang sederhana. Sayangnya, ini belum menolong menjawab bagaimana ia bisa menjangkau sejumlah besar penduduk dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sehari-hari. Lalu, kalau budaya massa tak bisa dipisahkan dari kehidupan sehari-hari, sebelum ia menjadi bagian di dalam masyarakat, pasti ada kelompok atau bagian masyarakat (produser budaya) yang merancang atau memproduksinya. Bagaimana produk budaya itu sampai ke masyarakat, dan produk yang bagaimana pula yang "dibutuhkan" oleh sejumlah massa yang besar. Semua ini tidak mungkin ada tanpa melibatkan teknologi. Pertumbuhan teknologi adalah hasil peradaban manusia yang penting tidak hanya dalam menghasilkan produk budaya yang dibuat dalam jumlah besar (mass production), tapi berkat teknologi pula produk budaya bisa disebarkan (dissemination).
"Pemassalan" produk (massification of product) budaya adalah salah satu perkembangan penting dalam revolusi industri. Dengan proses tersebut barang-barang bisa diproduksi dalam jumlah besar (large-scale product) dan dengan biaya yang lebih rendah (minimization of cost) meskipun dengan mengorbankan kelas pekerja (ingat alienasi!). Barang-barang yang diproduksi dalam jumlah besar ini menuntut standarisasi (standardization). Dengan cara ini selera massal bisa dinetralkan sampai batas-batas yang memuaskan semua lapisan dalam masyarakat. Atas desakan standarisasi produk yang diperuntukkan bagi sejumlah besar massa itulah, muncul alasan kuat untuk menyeragamkan produk budaya. Dilihat dari kacamata ini, penyeragaman produk budaya adalah awal dari logika industri kebudayaan yang berkembang sebagai "proyek penyeragaman selera dan cita rasa" (homogenization of taste). Karenanya, pertumbuhan budaya massa atau yang dalam perkembangan masyarakat mutakhir sering disebut sebagai "budaya komoditas," sebenarnya beriringan dengan kritik terhadap kapitalisme. Hal ini termasuk juga di Barat yang telah terindustrialisasikan, yang di situ mencuat penolakan tapi sekaligus daya tarik dengan adanya diskriminasi cita rasa. Maka di sinilah alasan homogenisasi cita rasa menemukan justifikasi historis-kulturalnya. Paling tidak, dengan meningkatnya industrialisasi dan urbanisasi, monopoli aristokrasi atas budaya tradisional dihancurkan. la kemudian menjadi milik semua orang [17]. Dan inilah cikal bakal kebudayaan massa itu.
Tak heran kalau pertumbuhan awal kebudayaan massa pun berkaitan erat dengan pertumbuhan demokrasi politik dan pendidikan masyarakat yang dipandang telah menumbangkan monopoli kelas terhadap kebudayaan. Juga beralasan kalau untuk tingkat tertentu kebudayaan massa menjadi kelanjutan dari kebudayaan rakyat yang hingga zaman Revolusi Industri merupakan kebudayaan masyarakat luas. Dengan demikian kebudayaan massa pun telah menjadi kekuatan yang dinamis dan revolusioner dalam meruntuhkan batas-batas kelas, tradisi, cita rasa, dan ia pun telah melarutkan semua perbedaan budaya [18]. Dalam perkembangan lebih lanjut, indutrialisasi tidak hanya memungkinkan proses massifikasi, yang menuntut standarisasi produk budaya dan homogenisasi cita rasa, tapi juga ia telah membawa perkembangan baru dengan semakin terbentangnya peluang pasar. Inilah yang menandai komersialisasi atas produk budaya. Dengan komersialisasi, produk budaya (massa) berubah seirama dengan percepatan tuntutan komersial (baca: pasar). Maka, massa pun berubah menjadi tempat pemasaran produk budaya dan sasaran berondongan iklan. Kalau kenyataan inilah yang tak bisa ditolak, yang muncul dalam pertumbuhan masyarakat modern –yang terjadi pada hampir semua wilayah- adalah munculnya pasar, keunggulan korporasi raksasa, dan tersedianya teknologi baru dalam proses produksi budaya [19].
