Oleh
NINOK LEKSONO
Melihat pengalaman Iran
sekarang ini, dalam kaitan dengan program nuklirnya, orang bisa geleng-geleng
kepala, sambil bergumam, ”Alangkah repotnya punya program nuklir.” Menulis
”alangkah repotnya punya program senjata nuklir” tentu lebih spesifik, tetapi
Iran bisa membantahnya. Selama ini Iran memang bersikukuh bahwa program
nuklirnya adalah untuk maksud damai—jadi untuk menghasilkan tenaga listrik.
Namun, Barat, khususnya AS, juga bersikukuh bahwa program tersebut ditujukan
untuk pembuatan senjata.
Secara fisik, program
pengembangan senjata nuklir secara garis besar bisa dipilah menjadi dua
komponen besar. Yang pertama adalah untuk menghasilkan bahan bom dan yang kedua
adalah untuk menyiapkan wahana pelontaran. Untuk yang terakhir ini Iran juga
telah memperlihatkan pencapaian.
Seperti kita baca
beritanya, Minggu (27/9) malam dan Senin lalu, Iran menguji rudal dengan
jangkauan paling jauh yang dimilikinya. Rudal Shahab-3 dan Sejil-2 seperti
diklaim oleh pejabat Iran bisa menghantam Israel, bagian-bagian Eropa, dan
pangkalan-pangkalan AS di Teluk.
Menurut catatan, rudal
Shahab-3 punya jangkauan 1.250-2.000 kilometer (IHT, 29/9). Sementara bagian
barat Iran berjarak sekitar 1.000 kilometer dari Tel Aviv.
Menurut Press TV, saluran
TV Iran berbahasa Inggris, kedua rudal itu dengan akurat mengenai sasaran yang
ditetapkan. Berarti di bidang wahana pelontaran, seandainya benar-benar ingin
mengembangkan senjata jarak jauh, Iran telah menguasai teknologinya.
Dewasa ini, wahana
pelontaran merupakan komponen fundamental dalam sistem persenjataan nuklir.
Buat apa bisa membuat bom nuklir kalau tak punya sarana pelontarnya? Memang ada
alternatif untuk melontarkan senjata nuklir ke sasaran, yaitu dengan
menggunakan pesawat pengebom. Namun, ini bagi Iran akan lebih sulit karena tak
punya pengebom yang berkemampuan khusus untuk mengangkut dan melontarkan bom
nuklir, sebagaimana pengebom B-1B atau B-2 di arsenal AS atau Tu-160 Blackjack
milik Rusia.
Rudal, meski juga rawan
oleh serangan lawan, dianggap masih lebih aman. Namun, pengembangannya juga
amat sulit. Karena itu, para insinyur Iran harus menguasai teknologi rudal
balistik, yang antara lain meliputi propulsi atau mesin roket dan sistem
pengarah.
Kini negara yang ingin
mengembangkan kemampuan peroketan yang teknologinya bersifat ganda—bisa untuk
sipil maupun militer—juga terganjal oleh aturan pelarangan yang ditegakkan oleh
negara-negara Barat mulai tahun 1987, yang dikenal sebagai Rezim Pengawasan
Teknologi Rudal (Missile Technology Control Regime). Pengembangan teknologi
peroketan dibatasi untuk yang berjangkauan hampir 300 kilometer.
Bom dan hulu ledak
Komponen senjata nuklir
yang tidak kalah krusial tentu saja adalah hulu ledak atau bom nuklirnya
sendiri.
Iran disebut telah membuat
fasilitas pengayaan nuklir di Natanz. Seperti diketahui, uranium yang ada di
alam tidak dapat digunakan sebagai bahan bakar bom karena tidak memiliki sifat
radioaktif. Agar bisa sangat radioaktif, ia harus ”direkayasa” dengan fasilitas
dan mesin khusus seperti sentrifuga.
Barat menuduh, aktivitas
nuklir Iran untuk menghasilkan uranium ”murni”, yang memadai untuk digunakan
sebagai bahan bakar bom. Di sini, persentase Uranium-235 yang radioaktif sudah
9 persen atau lebih. Dalam jumlah tertentu, yang dalam ilmu fisika nuklir
disebut sebagai ”massa kritis”, pada bahan ini akan bisa berlangsung reaksi
berantai nuklir. Pada pembangkit listrik nuklir, reaksi berantai dikendalikan
sehingga panas yang diperoleh secukupnya saja untuk menghasilkan uap, yang
digunakan untuk menggerakkan turbin. Pada bom nuklir, reaksi berantai dibiarkan
berlangsung tanpa kendali, menghasilkan energi yang luar biasa besar.
Mendesain bom yang bisa
dipasang di pucuk rudal—yang sering disebut sebagai hulu ledak—bukan persoalan
mudah. Kini, perdebatan berlangsung seru antara intelijen Amerika, Israel, dan
Jerman menyangkut kemampuan Iran merancang hulu ledak (”Nuclear Debate Brews:
Is Iran Designing Warheads”, NYT, 28/9).
Menurut AS, Iran sudah
menghentikan perancangan hulu ledak tahun 2003 walaupun negara ini kemudian
menginginkan bom nuklir. Sementara Israel, dan lebih-lebih Jerman, menilai Iran
terus bekerja untuk merancang hulu ledak. AS mendasarkan temuan intelijen
setelah menerobos jaringan komputer Iran dan mendapat akses ke komunikasi
internal pemerintah negara itu.
Temuan intelijen
berbeda-beda meski pada umumnya sarana yang dipakai sama, yakni kombinasi citra
satelit, mata-mata manusia, dan penyadapan elektronik.
Terus dikejar
Setelah tidak menemukan
bukti mengenai pengembangan senjata pemusnah massal di Irak (yang dijadikan
sebagai alasan untuk menyerbu negara ini tahun 2003), AS kini sedang
meningkatkan tekanan terhadap Iran dan juga Korea Utara untuk menyudahi program
nuklir keduanya.
Kini Korut telah
membuktikan kepada dunia, ia bisa membuat bom nuklir dan punya kemampuan di
bidang pelontaran, seperti diperlihatkan oleh rudal jarak jauh Taepodong-2.
Iran kini juga sudah punya rudal Shahab-3, tetapi belum bisa memperlihatkan
kemampuan uji nuklir.
AS, yang penuh keyakinan
bahwa Iran memang sedang mengembangkan senjata nuklir, tampaknya akan
menggunakan berbagai cara untuk menjepit negara itu agar menghentikan program
nuklirnya.
Iran sendiri, meski
bersikukuh mengklaim programnya untuk tujuan damai, sebenarnya punya alasan
hakiki untuk mengembangkan senjata nuklir karena kuasa utama di Timur Tengah
yang potensial menjadi lawannya, yakni Israel, diyakini punya 200 bom nuklir
dan pelontarnya, yakni Jericho-2 (dan 3).
Israel yang mengembangkan
senjata nuklir diam-diam tak pernah disebut melanggar hukum internasional.
Sementara Iran dan Korut yang bisa dikatakan mengikuti jejak Israel harus
berurusan dengan polisi dunia. Itu sebabnya kita beri judul kolom ini ”Beratnya
Membuat Senjata Nuklir”.
Sumber: Harian Kompas, 30 September 2009

Tidak ada komentar:
Posting Komentar