Untuk alasan komersialisasi inilah, tidak hanya produk budaya yang distandarisasi berdasarkan kategori-kategori instrumentalistik, bahkan selera dan cita rasa masyarakat pun dikemas dan dikonstruksi menurut logika pasar. Arus industri kebudayaan yang amat bertumpu pada pasar ini, dan atas nama segmentasi pasar, lantas ikut mengaburkan batas-batas perbedaan kelas, wilayah, profesi, dan berbagai kemajemukan yang ada di masyarakat. Masyarakat yang terbentuk dari hasil polesan industri inilah yang kemudian dikenal sebagai masyarakat massa (mass society)[20]. Masyarakat massa adalah suatu kategori masyarakat industrial. Sementara budaya massa mewakili korelasi budaya dari masyarakat massa dan media massa. Budaya massa dibedakan berdasarkan standar produksi massa dan pemasarannya[21] Tentu saja industri media massa memegang peran penting dalam drama ini. Tak heran, kalau media massa merupakan basis bagi apa yang disebut "industri kebudayaan" [22] Karena itu, dalam perkembangan iebih lanjut, keberhasilan industri kebudayaan amat bergantung pada media massa. Media massa telah tumbuh menjadi industri yang tidak hanya mernenuhi kebutuhan masyarakat akan informasi, tapi mengikuti standar dan logika yang hidup dalam industri budaya kapitalisme. la tidak hanya memoles produk budaya, tapi dengan produk budaya itu lantas mengkonstruksi selera, cita rasa, dan bawah sadar khalayak. Dan, sebagai output media yang penting adalah kebudayaan pop [23].
Berkat media pula, produk budaya yang belum sampai ke khalayak, yang masih dalam "kemasan" (barang konsumsi yang baru dirancang, ingat iklan!) lantas hadir seketika. Maka dengan dukungan media massa, standarisasi produk budaya massa telah ikut rnendefinisikan keinginan dan selera massa (mass behaviour). Yang terjadi kemudian adalah "standarisasi produk" menjadi "homogenisasi cita rasa" untuk tujuan "komersialisasi" segenap produk budaya. Maka simaklah apa yang diungkapkan oleh salah seorang teoretisi awal tentang kebudayaan massa, Dwight MacDonald, dalam tulisannya bertajuk "The Theory of Mass Culture" "Massa yang telah dirusakkan moralnya selama beberapa generasi ..., pada gilirannya menuntut produk budaya yang sepele dan menggiurkan. Seperti pertanyaan mana yang lebih dulu ada, ayam atau telur, pertanyaan mana yang lebih dulu apakah permintaan massa atau pemuasannya (dan stimulasi lebih jauh) merupakan masalah akademis yang belum terjawab. Sementara mesin terus berputar dan tak menampakkan tanda-tanda untuk melemah" [24].
Bila demikian halnya, tak disangsikan bahwa masyarakat yang terus berubah akan tetap menghasilkan kebudayaan pop. Dan media senantiasa menyerap kebudayaan pop demi kepentingan isi dan bentuknya. Budaya tersebut tercermin dalam media dan terkadang malah ditampilkan dalam bentuk yang telah disesuaikan oleh masyarakat sendiri. Ciri utama kebudayaan ini ialah orisinalitas yang spontan, eksistensinya yang berlangsung terus dalam kehidupan sosial dengan perniknya yang beraneka--dalam wujud bahasa, busana, musik, tata cara, dan sebaqainya" [25]. Bersamaan dengan perkembangan media massa, konsep tentang kebudayaan massa pun berkembang. Konsep ini rnenjangkau hingga seluruh tingkatan aktivitas dan artefak populer seperti hiburan, tontonan, musik, buku, film, yang kandungannya diidentifikasikan sesuai dengan isi yang tipikal media rnassa dan teristimewa dengan materi hiburan, fiksi, dan drama yang disajikannya [26].
Namun, di antara sekian banyak produk budaya yang ada, secara konvensional, objek-objek yang termasuk kebudayaan pop mencakup materi-materi tertulis atau visual, objek-objek yang bisa dibaca (readable) yang memungkinkan munculnya tradisi-tradisi interpretasi dan kritisisme [27]. Dalam tahun-tahun kemudian, tingkatan yang dipandang "readable" ini pun terus berkembang. Sehingga ia meliputi hal-hal seperti penataan ruangan, barang-barang rumah tangga, iklan, makanan dan minuman, pakaian, dan bahkan hingga style kebudayaan kaum muda, semuanya merupakan bagian dari sistem kebudayaan "readable" itu. Tak heran kalau kemudian interpretasi terhadap kebudayaan pop pun kian berkembang. Bidang-bidang seperti antropologi, sosiolinguistik, psikoanalisis, semiotika, atau semiologi pun ikut memberi kontribusi yang amat berarti.
Lantas, dengan menyimak perkembangan kebudayaan pop inilah salah seorang kritisi budaya, Michael Schudson, lewat tulisannya "The New Validation of Popular Culture: Sense and Sentimentality in Academia" mencoba memetakan studi tentang kebudayaan pop sebagai berikut. Pertama, studi tentang produksi objek-objek budaya; Kedua, studi tentang kandungan objek-objek itu sendiri, dan; Ketiga, studi tentang objek-objek dan makna-makna yang dikaitkan dengan objek tersebut lewat subpopulasi atau populasi secara umum. Dalam ketiga dimensi-"studi tentang produksi budaya," "studi tentang teks," "studi tentang khalayak” –tampak bahwa perkembangan intelektual generasi sebelumnya telah menyuguhkan suatu validasi baru bagi studi tentang kebudayaan pop [28].
Secara demikian, kebudayaan pop pun bisa dimengerti secara luas sebagai kepercayaan-kepercayaan, praktik-praktik, dan objek-objek melalui mana ia diorganisasikan, dan yang tersebar luas di antara populasi [29]. Ia bahkan termasuk pula kepercayaan, praktik, dan objek-objek "folk" atau "popular" yang berasal dari pusat-pusat ekonomi dan politik. Sampai kini, para sarjana cenderung memuji-muji kebudayaan rakyat (folk) karena otentisitasnya dan mengutuk kebudayaan massa karena muatan komersial, maksud ideologis dan kehampaan estetiknya [30]. Kebudayaan pop lantas dianggap sebagai sarana dominasi baru. la menjadi pusat pergulatan budaya global yang dikritik sebagai ajang "imperialisrne kultural" karena negara maju dianggap menciptakan "imperialisme media" untuk mengakutkan "imperialisme kesadaran" dengan cara mengincar otak dan gaya hidup yang berpusat jauh di luar wilayah kesadaran kultural masyarakat Dunia Ketiga. Mungkin kini orang menyebutnya sebagai Amerikanisasi Gaya Hidup [31].
Kritikan terhadap kebudayaan pop pun sebenarnya jauh-jauh hari telah rnuncul. Adalah John Stuart Mill, misalnya, lewat esainya yang banyak dikutip para kritisi budaya di Inggris, On Liberty yang mengajukan kritik cukup pedas terhadap kebudayaan massa [32]. Lewat analisisnya yang telah menjadi klasik itu, ia mengingatkan keprihatinan akan tergusurnya posisi individu oleh tirani mayoritas yang mewujud antara lain dalam bentuk dominasi industri dan penyebaran kebudayaan massa. Teknologi pada gilirannya dinggap bertanggung jawab bagi pembentukan masyarakat yang secara moral dan intelektual seragam. Tak heran kalau dalam The Politics of Popular Culture, CWE Bigsby menyebut kebudayaan pop sebagai "the child of technology" yang sekaligus menjadi "symbol of new brutalism" [33]. Bahkan lebih jauh lagi, ide tentang kebudayaan pop di era modern dilihat hampir tak bisa dipisahkan dari ide dan praktik dari rasionalitas instrumental [34]. Pada titik ini, kajian kebudayaan pop memasuki wilayah analisis teori kritis [35]. Analisis kritis mencari arti tersembunyi yang seringkali tidak bisa diobservasi secara langsung di balik beroperasinya industri kebudayaan yang membentuk manusia secara tersamar. Industri budaya dilihat dalam implikasi terdalamnya sebagai bentuk "industrialisasi pikiran" [36] atau wahana "kolonisasi kesadaran" [37] di mana "kekuasaan teknologi" telah menjelma menjadi "teknologi(sasi) kekuasaan" [38]. Tak heran kalau Ross Snyder dalam tulisannya bertajuk "Architecs of Contemporary Man's Consciousness," berkomentar, "New modes of communication reshape the humand mind. New qualities and powers of consciousness emerge with electronic communication" [39].
Kenyataan ini menemukan bentuknya di saat adat dan moralitas serta relasi antar-individu terus-menerus dalam proses pembentukan yang tanpa henti. Dan, sebagai hasil dari dinamika perkembangan teknologi itulah cikal-bakal kebudayaan pop menemukan lahan persemaiannya yang subur. Saat individu kehilangan rasa pertalian dengan dirinya di dalam masyarakat yang tengah terus diarahkan ke dalam lautan makna-makna baru, saat itu pula berbagai kecemasan pun mencuat. Mereka membutuhkan landasan dan kepercayaan baru. Mungkin sekadar tempat singgah, lalu terlelap sebentar dan melupakan kesibukan (kalau memang ada yang disibukkan), atau malah terkapar dalam mimpi yang boleh jadi telah dikomodifikasikan. Lalu apalagi kalau bukan industri kebudayaan pop yang menyediakannya(?).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar